5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Northsideboys12 – Subkultur Garis Utara Stadion Kapten Dipta

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: northsideboys12.com

SAYUP-SAYUP terdengar lirik lagu. Gadis di depan saya tampak bernyanyi menirukan chant meski lirih yang datang dari tribun utara. Mereka berdiri di sektor tribun timur Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Waktu itu, Sabtu, 3 September 2016, di lapangan sedang bertanding antara Bali United melawan Persipura Jayapura pekan ke-18 lanjutan  Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Tercatat sebanyak 13.127 penonton di pertandingan itu. Para penonton beberapa kali menoleh di tribun utara.  

Tribun utara menjadi interest pandangan sore itu. Penuh sesak, penonton berderet di tribun itu dengan kaus dominan hitam. Bukan jersey melainkan feysen casual. Di pagar tribun terpampang NORTHSIDEBOYS12 (NSB12). Mereka terpisah dari tribun timur yang diisi suporter Semeton Dewata, dan tribun selatan Brigaz. Mereka membuat arsiran di stadion Kapten Dipta.  

Sebelum masuk stadion, mereka melakukan ritual corteo konvoi jalan kaki dari Jalan By Pass Buruan Gianyar menuju gate 12. Suara riuh sepanjang laga dengan aksi bernyanyi, tepuk tangan, koreografi bak ultras Ballspielverein Borussia 09 e.V. Dortmund atau Borussia Dortmund di Signal Iduna Park, Jerman. Atau deretan ultras Liga Seri A, Roma Boys (AS Roma) atau Irriducibili (Lazio) yang keduanya merupakan pemeluk neo-fasisme secara ideologi. Atau sejalan dengan Brigade Autonome Livornesi ultras klub Livorno yang memilih ideologi kiri.  

Minimal mirip-mirip dengan Brigata Curva Sud (BCS) suporter Indonesia PSS Sleman. Khusus BCS, kini mampu menghidupkan suasana dan gairah sepak bola Sleman. Di Stadion Maguwoharjo, aksi BCS mengundang detak jantung penonton di tribun lain dengan koreografinya mengalahkan tontonan pertandingan yang sedang berlangsung. Mazhab BCS seperti menjadi suporter tertib, bayar tiket, no ticket no game, harus pakai sepatu memang diadopsi oleh NSB12.  

Mereka tak henti beryanyi sejak menit pertama hingga menit terakhir. Tak ada lagi chant “Ini nonton bola bukan nonton bokep.”  Atau teriakan bernada SARA, apalagi kekerasan, caci maki, umpatan, intimidasi, dan provokasi. Mereka bernyanyi, tepuk tangan, dan berjingkrak tak henti secara serempak. Melepas kaus dan membalikkan badan bersama meski Serdadu Tridatu (julukan Bali United) kalah. Pasukan Indra Sjafri waktu itu kalah dengan skor 0-1 melalui gol tunggal Marinus Mariyanto (72’).  

Ini juga alasan saya, kenapa harus pertandingan Bali United lawan Persipura. Sambil mengukur kesetiaan suporter. Lazimnya pendukung yang haus kemenangan, maka jika timnya kalah, tanpa diberi aba-aba berduyun-duyun meninggalkan tribun, pulang. Tetapi ini tidak, NSB12 tetap bertahan dan bernyanyi memberikan semangat Fadil Sausu dkk untuk terus berjuang meraih kemenangan minimal imbang, dan hasil akhir Bali United kalah 0-1.  

Pemandangan ini jelas jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ketika stadion ini menjadi home base tim berkompetisi di level teratas Liga Indonesia seperti Persegi Bali FC pada 2005 misalnya. Tim yang dibesut Henk Wullems ini, meski bermain kandang, suporter yang datang tak lebih 500 hingga 1.000 orang. Mereka seperti tampak di satu titik tribun timur. Persegi Bali FC pun akhirnya resmi mundur di tahun 2007 karena kesulitan finansial. Sejak muncul, NSB12 di barisan tribun utara mereka menjelma kekuatan identitas suporter.  

Hiruk-pikuk dan aksi mereka memunculkan semakin menambah semarak stadion. Ada banyak chant mereka nyanyikan. Di antaranya Bangga Mengawalmu Pahlawan, Bali United Selamanya, Jayalah Bali United, Bali Belongs To Me, We Love You Bali, Ayo Serdadu Tridatu, dan YNWA Bali United. Teriakan teror wasit macam “wasit naskl*ng” pun tak terdengar lagi.  

Lantas siapa NSB12? “Siapapun, apapun dan bagaimanapun cara kalian. Kita semua satu tujuan, satu cinta dan demi satu kebanggaan Bali United FC. NSB12 bukan sebuah organisasi, NSB12 sebutan untuk mereka yg di tribun utara. siapa saja boleh bergabung datang dan berdiri di Gate 12 Tribun Utara. Beginilah kami mendukung dengan cara kami sendiri.” tulis mereka di website resmi NSB12, www.northsideboys12.com.  

Mereka didominasi kaum muda. Makin hari jumlah mereka makin banyak. Mereka berhasil memikat dengan kuat kaum muda. Kini mereka memenuhi tribun utara, merintis jalan baru kebudayaan yang disebut subkultur. Saat kick off babak pertama pemain tepat mengumpan bola, di sinilah mereka mulai perang identitas sebagai subkultur di tribun stadion Kapten Dipta. Mereka memiliki ciri khas gaya, feysen, bahasa dan musik sendiri.    

Gaya dan feysen yang dipakai seolah seperti fans Liverpool yang berdandan feysen casual saat pulang dari stadion Olimpico, Roma, Italia setelah menyaksikan tim kesayangannya Liverpool melawan Borussia Monchengladbach (Jerman) pada laga final European Cup, Mei 1977 silam. Mereka pun mengenakan kaus bukan jersey Bali United, namun fesyen casual hitam dipadu dengan sepatu rata-rata Adidas klasik semacam era 1980-an. Mereka datang menuju stadion dengan bangga mengenakan merchandise,giant flag dan spanduk berisi dukungan Bali United.  

Meskipun tak se-ekstrim layaknya ultras suporter garis keras, mereka semacam menciptakan perlawanan ideologi anti kapitalisme. Semacam perlawanan membongkar makna dominan atas berbagai realitas sosial yang dikuasai budaya mainstream dengan mengusung solidarity is power. Juga tak mau diwawancarai oleh jurnalis.  

Pada ajang Trofeo Bali Celebest 2016 pada Sabtu (24/9/2016) malam misalnya. Mereka pesta flare yang lazim dilarang dalam pertandingan resmi. Stadion benar-benar dibuat berasap. Mereka lalu membentangkan spanduk bertuliskan PYRO IS NOT A CRIME.  

Dalam momen itu mereka menganggap hajatan sendiri dan harus dirayakan. Mereka bersikap karena pada laga resmi merasa sudah dikekang dengan aturan industri. Industri pemilik pemodal. Mereka menilai pemodal tidak pernah peduli dengan gairah yang timbul dalam sepak bola, kecuali hanya mengetahui keuntungan yang didapat dari tayangan sepak bola.  

Pada ajang itu, Bali United pun juara setelah mengalahkan dua tim lemah Celebest FC (ISC B) dan Perseden Denpasar. Namun pada akhirnya mereka tidak akan melakukan lagi pada laga resmi dengan alasan tim yang mereka dukung menanggung beban denda karena ulahnya. “Jangan pernah takut mengajak anak-anak pergi ke stadion. Menonton bola secara langsung tidak seseram yang Bapak & Ibu bayangkan, Karena kelak merekalah yang akan meneruskan gerakan ini mengawal sang kebanggan.” Pesan mereka.  

Nah, ini mungkin cara mereka campaign tentang salah kaprah memahami anarkisme. Tafsir faham anarkisme yang dimaknai aksi keonaran, barbarisme. Mereka mengajak dan mengikis bahwa anarkisme bukan seperti yang tergambar dan dikhawatirkan. Mengajak kembali membaca tentang sepak terjang pemuda 18 tahun asal Italia Pietro Ferrua. Atau memahami artikel pemikir anarkis macam Peter Kropotkin, Pierre-Joseph Proudhon, Mikael Bakunin atau Emma Goldman.  

Kisah suporter casual seperti ini di Indonesia sebenarnya sudah pernah ada pada tahun 2005 lalu. Kala itu, ada fans Persib Bandung dengan nama Flower City Casual (FCC). Namun FCC tidak bertahan lama dan tahun 2012 lalu membubarkan diri karena dianggap kontroversi.  

Suporter casual kini menyebar di mana-mana membentuk subkultur di tribun selatan dan utara stadion di Indonesia. Hampir klub yang berlaga di ajang ISC memiliki basis suporter feysen casual. Nah, apakah ini sekadar trend atau benar-benar sebagai suporter sepak bola dan menjadi budaya baru dunia suporter Indonesia? Kita tunggu mereka di laga kandang maupun tandang. (T)

Tags: baliolahragasepakbola
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Sawah di Tabanan Hilang 200 Ha per Tahun – Bali dalam Involusi Pertanian

Next Post

Bunuh Diri Bahasa Using Banyuwangi

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post

Bunuh Diri Bahasa Using Banyuwangi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co