3 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 3 – Paleokultur

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Homo erectus. /Sumber ilustrasi: Google Images

 

MASIH saya ingat sebuah cerita di waktu masa kecil. Kata orang-orang dewasa yang bercerita pada saya, saya diciptakan dari lempung, atau bahasa Indonesianya tanah liat. Imaji yang terkonstruksi di kepala – Tuhan membikin boneka dari tanah liat, kemudian meniup boneka itu dari hidung, maka terciptalah saya. Saya lantas hidup dan bernafas. Itu cerita masa kecil yang masih saya ingat. Ya, cerita tentang Tuhan dan penciptaan manusia.

Pada usia SMP, ketika mulai mengenal pelajaran biologi, baru saya ketahui sistem reproduksi manusia. Baru saya pahami bahwa manusia merupakan mahluk hidup yang berkembang biak dengan cara melahirkan (vivipar), Cara sederhana menandai mahluk hidup yang berkembang biak dengan melahirkan adalah memiliki ‘daun telinga’. Itu cara mengingat yang diajarkan oleh Pak Dasiran, guru pelajaran biologi saya saat di SMP Bintang Laut Solo.

Pelajaran tentang sistem reproduksi manusia, baik yang pria maupun wanita, kian memberikan pemahaman yang lebih masuk akal daripada pengetahuan tentang ‘tanah liat’ sebagai bahan baku manusia. Wanita menghasilkan sel telur (ovum) dan pria menghasilkan sperma dan kemudian bertemu hingga menjadi benih kehidupan yang terus tumbuh dan hidup menjadi manusia (individu) baru, kian menarik minatku belajar ilmu biologi saat itu.

Dan kata-kata Louis Pasteur yang paling membekas di otak saya sampai kini; “Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo” (“seluruh kehidupan berasal dari telur, seluruh telur berasal dari kehidupan”).

Teknologi curang di bangku sekolah, mulai ‘bermukim’ dalam diri manakala di bangku SMP ini. Ia hadir karena suatu kebutuhan agar saya dapat nilai bagus untuk pelajaran biologi dan sejarah, yang begitu banyak memakai istilah latin. Pasalnya, Pak Guru Dasiran sudah mengingatkan agar tidak salah dalam menulis nama, dan tempat.

Sungguh sulit menghafal tulisan nama-nama dan istilah-istilah asing, maupun tahun-tahun kejadiannya. Seperti misalnya ; Louis Pasteur , Von Heine Geldern , Charles Robert Darwin, Alfred Russel Wallace, Eugene Dubois, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus erectus Soloensis, Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, Omnis cellula e cellula , dan lain sebagainya.

Barangkali, saya tidak berbakat menghafal pelajaran ilmu-ilmu sosial, maka muncullah akal curang secara alamiah. Setiap ulangan, saya membikin ‘contekan’, dengan menulis nama-nama, istilah-istilah, maupun tahun-tahun kejadian – di pangkal paha. Jadi tertutup celana pendek.

Maka, setiap ulangan sejarah atau biologi, kedua pangkal paha saya penuh dengan tulisan ‘contekan’. Inilah pembelajaran saya tentang me-‘manipulasi’ pencapaian hasil ulangan. Selain itu juga meng-‘korupsi’ kepercayaan Pak Guru Dasiran yang telah bersusah payah mendidik. Kelakuan saya itu, hanya demi keuntungan saya pribadi..Dan tindakan ini — jika tak segera kuperbaiki — akhirnya merugikan diri saya kelak.

Mengapa merugikan? Saya harap adik-adik pelajar SMP tidak mengikuti jejak curang saya itu. Ya, sangat merugikan. Ketika saya memasuki kelas 1 SMA, teknologi curang menulis ‘contekan’ di pangkal paha sudah tak bisa saya lakukan. Sebab, harus bercelana panjang. Akibatnya, semua pelajaran yang mengandung hafalan dapat nilai yang kurang bagus. Barulah pada kwartal ke 2, muncul kesadaran akan kesalahan masa lalu. Tindakan curang, harus segera saya hentikan.

Tujuan saya bersekolah adalah menggali dan memahami ilmu pengetahuan, bukan mengejar nilai. Saya lantas bekerja keras melatih otak untuk memahami, tak sekedar menghafal. Menurut saya, memahami pasti hafal, dan hafal belum tentu memahami. Saya memilihi memahami. Lebih dari itu, tentu jika tindak curang itu saya teruskan, akan merusak kepribadian saya. Pak Dasiran tak menginginkan saya menjadi seseorang yang kelak memakai jaket orange, menjadi tahanan KPK. Ya, Pak Guru Dasiran tak menginginkan saya menjadi koruptor.

Mungkin karena waktu SMP – setiap ulangan biologi dan sejarah saya suka ‘nyontek’ – maka hingga kini pelajaran itu saya sukai, meski tak terlalu mendalami. Bisa juga karena saya lahir di Solo – Jawa Tengah, tempat ditemukannya Pithecanthropus erectus Soloensis. Tepatnya di Desa Sangiran.

Fosil Pithecanthropus erectus Soloensis di temukan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, ahli paleontologi asal Berlin, pada tahun 1936. Sebelumnya, pada tahun 1891, Uegene Dubois menemukan fosil mahluk mirip manusia di Desa Trinil. Ia memberi nama ilmiah Pithecanthropus erectus.

Kata-kata ‘Soloenis’ kembali ter-update dalam pikiran saya ketika koreografer dan mantan Rektor Institut Kesenian Jakarta Sardono Waluyo Kusumo, mementaskan repertoar bertajuk ‘Soloensis’. Karya ini dipentaskan di tiga kota ; Hamburg, Seoul, dan Jakarta. Pada tahun 1999, dipentaskan di Rio de Jeneiro. Sardono Waluyo Kusumo memang kelahiran Solo juga, mungkin karena itulah ia juga terobsesi menciptakan karya tarinya yang bertajuk ; ‘Soloensis’. Entahlah.

Berbicara soal Soloensis, seingat saya, bahwa manusia Jawa ini merupakan mata rantai yang hilang (missing link) antara manusia purba dan manusia modern. Penemuan ini lantas menjadi acuan para ilmuwan untuk membenarkan teori evolusi Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Tapi yang masih menjadi pertanyaan saya, benarkah leluhur kami (mengacu teori Darwin) berawal dari ‘primata’? Benarkah Homo Erectus merupakan leluhur kami?

Menurut Darwin, berdasarkan penemuan penemuan tulang belulang hewan dan manusia purba termasuk kera purba. Primata tersebut secara bertahap mengalami ‘perbaikan biologis’ selama jutaan tahun sehingga menjadi manusia. Kalau demikian, mengapa tindakan-tindakan biadab selalu dikaitkan dengan ke-‘purbaan’ leluhur kami? Saya tetap kurang yakin kalau leluhur di masa lampau itu punya perilaku biadab, meski masih terbelakang. Belum ada bukti sejarah tentang kebiadaan para leluhur itu.

Saya belum pernah mendengar cerita ‘leluhur purba’ kita membakar sesama, atas dasar prasangka mencuri amplifier. Seperti yang menimpa MA, awal bulan Agustus 2017 di Bekasi. Belum pernah saya dengar juga ‘leluhur purba’ melakukan persekusi dengan menelanjangi dan mengarak pasangan yang (diprasangkai) melakukan tindak mesum, di Tangerang. Menurut saya, tindakan main hakim sendiri ini merupakan tindakan ‘memanipulasi’ kebenaran hukum. Dan saya tidak yakin kalo ‘leluhur purba’ saat itu sudah mengenal teknologi manipulasi.

Tentang kekerasan, saya juga belum pernah mendengar ‘leluhur purba’ melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga maupun terhadap anak-anak. Baik kekerasan phisik, psikis, maupun seksual – seperti yang dilakukan manusia modern. Saya juga tidak pernah mendengar kebiadaban ‘leluhur purba’, meng-korupsi hak-hak individu lain dan lingkungan sosialnya demi kepentingan diri sendiri, hingga menyengsarakan kehidupan koloni (komunitas)-nya. Tak ada bukti sejarah, bahwa manusia era paleo memakai rompi oranje. He..he..he Mas Agus juga belum lahir kala itu. Atau entah sudah hidup di koloni mana.

Yang saya ketahui (dengan kemampuan terbatas), berdasarkan penemuan para ahli tentang penemuan alat-alat paleolitikum, mereka merupakan manusia gua. Mereka bertahan hidup dari berburu untuk mengumpulkan makanan (tidak mengkorupsi). Hewan yang mereka buru pada masa itu antara lain : kerbau, banteng, rusa, dan lain-lain.

Mereka juga menangkap ikan di sungai dan mengumpulkan umbi-umbian, buah-buahan untuk kebutuhan makanan. Patokan penting yang menandai kebudayaan Paleo (di Jawa) adalah ditemukannya peninggalan kapak batu di Desa Pacitan, dan juga di Desa Ngandong dengan ditemukannya peralatan dari flakes (alat dari batu chalcedon) dan dari tulang-tulang binatang.

BACA JUGA:

  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
  • Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

Di dunia modern sekarang ini, ada saja gaya hidup yang (konon) primitif itu, yang digali lagi oleh manusia modern. Salah satunya adalah diet paleo. Yakni diet yang mengikuti pola makan nenek moyang purba di masa lalu. Suatu pola diet yang mengadopsi pola makan manusia gua jaman pra sejarah.

Diet ini prinsipnya mengurangi karbohidrat dan kadar gula. Makan daging dan ikan, diperkenankan. Lebih banyak direbus daripada digoreng. Mengkonsumsi sayur-sayur pun lebih condong mentah tapi bersih. Bahan-bahan sayur maupun buah yang dikonsumsi diutamakan yang organik.

Pokoknya mengikuti gaya hidup masa lalu, yang natural dan sehat. Tanpa bahan pengawet. Menghindari makanan yang serba instan, produk manusia modern. Lalu, mengapa manusia modern menjadikan pola makan manusia gua sebagai model untuk melakukan diet? Sebab, mereka dianggap memiliki pola makan yang berguna untuk kesehatan. Oleh karena itu, sumber makanan dalam diet paleo itu dibuat semirip mungkin dengan yang dikonsumsi manusia gua.

Lebih lanjut, saya ingin melihat leluhur lampau ini dari sisi positif. Evolusi manusia (mengacu teori Darwin), tentu berkait dengan ‘evolusi’ ilmu pengetahuan dan kemajuan jaman. Nilai-nilai dan norma-norma pun ikut tumbuh seiring dengan pertumbuhan evolusi manusia. Paleokultur, kebudayaan masa lampau yang penuh kesederhanaan, pasti juga mengalami pertumbuhan secara sederhana. Barangkali, karena kesederhanaanya, justru tindak laku mereka tak se-‘biadab’ budaya jaman kekinian. Meski kultur moyang masa lampau itu dikategorikan primitif.

Pertumbuhan peradaban manusia di bumi ini, memang banyak membantu dalam mengatasi kehidupan manusia itu sendiri. Namun, percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti meninggalkan pertumbuhan mentalitas manusia penggunanya. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah sesuatu hal yang bebas nilai. Ada nilai-nilai etis yang mesti dipertimbangkan manusia penggunannya.

Selain itu, ada pula nilai sosial. Ini terbentuk bila orientasi (arah) penilaian tertuju pada hubungan antar manusia yang menekankan pada segi-segi kemanusian yang luhur. Dan masih ada beberapa nilai lagi dalam dinamika kehidupan manusia.

Tapi semua itu relatif sifatnya. Tidak ada hukum-hukum, aturan-aturan, atau norma-norma yang bisa membatasi interpretasi manusia atas nilai-nilai etik itu. Karena hal-hal relatif itulah, saya pribadi ingin merefleksikan kearifan paleokultur yang penuh kesederhanaan, jika hendak kita serap intisarinya .

Saya pribadi masih (berkeberatan) bahwa kebudayaan moyang masa lalu, adalah identik dengan primitif dan biadab. Meski penilaian primitif dan biadab adalah ‘racun’ yang menginfeksi daya nalar otak saya, ketika mendengar cerita-cerita manusia purba.

Lho, kok kerangka berpikir saya mundur jutaan tahun ya? Ah…dari pada saya bingung, sebaiknya saya petik sajak Soebagio Sastrowardoyo yang berjudul ‘Manusia Pertama di Angkasa Luar’.

….

Beri aku satu kata puisi,

Daripada seribu ilmu yang penuh janji.

Yang membuat aku terlempar dari bumi yang kukasih.

……. (T)

Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

 

Tags: KorupsiPendidikanpurba
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Tetap Menjaga Harapan Baik pada Jalur Naik-Turun Gunung Agung

Next Post

Membuktikan Ada Tuhan dalam Buku Falsafat Agama Prof. Dr. Harun Nasution

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails
Next Post

Membuktikan Ada Tuhan dalam Buku Falsafat Agama Prof. Dr. Harun Nasution

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co