13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Jaswanto by Jaswanto
April 6, 2025
in Khas
Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Ketupat setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PADA awal bulan Syawal, tepatnya pada tanggal 7 atau 8—sepekan setelah Idulfitri, sebagian umat Islam di Jawa akan melangsungkan hari raya yang kedua. Tapi hari raya ini tidak termasuk syariat Islam, hanya tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Sunan Kalijaga—sebagaimana kepercayaan orang-orang yang rutin menggelarnya. Orang Jawa menyebutnya “Kupatan” atau Lebaran Ketupat.

Sebagaimana sebutannya, umat Islam di Jawa, seperti di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, misalnya, akan membuat banyak ketupat pada hari tersebut. Tak hanya ketupat, tapi juga alu-alu (banyak orang mengenalnya dengan sebutan lepet)—kuliner khas yang terbuat dari beras ketan dan santan (terkadang dengan toping kacang tunggak merah) yang dibentuk memanjang seperti alu, alat penumbuk dalam proses menutu padi, dan dibungkus dengan daun lontar atau daun pisang muda.

“Tradisi ini sudah turun-temurun,” ujar Tari sambil menganyam daun lontar muda menjadi ketupat. Lelaki paruh baya itu awalnya membuat pola gulungan daun lontar—yang panjang—di tangan kanan dan kiri. Lalu ia menggabungkan kedua pola tersebut menjadi rancang-bangun yang tampak rumit bagi yang tak bisa. Tari mulai menganyam ujung-ujung lontar itu dengan terampil. Ia menyusupkan ujung tersebut ke sana ke mari, menjadi ketupat yang sempurna, presisi dan terlihat manis.

Alu-alu (Lepet) setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Benar. Umat Muslim di Desa Gaji, seperti keterangan Tari, dari dulu hingga sekarang, nyaris selalu menggunakan daun lontar muda sebagai wadah ketupat, alih-alih menggunakan janur—daun kelapa yang masih muda—seperti umumnya di daerah lain. “Karena di sini banyak pohon lontar,” Tari menerangkan. Di Tuban, pohon lontar tumbuh dengan subur di pinggir-pinggir tegalan sampai di lereng-lereng bukit kapur. Sedangkan kelapa, khususnya di daerah bukit pedalaman, tak banyak tumbuh.

Pada lebaran ketupat, banyak warga Gaji yang membuat ketupat sendiri, walaupun tak sedikit pula yang memilih membelinya dari penjual. Di desa ini, satu ketupat tanpa isi dijual 1.500 rupiah. Orang-orang biasa membeli minimal sepuluh ketupat. Pada momen seperti ini, Rajit dan istrinya bisa mengantongi ratusan hingga jutaan rupiah. Bertahun-tahun yang lalu Rajit dan Tarsini—suami-istri—memang dikenal sebagai penjual lontar dan ketupat yang cakap. Namanya tersiar seantero Desa Gaji dan sekitarnya. Bukan saja bahan lontarnya yang bagus, tapi juga bentuk ketupatnya yang rapi dan presisi—tidak terlalu besar maupun kecil. “Bahan baku [daun lontra] punya sendiri. Di pinggir ladang saya banyak pohon lontar,” terang Rajit.

Ketupat setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ketupat-ketupat yang sudah jadi akan diisi beras dan dimasak. Menjelang sore hari, ketupat dan alu-alu yang sudah masak, lengkap dengan lauk-pauk seperti serundeng (abon kelapa), ayam goreng, sambal kacang, telur dadar, tempe goreng, dll, sebagian akan diantarkan ke sanak-keluarga dan tetangga terdekat. Sebagian lagi dibawa ke musala atau masjid untuk kemudian dinikmati bersama-sama setelah didoakan. Jamaah satu akan memakan ketupat yang dibawa jamaah lainnya. Saling tukar-menukar. Di musala, tak ada jamaah yang memakan ketupat bawaan sendiri.

Makna Kupatan

Hari Raya Ketupat (Kupatan) bisa dikatakan sebagai bentuk perayaan (kemenangan) atas hawa nafsu  selama Ramadan—ditambah dengan puasa sunah enam hari setelah Idulfitri pada bulan Syawal.  Banyak yang meyakini bahwa tradisi Kupatan ini berangkat dari upaya-upaya Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa—yang juga berdasar pada kebudayaan Jawa. Sebagaimana hal-hal lain dalam budaya Jawa yang penuh dengan simbolisasi dan makna filosofis, ketupat juga dianggap demikian.

Masyarakat Jawa percaya Sunan Kalijaga (Raden Said) sebagai sosok pertama yang memperkenalkan ketupat. Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, tradisi Kupatan muncul pada era Wali Songo dengan memanfaatkan tradisi slametan (kenduri) yang sudah berkembang di kalangan masyarakat Jawa sebelum Islam. Tradisi ini kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturahmi di hari lebaran.

Ketupat pasar sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut H.J. de Graaf, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Graaf menduga bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa—walaupun banyak yang berpendapatan bahwa kata “janur” merupakan kependekan dari “jatining nur” (fitrah—suci). Warna kuning pada janur dimaknai de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Lebih jauh, dalam beberapa sumber di internet, Kupatan merupakan akulturasi dari tradisi pemujaan Dewi Sri—dewi pertanian dan kesuburan, dewi pelindung kelahiran dan kehidupan, dewi kekayaan dan kemakmuran. Ia adalah Dewi tertinggi dan terpenting dalam teologi-mitologi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan kerajaan lain di Sunda dan Bali.

Ada pula sumber lain yang berpendapat bahwa tradisi Kupatan di tanah Jawa sudah ada sejak zaman  Hindu dan Budha yang diaplikasikan dalam bentuk sesajen. Islam melalui Wali Songo kemudian memodifikasinya—untuk tidak mengatakan merekonstruksikannya. Hal tersebut bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Di dalam tradisi Jawa kuno, Kupatan sama  dengan hari raya kecil atau hari raya untuk ritual arwah-arwah anak kecil.

Ketupat bawang sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Clifford Geertz, Kupatan adalah tradisi slametan kecil yang dilaksanakan pada hari ketujuh  bulan Syawal. Kata Geertz, dulu, hanya mereka yang memiliki anak kecil dan telah meninggal saja yang   dianjurkan untuk mengadakan slametan ini. Menurutnya, tradisi ini umumnya banyak dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Abangan.

Geertz tidak salah. Di beberapa daerah di Jawa Timur, misalnya, hanya orang tua yang kehilangan anak saja yang melaksanakan Kupatan. Entah karena keguguran atau meninggal sewaktu masih bayi. Kalau tidak punya riwayat keguguran atau anak yang meninggal sewaktu bayi, tidak ada keharusan untuk Kupatan.

Menurut penuturan orang-orang dulu, Kupatan adalah momen spesial yang didedikasikan untuk anak-anak yang sudah meninggal. Semacam penghiburan dan wujud kasih sayang orang tua kepada anaknya yang sudah meninggal supaya arwah anak-anak kecil ini bahagia dan tidak bersedih di alam sana. Sebab, mereka tidak bisa merasakan meriahnya Idulfitri sebagaimana teman-teman sebayanya yang masih hidup. Orang tua yang tidak menggelar Kupatan pada bulan Syawal dianggap sudah melupakan atau kurang memperhatikan anaknya yang telah meninggal.

Ketupat pasar dan bawang sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam bahasa Jawa, hari raya biasa disebut “bhada” atau “riyaya”. Kata bhada diambil dari bahasa Arab “ba’da” yang artinya sudah. Sedangkan riyaya berasal dari bahasa Indonesia yaitu “ria” yang berarti riang atau gembira. Adapun kupat (ketupat) dalam bahasa Jawa berasal dari kata “papat” atau “laku papat”—sesuai dengan bentuk ketupat yang punya empat sisi senagai simbol harapan di momen Idulfitri. Empat perilaku tersebut, yakni lebar (pintu maaf terbuka lebar), lebur (melebur dosa), labur (kembali menjadi pribadi yang suci bersih), dan luber (pengharapan agar rezekinya melimpah). Hal ini sejalan dengan semangat Idulfitri itu sendiri.

Selanjutnya, dalam bahasa Jawa, kupat juga diyakini kependekan dari “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan. Oleh karena itu, ketika hari raya ketupat, orang-orang Islam di Jawa—yang merayakannya—saling memberi dan berbagi ketupat sebagai simbol atas pengakuan dosa-kesalahan dan mengakui kekurangan diri masing-masing di hadapan Allah, keluarga, dan juga kepada sesama. [T]

Repoter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa
Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador
Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja
Tags: IslamjawaKabupaten TubanLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Next Post

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co