2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 19, 2025
in Persona
Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Mujri

TERSELIPLAH sosok lelaki bertopi di antara sahut-riuh pedagang dan deru kendaraan di jalanan sekitar Pasar Seririt, Buleleng, Bali, pada satu pagi yang cukup hangat. Tubuh lelaki itu tegap. Sorot matanya awas, di tangannya tergenggam setumpuk koran.

Mujri, itulah panggilannya, si penjual koran yang setia pada zaman. Di usianya yang kini menginjak 54 tahun, ia tetap berdiri setia di tepi keramaian jalan. Ia setia menanti sapa pelanggan yang jumlahnya terus berkurang. Terus berkurang, dan suatu saat lagi hampir dipastikan tak akan ada lagi.

Sudah 22 tahun Mujri setia, setiap hari, berdiri di sekitar Pasar Seririt itu. Kadang ia berdiri di tepi jalan, dan lebih sering berdiri di sekitar persimpangan lampu lalu-lintas. Kadang berkeliling ke jalan lain.

Mujri di sekitar Pasar Seririt | Foto: Puja

Tas selempang hitam yang ia sandang di bahu kirinya, berisi setumpuk koran. Ia ambil selembar koran itu, lalu ia acungkan pada orang-orang yang lewat di jalan raya.

”Koran, Pak?!” kata Mujri.

Sampai hari ini, ia tetap punya harapan bahwa lembaran berita yang ia tawarkan masih memiliki daya tarik meski berita kita sudah tampil di layar HP.

Tak banyak orang menyapanya pagi itu, hanya beberapa bapak tua yang barangkali masih tetap setia mencari berita di halaman koran..

”Sekarang yang beli koran itu ya… tinggal yang sudah ubanan, yang gagap teknologi (gaptek), yang kalau disuruh buka internet malah bilang lebih pusing,” kata Mujri setelah menyerahkan koran kepada seorang lansia.

Ia terus menapaki jalanan di sekitar Pasar Seririt dari pukul 07.00 hingga 11.00 WITA. Ia menyambangi Bank BPD Bali, Warung Mustri Seririt, dan Toko Sri—tempat-tempat yang menjadi habitat terakhir pembaca koran cetak. Mujri mengambil pasokan koran dari Toko Buku Melati, membawa serta judul-judul yang akrab di telinga pembaca: Nusa Bali, Jawa Pos, dan Tribun Bali,

Namun, lesunya media konvensional yang tak terbendung ibarat air pasang yang menggerus bibir pantai telah nyata terasa dampaknya oleh Mujri. Kini, dalam sehari, hasil penjualan korannya tak jarang hanya mengantongi uang yang ia bawa pulang hanya sedikit dibandingkan masa-masa keemasan dulu

”Sekarang itu cuma dapat Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu sehari,” keluhnya.

Orang tua yang masih setia beli dan baca koran | Foto: Puja

Ia bercerita, kini ia hanya mengambil 10 eksemplar Nusa Bali yang ia jual seharga Rp 3.500 perak per lembar, 27 eksemplar Tribun Bali dengan harga Rp 2.000, dan 7 eksemplar Jawa Pos yang dibanderol Rp 3.900, sebuah jumlah yang sangat sedikit dibandingkan dengan era ketika koran masih menjadi raja informasi.

Jauh berbeda memang dengan tahun 2003, saat awal ia memutuskan untuk menekuni profesi ini, yang mana kala itu, keuntungan bersih dari berjualan koran bisa mencapai 100 ribu dalam sehari, sebuah angka yang terbilang fantastis pada masanya, namun kejayaan hanya bertahan hingga sekitar tahun 2014. Setelah itu, perlahan pasar koran cetak mulai meredup.

”Kalau dulu saya ngambil 30 eksemplar Koran Jawa Pos itu sudah laris terjual, sekarang hanya ngambil 7 eksemplar itupun masih sisa,” kata Mujri dengan nada datar, sorot matanya memancarkan sedikit kepedihan yang tersembunyi.

Mujri mengatakan betapa generasi muda saat ini seolah telah benar-benar berjarak dengan koran cetak dan beralih sepenuhnya pada informasi yang tersaji di layar.

”Langganan anak muda itu sama sekali tak ada saat ini, kecuali ada tugas buat kliping baru beli koran. Kalau untuk baca itu tak pernah,” imbuhnya.

Bagi Mujri, berjualan koran bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan telah menjadi profesi utama, tumpuan hidup yang ia geluti dengan tekun. Jauh sebelum itu, tepatnya di tahun 1988, ia adalah seorang karyawan di toko bangunan, menjalani hari-hari dengan upah gaji yang hanya Rp 15 ribu per hari tanpa jatah makan.

Ia menjadi buruh toko bangunan dijalani selama 15 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk beralih kerjaan ketika anak pertamanya lahir. Saat itu ia merasa harus mencari sumber penghasilan yang lebih baik. Ia kemudian menjadi penjual koran,

Dan setelah 22 tahun, profesi itu pun kini dihadapkan pada tantangan yang tak kalah berat. Namun ia menjalaninya dengan semangat yang tak pernah padam, barangkali karena ia memang memiliki hobi membaca, sebuah kegemaran yang ironisnya kini kian ditinggalkan oleh anak-anak sekarang.

Kendati hasil jualan korannya kian merosot, nyaris tak menghasilkan keuntungan yang berarti, Mujri tak pernah berhenti bersyukur. Dari hasil menjual koran, ia bersama sang istri yang seorang guru madrasah, berhasil menyekolahkan ketiga putri mereka.

Putri sulungnya kini masih berjuang di bangku kuliah semester 8, mengambil jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Universita Nurul Jadid (UNUJA), sementara anak keduanya masih menimba ilmu di kelas 2 SMA di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Probolinggo, dan si bungsu masih duduk di kelas 5 di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Huda.  Tiga gadis kecil yang tumbuh di bawah naungan cinta dan kerja keras orang tua yang tak pernah menyerah.

Penghasilan memang tak seberapa jika dilihat dari angka, seringkali terasa mencekik, apalagi kalau lagi sepi.

”Tapi saat melihat anak-anak itu, mereka semangat belajar, semangat sekolah, meskipun kadang saya cuma bisa kasih uang jajan pas-pasan, mereka nggak pernah mengeluh,” kata Mujri.

Orang tua yang masih setia beli dan baca koran | Foto: Puja

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, menunjuk ke arah langit dengan dagunya, seolah mimpinya begitu luas membentang. Dengan memiliki mimpi hanya satu, melihat ketiga anak perempuannya bisa menyelesaikan pendidikan mereka setinggi-tingginya.

”Mimpi saya bukan lagi punya rezeki melimpah untuk diri sendiri, bukan lagi soal koran ini bisa laku kayak dulu, itu sudah lewat,” kata Mujri mantap.

Namun Mujri kini punya perhatian besar kepada anaknya agar ketiga anaknya bisa meraih cita-cita.

”Kalau mereka bisa berjuang meraih cita-cita, meskipun saya tetap di sini, berjualan koran dengan hasil segini, hati saya sudah tenang, sudah lebih dari cukup, itulah surga dunia bagi saya,”  lanjutnya dengan keyakinan yang kokoh.

Kata-kata Mujri sebuah mimpi sederhana namun menggetarkan, menjadi jangkar yang menahannya untuk tetap tegak berdiri di pinggir Pasar Seririt hingga kini. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati
Sri Gunadika dari Banyuning: Kaki Patah, Tapi Tangan yang Mencukur itu Menghidupinya
Dia Dipa, Dia Barista, Dia Tunarungu: Tetes Kopi Racikan Cerita Hidupnya
Gede Alma, Mahasiswa yang Jualan Kentang Goreng: Pernah Kuliah Bawa Motor Gerobak
Timbul Suheri, Cerita Tentang Lapak dan Pasar Loak di Kreneng
Tags: bulelengkoranmedia massaSeririt
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Tersekolah Belum Tentu Menjadi Terdidik

Next Post

PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co