24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia yang Kehilangan Cermin

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 1, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, saya yakin,  kita pasti pernah memandangi sebuah foto dan merasa ikut merasakan keindahannya atau suasananya.  Bisa jadi itu foto seseorang berdiri di tengah keramaian stasiun, atau foto kita sendiri berpose di depan air terjun waktu sedang berwisata, atau tersenyum penuh harapan di depan rumah impian. Tapi kini, kita  tak yakin lagi, apakah foto-foto semacam itu nyata atau tidak. Karena di zaman kita yang serba canggih ini, satu hal sudah jelas, untuk menciptakan gambar tak lagi butuh kenyataan. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu menciptakan  citra manusia, tempat, suasana, bahkan emosi, dalam sekejap. Tanpa kamera, tanpa perjalanan, tanpa model sungguhan. Bahkan tanpa pernah mengalaminya. Dan ketika gambar foto realistik dibuat hanya dari teks, dunia mulai kehilangan salah satu hal yang paling fundamental dalam relasi sosial, yaitu kepercayaan pada visual. Hal ini juga berlaku untuk video, saudara-saudara. Dan kita semua bisa menyaksikan karya-karya itu di YouTube, TikTok dan sebagainya. Yang mereka bagikan bukan cerita kehidupan tapi berbagi prompt, dan untungnya mereka biasanya jujur kalau semua itu untuk hiburan belaka.

Krisis Kredibilitas Ketika yang Nyata Diragukan

Dulu, kamera adalah mesin waktu. Ia merekam momen, menyimpan kenangan, dan menjadi bukti bahwa seseorang pernah ada di suatu tempat, pernah bersama seseorang, pernah mengalami sesuatu. Namun kini, kita tak butuh kamera untuk menciptakan gambar. Cukup sebuah kalimat prompt, “perempuan muda duduk di samping jendela, cahaya pagi menyinari wajahnya, tampak tenang dan melankolis, latar belakang pedesaan yang asri”. Klik, enter. Dan jadilah sebuah foto yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Sebuah citra yang menyentuh, seolah-olah nyata. Tapi ia bukan foto. Ia bukan kenangan. Ia bukan kejadian. Ia murni fantasi visual.  Jean Baudrillard menyebut ini sebagai hiperrealitas.  Ketika simulasi tak lagi merepresentasikan realitas, tapi menjadi realitas baru yang lebih meyakinkan daripada aslinya.

Inilah paradoks zaman kita sekarang,  semakin canggih visual diciptakan, malah semakin meragukan. Dulu, foto adalah bukti. Sekarang, ia bisa jadi suatu kebohongan yang cemerlang. Dan yang menyakitkan, bahkan foto yang benar-benar kita buat dan nyata malah jadi dicurigai. Seorang teman yang memotret dirinya di  pedalaman Kalimantan bersama orang utan bisa ditanyai, “Eh, ini AI ya? Editan ya?”

Dalam jangka panjang, saya pikir ini  akan bisa menciptakan trauma kolektif  di bidang visual, bahwa yang benar tak lagi dipercaya, dan yang palsu jadi biasa. Dan ini menciptakan masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar krisis estetika. Kita mulai tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan yang lebih parah, kita juga mulai tidak peduli.

Manusia dan Kebutuhan untuk Berbagi

Dalam psikologi sosial, manusia butuh membagi pengalaman untuk merasa hidup. Kita butuh orang lain untuk melihat apa yang kita lihat, merasakan apa yang kita rasakan. Itulah mengapa kita memotret, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk dunia sekitar kita.

Tapi ketika foto kita tak lagi dipercaya, pengalaman yang dibagikan pun jadi kehilangan maknanya. Kegembiraan  di puncak gunung berubah jadi sepi. Timbul keresahan dalam hati, untuk apa aku membagikannya, jika tidak lagi dipercaya.  Menurut Erich Fromm, manusia modern telah berubah dari “makhluk yang menjadi” menjadi “makhluk yang memiliki.”

Dan kini, kita kehilangan keduanya, kita tak lagi menjadi bagian dari pengalaman, karena gambar bisa diciptakan tanpa mengalami. Dan kita lalu tak memiliki kepercayaan, karena siapa pun bisa mengarang apa pun. Dalam psikologi sosial, ini menciptakan disonansi emosional. Ketika manusia membagi pengalaman tulus tapi tak dipercaya, maka akan muncul rasa tertolak, terasing, dan tidak penting. Ini adalah bentuk kesepian sosial baru, lebih dalam dari sekadar kesepian karena sendirian.

Sosiolog seperti Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai masyarakat cair, di mana relasi sosial tak lagi stabil. Salah satu penyebabnya adalah banjir citra dan informasi tanpa filter.  Kini, ketika foto yang berisi pengalaman sebagai bentuk transaksi sosial, kehilangan kredibilitas, maka yang terjadi adalah isolasi pengalaman.

Seseorang bisa mengalami sesuatu yang luar biasa, mengabadikannya, tapi tak bisa lagi membaginya dengan suatu keyakinan, bahwa orang lain akan mempercayai atau memahami. Ini membuat manusia makin terasing. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Kekhawatiran terbesar bukanlah mati, melainkan hidup tanpa disaksikan.”

Ketika Imajinasi Menggantikan Kenyataan

Menggunakan AI untuk menciptakan visual imajinatif tidak salah. Bahkan bisa menjadi alat ekspresi baru yang luar biasa. Sangat berguna untuk keperluan pendidikan, industri atau marketing misalnya. Tapi ketika kita bicara soal yang fiktif mulai menggantikan kebutuhan akan pengalaman nyata, kita menghadapi risiko disosiasi realitas.

Orang tak perlu bepergian, tak perlu bekerja keras, tak perlu menunggu matahari terbit, cukup menulis prompt, dan visualnya hadir. Ini memang menyenangkan, tapi juga membuat yang namanya proses jadi kehilangan nilai. Kita jadi tamu di hidup kita sendiri. Seorang psikolog kognitif, Sherry Turkle, pernah menulis dalam Alone Together (2011), “Kita menciptakan teknologi untuk mendekatkan, tapi kita justru semakin sendiri.”AI memperkuat itu.

Kita bisa menciptakan gambaran kehidupan yang sempurna, tanpa harus benar-benar menjalaninya. Apa kabar fotografer, apa kabar pula videografer? Haruskah Kita Menyerah?Tentu tidak. Sejarah teknologi selalu menciptakan ketakutan, tetapi juga peluang. Ketika kamera ditemukan, para pelukis potret khawatir mereka akan punah. Tapi yang terjadi adalah transformasi dari seni realisme ke impresionisme, ekspresionisme, dan seterusnya.

Demikian pula fotografi hari ini. Dengan berbagai tantangan yang telah kita bahas di atas, maka kini fotografer bukan hanya tukang potret, tapi menjadi penjaga realitas. Yang membedakan bukan alat, tapi niat antara mereka yang menciptakan untuk menyentuh, dan mereka yang mencipta untuk menipu.

Cermin yang Retak, Tapi Masih Memantulkan

Foto bukan hanya tentang gambar. Ia adalah cermin, ruang dialog, jembatan rasa. Dan meski kini cermin itu mulai retak oleh simulasi, tapi kita masih bisa memilih cara kita melihat. Seperti kata Leonard Cohen: “There is a crack in everything, that’s how the light gets in.” Selalu ada retakan dalam segala hal, di sanalah cahaya masuk.”

Kita bisa terus mencipta, tapi musti dengan kejujuran. Kita bisa terus berbagi, tapi dengan niat untuk menyentuh, bukan sekadar untuk mengesankan. Kita bisa tetap menjadi manusia, yang merasakan, mengalami, dan mempercayai. Karena di ujung hari, yang paling kita rindukan bukan gambar yang indah, tapi makna yang nyata.

Maka di era banjir citra, yang paling revolusioner adalah menjadi autentik. Berani hidup sungguh-sungguh. Berani membagi pengalaman meski sederhana. Berani dipercaya meski tak spektakuler.  Karena yang paling menyentuh bukanlah gambar yang sempurna. Tapi kisah yang hidup di dalamnya. Meski demikian, selamat berlatih menulis prompt supaya tidak kudet. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: AIfotogaya hidupmedia sosialmodernmodernitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Riuh PKB, Ada Riuh Gong Mebarung di Desa Munduk: Kebyar Munduk vs Kebyar Desa Musi

Next Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co