2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia yang Kehilangan Cermin

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 1, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, saya yakin,  kita pasti pernah memandangi sebuah foto dan merasa ikut merasakan keindahannya atau suasananya.  Bisa jadi itu foto seseorang berdiri di tengah keramaian stasiun, atau foto kita sendiri berpose di depan air terjun waktu sedang berwisata, atau tersenyum penuh harapan di depan rumah impian. Tapi kini, kita  tak yakin lagi, apakah foto-foto semacam itu nyata atau tidak. Karena di zaman kita yang serba canggih ini, satu hal sudah jelas, untuk menciptakan gambar tak lagi butuh kenyataan. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu menciptakan  citra manusia, tempat, suasana, bahkan emosi, dalam sekejap. Tanpa kamera, tanpa perjalanan, tanpa model sungguhan. Bahkan tanpa pernah mengalaminya. Dan ketika gambar foto realistik dibuat hanya dari teks, dunia mulai kehilangan salah satu hal yang paling fundamental dalam relasi sosial, yaitu kepercayaan pada visual. Hal ini juga berlaku untuk video, saudara-saudara. Dan kita semua bisa menyaksikan karya-karya itu di YouTube, TikTok dan sebagainya. Yang mereka bagikan bukan cerita kehidupan tapi berbagi prompt, dan untungnya mereka biasanya jujur kalau semua itu untuk hiburan belaka.

Krisis Kredibilitas Ketika yang Nyata Diragukan

Dulu, kamera adalah mesin waktu. Ia merekam momen, menyimpan kenangan, dan menjadi bukti bahwa seseorang pernah ada di suatu tempat, pernah bersama seseorang, pernah mengalami sesuatu. Namun kini, kita tak butuh kamera untuk menciptakan gambar. Cukup sebuah kalimat prompt, “perempuan muda duduk di samping jendela, cahaya pagi menyinari wajahnya, tampak tenang dan melankolis, latar belakang pedesaan yang asri”. Klik, enter. Dan jadilah sebuah foto yang lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Sebuah citra yang menyentuh, seolah-olah nyata. Tapi ia bukan foto. Ia bukan kenangan. Ia bukan kejadian. Ia murni fantasi visual.  Jean Baudrillard menyebut ini sebagai hiperrealitas.  Ketika simulasi tak lagi merepresentasikan realitas, tapi menjadi realitas baru yang lebih meyakinkan daripada aslinya.

Inilah paradoks zaman kita sekarang,  semakin canggih visual diciptakan, malah semakin meragukan. Dulu, foto adalah bukti. Sekarang, ia bisa jadi suatu kebohongan yang cemerlang. Dan yang menyakitkan, bahkan foto yang benar-benar kita buat dan nyata malah jadi dicurigai. Seorang teman yang memotret dirinya di  pedalaman Kalimantan bersama orang utan bisa ditanyai, “Eh, ini AI ya? Editan ya?”

Dalam jangka panjang, saya pikir ini  akan bisa menciptakan trauma kolektif  di bidang visual, bahwa yang benar tak lagi dipercaya, dan yang palsu jadi biasa. Dan ini menciptakan masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar krisis estetika. Kita mulai tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Dan yang lebih parah, kita juga mulai tidak peduli.

Manusia dan Kebutuhan untuk Berbagi

Dalam psikologi sosial, manusia butuh membagi pengalaman untuk merasa hidup. Kita butuh orang lain untuk melihat apa yang kita lihat, merasakan apa yang kita rasakan. Itulah mengapa kita memotret, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk dunia sekitar kita.

Tapi ketika foto kita tak lagi dipercaya, pengalaman yang dibagikan pun jadi kehilangan maknanya. Kegembiraan  di puncak gunung berubah jadi sepi. Timbul keresahan dalam hati, untuk apa aku membagikannya, jika tidak lagi dipercaya.  Menurut Erich Fromm, manusia modern telah berubah dari “makhluk yang menjadi” menjadi “makhluk yang memiliki.”

Dan kini, kita kehilangan keduanya, kita tak lagi menjadi bagian dari pengalaman, karena gambar bisa diciptakan tanpa mengalami. Dan kita lalu tak memiliki kepercayaan, karena siapa pun bisa mengarang apa pun. Dalam psikologi sosial, ini menciptakan disonansi emosional. Ketika manusia membagi pengalaman tulus tapi tak dipercaya, maka akan muncul rasa tertolak, terasing, dan tidak penting. Ini adalah bentuk kesepian sosial baru, lebih dalam dari sekadar kesepian karena sendirian.

Sosiolog seperti Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai masyarakat cair, di mana relasi sosial tak lagi stabil. Salah satu penyebabnya adalah banjir citra dan informasi tanpa filter.  Kini, ketika foto yang berisi pengalaman sebagai bentuk transaksi sosial, kehilangan kredibilitas, maka yang terjadi adalah isolasi pengalaman.

Seseorang bisa mengalami sesuatu yang luar biasa, mengabadikannya, tapi tak bisa lagi membaginya dengan suatu keyakinan, bahwa orang lain akan mempercayai atau memahami. Ini membuat manusia makin terasing. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Kekhawatiran terbesar bukanlah mati, melainkan hidup tanpa disaksikan.”

Ketika Imajinasi Menggantikan Kenyataan

Menggunakan AI untuk menciptakan visual imajinatif tidak salah. Bahkan bisa menjadi alat ekspresi baru yang luar biasa. Sangat berguna untuk keperluan pendidikan, industri atau marketing misalnya. Tapi ketika kita bicara soal yang fiktif mulai menggantikan kebutuhan akan pengalaman nyata, kita menghadapi risiko disosiasi realitas.

Orang tak perlu bepergian, tak perlu bekerja keras, tak perlu menunggu matahari terbit, cukup menulis prompt, dan visualnya hadir. Ini memang menyenangkan, tapi juga membuat yang namanya proses jadi kehilangan nilai. Kita jadi tamu di hidup kita sendiri. Seorang psikolog kognitif, Sherry Turkle, pernah menulis dalam Alone Together (2011), “Kita menciptakan teknologi untuk mendekatkan, tapi kita justru semakin sendiri.”AI memperkuat itu.

Kita bisa menciptakan gambaran kehidupan yang sempurna, tanpa harus benar-benar menjalaninya. Apa kabar fotografer, apa kabar pula videografer? Haruskah Kita Menyerah?Tentu tidak. Sejarah teknologi selalu menciptakan ketakutan, tetapi juga peluang. Ketika kamera ditemukan, para pelukis potret khawatir mereka akan punah. Tapi yang terjadi adalah transformasi dari seni realisme ke impresionisme, ekspresionisme, dan seterusnya.

Demikian pula fotografi hari ini. Dengan berbagai tantangan yang telah kita bahas di atas, maka kini fotografer bukan hanya tukang potret, tapi menjadi penjaga realitas. Yang membedakan bukan alat, tapi niat antara mereka yang menciptakan untuk menyentuh, dan mereka yang mencipta untuk menipu.

Cermin yang Retak, Tapi Masih Memantulkan

Foto bukan hanya tentang gambar. Ia adalah cermin, ruang dialog, jembatan rasa. Dan meski kini cermin itu mulai retak oleh simulasi, tapi kita masih bisa memilih cara kita melihat. Seperti kata Leonard Cohen: “There is a crack in everything, that’s how the light gets in.” Selalu ada retakan dalam segala hal, di sanalah cahaya masuk.”

Kita bisa terus mencipta, tapi musti dengan kejujuran. Kita bisa terus berbagi, tapi dengan niat untuk menyentuh, bukan sekadar untuk mengesankan. Kita bisa tetap menjadi manusia, yang merasakan, mengalami, dan mempercayai. Karena di ujung hari, yang paling kita rindukan bukan gambar yang indah, tapi makna yang nyata.

Maka di era banjir citra, yang paling revolusioner adalah menjadi autentik. Berani hidup sungguh-sungguh. Berani membagi pengalaman meski sederhana. Berani dipercaya meski tak spektakuler.  Karena yang paling menyentuh bukanlah gambar yang sempurna. Tapi kisah yang hidup di dalamnya. Meski demikian, selamat berlatih menulis prompt supaya tidak kudet. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: AIfotogaya hidupmedia sosialmodernmodernitas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Riuh PKB, Ada Riuh Gong Mebarung di Desa Munduk: Kebyar Munduk vs Kebyar Desa Musi

Next Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co