26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 20, 2025
in Esai
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa

Ilustrasi tatkala.co

MERESPON meluasnya cabang ormas nasional yang lekat dengan citra premanisme di Bali, ribuan pacalang (sering ditulis pecalang) berkumpul di kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar. Dalam acara bertajuk Gelar Agung Pacalang itu, para pacalang menyatakan sikap dan menegakkan posisi dirinya sebagai abdi keamanan Bali dalam kehidupan masyarakat adat. Senada dengan pernyataan sikap para pacalang tersebut, kita tidak dapat memungkiri bahwa keberadaan pacalang kini berperan sangat vital. Tidak hanya dalam mengatur lalu lintas upacara agama dan kegiatan adat budaya, tetapi juga dalam cakupan yang lebih luas yaitu menjaga keamanan dan stabilitas desa di akar rumput. 

Lantas, sejak kapan konsep pacalang eksis? Apakah purwarupa dari kata pacalang? Apa sebenarnya makna kata pacalang? Tiga benih pertanyaan ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kehausan batin dalam menelusuri kata pacalang dan dimensi kesejarahan bahasanya.  

Dari sejumlah informasi yang beredar luas di internet, setidaknya kata pacalang dihubungkan dengan dua bentuk, yaitu calang dan celang.

Tafsir relasi antara kata pacalang dengan calang disampaikan oleh seorang perwakilan pacalang Bali yang viral di media sosial sebelum Gelar Agung Pacalang itu dilaksanakan. Ia merujuk pustaka Pūrwādigama sebagai sumber sastra yang sudah memuat keberadaan pacalang. Kemampuan retorika dan rujukan sastra yang disampaikan oleh perwakilan pacalang ini patut dijadikan teladan karena ia merepresentasikan figur pacalangyang nyastraalias literat. Dalam banyak kasus, pemilihan pacalang seringkali hanya didasarkan pada ukuran tubuh yang besar dan kekar, bukan dipilih dari figur yang pintar, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan keterampilan diplomasi yang mumpuni.

Lontar Pūrwādigama Koleksi Pusdok

Lebih jauh, apabila kita telusuri kata calang dalam kitab hukum Pūrwādigama, selengkapnya teks itu menyatakan sebagai berikut: luput sang kr̥tta ring rājawali, lwirnya nya ng waligara, panaṇḍung sěndi, palangkah bahan, bhaya, arik purik, calang cangkiran, pagotak (Pūrwādigama, 3a.18). Berdasarkan petikan pustaka ini, kata calang dimaknai sebagai suatu jenis pajak atau iuran tertentu yang diberikan kepada mangilala dṛwya haji ‘pejabat pemungut pajak’. Tidak ada penjelasan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan kata calang dalam pustaka tersebut. Pustaka Pūrwādigama menyatakan konteks kata itu dalam tautannya dengan iuran yang diberikan kepada sekelompok orang yang memangku jabatan tinggi dengan sebutan sang kreta ‘hakim’. Jika kata dasar calang bermakna ‘jenis pajak’, maka awalan pa- yang menempel di depannya membuat kata pacalang boleh jadi berkembang menjadi seseorang yang bertugas untuk memungut pajak bernama cangkiran.

Selanjutnya, di samping kata calang, bentuk kata pacalang juga dihubungkan dengan kata celang dalam bahasa Bali. Dugaannya berasal dari perubahan bunyi e [ә] dalam kata celang [cәlaŋ] yang menjadi a [a] sehingga menjadi calang [calaŋ]. Jadi, dari celang menjadi calang. Kata celang secara harfiah bermakna ‘tajam inderanya’. Misalnya, celang kupingné ‘tajam pendengarannya’; celang paningalané ‘tajam penglihatannya’; dan aéng celangné ‘banyak akalnya’. Dari sinilah makna kata celang diperluas menjadi waspada. Jika dugaan ini benar, maka penambahan awalan pa- dalam kata pacalang bermakna seseorang yang memiliki ketajaman sekaligus juga kewaspadaan. Dalam konteks pelaksanaan tugasnya, pacalang barangkali diharapkan menjadi satuan petugas adat yang waspada untuk menjaga keamaan adat dan kelancaran pelaksanaan suatu upacara.

Di luar dua dugaan di atas, tampaknya ada hubungan yang menarik untuk ditelusuri antara kata pacalang dengan bentuk talang dalam bahasa Jawa Kuno. Dugaan ini didasarkan pada kemiripan bentuk dan kedekatan makna kata calang dan talang. Kedekatan bentuk inilah yang dijadikan dasar untuk menentukan wujud purba suatu kata dalam penelusuran sejarah bahasa. Asumsi dasarnya adalah: dalam proses waktu yang panjang, suatu kata dapat mengalami perubahan atau inovasi. Tentu banyak juga kata yang tidak berubah atau mengalami retensi. Kata yang berubah dan tidak berubah biasanya menunjukkan gejala yang tidak tunggal, tetapi juga didukung oleh fenomena serupa dalam kata lainnya. Hal ini disebabkan oleh hakikat bahasa sebagai suatu sistem yang menunjukkan keteraturannya. Singkatnya, bahasa itu berubah dalam suatu keteraturan.

Kembali ke hubungan antara kata pacalangdengan talangdalam bahasa Jawa Kuno yang diduga terwaris di Bali. Kita bisa melihatnya dari perspektif bentuk dan makna. Dilihat dari segi bentuknya, kata calang dengan talang cukup dekat. Perubahan, variasi, dan pertukaran bunyi c dalam kata calang dengan tdalam kata talangditopang oleh fenomena kebahasaan lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dari bentuk cabya à tabya ‘cabai’, campur à tampur ‘campur’; tambra à cambra ‘tembaga’; celeng à teleng ‘jenis bunga’; tyaksu à caksu ‘lihat’; dan seterusnya. Sekali lagi, perubahan kata ini menunjukkan keteraturan dan keberlanjutan hingga saat ini. Dilihat dari segi maknanya, kata talang memiliki anyaman makna yang erat dengan pacalang, yaitu: 1. ‘siap mengorbankan jiwa’ dalam kata talang jiwa; 2. siap bertempur sampai akhir dalam kata atalang jurit; dan 3. mengorbankan diri dalam kata tumalangaken’ (Zoetmulder, 1994: 1185). Ketiga makna kata di atas berhubungan erat dengan fungsi-fungsi pacalang hingga saat ini yang berperan vital dalam penjagaan keamaan di Bali.  

Untuk menyangga kekuatan dugaan di atas, kita juga bisa melihat penggunaan kata talangdalam teks-teks Jawa Kuno. Pertama, karya sastra tertua yang memuat kata tumalangaken‘mengorbankan diri dengan rela’ dapat kita lihat dalam Kakawin Bhomakawya atau Bhomāntaka. Karya yang dalam tradisi Bali diduga ditulis oleh Mpu Bharadah pada era pemerintahan Erlangga sekitar abad X di Jawa ini memuat penggunaan kata tersebut dalam konteks tumalangaken awak naranātha (53.3)‘mengorbankan diri dengan rela bersama sang raja’.

Selanjutnya, kita juga bisa melihat penggunaan kata talang jiwa ‘siap untuk mengorbankan hidupnya’ dalam karya sastra Kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular sekitar abad XIV pada masa Majapahit. Kata talang jiwa digunakan dalam konteks kaharep nira matalanga jīwa saksaṇa (34.12)‘keinginannya hendak Bersiap untuk mengorbankan hidupnya seketika’. Satu bukti lagi penggunaan kata atalang jurit ‘siap bertempur sampai akhir’ dapat dilihat dalam karya sastra Kidung Rangga Lawe yang diduga ditulis di Bali. Kata atalang jurit dapat dilihat dalam konteks wani atalang jurit mamrep eng musuh (8.37)‘berani bertempur sampai akhir dalam menghadapi musuh’.

Melalui bukti-bukti penggunaan kata talang ini, pada saat yang bersamaan kita juga dituntun pada suatu dugaan kapan konsep pacalang mulai eksis. Jika penjejakan atas penggunaan kata talang di atas benar, konsep calang yang diduga dari kata talang setidaknya sudah mulai digunakan pada masa pemerintahan Raja Erlangga di Jawa abad X di Jawa. Penggunaan kata tersebut terus mengalir pada masa Majapahit pada abad XIV lalu bermuara di Bali hingga saat ini.

Demikianlah sejumlah kemungkinan purwarupa kata pacalang apabila kita bersandar pada bukti tekstual yang ada. Walaupun kita telah berusaha melihat berbagai kemungkinan bentuk pacalang melalui kedekatannya dengan kata calang, celang, dan talang. Kritik tetap harus diberikan untuk memberikan celah dugaan lain yang lebih akurat. Kata calang ‘jenis pajak’ yang diduga menjadi muasal kata pacalang belum disangga oleh bukti-bukti teks yang lebih luas, terutama prasasti dan kitab hukum lainnya. Demikian pula kata celang ‘waspada’ yang diyakini menurunkan bentuk pacalang perlu ditopang oleh fenomena perubahan bahasa yang lebih banyak dan lebih teratur. Terakhir, dugaan kata pacalang yang berasal dari talang ‘pengorbanan diri’ perlu ditelusuri kesinambungan perubahan bentuk katanya dalam proses pengimbuhan (morfologis) yang lebih luas.

Meski tinjauan atas perubahan bentuk tersebut perlu diperluas, makna kata pacalang yang berhubungan dengan pemungutan pajak (retribusi), kewaspadaan, dan nilai-nilai keberanian melalui pengorbanan diri masih relevan dengan nyala semangat pacalang Bali saat ini. Dalam proses pemungutan retribusi di tingkat adat, para pacalang perlu memiliki aturan yang jelas dan tata cara yang sudah sesuai dengan payung hukum sehingga tidak menjadi pungutan liar. Tentu kita tidak berharap, pacalang justru menjadi ‘preman lokal’ yang berlindung di bawah payung adat. Demikian pula nilai-nilai kewaspadaan sudah semestinya menjadi penuntun setiap ayunan langkah para pacalang dalam melakukan pengabdiannya. Terakhir, spirit keberanian dalam mempertaruhkan jiwa juga mesti digarisbawahi dengan dasar kebenaran dan pengabdian yang terang, sama seperti Arjuna yang membaktikan panah paśupatinya hanya kepada Dharmaputra sebagai simbul kebenaran di dunia.

Satu hal kecil yang perlu disadari oleh para pacalang Bali saat ini hanya standar ganda: di satu sisi menolak ormas luar, tetapi di sisi yang lain memberi celah ormas di dalam yang potensial sama-sama bermotif preman. Kita perlu semakin sadar bahwa sikap orang dan orang-orang Bali memiliki sisi keambiguitasannya sendiri. Peneliti luar menyebut sikap ini sebagai: benteng pintu terbuka. [T]

Paris, 19 Mei 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Persembahan Perempuan di Altar Perang Puputan Klungkung
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Tags: balidesa adatpecalang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mujri, Si Penjaja Koran: Sejak 22 Tahun Tetap Setia Berkeliling di Seririt

Next Post

Mari Kita Jaga Nusantara Tenteram Kerta Raharja

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Mari Kita Jaga Nusantara Tenteram Kerta Raharja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co