3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 23, 2024
in Esai
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

DI situs-situs sumber air purba Bali seperti Tirta Empul dan Mangening, ada tempat khusus dengan lima pancuran yang disebut dengan Pancaka Tirta. Tidak hanya itu, di dekat Pura Pangastan, Belayu tempat seorang kawi-wiku Ida Padanda Ngurah menggelar yoga sastra juga ada situs Pancaka Tirta. Apa makna Pancaka Tirta yang tidak boleh sembarangan dimasuki oleh masyarakat tersebut?

Mari kita mulai dengan merujuk kisah pertama Mahabrata India yang digubah ke dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu Adi Parwa. 

Pustaka Adi Parwa sebagai parwa pertama dari delapan belas parwa memuat kisah menarik mengenai  air. Dikisahkan Parasurama yang hidup di antara zaman Traitia dan Dwapara Yuga berperang melawan Arjuna Sahasrabahu.  Peperangan yang terjadi di tanah Bharatawarsa dimenangkan oleh Parasurama. Peperangan itu ternyata dibalas oleh para ksatria di tanah Bharatawarsa dengan membunuh ayah Parasurama yang bernama Bhagawan Jamadagni. Kematian Bhagawan Jamadagni ini menyebabkan Parasurama murka dan berjanji untuk mempersembahkan darah dua puluh satu raja kepa leluhurnya.

Ucapan seorang pertapa seperti Bhagawan Parasurama ternyata menjadi kenyataan. Dua puluh satu kesatria tewas, termasuk, gajah dan kuda keretanya. Darah kesatria itu seketika berubah menjadi lautan (rudira arnawa) lalu menyusut menjadi lima telaga. 

Sesuai janji, darah itu dipersembahkan kepada para leluhurnya melalui upacara Tarpana Wipala Raktasna Pananjali. Namun sayang, darah persembahan dua puluh satu raja tersebut tidak menyebabkan para leluhur bahagia.  Persembahan darah itu ditolak. Oleh sebab itu, para leluhur datang menemui Parasurama, termasuk Bhawagan Jamadagni ayahnya. Para leluhur menyatakan sebagai berikut :

Anak Rama Parasu tan yogya kadi kita brahmana magawe rudira tarpana, kunêng yogya tarpaņaknanta ikang tirta pawitra juga. Hana pwa sadhanantamūja ri kami kabeh, ikang tirtha, wastwa temahana tirta limang talaga kwehnya, wênanga panghilanga kleśa rah ning samantanrêpa sang mating raņa denta. 

Terjemahan. 

Anakku Rama Parasu. Tidak pantas seorang brahmana seperti anakku ini melangsungkan korban darah, seyogianya air suci (tirta pawitra) sajalah yang anakku persembahkan. Sekarang ini juga, itulah syaratmu memuja kami. Terjadilah demikian, lima buah telaga tercipta, sakti dapat menyucikan darah para raja yang gugur di medan perang. 

Kutipan fragmen teks Adi Parwa di atas menyebutkan bahwa syarat untuk memuja para leluhur adalah menggunakan air penyucian (tirta pawitra). Pesan leluhur kepada Sang Brahmana muda itu menegaskan bahwa airlah sarana penyucian. Pernyataan itu dapat dipahami bahwa air bukan hanya sarana kesucian, tapi kesucian itu sendiri. Karena hanya kesucian yang dapat menyucikan. Apabila air dimaknai sebagai percik kesucian, apalah air samudra selain kumpulan kesucian. 

Pancaka Tirta yang telah diuraikan dalam kisah Bhagawan Ramaparasu juga disinggung dalam salah satu karya sastra geguritan yang berjudul Japatuan. Karya sastra yang menceritakan mengenai pencarian Japatuan terhadap istrinya Ratnaning Rat ke sorga karena dijadikan penari legong oleh Dewa Indra tersebut membahas fragmen Pancaka Tirta.

Uraian mengenai Pancaka Tirta dan fungsi-fungsinya dengan cukup rinci dimuat dalam adegan ketika Japatuan yang atas anugrah Siwa menuju sorga. Setelah ia menuntaskan tapa selama 42 hari di sungai Serayu, Dewa Wisnupun memberikannya jalan untuk bertemu dengan istri yang baru dinikahinya selama 3 bulan itu. Dalam perjalanannya, Japatuan bertemu dengan saudara mistisnya yang berwujud buaya (malan smara bapa), raksasa (meme), macan (getih), anjing hitam (yeh nyom), dan empat raksasa yang juga manifestasi saudara mistisnya. Sebelum bertemu dengan Indra, saudara-saudaranya menyuruh untuk melakukan penyucian di Pancaka Tirta. Pancaka Tirta diuraikan sebagai berikut. 

Sampun rauh ring beji pancake tirta, toyannyane manca warna, toyagni aran beli, wetan petak, kidul abang, kulon kuning, lor hulung neki, ring tengah mancawarna.

Terjemahan. 

Telah sampai di permandian Pancaka Tirta. Airnya berwarna lima warna, air api namanya Kanda. Di timur berwarna putih, di selatan merah, di barat kuning, di utara berwarna hitam, di tengah lima warna.

Teks Geguritan Japatuan mendeskripsikan bahwa Japatuan mulai melakukan penyucian dari selatan ke utara, lalu ke tengah, selanjutnya dari timur ke barat. Tirta yang ada di selatan berwarna merah, yang utara berwarna hitam, di tengah berwarna panca warna, lalu di timur berwarna putih, di barat berwarna kuning. Melalui tokoh yang bernama Japatuan, pengarang memberikan informasi penting mengenia keberadaan Pancaka Tirta.

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

Tirta yang berada di Selatan berwarna merah ditempati oleh Brahma, sebagai penyucian bagi orang-orang yang berperilaku jahat (wong muat mait, salahe mandang mandung, laksasana hala). Tirta yang berada di Barat adalah api kuning ditempati oleh Mahadewa, sebagai penyucian orang-orang yang berdosa terhadap orang tua (alpaka ring guru rabya), angkara kepada suami (angkara ring laki). Tirta yang berada di utara ditempati oleh Sang Hyang Ari berwujud api hitam, sebagai penyucian bagi orang yang bisa ilmu hitam seperti ngeleak (wong nluh ngleyak), orang selingkuh (maro sih tkening lakinia). Tirta yang ada di timur berwujud api putih stana Sang Hyang Iswara, sebagai penyucian bagi orang yang suka berbohong (munyi mauk). Tirta yang berada di tengah, berwujud api lima warna milik Batara Siwa sebagai penyucian bagi orang yang terkena berbagai penyakit (sasar gring) serta peleburan segala dosa dan papa.  

Sampai di sini, pembaca barangkali bertanya, mana mungkin ada unsur api di dalam air? Kalau kita membaca teks tattwa seperti Wrehaspati Tattwa kita akan menemukan hubungan di antara lima elemen besar pembentuk alam semesta yang disebut Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta terdiri atas unsur akasa (udara), bayu (angin), teja (api), apah (air), dan pertiwi (zat padat/tanah).

Rumusnya, unsur yang di atas selalu ada di bawahnya. Dengan demikian, di dalam angin pasti ada udara (ether). Di dalam api (teja) pasti ada udara (akasa) dan angin (angin). Itu sebabnya orang pada masa lalu selalu menyuruh ketika memasuki suatu gua atau arungan seseorang mesti membawa obor. Tujuannya bukan hanya sebagai penerang, tetapi sekaligus mengukur keadaan udara dan angin di dalamnya. Selanjutnya, di dalam air (apah) pasti ada udara (akasa), angin (bayu), dan api (teja). Karena ada unsur udara dan anginlah air dapat mengalir dan bergerak memenuhi siklus hidrologi. Untuk membuktikan bahwa ada unsur api di dalam air, sampai hari ini kita masih bisa mengunjungi air hangat di Toya Bungkah-Kintamani, dan Angsri-Tabanan. Terakhir, di dalam tanah (pertiwi), ada empat unsur lainnya yaitu udara, angin, api, dan air. Keberadaan api di dalam tanah tak perlu diragukan lagi. Itu bisa dilihat dengan jelas apabila suatu gunung erupsi atau meletus. Api di dalam tanah ini disebut dengan pawaka.  

Demikianlah uraian teks Geguritan Japatuan mengenai Pancaka Tirta sebagai lima air yang memiliki unsur api. Dalam realitasnya, Pancaka Tirta masih ada di sejumlah situs air penting di Bali seperti Tirta Empul dan Pura Mangening. Sampai saat ini, tirta-tirta tersebut masih difungsikan sebagai sarana penyucian. Oleh sebab itulah, air dalam konteks Pancaka Tirta dapat dimaknai sebagai sarana penyucian dengan kekuatan peleburan dahsyat dalam baik sakala maupun niskala dalam kehidupan masyarakat Bali.

Mari kita jaga Pancaka Tirta bukan hanya dengan ritus, tetapi gerak nyata melindungi kebersihan dan kesuciannya dengan hati yang tulus. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: airsastratirta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Next Post

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Menghadang “Kanibalisme” Subak

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co