17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Suara: Hidup Harus Diakali dengan Tuak Manis 30 Liter dan 10 Kucit

Son Lomri by Son Lomri
June 28, 2025
in Persona
Wayan Suara: Hidup Harus Diakali dengan Tuak Manis 30 Liter dan 10 Kucit

I Wayan Suara, penjual tuak manis

“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli beras buat istri. Lima puluh ribu dapat apa? Dalam semenit ajasudah habis,” kata Wayan Suara tentang sulitnya pendapatan akhir-akhir ini dari jualan tuak manis.

Wayan Suara (68), sebagai penjaja tuak manis, ia tak menyerah. Dengan setia ia menyandarkan motornya di Jalan Ahmad Yani, Singaraja, atau di seberang toko hape, Planet Gadget, Sabtu, 28 Juni 2025 siang.

Ia duduk di trotoar nyambi menanti pembeli datang dari segala arah, maka ia senderkan tubuh rentanya di pagar Kantor PERADI No. 133 itu.

Sambil merokok, mendongak wajahnya agak menantang ke arah jalan, dengan topi capil-nya dari rautan bambu itu, ia tampak sekali tenang. Walaupun, tuaknya tidak selaris seperti dulu di tahun 1998.

Orang-orang lewat begitu saja di depan toko Planet Gadget. Dan orang-orang yang memarkir mobil di dekat motorya, seperti enggan membuka pintu dan keluar menghampiri Wayan Suara.

Namun Wayan Suara tetap duduk santai. Menunggu. Dan, menunggu.

Seseorang duduk di motornya menantikan tuak manis Wayan Suara | Foto tatkala.co/Son

Tidak lama kemudian, dari arah timur, seorang lelaki berkaos polo turun dari motor NMAX, datang menyodorkan uang lima ribu,

“Satu, Pak,” kata Arman, nama pelanggan Wayan Suara itu. Ia mahasiswa prodi pendidikan Bahasa Inggris di Undiksha Singaraja.

Arman memesan satu porsi tuak manis. Dibungkus. Ia hendak pulang ke rumahnya di Perumahan Jalak Putih selepas dari kampus.

Tangan Wayan Suara segera menyiuk tuak dari jerigen ke kantong plastik dan membubuhkan es cube dari wadah terpisah, agar si tuak jadi manis-dingin-seger.

Jalan masih santer kendaraan. Wayan Suara menatap kembali jalan sambil merokok dengan punggung bersender di tembok pagar rumah orang.

Wayan Suara dan Arman (pembeli) | Foto tatkala.co /Son

Ia bersender agaknya lelah, memang, stamina hidup tidak seperti waktu muda, kini wajahnya dipenuhi lipatan. Kulitnya liat-berserat oleh usia—68 tahun sekarang. Tampak warna gelap di lehernya, di antara lipatan-lipatan itu. Barangkali debu jalanan hinggap di leher, di wajah, di tangannya.

Tangannya warna coklat matang, tapi wajahnya berperangai baik. Ia senyum giginya ompong bawah dan atas, menularkan senyum ke yang lain.

“Banyakin ketawa aja, haha,” katanya humor.

Tidak lama setelah kepergiannya membawa pesanan, Arman membelokkan motornya balik kembali, dan menagih susuk (kembalian) yang tertinggal.

“Pak, susuk-nya belum. Tadi uang saya lima ribu,” kata Arman.

Wayan Suara langsung melongo. Mulutnya terbuka dengan gigi ompongnya itu, mengeluarkan sisa asap dari rokoknya yang baru saja disedot setelah tertawa. Air mukanya seketika berubah jadi kecut.

Tapi dengan tenang nyambil senyum kecut, tanpa mau bertengkar ia langsung mengkocek uang dua ribu dari tas kecilnya untuk susuk. Lalu ia menghela napas—seakan nerimo.

Arman belum tahu jika segelas tuak manis yang dibungkus dan dibawanya pulang, harganya sudah naik jadi lima ribu, bukan lagi tiga ribu.

I Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son

Agar suasana tidak genting menyoal—perasaan si pembeli agar tidak kecewa dan susah payah menagih; putar balik dari gapura “Selamat Jalan”, Wayan Suara seakan membiarkan itu sebagai pembelajaran dirinya, jika harga yang sudah berubah, mestilah ditempel menggantikan plat nomor di motor.

“Kalau dulu, harga satu porsinya bisa dua rebu, tiga rebu, tapi sekarang sudah lima rebu. Karena untungnya kecil, dan peminatnya juga sekarang berkurang. Dan sekarang, apa-apa sudah mahal,” kata Wayan Suara.

Dalam satu hari, ia jual tiga puluh liter tuak manis dari lontar atau disebut juga nira, modal awal 150 ribu, ia beli dari Bungkulan, dan keuntungannya bisa lima puluh ribu, itu pun, kalau semua habis.

Wayan Suara memiliki satu istri empat anak dan tinggal di Desa Suwug. Dengan mata merem melek, ia datang ke kota dari jam setengah 8. Maklum, katanya, matanya sudah minus—tidak kuat memandang ketika kena angin. Di jalan, angin menantang dirinya ketika memacu motor bebek.

30 Liter Tuak Manis dan 10 Kucit untuk Hidup

Setiap hari ia jualan, tak pernah libur, mau hujan atau tidak hujan, ia tetap jualan—datang ke kota. Dan menyoal peruntungan, masih dengan senyum kecut menghayal ke tahun-tahun belakang, sebelum Covid-19, Wayan Suara mengaku cukup banyak bawa duit kalau pulang, untungnya bisa seratus ribu dalam enam jam, 60 liter tuak bisa habis.

“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli berasanya buat istri. Lima puluh ribu dapat apa dalam sekejap aja sudah habis,” katanya. Dan, ia menunjuk bungkusan di motornya. “Ini saja saya bawa bekal dari rumah biar gak beli makan.”

Ketika tahun 1990-an, Wayan Suara dapat untung banyak, dalam satu hari ia bisa menghabiskan 70-80 liter tuak manis. Sebelum Covid-19, sama besarnya raib-laku terjual 60-70 liter.

Sekitar tahun 2019, misalnya, ada banyak mahasiswa yang mampir ke lapaknya. Mereka membeli tuak manis di tempat, dan duduk di bawah pohon dekat trotoar. Tapi sekarang pohon itu sudah tidak ada, sudah ditebang.

“Coba kalau pohon itu tidak ditebang, mungkin orang masih beli dan minum di tempat,” kata Wayan Suara menyayangkan pohon di trotoar di tebang.

Tuak manis jualan Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son

Sebelum atau setelah virus itu, pembeli jadi berkurang. Dalam satu hari (tiga tahun belakangan), ia hanya bisa menghabiskan 30 liter tuak manis, atau satu dirijen di bagi dua, itu pun selalu sisa. Dan jam dua siang, ia berhenti jualan, pulang ke rumah; dalam keadaan habis atau tidaknya tuak manis di motor.

Karena ia tahu, jika peminat berkurang dan saingan banyak di setiap trotoar sudut kota, Wayan Suara menabung jauh-jauh hari untuk membeli kucit, dan mengurus sapi, mengakali pemasukan.

Di rumahnya ada sepuluh kucit yang dibeli dari tabungan—hasil jualan tuak manis jauh-jauh bulan. Setelah besar itu si anak-anak babi jadi besar, ia jual, dan ia putar uangnya untuk membeli seekor sapi. Kini, ada satu ekor sapi di rumahnya.

“Tidak bisa hanya mengandalkan jualan tuak. Saya sekarang nyambi ngurus babi dan sapi!” kata Wayan Suara. Ia memberi contoh bahwa hidup harus diakali. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yan Mintaraga, Seniman Pinggir Taman Kota Singaraja
Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt
Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah, Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya
Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak
Tags: kulinerSingarajatuak manis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Para Yowana Padangtegal Bergeliat “Ngayah” Menyongsong Karya Pedudusan Agung dan Ngusaba Nini di Pura Desa lan Puseh

Next Post

BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co