23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bunuh Diri Bahasa Using Banyuwangi

Antariksawan Jusuf by Antariksawan Jusuf
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: www.banyuwangitourism.com

MENILIK perkembangannya, bahasa Using Banyuwangi mengalami periode yang sangat mengkhawatirkan, yaitu apa yang disebut sebagai “Bunuh Diri Bahasa”. Pakar bahasa Jean Aitchison (2001), menyebut gejala Language suicide ini dalam fenomena yang berkembang di komunitas yang menggunakan dua bahasa atau lebih.

Kalau ada dua bahasa yang mirip, yang satu dianggap kurang bergengsi, kemudian meminjam kosakata, konstruksi dan ucapan dari bahasa lainnya yang secara sosial lebih diterima. Dalam proses jangka panjang, akhirnya bahasa tersebut akan diserap secara menyeluruh.  

Pengalaman sebagai penyelenggara lomba mengarang berbahasa Using dalam empat tahun terakhir ini, diadakan oleh Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB), memperlihatkan kecenderungan Bahasa Using mengalami benturan itu. Sikap masyarakat terhadap bahasanya sendiri lah yang membuat lambat laun Bahasa Using mengalami kemunduran.  

Sebagian orang di Banyuwangi, menganggap bahwa Bahasa Using kedudukannya lebih rendah daripada Bahasa Jawa, hanya karena bahasa Jawa mempunyai krama dan krama inggil, yang membedakan pembicara dari kasta sosialnya.  

Seperti akar bahasanya, yaitu bahasa Kawi, bahasa Using tidak mengenal unggah-ungguh berdasar perbedaan kasta sosial seperti bahasa Jawa. Tetapi justru karena itu, oleh sebagian besar pendatang Jawa, bahasa Using dianggap tidak bermartabat. Dengan kuatnya pengaruh Jawa, generasi Using, apalagi yang berasal dari keluarga Jawa, memandang bahasa ini kurang cocok untuk berinteraksi sosial.  

Dalam lingkungan pergaulan sekarang, generasi tersebut juga lebih diajarkan berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa Inggris yang lebih banyak ditemui dalam pergaulan.  

Bahkan seorang guru Bahasa Using dalam sebuah seminar pernah mengatakan dia tidak akan mengajari anaknya Bahasa Using karena seorang muridnya mengatakan: “Pak Guru, cangkeme ana upane” (Pak Guru, mulutmu ada nasinya). Penggunaan kata “cangkem” dalam bahasa Using adalah hal yang lumrah. Sama halnya beribu-ribu kata lainnya karena dalam bahasa Using tidak dikenal ‘bahasa alusnya’.

Sementara dalam bahasa Jawa, seorang murid harus memilih kata dalam kategori krama atau krama inggil untuk gurunya. Kata yang tidak dikenal oleh anak-anak Using.  

Guru bahasa Using lainnya, yang pindah dari daerah berbahasa Using Rogojampi ke kota, kasihan melihat anaknya yang minder karena tidak bisa berbahasa Jawa dengan teman-teman sepermainannya. Mau tidak mau ia mengajari anaknya berbahasa Jawa dan meninggalkan bahasa Using.  

Seringkali dalam cerita atau karangan, muncul kata-kata berbahasa Jawa dari para peserta. Memang tidak bisa dipungkiri kalau sebagian peserta mengarang Bahasa Using ini adalah anak-anak yang berasal dari keluarga keturunan Jawa, Madura atau etnis lain yang memang banyak di Banyuwangi.  

Muncullah kata-kata yang sebenarnya sudah ada dalam bahasa Using, tetapi karena ketidaktahuan, kemalasan membuka kamus, ketidakacuhan, meminggirkan kata-kata bahasa Using. Misalnya, sudah ada kata Bahasa Using (kolom sebelah kiri) mereka menggunakan kata-kata Jawa (yang ada di kolom tengah):  

 

Bahasa Using               Bahasa Jawa                   Indonesia

Aron Waras Sembuh
Bangur Aluwung Lebih baik
Cumpu Ndilalah Ternyata (tidak seperti yang diharap)
Dhogolan Ote-ote Bertelanjang dada
Elom Luwe Lapar
Getap Wedian Penakut
Iyane Dheweke Dia
Jajang Pring Bambu
Kaples Melempem melempem
Lumur Gelas Gelas
Masiya Senajan Meskipun
Nunggang Numpak Naik kendaraan
Paceke Mesthi Setiap kali
Rika/ndika Sampeyan/panjenengan Anda
Saben Angger setiap kali
Tempong Tapuk Tempeleng
Uput-uput Leles Memungut
Wera Amba Lebar

 

Apalagi dengan tidak banyaknya literatur bahasa tulis, Bahasa Using menghadapi ancaman kematian bahasa itu sendiri.  

“When a language dies, it is not because a community has forgotten how to speak, but because another language has gradually ousted the old one as the dominant language for political and social reasons. Typically, a younger generation will learn an ‘old’ language from their parents as a mother tongue, but will be exposed from a young age to another more fashionable and socially useful language at school.” (Aitchison, 2001:235).  

(Kematian sebuah bahasa bukan karena komunitas tersebut lupa cara bertutur, tetapi karena bahasa lain secara perlahan menggantikannya sebagai bahasa yang lebih dominan secara politis maupun sosial. Biasanya, generasi mudanya belajar ‘bahasa kuna’ dari orang tua mereka sebagai bahasa ibu, lantas berhadapan dengan bahasa lain yang lebih kekinian dan secara sosial lebih bermanfaat di sekolah.)      

Yang membuat situasinya makin parah adalah: bahasa Using tidak mempunyai tradisi tulis yang kuat. Layaknya karya tradisional lainnya, sastra using berkembang sebagai sastra lisan, dalam bentuk lagu-lagu rakyat, pantun dan lain-lain.  

Keadaan itu menimbulkan kegerahan beberapa orang diaspora Banyuwangi maupun yang tinggal di Banyuwangi. Sekumpulan orang yang mempunyai visi sama untuk meningkatkan budaya baca tulis bahasa Using khususnya dan ikut menjaga budaya secara umum. Budaya membaca, harus juga didukung dengan tersedianya buku-buku. Munculnya buku harus didukung oleh penulisan, jadi terjaga adanya sebuah kegiatan literasi yang berkelanjutan.   Kelompok komunitas ini bergerak dengan menggunakan pendanaan mandiri tanpa bantuan pemerintah.  

Buku-buku yang diterbitkan ini sebagian dijual bebas di toko buku dan sebagian lagi dihibahkan ke sekolah-sekolah dan rumah baca untuk menggairahkan karya tulis berbahasa Using. Lomba mengarang tahunan itu sekarang sudah memasuki tahun yang keempat. Buku kumpulan hasil lombanya yang diberi judul Kembang Ronce sudah terbit tiga judul di tahun 2013-2014-2015. Gairah menulis sebenarnya sudah cukup besar karena setiap tahun rata-rata ada sekitar 50 naskah yang masuk ke panitia.  

Hanya dengan intensitas dan kerjasama penutur asli maupun pendatang untuk tetap menggunakan bahasa Using, niscaya ancaman menghilangnya bahasa Using dapat diredam sedikit demi sedikit. Dan perlu kerjasama semua pihak: pemda, DPRD, guru, dan terutama penutur yang terus menggunakan bahasa Using baik lisan dan tulisan. (T)

Tags: Bahasabanyuwangiusing
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Northsideboys12 – Subkultur Garis Utara Stadion Kapten Dipta

Next Post

Pertigaan Beringin Sayan-Mengwi: Stasiun Cinta Romantika Mahasiswa

Antariksawan Jusuf

Antariksawan Jusuf

Ketua Umum Sengker Kuwung Belambangan yang setiap tahun menyelenggarakan lomba menulis cerita berbahasa Using, penulis buku bahasa Using serta editor lebih dari 10 buku berbahasa Using

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Pertigaan Beringin Sayan-Mengwi: Stasiun Cinta Romantika Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co