28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 7, 2025
in Esai
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MULAI Tahun Pelajaran 2025/2026, Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto akan mulai membuka Sekolah Rakyat (SR) di bawah Kementerian Sosial. Pertama mendengar SR tiba-tiba saja saya teringat pada ayah yang sudah meninggal 2014. Ayah tamatan SR zaman Belanda. Di KTP-nya, tertulis beliau lahir 1932. Saat penjajahan Jepang, ayah ikut menjadi seinendan yang diseleksi dengan persyaratan Pendidikan dan usia (14 -22 tahun). Dengan syarat itu, pasti tidak banyak yang bisa lolos seleksi karena awal Kemerdekaan Indonesia angka buta huruf 97 % dan melek huruf 3 %.

 Keikutsertaan ayah berperang zaman Jepang hingga menghilang sampai-sampai kakek berkaul, “Jika ayah kembali, akan mengupah Arja Basur”. Ayah memang akhirnya kembali setelah kakek berkaul dan kaul baru dibayar pada 1995, ketika saya sudah punya anak pertama.

Walaupun ayah ikut menjadi seinendan zaman Jepang, ia tidak menjadi veteran. Konon, sertifikat keikutsertaannya berjuang melawan Jepang, dipinjam teman dari desa tetangga untuk mengurus veteran. Dasar lugu bin polos, ayah menyerahkan begitu saja. Namun apa yang dijanjikan untuk mengurus veteran itu tak pernah kembali. Saya jadi ingat kisah akur anjing dan kambing pada mulanya, yang melahirkan sesonggan Bali, “silih-silih kambing”. Konon pada mulanya anjing bertanduk. Karena bersahabat baik dengan kambing, dipinjamlah tanduknya, tanpa curiga akan diliciki. Saking nyamannya kambing bertanduk, ia tak mengembalikan tanduk kepada anjing.

  Kembali ke Sekolah Rakyat. Berdasarkan penelusuran mesin pencari, Sekolah Rakyat berdiri pada 1907 di setiap daerah yang dikuasai penjajahan Belanda. Tujuan Sekolah Rakyat zaman Belanda memberikan kesempatan kepada warga pribumi untuk belajar ilmu pengetahuan dengan biaya gratis. Pada zaman Belanda, Sekolah Rakyat  berlangsung selama 3 tahun. Saat Jepang menjajah, Sekolah Rakyat menjadi 6 tahun. Setelah Merdeka, Sekolah Rakyat berganti nama menjadi Sekolah Dasar (SD) pada13 Maret  1946.Kebijakan Belanda mendirikan Sekolah Rakyat tidak terlepas dari kebijakan politik etis (politik balas budi) yang dikembangkan Van De Venter pada 17 September 1901. Ada tiga sasaran politik etis Belanda : irigasi, emigrasi, dan edukasi. Irigasi dan emigrasi lebih menguntungkan Belanda dalam memertahankan wilayah kekuasaannya dengan mempekerjakan kaum pribumi melalui sistem kerja rodi. Hasilnya sudah pasti demi keuntungan dan langgengnya kekuasaan Belanda. Sindiran orang Bali dalam metafora, “Cara nyebit tiing, ngamis kacerikan”, benar adanya dan berlaku hingga kini. Ketika masih hidup, ayah menyebut, “Gumi gelah anak gede”.  Kedua frase berkearifan lokal Bali  itu mencerminkan relasi kuasa yang mencengkram yang kecil dan lemah.

Sejarah mengajarkan Belanda menjajah selama 3,5 abad, ada juga hikmahnya. Kita juga pantas berterima kasih kepada Belanda yang meletakkan dasar-dasar pendidikan modern kepada kaum warga pribumi. Kelak, Politik Etis Belanda khususnya dalam bidang edukasi inilah membentuk kesadaran kaum pribumi tentang pentingnya semangat nasionalisme dengan berdirinya Budi Utomo diikuti dengan berdirinya Taman Bacaan Rakyat (14 September 1908), Balai Pustaka (17 September 1917) yang kemudian menjadi Angkatan Balai Pustaka dalam Sastra Indonesia. Baik Taman Bacaan Rakyat maupun Balai Pustaka adalah cikal bakal program Gerakan Literasi kini, yang berakar di dunia Pendidikan. Namun disayangkan, Belanda yang memberikan karpet merah bagi kaum pribumi dalam bidang Pendidikan tetap diskriminasi. Pendidikan diperuntukkan hanya bagi kaum laki-laki sedangkan perempuan cukup ngempu di rumah dan menghibur dengan selalu dekat  dapur, sumur, dan kasur.

Kini, ketika Sekolah Rakyat dibangkitkan kembali didasari pandangan bahwa masih banyaknya anak usia sekolah yang putus sekolah dan tidak mendapat pendidikan yang layak sehingga potensial jatuh miskin ekstrem. Draf yang dikeluarkan Kemensos pada 16 Maret 2025 menyebutkan data kemiskinan ekstrem di Indonesia sebesar 3,17 juta. Dari jumlah itu sebagian besar menyenyam pendidikan setingkat SD bahkan lebih rendah (74,51%). Relasi Pendidikan dengan kemiskinan disadari sebagai jalan keluar memutus rantai  kemiskinan. Oleh karena itu, ajakan Ganjar Pranowo mencetak satu sarjana setiap keluarga layak dipertimbangkan walaupun ia kalah dalam kontestasi dalam Pemilu 2024.

Dalam draf itu juga disebutkan Sekolah Rakyat Unggul (SRU)  memiliki 9 nilai inti (core value) yang dikembangkan yaitu welas asih, pola pikir terus berkembang, tata budaya, kesehatan, pendidikan berkualitas yang relevan, kepemimpinan, agen perubahan, kesetiakawanan sosial, serta keberlanjutan dan inovasi. Sungguh luar biasa niat untuk memutus mata rantai kemiskinan ektrem bila program SRU ini berhasil dilaksanakan secara konsisten dan kontinu.

Selain itu, SRU juga diproyeksikan berasrama dan gratis di bawah Kemensos tetapi penyiapan gurunya oleh Kemendikdasmen. Seleksinya konon diprioritaskan kepada guru  penggerak dan sudah bersertifikat pendidik melalui jalur PPG. Oleh karena berada di dua Kementerian yang berbeda, perlu regulasi yang jelas agar tidak merugikan profesi guru. Guru di bawah Kemendikdasmen sudah jelas regulasinya terkait tugas pokok dan fungsinya dalam memenuhi hak-hak dan kewajibannya, termasuk hak mendapatkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) setiap bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan, walaupun sering telat.

Bagaimana bila nanti guru itu ditarik ke SRU yang pada tahun pertama mungkin tidak memenuhi syarat jumlah jam mengajar yang selama ini diekuivalensikan setara 24 jam pelajaran. Selain itu, skema guru yang direkrut ke SRU juga akan dilatih secara ofline selama satu bulan dan pasti meninggalkan siswa. Dampak lanjutannya, terjadi kekurangan guru di sekolah regular di bawah Kemendikdasmen seperti dikeluhkan sejumlah sekolah di berbagai daerah. Sementara itu,  program pengangkatan guru PPPK tahun 2025 ditunda dan progres guru mengikuti percepatan PPG juga dikurangi.

Niat memuliakan warga negara yang miskin ekstrem dengan mendirikan SRU memang sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan bangsa, khususnya menjalankan pasal 34 (1) Fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara. Basis data anak miskin ekstrem sesuai dengan Inpres Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Terpadu Sosial dan Ekonomi Nasional. Walaupun demikian, perlu kehati-hatian dalam pencuplikan dan pemutakhiran data mengingat basis data itu sangat dinamis. Dinamikanya bisa bergerak lintas desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi.

Daripada pemerintah membangun SRU dengan fasilitas wah melebihi fasilitas sekolah regular kini, ada baiknya juga melirik dan memberdayakan sekolah swasta tradisional yang sudah ada dan membantunya untuk bangkit kembali. Faktanya, banyak sekolah swasta tradisional yang  hidup segan mati tak mau. Menghidupkan kembali denyut sekolah swasta menjadi SRU, adalah bentuk subsidi nyata keberpihakan pemerintah sebagaimana awal Kemerdekaan hingga Orde Baru, sekolah swasta mendapatkan subsidi guru dan gedung bangunan (ruang kelas, lab) sehingga sinergitas pemerintah dan swasta makin mesra dan mutualistik. Di sejumlah sekolah swasta tradisional, keluhan kepala sekolah tentang banyaknya anak kurang mampu juga sudah sering digemakan. Kolaborasi program SRU dengan sekolah swasta yang sudah ada perlu dikomunikasikan secara humanis, konsisten, kontinu dan mutualistik.

 Selain itu, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sudah ada juga bisa lebih diberdayakan sehingga gema efisiensi yang digaungkan pemerintah lebih mengena. Namun, PKBM merupakan lembaga pendidikan nonformal, sementara SRU dirancang seperti sekolah formal. Walaupun demikian, regulasi bisa diselaraskan sehingga landasan hukumnya jelas dan terukur.

 Seperti juga sekolah swasta tradisional, PKBM juga didirikan atas dasar idealisme dan kepedulian untuk memutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah (kawin muda, miskin ekstrem, membantu orang tua). Selama ini, peran PKBM telah berhasil menjalankan misinya memutus mata rantai anak putus sekolah. Prinsifnya belajar sambil bekerja sehingga muatan keterampilan hidup lebih diutamakan.  Itu juga berarti memutus mata rantai kemiskinan ekstrem bersinergi dengan  program SRU yang dicanangkan pemerintah. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Berguru Pada Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib
Tags: Pendidikansekolah dasarsekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Next Post

Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co