PADA Purnama Sasih Kapat yang akan jatuh pada tanggal 6 Oktober 2025, Soma Umanis Tolu, Desa Adat Padangtegal, Ubud, Gianyar, kembali akan menggelar upacara yadnya tingkatan utama yaitu Karya Padudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa lan Puseh. Karya serupa pernah digelar pada 25 tahun yang lalu yaitu pada tanggal 12 Oktober 2000, Wraspati Umanis Matal.
Upacara tingkatan utama seperti ini sesuai dengan tattwa dan indik memang patut dilakukan dalam rentang waktu 25 tahun. Selain sesuai dengan kepatutan masa waktu hal penting yang mendasari pengambilan tingkatan upacara dengan tingkatan utama ini adalah kesiapan fisik dan material.
Secara fisik mulai dari insfrastruktur prahyangan dan pelemahan yang didukung oleh modal material atas pengelolaan aset desa adat. Kombinasi kesiapan mental dan material yang dipenuhi oleh Desa Adat Padangtegal melaui Paruman Agung disepakati oleh prejuru dan krama desa untuk menggelar upacara Karya Padudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa lan Puseh.


Sebagai persiapan menyongsong Karya Padudusan Agung, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa lan Puseh, telah dilakukan beberapa koordinasi serta pembagian teknis kerja untuk menunjang jalannya upacara tersebut. Salah satunya adalah pelibatan yowana untuk membantu ngayah menghias/ngias bangunan serta sarana upacara yang diperlukan pada saat upacara.
Adapun yowana yang terlibat dalam kegiatan menghias bangunan serta sarana upacara adalah Sekehe Teruna (ST) Taruna Suka Duka Banjar Padangtegal Kaja, ST. Suka Duka Banjar Padangtegal Mekarsari, ST. Suka Duka Banjar Padangtegal Kelod dan ST. Trena Kencana, Pengosekan. Keempat sekehe teruna tersebut secara kolektif serta bahu membahu dengan rasa tulus ihklas akan menghias seluruh sarana upacara dan upakara yang diperlukan.
Pada hari Sabtu tanggal 28 Juni 2025 keempat sekehe teruna tersebut sudah memulai kegiatan ngayah ngias. Kegiatan ngayah ngias pada hari tersebut adalah mendandani sendi (tatakan) untuk ngelinggihang (meletakkan) Ida Betara Bagia. Sendi untuk ngelinggihang (meletakkan) Ida Betara Bagia adalah salah satu sarana penting yang akan menjadi fokus perhatian, selain sebagai tatakan Ida Betara Bagia juga untuk menunjang estetika pada saat melinggih.
Sendi (tatakan) ini sebelumnya digarap apik oleh mancagera (satuan ahli) desa adat bidang wewangunan (bangunan) berbahan kayu dan triplek lengkap dengan pepalihan. Elemen untuk menghias sendi ini menggunakan kain songket khas Palembang dikombinasi dengan kain beludru jenis strait warna merah. Pemilihan kedua elemen kain tersebut untuk menghias sendi bertujuan untuk menghasilkan visual yang mewah dan elegan. Visual mewah dan elegan untuk menghadirkan suasana indah, jika sudah tercipta suasana indah maka kesan upacara menjadi indah pula. Sesuatu yang indah sudah pasti memantik lahirnya energi positif yang merupakan tujuan utama dari pelaksanaan yadnya.


Bendesa Desa Adat Padangtegal I Made Parmita secara terpisah menyampaikan apresiasi tingginya kepada para yowana yang sudah turut serta membantu persiapan karya agung. I Made Parmita menambahkan kegiatan ngayah ini tidak hanya berhubungan dengan kewajiban membantu krama desa namun juga untuk mengasah keluhuran budi berupa rasa ikhlas dan bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Harapan Bendesa Desa Adat Padangtegal agar antusias para yowana ini dapat dijaga soliditasnya hingga seluruh rangkaian karya berakhir dan terlebih dihabituasi untuk menunjang terwujudnya konsep sagilik saguluk di lingkup Desa Adat Padangtegal khususnya. [T]
Penulis : Wayan Diana Putra
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























