23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 23, 2024
in Esai
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

DI situs-situs sumber air purba Bali seperti Tirta Empul dan Mangening, ada tempat khusus dengan lima pancuran yang disebut dengan Pancaka Tirta. Tidak hanya itu, di dekat Pura Pangastan, Belayu tempat seorang kawi-wiku Ida Padanda Ngurah menggelar yoga sastra juga ada situs Pancaka Tirta. Apa makna Pancaka Tirta yang tidak boleh sembarangan dimasuki oleh masyarakat tersebut?

Mari kita mulai dengan merujuk kisah pertama Mahabrata India yang digubah ke dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu Adi Parwa. 

Pustaka Adi Parwa sebagai parwa pertama dari delapan belas parwa memuat kisah menarik mengenai  air. Dikisahkan Parasurama yang hidup di antara zaman Traitia dan Dwapara Yuga berperang melawan Arjuna Sahasrabahu.  Peperangan yang terjadi di tanah Bharatawarsa dimenangkan oleh Parasurama. Peperangan itu ternyata dibalas oleh para ksatria di tanah Bharatawarsa dengan membunuh ayah Parasurama yang bernama Bhagawan Jamadagni. Kematian Bhagawan Jamadagni ini menyebabkan Parasurama murka dan berjanji untuk mempersembahkan darah dua puluh satu raja kepa leluhurnya.

Ucapan seorang pertapa seperti Bhagawan Parasurama ternyata menjadi kenyataan. Dua puluh satu kesatria tewas, termasuk, gajah dan kuda keretanya. Darah kesatria itu seketika berubah menjadi lautan (rudira arnawa) lalu menyusut menjadi lima telaga. 

Sesuai janji, darah itu dipersembahkan kepada para leluhurnya melalui upacara Tarpana Wipala Raktasna Pananjali. Namun sayang, darah persembahan dua puluh satu raja tersebut tidak menyebabkan para leluhur bahagia.  Persembahan darah itu ditolak. Oleh sebab itu, para leluhur datang menemui Parasurama, termasuk Bhawagan Jamadagni ayahnya. Para leluhur menyatakan sebagai berikut :

Anak Rama Parasu tan yogya kadi kita brahmana magawe rudira tarpana, kunêng yogya tarpaņaknanta ikang tirta pawitra juga. Hana pwa sadhanantamūja ri kami kabeh, ikang tirtha, wastwa temahana tirta limang talaga kwehnya, wênanga panghilanga kleśa rah ning samantanrêpa sang mating raņa denta. 

Terjemahan. 

Anakku Rama Parasu. Tidak pantas seorang brahmana seperti anakku ini melangsungkan korban darah, seyogianya air suci (tirta pawitra) sajalah yang anakku persembahkan. Sekarang ini juga, itulah syaratmu memuja kami. Terjadilah demikian, lima buah telaga tercipta, sakti dapat menyucikan darah para raja yang gugur di medan perang. 

Kutipan fragmen teks Adi Parwa di atas menyebutkan bahwa syarat untuk memuja para leluhur adalah menggunakan air penyucian (tirta pawitra). Pesan leluhur kepada Sang Brahmana muda itu menegaskan bahwa airlah sarana penyucian. Pernyataan itu dapat dipahami bahwa air bukan hanya sarana kesucian, tapi kesucian itu sendiri. Karena hanya kesucian yang dapat menyucikan. Apabila air dimaknai sebagai percik kesucian, apalah air samudra selain kumpulan kesucian. 

Pancaka Tirta yang telah diuraikan dalam kisah Bhagawan Ramaparasu juga disinggung dalam salah satu karya sastra geguritan yang berjudul Japatuan. Karya sastra yang menceritakan mengenai pencarian Japatuan terhadap istrinya Ratnaning Rat ke sorga karena dijadikan penari legong oleh Dewa Indra tersebut membahas fragmen Pancaka Tirta.

Uraian mengenai Pancaka Tirta dan fungsi-fungsinya dengan cukup rinci dimuat dalam adegan ketika Japatuan yang atas anugrah Siwa menuju sorga. Setelah ia menuntaskan tapa selama 42 hari di sungai Serayu, Dewa Wisnupun memberikannya jalan untuk bertemu dengan istri yang baru dinikahinya selama 3 bulan itu. Dalam perjalanannya, Japatuan bertemu dengan saudara mistisnya yang berwujud buaya (malan smara bapa), raksasa (meme), macan (getih), anjing hitam (yeh nyom), dan empat raksasa yang juga manifestasi saudara mistisnya. Sebelum bertemu dengan Indra, saudara-saudaranya menyuruh untuk melakukan penyucian di Pancaka Tirta. Pancaka Tirta diuraikan sebagai berikut. 

Sampun rauh ring beji pancake tirta, toyannyane manca warna, toyagni aran beli, wetan petak, kidul abang, kulon kuning, lor hulung neki, ring tengah mancawarna.

Terjemahan. 

Telah sampai di permandian Pancaka Tirta. Airnya berwarna lima warna, air api namanya Kanda. Di timur berwarna putih, di selatan merah, di barat kuning, di utara berwarna hitam, di tengah lima warna.

Teks Geguritan Japatuan mendeskripsikan bahwa Japatuan mulai melakukan penyucian dari selatan ke utara, lalu ke tengah, selanjutnya dari timur ke barat. Tirta yang ada di selatan berwarna merah, yang utara berwarna hitam, di tengah berwarna panca warna, lalu di timur berwarna putih, di barat berwarna kuning. Melalui tokoh yang bernama Japatuan, pengarang memberikan informasi penting mengenia keberadaan Pancaka Tirta.

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

Tirta yang berada di Selatan berwarna merah ditempati oleh Brahma, sebagai penyucian bagi orang-orang yang berperilaku jahat (wong muat mait, salahe mandang mandung, laksasana hala). Tirta yang berada di Barat adalah api kuning ditempati oleh Mahadewa, sebagai penyucian orang-orang yang berdosa terhadap orang tua (alpaka ring guru rabya), angkara kepada suami (angkara ring laki). Tirta yang berada di utara ditempati oleh Sang Hyang Ari berwujud api hitam, sebagai penyucian bagi orang yang bisa ilmu hitam seperti ngeleak (wong nluh ngleyak), orang selingkuh (maro sih tkening lakinia). Tirta yang ada di timur berwujud api putih stana Sang Hyang Iswara, sebagai penyucian bagi orang yang suka berbohong (munyi mauk). Tirta yang berada di tengah, berwujud api lima warna milik Batara Siwa sebagai penyucian bagi orang yang terkena berbagai penyakit (sasar gring) serta peleburan segala dosa dan papa.  

Sampai di sini, pembaca barangkali bertanya, mana mungkin ada unsur api di dalam air? Kalau kita membaca teks tattwa seperti Wrehaspati Tattwa kita akan menemukan hubungan di antara lima elemen besar pembentuk alam semesta yang disebut Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta terdiri atas unsur akasa (udara), bayu (angin), teja (api), apah (air), dan pertiwi (zat padat/tanah).

Rumusnya, unsur yang di atas selalu ada di bawahnya. Dengan demikian, di dalam angin pasti ada udara (ether). Di dalam api (teja) pasti ada udara (akasa) dan angin (angin). Itu sebabnya orang pada masa lalu selalu menyuruh ketika memasuki suatu gua atau arungan seseorang mesti membawa obor. Tujuannya bukan hanya sebagai penerang, tetapi sekaligus mengukur keadaan udara dan angin di dalamnya. Selanjutnya, di dalam air (apah) pasti ada udara (akasa), angin (bayu), dan api (teja). Karena ada unsur udara dan anginlah air dapat mengalir dan bergerak memenuhi siklus hidrologi. Untuk membuktikan bahwa ada unsur api di dalam air, sampai hari ini kita masih bisa mengunjungi air hangat di Toya Bungkah-Kintamani, dan Angsri-Tabanan. Terakhir, di dalam tanah (pertiwi), ada empat unsur lainnya yaitu udara, angin, api, dan air. Keberadaan api di dalam tanah tak perlu diragukan lagi. Itu bisa dilihat dengan jelas apabila suatu gunung erupsi atau meletus. Api di dalam tanah ini disebut dengan pawaka.  

Demikianlah uraian teks Geguritan Japatuan mengenai Pancaka Tirta sebagai lima air yang memiliki unsur api. Dalam realitasnya, Pancaka Tirta masih ada di sejumlah situs air penting di Bali seperti Tirta Empul dan Pura Mangening. Sampai saat ini, tirta-tirta tersebut masih difungsikan sebagai sarana penyucian. Oleh sebab itulah, air dalam konteks Pancaka Tirta dapat dimaknai sebagai sarana penyucian dengan kekuatan peleburan dahsyat dalam baik sakala maupun niskala dalam kehidupan masyarakat Bali.

Mari kita jaga Pancaka Tirta bukan hanya dengan ritus, tetapi gerak nyata melindungi kebersihan dan kesuciannya dengan hati yang tulus. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: airsastratirta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Next Post

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menghadang “Kanibalisme” Subak

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co