27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Tersekolah Belum Tentu Menjadi Terdidik

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 19, 2025
in Esai
Manusia Tersekolah Belum Tentu Menjadi Terdidik

Ilustrasi tatkala.co

PADA 2009, Prof. Winarno Surakhmad, M.Sc.Ed. menerbitkan buku berjudul “Pendidikan Nasional : Strategi dan Tragedi”.  Buku setebal 496 halamanitu diberikan Kata Pengantar oleh Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Ed. disunting oleh St. Sularto diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Materi buku ini berasal dari kumpulan 16 makalah yang sebelumnya telah disampaikan dalam berbagai forum ilmiah. Sebagai editor, St. Sularto membeberkan sepak terjang Winarno pada Pedagogi Praksis Pendidikan dengan fokus pada profesi guru. Nasib guru digambarkan dengan parodi, dalam puisi yang panjang berjudul “Melahirkan Kembali Indonesia Raya” (Sebuah Litani Buat Guru Bangsa). Pada bagian 4 puisi itu dilukiskan,

Di sini… berbaring seorang guru

Semampu… membaca buku usang

Sambil belajar… menahan lapar

Hidup sebulan … dengan gaji sehari

….

Puisi yang dibacakan saat Hari Guru Nasional ke-60 di Lapangan Manahan Solo itu, membuat Wakil Presiden kala itu, Jusuf Kala marah. Namun, kemarahannya 16 tahun silam itu, nasib guru belum banyak berubah. Lebih-lebih nasib guru honorer berjumlah sekitar 700.000 guru (2024) dari berbagai daerah. Mereka mengabdi bertahun-tahun dengan gaji Rp 300.000,00 sebulan dan  dibayar tiga bulan sekali.  Terlambat pula. Miris. Sungguh berat tetapi sungguh mulia. Hanya mereka yang jiwa raganya sebagai pendidik mampu bertahan di tengah godaan hidup instan, materialis, hedonis. Menarik pula dicatat, guru honorer itu setia mengabdi demi tercatat di Dapodik berharap naik status menjadi guru PPPK.

Di tengah negara  surplus regulasi yang mengatur dunia Pendidikan termasuk guru, sungguh berat beban dipikul guru menjelang 80 tahun Indonesia Merdeka. Belum lagi para guru berpacu mengikuti aturan terbaru, bersamaan dengan itu menyiapkan materi pembelajaran untuk disajikan kepada siswa minimal semalam sebelum berdiri di depan kelas. Sementara itu, gizi makanan ideal tidak tersedia. Gaji tidak mencukupi. Mau tak mau mereka nyambi sebagai mana layaknya petani melakukan diversifikasi. Pulang mengajar menjadi pemulung, penggojek, pedagang, peternak, petani amatir. Atau bekerja apa saja. Serabutan. Buruh.  Suardana, dkk. (2011) menyebut sebagai bentuk perlawanan guru terhadap kekuasaan negara. Darmaningtyas (2005) menyebutnya sebagai Pendidikan Rusak-Rusakan. Masalah kualitas yang  pelik dihadapi guru belum tertangani dengan optimal : profesionalisme, kesejahteraan, dan diskriminasi.

Lagu Iwan Fals “Guru Oemar Bakri” yang viral 1970-an tetap aktual kini di sini.  Hanya syair lagu yang bermutu tinggi yang mampu merespon semangat zaman sepanjang masa. Tak terhitung karya sastra yang menggambarkan kehidupan guru yang pahit dari zaman ke zaman. Namun, guru dituntut selalu ideal dengan pendekatan deep learning melayani : berkesadaran, bermakna, bergembira dalam segala situasi di tengah aneka kekurangan yang melekat padanya.

Gambaran keprihatinan itu masih ditambah lagi beban administrasi dan tekanan  psikologis politis dari tokoh tertentu yang membuat guru takut bertindak. Berlawanan dengan semangat Merdeka Belajar. Guru salah, saya pikir manusiawi. Namun, jika dipermalukan di depan murid-muridnya, di mana etikanya. Guru yang selalu berkotbah di depan muridnya tentang etika, tetapi guru diperlakukan niretika. Murid menerima panduan etika berskala ganda. Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya dengan viralitas tanpa kualitas.

Dalam situasi demikianlah tujuan bernegara dijalankan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah peta jalan membangun bangsa. Idealnya jalan halus mulus sehingga  guru dan murid fokus menuju Indonesia Emas 2045. Waktu semakin dekat. Tahun Pelajaran 2025/2026 sudah dekat. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan harus segera disusun. Praksis Pendidikan masih galau menghadapi, jangan-jangan keluar aturan baru.  Prof. Winarno Surakhmad menyebutnya sebagai tragedi. Strategi yang ditawarkan adalah Pendidikan yang Pancasilais dan meng-Indonesia. Keduanya  makin pudar. Pada era 1980-an, saya mendapat Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saat itu juga  mendapat Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4). Ada pula Badan Pembina Penyenggara Pendididikan P-4 yang disebut BP-7. PMP, P-4, dan BP-7 dibubarkan memasuki Reformasi.

Setelah hampir dua dekade Reformasi, lahir lembaga sejenis yang disebut Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tanggal 19 Mei 2017. Untuk memasyarakatkan 4 Pilar Kebangsaan, setiap tahun BPIP menggelar Lomba Cerdas Cermat (LCC) antar SMA/SMK secara berjenjang dari tingkat daerah sampai nasional.  Mirip LCC P-4 zaman Orde Baru.

Seiring berjalannya waktu, Kurikulum Merdeka diluncurkan (2021), lalu diperkenalkan Profil Pelajar Pancasila, dengan 6 dimensi profil lulusan. Ketika Kemendikdasmen dinahkodai Prof. Abdul Mu’ti, berubah menjadi 8 profil lulusan. Berubah begitu cepat, belum sempat diendapkan buru-buru diganti. Ironis dengan pendekatan deep learning yang diperkenalkan. Pendidikan kita hari ini seperti  puncak tangga lagu pop. Bertengger di puncak tangga, tidak lebih dari sebulan. Muncul lagu baru yang tiba-tiba viral dari Pulau yang jauh dengan pusat kekuasaan, seperti  Stecu Stecu dari Indonesia Timur.

Benar kata ahli sastra dalam Teori Decentring  bahwa di negeri yang berbhineka ini, semua berpeluang menjadi pusat. Tidak ada pusat yang tunggal seiring dengan naik daunnya sastra pedalaman yang mendapat angin segar Otonomi Daerah. Otonomi Daerah melahirkan kebijakan politik lokal. Guru di bawah kendali Pemda Kabupaten dan Provinsi. Kabarnya, sedang muncul gagasan, guru menjadi kewenangan pusat, resentralisasi. Regulasi penarikan guru ke pusat, apakah akan mengubah nasib mereka ke arah yang lebih baik ? Lebih-lebih bagi guru honorer dengan porsi kerja yang sama dengan guru ASN. Tugasnya sama tetapi pendapatannya berbeda. Ironis dengan Pendidikan bersifat demokratis – inklusif. Bukankah ini diskriminatif ? Kasta guru dipertahankan. Kasta sekolah dirawat.  Entah sampai kapan.

Di tengah situasi guru (honorer) demikian banyak,  kita dihadapkan dengan ratusan anak SMP di Bali belum lancar membaca. Kasus itu tidak hanya ditemukan di Bali, tetapi juga Jawa, yang menjadi barometer Pendidikan Indonesia. Bahkan di Papua, siswa SMA juga tidak lancar membaca seperti disampaikan gurunya saat saya menjadi guru pamong PPG secara on line pada masa Pandemi Covid-19. Semua itu menjadi antogonis dengan tema Hardiknas 2025, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.

Dalam situasi demikian, pemerintah meluncurkan Program Sekolah Unggul Garuda (SUG) bagi anak berprestasi dan Sekolah Rakyat (SR) bagi anak miskin ekstrem dengan tetap memertahankan sekolah regular bagi anak kebanyakan. SUG di bawah Kemendikti Ristek, padahal statusnya SMA. Mirip dengan RSBI zaman SBY. Lalu, SR di bawah binaan Kemensos. Sementara itu, Sekolah Reguler di bawah kendali Kemendikdasmen. Di samping itu, juga ada jenjang Dikdasmen di bawah Kementerian Agama. Belum lagi, sekolah-sekolah kedinasan yang tersebar di berbagai kementerian. Kementerian yang menangani Pendidikan seperti siswa di dalam kelas : berdiferensiasi sesuai bakat, minat, dan kepentingan untuk tujuan yang sama : mewujudkan Pendidikan bermutu untuk semua. Makin banyak kementerian yang menangani Pendidikan menunjukan sinergitas kepedulian untuk bergerak bersama.

Ada pula program hari belajar guru yang diformalkan seminggu sekali. Padahal, sudah lama menganut prinsif belajar seumur hidup walaupun telah mengantongi ijazah yang disebut STTB dan Sertifikat Pendidik. Bahkan ketika sedang gencarnya Kurikulum Merdeka di bawah nahkoda Nadiem Makarim, sertifikat diperoleh setiap mendapat centang biru setelah  menyelesaikan setiap topik di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Banyak guru berburu centang biru seperti api kompor yang menyala berharap nasib berubah ke arah lebih baik. Begitulah tugas guru di ranah Pendidikan yang pantas direnungkan pada Hardiknas 2025 dengan program seumur jagung melalui “Bulan Pendidikan” era Anies Baswedan dan “Bulan Merdeka Belajar” era Nadiem Makarim.

Dengan tugas memandu Pendidikan anak negeri, Hari Pendidikan Nasional bukan hanya renungan buat guru, melainkan juga renungan buat seluruh anak bangsa untuk melunasi janji kemerdekaan. Mendikdasmen  Abdul Mu’ti mengajak kita merenung pada Hardiknas 2025.

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses membangun kepribadian yang utama , akhlak mulia, dan peradaban bangsa. Secara individu, Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan  fitrah manusia sebagai makhluk Pendidikan (homo educandum) yang dengannya manusia menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, dan berbagai kecerdasan yang memungkinkan mereka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan material – spiritual. Dalam konteks kebangsaan, Pendidikan adalah sarana mobilitas sosial politik yang secara vertical mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Pidato yang ideal dan normatif itu sudah sering kita dengar. “Dalam arti sebenar-benarnya, kita belum punya kekuatan Pendidikan yang dimaksud. … Pada akhir sebuah siklus persekolahan, manusia jelas menjadi tersekolah, tetapi belum tentu menjadi terdidik”, tulis Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc. Ed. [T]  

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

  • BACA JUGA:
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Berguru Pada Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Next Post

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co