4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Tersekolah Belum Tentu Menjadi Terdidik

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 19, 2025
in Esai
Manusia Tersekolah Belum Tentu Menjadi Terdidik

Ilustrasi tatkala.co

PADA 2009, Prof. Winarno Surakhmad, M.Sc.Ed. menerbitkan buku berjudul “Pendidikan Nasional : Strategi dan Tragedi”.  Buku setebal 496 halamanitu diberikan Kata Pengantar oleh Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Ed. disunting oleh St. Sularto diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Materi buku ini berasal dari kumpulan 16 makalah yang sebelumnya telah disampaikan dalam berbagai forum ilmiah. Sebagai editor, St. Sularto membeberkan sepak terjang Winarno pada Pedagogi Praksis Pendidikan dengan fokus pada profesi guru. Nasib guru digambarkan dengan parodi, dalam puisi yang panjang berjudul “Melahirkan Kembali Indonesia Raya” (Sebuah Litani Buat Guru Bangsa). Pada bagian 4 puisi itu dilukiskan,

Di sini… berbaring seorang guru

Semampu… membaca buku usang

Sambil belajar… menahan lapar

Hidup sebulan … dengan gaji sehari

….

Puisi yang dibacakan saat Hari Guru Nasional ke-60 di Lapangan Manahan Solo itu, membuat Wakil Presiden kala itu, Jusuf Kala marah. Namun, kemarahannya 16 tahun silam itu, nasib guru belum banyak berubah. Lebih-lebih nasib guru honorer berjumlah sekitar 700.000 guru (2024) dari berbagai daerah. Mereka mengabdi bertahun-tahun dengan gaji Rp 300.000,00 sebulan dan  dibayar tiga bulan sekali.  Terlambat pula. Miris. Sungguh berat tetapi sungguh mulia. Hanya mereka yang jiwa raganya sebagai pendidik mampu bertahan di tengah godaan hidup instan, materialis, hedonis. Menarik pula dicatat, guru honorer itu setia mengabdi demi tercatat di Dapodik berharap naik status menjadi guru PPPK.

Di tengah negara  surplus regulasi yang mengatur dunia Pendidikan termasuk guru, sungguh berat beban dipikul guru menjelang 80 tahun Indonesia Merdeka. Belum lagi para guru berpacu mengikuti aturan terbaru, bersamaan dengan itu menyiapkan materi pembelajaran untuk disajikan kepada siswa minimal semalam sebelum berdiri di depan kelas. Sementara itu, gizi makanan ideal tidak tersedia. Gaji tidak mencukupi. Mau tak mau mereka nyambi sebagai mana layaknya petani melakukan diversifikasi. Pulang mengajar menjadi pemulung, penggojek, pedagang, peternak, petani amatir. Atau bekerja apa saja. Serabutan. Buruh.  Suardana, dkk. (2011) menyebut sebagai bentuk perlawanan guru terhadap kekuasaan negara. Darmaningtyas (2005) menyebutnya sebagai Pendidikan Rusak-Rusakan. Masalah kualitas yang  pelik dihadapi guru belum tertangani dengan optimal : profesionalisme, kesejahteraan, dan diskriminasi.

Lagu Iwan Fals “Guru Oemar Bakri” yang viral 1970-an tetap aktual kini di sini.  Hanya syair lagu yang bermutu tinggi yang mampu merespon semangat zaman sepanjang masa. Tak terhitung karya sastra yang menggambarkan kehidupan guru yang pahit dari zaman ke zaman. Namun, guru dituntut selalu ideal dengan pendekatan deep learning melayani : berkesadaran, bermakna, bergembira dalam segala situasi di tengah aneka kekurangan yang melekat padanya.

Gambaran keprihatinan itu masih ditambah lagi beban administrasi dan tekanan  psikologis politis dari tokoh tertentu yang membuat guru takut bertindak. Berlawanan dengan semangat Merdeka Belajar. Guru salah, saya pikir manusiawi. Namun, jika dipermalukan di depan murid-muridnya, di mana etikanya. Guru yang selalu berkotbah di depan muridnya tentang etika, tetapi guru diperlakukan niretika. Murid menerima panduan etika berskala ganda. Tidak hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya dengan viralitas tanpa kualitas.

Dalam situasi demikianlah tujuan bernegara dijalankan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan adalah peta jalan membangun bangsa. Idealnya jalan halus mulus sehingga  guru dan murid fokus menuju Indonesia Emas 2045. Waktu semakin dekat. Tahun Pelajaran 2025/2026 sudah dekat. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan harus segera disusun. Praksis Pendidikan masih galau menghadapi, jangan-jangan keluar aturan baru.  Prof. Winarno Surakhmad menyebutnya sebagai tragedi. Strategi yang ditawarkan adalah Pendidikan yang Pancasilais dan meng-Indonesia. Keduanya  makin pudar. Pada era 1980-an, saya mendapat Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Saat itu juga  mendapat Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4). Ada pula Badan Pembina Penyenggara Pendididikan P-4 yang disebut BP-7. PMP, P-4, dan BP-7 dibubarkan memasuki Reformasi.

Setelah hampir dua dekade Reformasi, lahir lembaga sejenis yang disebut Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 tanggal 19 Mei 2017. Untuk memasyarakatkan 4 Pilar Kebangsaan, setiap tahun BPIP menggelar Lomba Cerdas Cermat (LCC) antar SMA/SMK secara berjenjang dari tingkat daerah sampai nasional.  Mirip LCC P-4 zaman Orde Baru.

Seiring berjalannya waktu, Kurikulum Merdeka diluncurkan (2021), lalu diperkenalkan Profil Pelajar Pancasila, dengan 6 dimensi profil lulusan. Ketika Kemendikdasmen dinahkodai Prof. Abdul Mu’ti, berubah menjadi 8 profil lulusan. Berubah begitu cepat, belum sempat diendapkan buru-buru diganti. Ironis dengan pendekatan deep learning yang diperkenalkan. Pendidikan kita hari ini seperti  puncak tangga lagu pop. Bertengger di puncak tangga, tidak lebih dari sebulan. Muncul lagu baru yang tiba-tiba viral dari Pulau yang jauh dengan pusat kekuasaan, seperti  Stecu Stecu dari Indonesia Timur.

Benar kata ahli sastra dalam Teori Decentring  bahwa di negeri yang berbhineka ini, semua berpeluang menjadi pusat. Tidak ada pusat yang tunggal seiring dengan naik daunnya sastra pedalaman yang mendapat angin segar Otonomi Daerah. Otonomi Daerah melahirkan kebijakan politik lokal. Guru di bawah kendali Pemda Kabupaten dan Provinsi. Kabarnya, sedang muncul gagasan, guru menjadi kewenangan pusat, resentralisasi. Regulasi penarikan guru ke pusat, apakah akan mengubah nasib mereka ke arah yang lebih baik ? Lebih-lebih bagi guru honorer dengan porsi kerja yang sama dengan guru ASN. Tugasnya sama tetapi pendapatannya berbeda. Ironis dengan Pendidikan bersifat demokratis – inklusif. Bukankah ini diskriminatif ? Kasta guru dipertahankan. Kasta sekolah dirawat.  Entah sampai kapan.

Di tengah situasi guru (honorer) demikian banyak,  kita dihadapkan dengan ratusan anak SMP di Bali belum lancar membaca. Kasus itu tidak hanya ditemukan di Bali, tetapi juga Jawa, yang menjadi barometer Pendidikan Indonesia. Bahkan di Papua, siswa SMA juga tidak lancar membaca seperti disampaikan gurunya saat saya menjadi guru pamong PPG secara on line pada masa Pandemi Covid-19. Semua itu menjadi antogonis dengan tema Hardiknas 2025, “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.

Dalam situasi demikian, pemerintah meluncurkan Program Sekolah Unggul Garuda (SUG) bagi anak berprestasi dan Sekolah Rakyat (SR) bagi anak miskin ekstrem dengan tetap memertahankan sekolah regular bagi anak kebanyakan. SUG di bawah Kemendikti Ristek, padahal statusnya SMA. Mirip dengan RSBI zaman SBY. Lalu, SR di bawah binaan Kemensos. Sementara itu, Sekolah Reguler di bawah kendali Kemendikdasmen. Di samping itu, juga ada jenjang Dikdasmen di bawah Kementerian Agama. Belum lagi, sekolah-sekolah kedinasan yang tersebar di berbagai kementerian. Kementerian yang menangani Pendidikan seperti siswa di dalam kelas : berdiferensiasi sesuai bakat, minat, dan kepentingan untuk tujuan yang sama : mewujudkan Pendidikan bermutu untuk semua. Makin banyak kementerian yang menangani Pendidikan menunjukan sinergitas kepedulian untuk bergerak bersama.

Ada pula program hari belajar guru yang diformalkan seminggu sekali. Padahal, sudah lama menganut prinsif belajar seumur hidup walaupun telah mengantongi ijazah yang disebut STTB dan Sertifikat Pendidik. Bahkan ketika sedang gencarnya Kurikulum Merdeka di bawah nahkoda Nadiem Makarim, sertifikat diperoleh setiap mendapat centang biru setelah  menyelesaikan setiap topik di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Banyak guru berburu centang biru seperti api kompor yang menyala berharap nasib berubah ke arah lebih baik. Begitulah tugas guru di ranah Pendidikan yang pantas direnungkan pada Hardiknas 2025 dengan program seumur jagung melalui “Bulan Pendidikan” era Anies Baswedan dan “Bulan Merdeka Belajar” era Nadiem Makarim.

Dengan tugas memandu Pendidikan anak negeri, Hari Pendidikan Nasional bukan hanya renungan buat guru, melainkan juga renungan buat seluruh anak bangsa untuk melunasi janji kemerdekaan. Mendikdasmen  Abdul Mu’ti mengajak kita merenung pada Hardiknas 2025.

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses membangun kepribadian yang utama , akhlak mulia, dan peradaban bangsa. Secara individu, Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan  fitrah manusia sebagai makhluk Pendidikan (homo educandum) yang dengannya manusia menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, dan berbagai kecerdasan yang memungkinkan mereka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan material – spiritual. Dalam konteks kebangsaan, Pendidikan adalah sarana mobilitas sosial politik yang secara vertical mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Pidato yang ideal dan normatif itu sudah sering kita dengar. “Dalam arti sebenar-benarnya, kita belum punya kekuatan Pendidikan yang dimaksud. … Pada akhir sebuah siklus persekolahan, manusia jelas menjadi tersekolah, tetapi belum tentu menjadi terdidik”, tulis Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc. Ed. [T]  

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

  • BACA JUGA:
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Berguru Pada Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Next Post

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co