12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekilas Tentang Banyuwangi: Sosok Buyut Cili Dibalik Desa Kemiren

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
July 30, 2019
in Tualang
Sekilas Tentang Banyuwangi: Sosok Buyut Cili Dibalik  Desa Kemiren

Penulis di gapura masuk Desa Adat Osing Kemiren (Doc: Mochamad Rifa’i)

Segelas jus alpukat dan tempe penyet lengkap dengan sayur rebusnya menemaniku malam ini di tengah kota Banyuwangi. Taman Sritanjung yang tak pernah sepi dari pengunjung. Di tempat inilah saya mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan. Tentu malam ini saya tak sendiri. Selain hidangan makan malam ala kadarnya seorang kawan seperjuangan turut hadir di malam ini.

Dialah Faruq Hasan. Seorang kawan yang doyan selfie tapi hasil gambarnya tak pernah di unggah di wall Instagram. Dan hal yang sering membuat kami cek-cok yaitu ketika dia memintaku untuk memfotonya, ia merasa puas dengan hasil jepretanku. Namun sebaliknya, giliran saya yang minta difoto gambar yang dihasilkan tak sesuai dengan yang kuharapkan. Apes bukan?! Ya, begitulah.

Suasana yang benar-benar berbeda. Jujur, saya merindukan suasana seperti ini. Bersama dengan derunya kendaraan, samar-samar lantunan pujian islami dari masjid agung di seberang jalan yang menyejukkan hati. Kerlap-kerlip lampu kota yang seakan menyiratkan kenangan dimasa lalu. Pandanganku tertuju pada sosok ibu-ibu penjual rujak di ujung trotoar.

Beberapa kali ia tersenyum ramah kepada pelanggannya. Walaupun wajahnya mulai keriput, sungguh senyuman yang hangat. Bukan maksud saya tertarik dengan penjual rujak tersebut, saya hanya merindukan kekasihku yang telah lama meninggalkanku. Oke fix! Maaf jika malam ini aku merindukanmu, ibu… ibu… oh, ibu….

Ini kali pertama saya melangkahkan kaki di Taman Sritanjung. Jadi, Faruq mengajakku untuk diam sejenak menikmati pemandangan malam di kota Banyuwangi. Setelah kami menghabiskan makan malam, kami beranjak dari tempat dan mencari bangku yang kosong untuk beristirahat, dan beberapa kali meributkan hasil gambar yang tak sesuai harapanku. Entahlah, mohon dimaklumi diriku yang anak medsos ini.

Muncar

Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah beberapa kali main jeprat-jepret di pinggir jalan yang dihiasi lampu warna-warni. Tapi zonk, karena hanya menggunakan kamera di gawai jadi hasil jepretan pun tak karuan.

Muncar adalah tujuan kami. Muncar terkenal dengan ikan segarnya. Hal ini karena di Muncar terdapat pelabuhan kapal-kapal para nelayan. Jadi ditempat inilah pusat penghasil ikan segar yang ada di Banyuwangi. Selama ini saya tahunya hanya nama salah satu kecamatan saja, bukan mengenalnya dengan hasil laut yang melimpah.

Jarak tempuh antara tempat tinggal Faruq dan pusat kota Banyuwangi lebih kurang satu jam. Ini adalah kali kedua saya untuk bersilaturahmi di rumah Faruq. Motor astrea hijau hitam ini melaju begitu cepat. Dengan kecepatan yang lumayan, beberapa kali saya tersontak kaget akibat dari jalan yang berlubang. Lebih menariknya lagi, jalan menuju desa dimana Faruq tinggal ini lumayan ekstrim. Sisa-sisa jalan yang diaspal mulai rusak, jika diperhatikan yang terlihat hanya bongkahan-bongkahan batu yang lumayan tak kecil.


Jalan penghubung Dusun Curah Pacul dengan Desa Tapanrejo, Kec Muncar
(Doc: Mochamad Rifa’i)

Tujuan saya bermalam di rumah kawanku ini selain untuk menikmati liburan semester juga mempunyai maksud lain. Yaitu sebagai tempat singgah sesaat ketika saya hendak pulang ke kampung halaman. Jadi memanfaatkan waktu sebelum tiket keberangkatan kereta ke Surabaya. Ya, itung-itung menikmati masa muda juga.

Malam yang di dingin. Rasanya ingin cepat sampai dan merebahkan badan dan tertidur lelap. Di rumah kawanku ini tepatnya di dusun Curah Pacul, desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar. Malam itu pun saya dipersilakan tidur setelah kami sampai di rumah.

Ketika bangun pagi, telah terhidang segelas teh hangat dan sepiring gorengan. Rupanya ibunya Faruq telah menghidangkan untukku. Ku seruput segelas teh dan kusantap ote-ote hangat.

Wisata Desa Adat Osing Kemiren

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, maka saya pun diajak jalan-jalan ke salah satu desa bersejarah yang ada di Banyuwangi. Yaitu Desa Adat Osing Kemiren. Untuk menuju ke tempat tersebut berjarak 1 jam berkendara dari rumah Faruq.

Desa Kemiren berasal dari kemiri dan duren. Di mana tempat ini dulunya banyak tumbuh pohon kemiri dan durian. Desa Kemiren dihuni oleh masyarakat Suku Osing yang merupakan suku asli Banyuwangi atau sisa masyarakat Blambangan. Kepala desa yang pertama kali memimpin desa ini adalah Walik yang menjabat pada tahun 1657. Dan bahasa keseharian menggunakan Bahasa Osing.

Bahasa Osing itu sendiri gabungan dari Bahasa Jawa, Bali, dan Madura. Seperti Bahasa Bali “sing nawang” kemudian Bahasa Osing “sing weruh” yang sama-sama memiliki arti “tidak tahu”. Hampir memiliki kesamaan bukan?! Begitu kata salah satu pemuda yang kutemui waktu di desa Kemiren.


Gapura Desa Adat Osing Kemiren

Desa yang sama dengan desa-desa pada umumnya. Berisi pohon-pohon di tepi jalan dan rumah-rumah warga desa jawa timuran. Tapi saya penasaran, kami melanjutkan untuk menyusuri sepanjang desa ini. Saya tak menemukan aroma-aroma adat atau bangunan-bangunan bersejarah. Kami akhirnya memasuki wahana Desa Wisata Using dengan tiket masuk seharga Rp. 10.000,- per orang.


Desa Wisata Using (Doc: Mochamad Rifa’i)

Di dalamnya hanya terdapat kolam renang dan arena perkemahan. Saya tak melihat ada bangunan bersejarah, hanya saja beberapa tempat singgah seperti bangunan-bangunan rumah desa seperti umumnya. Rasa penasaranku masih belum terbayar.

Saya mengajak Faruq untuk keluar dari tempat tersebut. Penasaranku makin memuncak, karena saya tak ingin pulang nanti tidak membawa cerita dari tempat sejarah ini. Kemudian saya bertanya kepada penjaga loket yang ada di tempat ini. Akhirnya saya mendapat petunjuk dari bapak Penjaga Loket. Memang di desa ini ada sebuah rumah peninggalan nenek moyang yang masih ada hingga sekarang ini.

Untuk menempuh ke rumah tersebut harus mesuk ke gang sekitar 200 meter dari jalan utama. Dan benar saja desa ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Dekat dengan persawahan. Hanya terdapat sekitar 12 rumah di desa yang konon katanya peninggalan Mbah Buyut Cili. Nama rumah ini adalah rumah tikel. Di desa ini masih sangat alami. Hanya terdapat satu kamar mandi umum dan mushola. Itu pun jarang difungsikan. Penghuni desa ini lebih suka beraktifitas di sungai seperti mencuci dan mandi.


Rumah adat Tikel warga suku Osing, desa Kemiren

Lesung untuk menumbuk padi masih bisa kita lihat di desa ini. Dapur yang masih terdapat tungku untuk memasak. Dan warga desa ini semuanya petani. Tradisi yang cukup unik bagiku yaitu ketika warga desa tetangga memiliki hajatan, maka akan terdengan bunyi sound dari tempat orang tersebut punya hajat. Maka secara otomatis bagi siapa saja yang mendegarnya, maka akan datang diacara tersebut. Walaupun tanpa adanya undangan.

Buyut Cili

Kami berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pemuda yang ada di desa ini. Bahwa tidak jauh dari area desa ini terdapat punden Buyut Cili. Konon beliau merupakan penghuni pertama di desa Kemiren.

Tinjauan secara mitologi keberadaan dari desa ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Buyut Cili. Nenek moyang atau danyang desa yang telah menjadi punden desa Kemiren. Masyarakat sekitar percaya bahwa Buyut Cili merupakan orang yang memiliki kekuatan sakti dari Majapahit yang memeluk agama Hindu.

Mitosnya nama “Cili” yang dalam bahasa Osing berarti “pelarian”. Ikhwal kisah, Buyut Cili adalah Pendeta Hindu-Budha. Namun berdasarkan versi lain meriwayatkan bahwa Buyut Cili menghuni ke desa Kemiren akibat tekanan dari kerajaan Demak.

Selain itu dikisahkan pula bahwa konon di desa Kemiren terserang wabah penyakit yang cukup mengerikan. Tidak sedikit dari orang sakit di pagi hari, kemudian sore meninggal. Melihat hal demikian, Buyut Cili segera meminta pertolongan dari Sang Maha Agung. Kemudian didapatkan sebuah petunjuk untuk melakukan selamatan. Dalam melakukan selamatan tersebut hendaknya terlebih dahulu menampilkan arak-arakan Barong untuk menolak bala (bencana). Dulu, Barong itu sendiri disebut sebagai binatang mistis yang merupakan binatang peliharaan Buyut Cili.



Petilasan Buyut Cili (Doc: Mochamad Rifa’i)

Petilasan Buyut Cili terdapat sekitar 50 meter dari perumahan warga. Hingga sekarang petilasan ini masih dikeramatkan dan banyak pengunjung yang berdatangan, terutama malam Jumat dan Minggu sore. Sebelumya petilasan ini menurut kepercayaan warga sekitar, ruh dari Buyut Cili tidak ingin untuk petilasannya dibangun.

Dan anehnya tidak ada aliran listrik yang mengalir di petilasan Buyut Cili. Beberapa kali warga sekitar mencoba untuk memasang listrik, namun tetap saja listriknya mati dan tidak bisa dinyalakan. Terakhir saya berkunjung ke petilasan ini Minggu, 30 Juni 2019 dan masih tidak ada aliran listrik di tempat tersebut.

Menyempatkan bermain di Banyuwangi sebelum menjelang pulang ke kota Tuban kelahiranku hari itu sungguh mengobati rasa penasaranku terhadap desa Kemiren yang menyimpan banyak sejarah dan kemistisannya. Selain itu menambah wawasan dan pengetahuan saya. Cocok deh jika Kabupaten Banyuwangi dijadikan sebagai Kota Welas Asih, yaitu kota yang sangat menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinekaan. [T]

Tags: banyuwangiDesa KemirenJawa TimurSuku Osing
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Ulangi Membaca Galungan

Next Post

Disabilitas Tunanetra Siap Menyambut Revolusi Industri 4.0 Melalui Gerakan Literasi

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Disabilitas  Tunanetra  Siap  Menyambut Revolusi  Industri  4.0  Melalui  Gerakan Literasi

Disabilitas Tunanetra Siap Menyambut Revolusi Industri 4.0 Melalui Gerakan Literasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co