23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 3 – Paleokultur

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Homo erectus. /Sumber ilustrasi: Google Images

 

MASIH saya ingat sebuah cerita di waktu masa kecil. Kata orang-orang dewasa yang bercerita pada saya, saya diciptakan dari lempung, atau bahasa Indonesianya tanah liat. Imaji yang terkonstruksi di kepala – Tuhan membikin boneka dari tanah liat, kemudian meniup boneka itu dari hidung, maka terciptalah saya. Saya lantas hidup dan bernafas. Itu cerita masa kecil yang masih saya ingat. Ya, cerita tentang Tuhan dan penciptaan manusia.

Pada usia SMP, ketika mulai mengenal pelajaran biologi, baru saya ketahui sistem reproduksi manusia. Baru saya pahami bahwa manusia merupakan mahluk hidup yang berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar), Cara sederhana menandai mahluk hidup yang berkembang biak dengan melahirkan adalah memiliki ‘daun telinga’. Itu cara mengingat yang diajarkan oleh Pak Dasiran, guru pelajaran biologi saya saat di SMP Bintang Laut Solo.

Pelajaran tentang sistem reproduksi manusia, baik yang pria maupun wanita, kian memberikan pemahaman yang lebih masuk akal daripada pengetahuan tentang ‘tanah liat’ sebagai bahan baku manusia. Wanita menghasilkan sel telur (ovum) dan pria menghasilkan sperma dan kemudian bertemu hingga menjadi benih kehidupan yang terus tumbuh dan hidup menjadi manusia (individu) baru, kian menarik minatku belajar ilmu biologi saat itu.

Dan kata-kata Louis Pasteur yang paling membekas di otak saya sampai kini; “Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo” (“seluruh kehidupan berasal dari telur, seluruh telur berasal dari kehidupan”).

Teknologi curang di bangku sekolah, mulai ‘bermukim’ dalam diri manakala di bangku SMP ini. Ia hadir karena suatu kebutuhan agar saya dapat nilai bagus untuk pelajaran biologi dan sejarah, yang begitu banyak memakai istilah latin. Pasalnya, Pak Guru Dasiran sudah mengingatkan agar tidak salah dalam menulis nama, dan tempat.

Sungguh sulit menghafal tulisan nama-nama dan istilah-istilah asing, maupun tahun-tahun kejadiannya. Seperti misalnya ; Louis Pasteur , Von Heine Geldern , Charles Robert Darwin, Alfred Russel Wallace, Eugene Dubois, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus erectus Soloensis, Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, Omnis cellula e cellula , dan lain sebagainya.

Barangkali, saya tidak berbakat menghafal pelajaran ilmu-ilmu sosial, maka muncullah akal curang secara alamiah. Setiap ulangan, saya membikin ‘contekan’, dengan menulis nama-nama, istilah-istilah, maupun tahun-tahun kejadian – di pangkal paha. Jadi tertutup celana pendek.

Maka, setiap ulangan sejarah atau biologi, kedua pangkal paha saya penuh dengan tulisan ‘contekan’. Inilah pembelajaran saya tentang me-‘manipulasi’ pencapaian hasil ulangan. Selain itu juga meng-‘korupsi’ kepercayaan Pak Guru Dasiran yang telah bersusah payah mendidik. Kelakuan saya itu, hanya demi keuntungan saya pribadi..Dan tindakan ini — jika tak segera kuperbaiki — akhirnya merugikan diri saya kelak.

Mengapa merugikan? Saya harap adik-adik pelajar SMP tidak mengikuti jejak curang saya itu. Ya, sangat merugikan. Ketika saya memasuki kelas 1 SMA, teknologi curang menulis ‘contekan’ di pangkal paha sudah tak bisa saya lakukan. Sebab, harus bercelana panjang. Akibatnya, semua pelajaran yang mengandung hafalan dapat nilai yang kurang bagus. Barulah pada kwartal ke 2, muncul kesadaran akan kesalahan masa lalu. Tindakan curang, harus segera saya hentikan.

Tujuan saya bersekolah adalah menggali dan memahami ilmu pengetahuan, bukan mengejar nilai. Saya lantas bekerja keras melatih otak untuk memahami, tak sekedar menghafal. Menurut saya, memahami pasti hafal, dan hafal belum tentu memahami. Saya memilihi memahami. Lebih dari itu, tentu jika tindak curang itu saya teruskan, akan merusak kepribadian saya. Pak Dasiran tak menginginkan saya menjadi seseorang yang kelak memakai jaket orange, menjadi tahanan KPK. Ya, Pak Guru Dasiran tak menginginkan saya menjadi koruptor.

Mungkin karena waktu SMP – setiap ulangan biologi dan sejarah saya suka ‘nyontek’ – maka hingga kini pelajaran itu saya sukai, meski tak terlalu mendalami. Bisa juga karena saya lahir di Solo – Jawa Tengah, tempat ditemukannya Pithecanthropus erectus Soloensis. Tepatnya di Desa Sangiran.

Fosil Pithecanthropus erectus Soloensis di temukan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, ahli paleontologi asal Berlin, pada tahun 1936. Sebelumnya, pada tahun 1891, Uegene Dubois menemukan fosil mahluk mirip manusia di Desa Trinil. Ia memberi nama ilmiah Pithecanthropus erectus.

Kata-kata ‘Soloenis’ kembali ter-update dalam pikiran saya ketika koreografer dan mantan Rektor Institut Kesenian Jakarta Sardono Waluyo Kusumo, mementaskan repertoar bertajuk ‘Soloensis’. Karya ini dipentaskan di tiga kota ; Hamburg, Seoul, dan Jakarta. Pada tahun 1999, dipentaskan di Rio de Jeneiro. Sardono Waluyo Kusumo memang kelahiran Solo juga, mungkin karena itulah ia juga terobsesi menciptakan karya tarinya yang bertajuk ; ‘Soloensis’. Entahlah.

Berbicara soal Soloensis, seingat saya, bahwa manusia Jawa ini merupakan mata rantai yang hilang (missing link) antara manusia purba dan manusia modern. Penemuan ini lantas menjadi acuan para ilmuwan untuk membenarkan teori evolusi Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Tapi yang masih menjadi pertanyaan saya, benarkah leluhur kami (mengacu teori Darwin) berawal dari ‘primata’? Benarkah Homo Erectus merupakan leluhur kami?

Menurut Darwin, berdasarkan penemuan penemuan tulang belulang hewan dan manusia purba termasuk kera purba. Primata tersebut secara bertahap mengalami ‘perbaikan biologis’ selama jutaan tahun sehingga menjadi manusia. Kalau demikian, mengapa tindakan-tindakan biadab selalu dikaitkan dengan ke-‘purbaan’ leluhur kami? Saya tetap kurang yakin kalau leluhur di masa lampau itu punya perilaku biadab, meski masih terbelakang. Belum ada bukti sejarah tentang kebiadaan para leluhur itu.

Saya belum pernah mendengar cerita ‘leluhur purba’ kita membakar sesama, atas dasar prasangka mencuri amplifier. Seperti yang menimpa MA, awal bulan Agustus 2017 di Bekasi. Belum pernah saya dengar juga ‘leluhur purba’ melakukan persekusi dengan menelanjangi dan mengarak pasangan yang (diprasangkai) melakukan tindak mesum, di Tangerang. Menurut saya, tindakan main hakim sendiri ini merupakan tindakan ‘memanipulasi’ kebenaran hukum. Dan saya tidak yakin kalo ‘leluhur purba’ saat itu sudah mengenal teknologi manipulasi.

Tentang kekerasan, saya juga belum pernah mendengar ‘leluhur purba’ melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga maupun terhadap anak-anak. Baik kekerasan phisik, psikis, maupun seksual – seperti yang dilakukan manusia modern. Saya juga tidak pernah mendengar kebiadaban ‘leluhur purba’, meng-korupsi hak-hak individu lain dan lingkungan sosialnya demi kepentingan diri sendiri, hingga menyengsarakan kehidupan koloni (komunitas)-nya. Tak ada bukti sejarah, bahwa manusia era paleo memakai rompi oranje. He..he..he Mas Agus juga belum lahir kala itu. Atau entah sudah hidup di koloni mana.

Yang saya ketahui (dengan kemampuan terbatas), berdasarkan penemuan para ahli tentang penemuan alat-alat paleolitikum, mereka merupakan manusia gua. Mereka bertahan hidup dari berburu untuk mengumpulkan makanan (tidak mengkorupsi). Hewan yang mereka buru pada masa itu antara lain : kerbau, banteng, rusa, dan lain-lain.

Mereka juga menangkap ikan di sungai dan mengumpulkan umbi-umbian, buah-buahan untuk kebutuhan makanan. Patokan penting yang menandai kebudayaan Paleo (di Jawa) adalah ditemukannya peninggalan kapak batu di Desa Pacitan, dan juga di Desa Ngandong dengan ditemukannya peralatan dari flakes (alat dari batu chalcedon) dan dari tulang-tulang binatang.

BACA JUGA:

  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

Di dunia modern sekarang ini, ada saja gaya hidup yang (konon) primitif itu, yang digali lagi oleh manusia modern. Salah satunya adalah diet paleo. Yakni diet yang mengikuti pola makan nenek moyang purba di masa lalu. Suatu pola diet yang mengadopsi pola makan manusia gua jaman pra sejarah.

Diet ini prinsipnya mengurangi karbohidrat dan kadar gula. Makan daging dan ikan, diperkenankan. Lebih banyak direbus daripada digoreng. Mengkonsumsi sayur-sayur pun lebih condong mentah tapi bersih. Bahan-bahan sayur maupun buah yang dikonsumsi diutamakan yang organik.

Pokoknya mengikuti gaya hidup masa lalu, yang natural dan sehat. Tanpa bahan pengawet. Menghindari makanan yang serba instan, produk manusia modern. Lalu, mengapa manusia modern menjadikan pola makan manusia gua sebagai model untuk melakukan diet? Sebab, mereka dianggap memiliki pola makan yang berguna untuk kesehatan. Oleh karena itu, sumber makanan dalam diet paleo itu dibuat semirip mungkin dengan yang dikonsumsi manusia gua.

Lebih lanjut, saya ingin melihat leluhur lampau ini dari sisi positif. Evolusi manusia (mengacu teori Darwin), tentu berkait dengan ‘evolusi’ ilmu pengetahuan dan kemajuan jaman. Nilai-nilai dan norma-norma pun ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan evolusi manusia. Paleokultur, kebudayaan masa lampau yang penuh kesederhanaan, pasti juga mengalami pertumbuhan secara sederhana. Barangkali, karena kesederhanaanya, justru tindak laku mereka tak se-‘biadab’ budaya jaman kekinian. Meski kultur moyang masa lampau itu dikategorikan primitif.

Pertumbuhan peradaban manusia di bumi ini, memang banyak membantu dalam mengatasi kehidupan manusia itu sendiri. Namun, percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti meninggalkan pertumbuhan mentalitas manusia penggunanya. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah sesuatu hal yang bebas nilai. Ada nilai-nilai etis yang mesti dipertimbangkan manusia penggunannya.

Selain itu, ada pula nilai sosial. Ini terbentuk bila orientasi (arah) penilaian tertuju pada hubungan antar manusia yang menekankan pada segi-segi kemanusian yang luhur. Dan masih ada beberapa nilai lagi dalam dinamika kehidupan manusia.

Tapi semua itu relatif sifatnya. Tidak ada hukum-hukum, aturan-aturan, atau norma-norma yang bisa membatasi interpretasi manusia atas nilai-nilai etik itu. Karena hal-hal relatif itulah, saya pribadi ingin merefleksikan kearifan paleokultur yang penuh kesederhanaan, jika hendak kita serap intisarinya .

Saya pribadi masih (berkeberatan) bahwa kebudayaan moyang masa lalu, adalah identik dengan primitif dan biadab. Meski penilaian primitif dan biadab adalah ‘racun’ yang menginfeksi daya nalar otak saya, ketika mendengar cerita-cerita manusia purba.

Lho, kok kerangka berpikir saya mundur jutaan tahun ya? Ah…dari pada saya bingung, sebaiknya saya petik sajak Soebagio Sastrowardoyo yang berjudul ‘Manusia Pertama di Angkasa Luar’.

….

Beri aku satu kata puisi,

Daripada seribu ilmu yang penuh janji.

Yang membuat aku terlempar dari bumi yang kukasih.

……. (T)

Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

 

Tags: KorupsiPendidikanpurba
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Tetap Menjaga Harapan Baik pada Jalur Naik-Turun Gunung Agung

Next Post

Membuktikan Ada Tuhan dalam Buku Falsafat Agama Prof. Dr. Harun Nasution

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Membuktikan Ada Tuhan dalam Buku Falsafat Agama Prof. Dr. Harun Nasution

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co