BANYUWANGI bukan hanya sekadar kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Kabupaten ini sering dikenal sebagai Bumi Santet, sekaligus merupakan tempat dengan banyak cerita mistis sehingga menyimpan stigma yang sulit dihilangkan meskipun waktu terus berlalu. Namun, di zaman modern ini, saat generasi muda melihat dunia dengan akal dan logika, warisan ini menimbulkan pertanyaan. Apakah santet masih menjadi beban, atau justru merupakan identitas yang patut dibanggakan?
Stigma Banyuwangi sebagai Bumi Santet tidak hanya desas-desus atau muncul dari cerita rakyat. Salah satu peristiwa yang memperkuat julukan ini tidak luput dari pembantaian 1998 di Banyuwangi. Puluhan bahkan ratusan orang dituduh sebagai dukun santet dan dibunuh dengan brutal oleh sekelompok orang bertopeng yang disebut ‘ninja’. Tragedi ini terukir dalam ingatan masyarakat Indonesia dan semakin memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah mistis yang dipenuhi bahaya tak terlihat.
Lebih jauh lagi, santet dalam pandangan masyarakat luar seringkali diasosiasikan dengan ilmu hitam meliputi praktik gaib yang bertujuan untuk mencelakai, menyebarkan penyakit, merusak rumah tangga, bahkan merenggut nyawa. Stigma ini menutup wajah asli Banyuwangi yang kaya akan seni, budaya, dan kearifan lokal. Masyarakat luar cenderung memandang Banyuwangi bukan sebagai daerah budaya, melainkan sebagai tempat mistis yang menakutkan.
Santet sebagai Warisan Leluhur
Bagi masyarakat Osing Banyuwangi, santet bukan sekadar ilmu hitam untuk mencelakai. Dalam tradisi lokal, santet dipandang sebagai bagian dari ilmu kebatinan yang memiliki warna makna yang berbeda-beda. Ada santet hitam yang dikenal sebagai ilmu untuk mencelakai, tetapi ada juga ilmu merah untuk pengasihan, ilmu kuning untuk menumbuhkan kewibawaan, dan ilmu putih untuk menangkal serangan gaib.
Ilmu-ilmu ini dahulu dipercaya sebagai penjaga keseimbangan hidup. Santet berfungsi sebagai alat kontrol sosial, menahan orang untuk tidak sembarangan berbuat zalim karena takut terkena balasan gaib. Lebih dari itu, santet hidup dalam cerita-cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai bagian dari kearifan yang mengatur harmoni dalam masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, makna santet dalam budaya ini sering terlupakan. Masyarakat luar lebih banyak mengenal sisi gelapnya, sementara lapisan makna yang lebih luas jarang muncul ke permukaan.
Suara Generasi Muda terhadap Warisan Mistis
Sebagai pendukung dalam pembahasan ini, sebuah kuesioner sederhana telah disebarkan kepada generasi muda usia 21 sampai 24 tahun dengan tujuan untuk menggali pandangan mereka mengenai citra Banyuwangi dan warisan kepercayaan mistis yang melekat. Kuesioner ini diisi oleh delapan responden yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk yang berasal dari Banyuwangi, sekadar berkunjung atau hanya mengenal daerah ini melalui media.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden memandang Banyuwangi sebagai daerah yang dikenal karena keindahan alam dan budayanya. Namun, bayang-bayang cerita mistis, termasuk santet, tetap melekat di benak mereka. Beberapa responden menyebut “santet” dan “ilmu hitam” sebagai hal pertama yang terlintas saat mendengar nama Banyuwangi, sementara lainnya lebih menonjolkan wisata dan tradisi.
Mayoritas menilai citra Banyuwangi saat ini positif bahkan sangat positif. Meski demikian, mereka juga mengakui bahwa cerita mistis seperti santet dan dukun masih cukup melekat pada citra daerah ini.
Kemudian mengenai pentingnya mempercayai warisan kepercayaan leluhur, pendapat para responden cukup bervariasi. Ada yang merasa itu sangat penting, tetapi tidak sedikit yang menilai tidak terlalu penting, mencerminkan adanya pergeseran cara pandang di kalangan generasi muda. Mereka juga menyebut bahwa alasan anak muda cenderung enggan mewariskan kepercayaan leluhur adalah karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan modern. Meski begitu, dalam opini terbuka, sebagian besar tetap menyerukan pentingnya menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Hasil pandangan generasi muda dalam artikel ini didukung oleh kuesioner sederhana yang dapat dilihat di sini
Memaknai Ulang Warisan Leluhur
Citra Banyuwangi sebagai Bumi Santet memang tak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari cerita turun-temurun, tragedi sejarah, dan bayang-bayang mistis yang terwariskan dari masa ke masa. Namun, ketika generasi muda hidup di tengah arus teknologi, akal sehat, dan keterbukaan informasi, citra itu perlahan diuji.
Santet dan cerita mistis tak harus dibuang sebagai warisan kelam, tetapi juga tak harus diagungkan tanpa kritis. Kini saat pariwisata, seni, dan budaya Banyuwangi semakin dikenal dunia, citra Bumi Santet tidak lagi harus menjadi bayang-bayang yang membebani. Warisan ini layak dimaknai ulang sebagai bagian dari perjalanan sejarah, bukan sekadar label hitam yang menakutkan. Banyuwangi adalah lebih dari sekadar mitos kelam, ia adalah tanah budaya yang kaya dan layak dibanggakan.
Namun, sudahkah kita benar-benar memahami makna warisan ini sebelum menolaknya? [T]
REFERENSI
- Herniti, S. 2012. KEPERCAYAAN MASYARAKAT JAWA TERHADAP SANTET, WANGSIT, DAN ROH MENURUT PERSPEKTIF EDWARDS EVANS-PRITCHARD. ThaqÃfiyyÃT.
- Subekti, A. & Kusairi, L. 2019. FROM SUNRISE OF JAVA TO SANTET OF JAVA: RECENT URBAN SYMBOLISM OF BANYUWANGI, INDONESIA. Atlantis Press.
Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole


























