2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Jaswanto by Jaswanto
April 6, 2025
in Khas
Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Ketupat setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PADA awal bulan Syawal, tepatnya pada tanggal 7 atau 8—sepekan setelah Idulfitri, sebagian umat Islam di Jawa akan melangsungkan hari raya yang kedua. Tapi hari raya ini tidak termasuk syariat Islam, hanya tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Sunan Kalijaga—sebagaimana kepercayaan orang-orang yang rutin menggelarnya. Orang Jawa menyebutnya “Kupatan” atau Lebaran Ketupat.

Sebagaimana sebutannya, umat Islam di Jawa, seperti di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, misalnya, akan membuat banyak ketupat pada hari tersebut. Tak hanya ketupat, tapi juga alu-alu (banyak orang mengenalnya dengan sebutan lepet)—kuliner khas yang terbuat dari beras ketan dan santan (terkadang dengan toping kacang tunggak merah) yang dibentuk memanjang seperti alu, alat penumbuk dalam proses menutu padi, dan dibungkus dengan daun lontar atau daun pisang muda.

“Tradisi ini sudah turun-temurun,” ujar Tari sambil menganyam daun lontar muda menjadi ketupat. Lelaki paruh baya itu awalnya membuat pola gulungan daun lontar—yang panjang—di tangan kanan dan kiri. Lalu ia menggabungkan kedua pola tersebut menjadi rancang-bangun yang tampak rumit bagi yang tak bisa. Tari mulai menganyam ujung-ujung lontar itu dengan terampil. Ia menyusupkan ujung tersebut ke sana ke mari, menjadi ketupat yang sempurna, presisi dan terlihat manis.

Alu-alu (Lepet) setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Benar. Umat Muslim di Desa Gaji, seperti keterangan Tari, dari dulu hingga sekarang, nyaris selalu menggunakan daun lontar muda sebagai wadah ketupat, alih-alih menggunakan janur—daun kelapa yang masih muda—seperti umumnya di daerah lain. “Karena di sini banyak pohon lontar,” Tari menerangkan. Di Tuban, pohon lontar tumbuh dengan subur di pinggir-pinggir tegalan sampai di lereng-lereng bukit kapur. Sedangkan kelapa, khususnya di daerah bukit pedalaman, tak banyak tumbuh.

Pada lebaran ketupat, banyak warga Gaji yang membuat ketupat sendiri, walaupun tak sedikit pula yang memilih membelinya dari penjual. Di desa ini, satu ketupat tanpa isi dijual 1.500 rupiah. Orang-orang biasa membeli minimal sepuluh ketupat. Pada momen seperti ini, Rajit dan istrinya bisa mengantongi ratusan hingga jutaan rupiah. Bertahun-tahun yang lalu Rajit dan Tarsini—suami-istri—memang dikenal sebagai penjual lontar dan ketupat yang cakap. Namanya tersiar seantero Desa Gaji dan sekitarnya. Bukan saja bahan lontarnya yang bagus, tapi juga bentuk ketupatnya yang rapi dan presisi—tidak terlalu besar maupun kecil. “Bahan baku [daun lontra] punya sendiri. Di pinggir ladang saya banyak pohon lontar,” terang Rajit.

Ketupat setelah dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ketupat-ketupat yang sudah jadi akan diisi beras dan dimasak. Menjelang sore hari, ketupat dan alu-alu yang sudah masak, lengkap dengan lauk-pauk seperti serundeng (abon kelapa), ayam goreng, sambal kacang, telur dadar, tempe goreng, dll, sebagian akan diantarkan ke sanak-keluarga dan tetangga terdekat. Sebagian lagi dibawa ke musala atau masjid untuk kemudian dinikmati bersama-sama setelah didoakan. Jamaah satu akan memakan ketupat yang dibawa jamaah lainnya. Saling tukar-menukar. Di musala, tak ada jamaah yang memakan ketupat bawaan sendiri.

Makna Kupatan

Hari Raya Ketupat (Kupatan) bisa dikatakan sebagai bentuk perayaan (kemenangan) atas hawa nafsu  selama Ramadan—ditambah dengan puasa sunah enam hari setelah Idulfitri pada bulan Syawal.  Banyak yang meyakini bahwa tradisi Kupatan ini berangkat dari upaya-upaya Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa—yang juga berdasar pada kebudayaan Jawa. Sebagaimana hal-hal lain dalam budaya Jawa yang penuh dengan simbolisasi dan makna filosofis, ketupat juga dianggap demikian.

Masyarakat Jawa percaya Sunan Kalijaga (Raden Said) sebagai sosok pertama yang memperkenalkan ketupat. Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, tradisi Kupatan muncul pada era Wali Songo dengan memanfaatkan tradisi slametan (kenduri) yang sudah berkembang di kalangan masyarakat Jawa sebelum Islam. Tradisi ini kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturahmi di hari lebaran.

Ketupat pasar sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut H.J. de Graaf, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Graaf menduga bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa—walaupun banyak yang berpendapatan bahwa kata “janur” merupakan kependekan dari “jatining nur” (fitrah—suci). Warna kuning pada janur dimaknai de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Lebih jauh, dalam beberapa sumber di internet, Kupatan merupakan akulturasi dari tradisi pemujaan Dewi Sri—dewi pertanian dan kesuburan, dewi pelindung kelahiran dan kehidupan, dewi kekayaan dan kemakmuran. Ia adalah Dewi tertinggi dan terpenting dalam teologi-mitologi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan kerajaan lain di Sunda dan Bali.

Ada pula sumber lain yang berpendapat bahwa tradisi Kupatan di tanah Jawa sudah ada sejak zaman  Hindu dan Budha yang diaplikasikan dalam bentuk sesajen. Islam melalui Wali Songo kemudian memodifikasinya—untuk tidak mengatakan merekonstruksikannya. Hal tersebut bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Di dalam tradisi Jawa kuno, Kupatan sama  dengan hari raya kecil atau hari raya untuk ritual arwah-arwah anak kecil.

Ketupat bawang sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Clifford Geertz, Kupatan adalah tradisi slametan kecil yang dilaksanakan pada hari ketujuh  bulan Syawal. Kata Geertz, dulu, hanya mereka yang memiliki anak kecil dan telah meninggal saja yang   dianjurkan untuk mengadakan slametan ini. Menurutnya, tradisi ini umumnya banyak dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Abangan.

Geertz tidak salah. Di beberapa daerah di Jawa Timur, misalnya, hanya orang tua yang kehilangan anak saja yang melaksanakan Kupatan. Entah karena keguguran atau meninggal sewaktu masih bayi. Kalau tidak punya riwayat keguguran atau anak yang meninggal sewaktu bayi, tidak ada keharusan untuk Kupatan.

Menurut penuturan orang-orang dulu, Kupatan adalah momen spesial yang didedikasikan untuk anak-anak yang sudah meninggal. Semacam penghiburan dan wujud kasih sayang orang tua kepada anaknya yang sudah meninggal supaya arwah anak-anak kecil ini bahagia dan tidak bersedih di alam sana. Sebab, mereka tidak bisa merasakan meriahnya Idulfitri sebagaimana teman-teman sebayanya yang masih hidup. Orang tua yang tidak menggelar Kupatan pada bulan Syawal dianggap sudah melupakan atau kurang memperhatikan anaknya yang telah meninggal.

Ketupat pasar dan bawang sebelum dimasak | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dalam bahasa Jawa, hari raya biasa disebut “bhada” atau “riyaya”. Kata bhada diambil dari bahasa Arab “ba’da” yang artinya sudah. Sedangkan riyaya berasal dari bahasa Indonesia yaitu “ria” yang berarti riang atau gembira. Adapun kupat (ketupat) dalam bahasa Jawa berasal dari kata “papat” atau “laku papat”—sesuai dengan bentuk ketupat yang punya empat sisi senagai simbol harapan di momen Idulfitri. Empat perilaku tersebut, yakni lebar (pintu maaf terbuka lebar), lebur (melebur dosa), labur (kembali menjadi pribadi yang suci bersih), dan luber (pengharapan agar rezekinya melimpah). Hal ini sejalan dengan semangat Idulfitri itu sendiri.

Selanjutnya, dalam bahasa Jawa, kupat juga diyakini kependekan dari “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan. Oleh karena itu, ketika hari raya ketupat, orang-orang Islam di Jawa—yang merayakannya—saling memberi dan berbagi ketupat sebagai simbol atas pengakuan dosa-kesalahan dan mengakui kekurangan diri masing-masing di hadapan Allah, keluarga, dan juga kepada sesama. [T]

Repoter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa
Meneroka Tembakau Tuban: Emas Hijau dari San Salvador
Pertalian antara Pulau-Pulau Kecil di Madura dengan Kota Singaraja
Tags: IslamjawaKabupaten TubanLebaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja

Next Post

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co