14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia yang Kehilangan Cermin

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 1, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, saya yakin,  kita pasti pernah memandangi sebuah foto dan merasa ikut merasakan keindahannya atau suasananya.  Bisa jadi itu foto seseorang berdiri di tengah keramaian stasiun, atau foto kita sendiri berpose di depan air terjun waktu sedang berwisata, atau tersenyum penuh harapan di depan rumah impian. Tapi kini, kita  tak yakin lagi, apakah foto-foto semacam itu nyata atau tidak. Karena di zaman kita yang serba canggih ini, satu hal sudah jelas, untuk menciptakan gambar tak lagi butuh kenyataan. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu menciptakan  citra manusia, tempat, suasana, bahkan emosi, dalam sekejap. Tanpa kamera, tanpa perjalanan, tanpa model sungguhan. Bahkan tanpa pernah mengalaminya. Dan ketika gambar foto realistik dibuat hanya dari teks, dunia mulai kehilangan salah satu hal yang paling fundamental dalam relasi sosial, yaitu kepercayaan pada visual. Hal ini juga berlaku untuk video, saudara-saudara. Dan kita semua bisa menyaksikan karya-karya itu di YouTube, TikTok dan sebagainya. Yang mereka bagikan bukan cerita kehidupan tapi berbagi prompt, dan untungnya mereka biasanya jujur kalau semua itu untuk hiburan belaka.

Krisis Kredibilitas Ketika yang Nyata Diragukan

Dulu, kamera adalah mesin waktu. Ia merekam momen, menyimpan kenangan, dan menjadi bukti bahwa seseorang pernah ada di suatu tempat, pernah bersama seseorang, pernah mengalami sesuatu. Namun kini, kita tak butuh kamera untuk menciptakan gambar. Cukup sebuah kalimat prompt, “perempuan muda duduk di samping jendela, cahaya pagi menyinari wajahnya, tampak tenang dan melankolis, latar belakang pedesaan yang asri”. Klik, enter. Dan jadilah sebuah foto yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Sebuah citra yang menyentuh, seolah-olah nyata. Tapi ia bukan foto. Ia bukan kenangan. Ia bukan kejadian. Ia murni fantasi visual.  Jean Baudrillard menyebut ini sebagai hiperrealitas.  Ketika simulasi tak lagi merepresentasikan realitas, tapi menjadi realitas baru yang lebih meyakinkan daripada aslinya.

Inilah paradoks zaman kita sekarang,  semakin canggih visual diciptakan, malah semakin meragukan. Dulu, foto adalah bukti. Sekarang, ia bisa jadi suatu kebohongan yang cemerlang. Dan yang menyakitkan, bahkan foto yang benar-benar kita buat dan nyata malah jadi dicurigai. Seorang teman yang memotret dirinya di  pedalaman Kalimantan bersama orang utan bisa ditanyai, “Eh, ini AI ya? Editan ya?”

Dalam jangka panjang, saya pikir ini  akan bisa menciptakan trauma kolektif  di bidang visual, bahwa yang benar tak lagi dipercaya, dan yang palsu jadi biasa. Dan ini menciptakan masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar krisis estetika. Kita mulai tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan yang lebih parah, kita juga mulai tidak peduli.

Manusia dan Kebutuhan untuk Berbagi

Dalam psikologi sosial, manusia butuh membagi pengalaman untuk merasa hidup. Kita butuh orang lain untuk melihat apa yang kita lihat, merasakan apa yang kita rasakan. Itulah mengapa kita memotret, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk dunia sekitar kita.

Tapi ketika foto kita tak lagi dipercaya, pengalaman yang dibagikan pun jadi kehilangan maknanya. Kegembiraan  di puncak gunung berubah jadi sepi. Timbul keresahan dalam hati, untuk apa aku membagikannya, jika tidak lagi dipercaya.  Menurut Erich Fromm, manusia modern telah berubah dari “makhluk yang menjadi” menjadi “makhluk yang memiliki.”

Dan kini, kita kehilangan keduanya, kita tak lagi menjadi bagian dari pengalaman, karena gambar bisa diciptakan tanpa mengalami. Dan kita lalu tak memiliki kepercayaan, karena siapa pun bisa mengarang apa pun. Dalam psikologi sosial, ini menciptakan disonansi emosional. Ketika manusia membagi pengalaman tulus tapi tak dipercaya, maka akan muncul rasa tertolak, terasing, dan tidak penting. Ini adalah bentuk kesepian sosial baru, lebih dalam dari sekadar kesepian karena sendirian.

Sosiolog seperti Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai masyarakat cair, di mana relasi sosial tak lagi stabil. Salah satu penyebabnya adalah banjir citra dan informasi tanpa filter.  Kini, ketika foto yang berisi pengalaman sebagai bentuk transaksi sosial, kehilangan kredibilitas, maka yang terjadi adalah isolasi pengalaman.

Seseorang bisa mengalami sesuatu yang luar biasa, mengabadikannya, tapi tak bisa lagi membaginya dengan suatu keyakinan, bahwa orang lain akan mempercayai atau memahami. Ini membuat manusia makin terasing. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Kekhawatiran terbesar bukanlah mati, melainkan hidup tanpa disaksikan.”

Ketika Imajinasi Menggantikan Kenyataan

Menggunakan AI untuk menciptakan visual imajinatif tidak salah. Bahkan bisa menjadi alat ekspresi baru yang luar biasa. Sangat berguna untuk keperluan pendidikan, industri atau marketing misalnya. Tapi ketika kita bicara soal yang fiktif mulai menggantikan kebutuhan akan pengalaman nyata, kita menghadapi risiko disosiasi realitas.

Orang tak perlu bepergian, tak perlu bekerja keras, tak perlu menunggu matahari terbit, cukup menulis prompt, dan visualnya hadir. Ini memang menyenangkan, tapi juga membuat yang namanya proses jadi kehilangan nilai. Kita jadi tamu di hidup kita sendiri. Seorang psikolog kognitif, Sherry Turkle, pernah menulis dalam Alone Together (2011), “Kita menciptakan teknologi untuk mendekatkan, tapi kita justru semakin sendiri.”AI memperkuat itu.

Kita bisa menciptakan gambaran kehidupan yang sempurna, tanpa harus benar-benar menjalaninya. Apa kabar fotografer, apa kabar pula videografer? Haruskah Kita Menyerah?Tentu tidak. Sejarah teknologi selalu menciptakan ketakutan, tetapi juga peluang. Ketika kamera ditemukan, para pelukis potret khawatir mereka akan punah. Tapi yang terjadi adalah transformasi dari seni realisme ke impresionisme, ekspresionisme, dan seterusnya.

Demikian pula fotografi hari ini. Dengan berbagai tantangan yang telah kita bahas di atas, maka kini fotografer bukan hanya tukang potret, tapi menjadi penjaga realitas. Yang membedakan bukan alat, tapi niat antara mereka yang menciptakan untuk menyentuh, dan mereka yang mencipta untuk menipu.

Cermin yang Retak, Tapi Masih Memantulkan

Foto bukan hanya tentang gambar. Ia adalah cermin, ruang dialog, jembatan rasa. Dan meski kini cermin itu mulai retak oleh simulasi, tapi kita masih bisa memilih cara kita melihat. Seperti kata Leonard Cohen: “There is a crack in everything, that’s how the light gets in.” Selalu ada retakan dalam segala hal, di sanalah cahaya masuk.”

Kita bisa terus mencipta, tapi musti dengan kejujuran. Kita bisa terus berbagi, tapi dengan niat untuk menyentuh, bukan sekadar untuk mengesankan. Kita bisa tetap menjadi manusia, yang merasakan, mengalami, dan mempercayai. Karena di ujung hari, yang paling kita rindukan bukan gambar yang indah, tapi makna yang nyata.

Maka di era banjir citra, yang paling revolusioner adalah menjadi autentik. Berani hidup sungguh-sungguh. Berani membagi pengalaman meski sederhana. Berani dipercaya meski tak spektakuler.  Karena yang paling menyentuh bukanlah gambar yang sempurna. Tapi kisah yang hidup di dalamnya. Meski demikian, selamat berlatih menulis prompt supaya tidak kudet. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: AIfotogaya hidupmedia sosialmodernmodernitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Riuh PKB, Ada Riuh Gong Mebarung di Desa Munduk: Kebyar Munduk vs Kebyar Desa Musi

Next Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co