27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayan Suara: Hidup Harus Diakali dengan Tuak Manis 30 Liter dan 10 Kucit

Son Lomri by Son Lomri
June 28, 2025
in Persona
Wayan Suara: Hidup Harus Diakali dengan Tuak Manis 30 Liter dan 10 Kucit

I Wayan Suara, penjual tuak manis

“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli beras buat istri. Lima puluh ribu dapat apa? Dalam semenit ajasudah habis,” kata Wayan Suara tentang sulitnya pendapatan akhir-akhir ini dari jualan tuak manis.

Wayan Suara (68), sebagai penjaja tuak manis, ia tak menyerah. Dengan setia ia menyandarkan motornya di Jalan Ahmad Yani, Singaraja, atau di seberang toko hape, Planet Gadget, Sabtu, 28 Juni 2025 siang.

Ia duduk di trotoar nyambi menanti pembeli datang dari segala arah, maka ia senderkan tubuh rentanya di pagar Kantor PERADI No. 133 itu.

Sambil merokok, mendongak wajahnya agak menantang ke arah jalan, dengan topi capil-nya dari rautan bambu itu, ia tampak sekali tenang. Walaupun, tuaknya tidak selaris seperti dulu di tahun 1998.

Orang-orang lewat begitu saja di depan toko Planet Gadget. Dan orang-orang yang memarkir mobil di dekat motorya, seperti enggan membuka pintu dan keluar menghampiri Wayan Suara.

Namun Wayan Suara tetap duduk santai. Menunggu. Dan, menunggu.

Seseorang duduk di motornya menantikan tuak manis Wayan Suara | Foto tatkala.co/Son

Tidak lama kemudian, dari arah timur, seorang lelaki berkaos polo turun dari motor NMAX, datang menyodorkan uang lima ribu,

“Satu, Pak,” kata Arman, nama pelanggan Wayan Suara itu. Ia mahasiswa prodi pendidikan Bahasa Inggris di Undiksha Singaraja.

Arman memesan satu porsi tuak manis. Dibungkus. Ia hendak pulang ke rumahnya di Perumahan Jalak Putih selepas dari kampus.

Tangan Wayan Suara segera menyiuk tuak dari jerigen ke kantong plastik dan membubuhkan es cube dari wadah terpisah, agar si tuak jadi manis-dingin-seger.

Jalan masih santer kendaraan. Wayan Suara menatap kembali jalan sambil merokok dengan punggung bersender di tembok pagar rumah orang.

Wayan Suara dan Arman (pembeli) | Foto tatkala.co /Son

Ia bersender agaknya lelah, memang, stamina hidup tidak seperti waktu muda, kini wajahnya dipenuhi lipatan. Kulitnya liat-berserat oleh usia—68 tahun sekarang. Tampak warna gelap di lehernya, di antara lipatan-lipatan itu. Barangkali debu jalanan hinggap di leher, di wajah, di tangannya.

Tangannya warna coklat matang, tapi wajahnya berperangai baik. Ia senyum giginya ompong bawah dan atas, menularkan senyum ke yang lain.

“Banyakin ketawa aja, haha,” katanya humor.

Tidak lama setelah kepergiannya membawa pesanan, Arman membelokkan motornya balik kembali, dan menagih susuk (kembalian) yang tertinggal.

“Pak, susuk-nya belum. Tadi uang saya lima ribu,” kata Arman.

Wayan Suara langsung melongo. Mulutnya terbuka dengan gigi ompongnya itu, mengeluarkan sisa asap dari rokoknya yang baru saja disedot setelah tertawa. Air mukanya seketika berubah jadi kecut.

Tapi dengan tenang nyambil senyum kecut, tanpa mau bertengkar ia langsung mengkocek uang dua ribu dari tas kecilnya untuk susuk. Lalu ia menghela napas—seakan nerimo.

Arman belum tahu jika segelas tuak manis yang dibungkus dan dibawanya pulang, harganya sudah naik jadi lima ribu, bukan lagi tiga ribu.

I Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son

Agar suasana tidak genting menyoal—perasaan si pembeli agar tidak kecewa dan susah payah menagih; putar balik dari gapura “Selamat Jalan”, Wayan Suara seakan membiarkan itu sebagai pembelajaran dirinya, jika harga yang sudah berubah, mestilah ditempel menggantikan plat nomor di motor.

“Kalau dulu, harga satu porsinya bisa dua rebu, tiga rebu, tapi sekarang sudah lima rebu. Karena untungnya kecil, dan peminatnya juga sekarang berkurang. Dan sekarang, apa-apa sudah mahal,” kata Wayan Suara.

Dalam satu hari, ia jual tiga puluh liter tuak manis dari lontar atau disebut juga nira, modal awal 150 ribu, ia beli dari Bungkulan, dan keuntungannya bisa lima puluh ribu, itu pun, kalau semua habis.

Wayan Suara memiliki satu istri empat anak dan tinggal di Desa Suwug. Dengan mata merem melek, ia datang ke kota dari jam setengah 8. Maklum, katanya, matanya sudah minus—tidak kuat memandang ketika kena angin. Di jalan, angin menantang dirinya ketika memacu motor bebek.

30 Liter Tuak Manis dan 10 Kucit untuk Hidup

Setiap hari ia jualan, tak pernah libur, mau hujan atau tidak hujan, ia tetap jualan—datang ke kota. Dan menyoal peruntungan, masih dengan senyum kecut menghayal ke tahun-tahun belakang, sebelum Covid-19, Wayan Suara mengaku cukup banyak bawa duit kalau pulang, untungnya bisa seratus ribu dalam enam jam, 60 liter tuak bisa habis.

“Sekarang, buat beli rokok aja susah, belum lagi kopinya, beli berasanya buat istri. Lima puluh ribu dapat apa dalam sekejap aja sudah habis,” katanya. Dan, ia menunjuk bungkusan di motornya. “Ini saja saya bawa bekal dari rumah biar gak beli makan.”

Ketika tahun 1990-an, Wayan Suara dapat untung banyak, dalam satu hari ia bisa menghabiskan 70-80 liter tuak manis. Sebelum Covid-19, sama besarnya raib-laku terjual 60-70 liter.

Sekitar tahun 2019, misalnya, ada banyak mahasiswa yang mampir ke lapaknya. Mereka membeli tuak manis di tempat, dan duduk di bawah pohon dekat trotoar. Tapi sekarang pohon itu sudah tidak ada, sudah ditebang.

“Coba kalau pohon itu tidak ditebang, mungkin orang masih beli dan minum di tempat,” kata Wayan Suara menyayangkan pohon di trotoar di tebang.

Tuak manis jualan Wayan Suara | Foto: tatkala.co/Son

Sebelum atau setelah virus itu, pembeli jadi berkurang. Dalam satu hari (tiga tahun belakangan), ia hanya bisa menghabiskan 30 liter tuak manis, atau satu dirijen di bagi dua, itu pun selalu sisa. Dan jam dua siang, ia berhenti jualan, pulang ke rumah; dalam keadaan habis atau tidaknya tuak manis di motor.

Karena ia tahu, jika peminat berkurang dan saingan banyak di setiap trotoar sudut kota, Wayan Suara menabung jauh-jauh hari untuk membeli kucit, dan mengurus sapi, mengakali pemasukan.

Di rumahnya ada sepuluh kucit yang dibeli dari tabungan—hasil jualan tuak manis jauh-jauh bulan. Setelah besar itu si anak-anak babi jadi besar, ia jual, dan ia putar uangnya untuk membeli seekor sapi. Kini, ada satu ekor sapi di rumahnya.

“Tidak bisa hanya mengandalkan jualan tuak. Saya sekarang nyambi ngurus babi dan sapi!” kata Wayan Suara. Ia memberi contoh bahwa hidup harus diakali. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yan Mintaraga, Seniman Pinggir Taman Kota Singaraja
Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt
Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah, Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya
Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak
Tags: kulinerSingarajatuak manis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Para Yowana Padangtegal Bergeliat “Ngayah” Menyongsong Karya Pedudusan Agung dan Ngusaba Nini di Pura Desa lan Puseh

Next Post

BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails
Next Post
BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

BPD IHKA Bali Gelar International Housekeeper’s Conference & Exhibition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co