14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 23, 2024
in Esai
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

DI situs-situs sumber air purba Bali seperti Tirta Empul dan Mangening, ada tempat khusus dengan lima pancuran yang disebut dengan Pancaka Tirta. Tidak hanya itu, di dekat Pura Pangastan, Belayu tempat seorang kawi-wiku Ida Padanda Ngurah menggelar yoga sastra juga ada situs Pancaka Tirta. Apa makna Pancaka Tirta yang tidak boleh sembarangan dimasuki oleh masyarakat tersebut?

Mari kita mulai dengan merujuk kisah pertama Mahabrata India yang digubah ke dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu Adi Parwa. 

Pustaka Adi Parwa sebagai parwa pertama dari delapan belas parwa memuat kisah menarik mengenai  air. Dikisahkan Parasurama yang hidup di antara zaman Traitia dan Dwapara Yuga berperang melawan Arjuna Sahasrabahu.  Peperangan yang terjadi di tanah Bharatawarsa dimenangkan oleh Parasurama. Peperangan itu ternyata dibalas oleh para ksatria di tanah Bharatawarsa dengan membunuh ayah Parasurama yang bernama Bhagawan Jamadagni. Kematian Bhagawan Jamadagni ini menyebabkan Parasurama murka dan berjanji untuk mempersembahkan darah dua puluh satu raja kepa leluhurnya.

Ucapan seorang pertapa seperti Bhagawan Parasurama ternyata menjadi kenyataan. Dua puluh satu kesatria tewas, termasuk, gajah dan kuda keretanya. Darah kesatria itu seketika berubah menjadi lautan (rudira arnawa) lalu menyusut menjadi lima telaga. 

Sesuai janji, darah itu dipersembahkan kepada para leluhurnya melalui upacara Tarpana Wipala Raktasna Pananjali. Namun sayang, darah persembahan dua puluh satu raja tersebut tidak menyebabkan para leluhur bahagia.  Persembahan darah itu ditolak. Oleh sebab itu, para leluhur datang menemui Parasurama, termasuk Bhawagan Jamadagni ayahnya. Para leluhur menyatakan sebagai berikut :

Anak Rama Parasu tan yogya kadi kita brahmana magawe rudira tarpana, kunêng yogya tarpaņaknanta ikang tirta pawitra juga. Hana pwa sadhanantamūja ri kami kabeh, ikang tirtha, wastwa temahana tirta limang talaga kwehnya, wênanga panghilanga kleśa rah ning samantanrêpa sang mating raņa denta. 

Terjemahan. 

Anakku Rama Parasu. Tidak pantas seorang brahmana seperti anakku ini melangsungkan korban darah, seyogianya air suci (tirta pawitra) sajalah yang anakku persembahkan. Sekarang ini juga, itulah syaratmu memuja kami. Terjadilah demikian, lima buah telaga tercipta, sakti dapat menyucikan darah para raja yang gugur di medan perang. 

Kutipan fragmen teks Adi Parwa di atas menyebutkan bahwa syarat untuk memuja para leluhur adalah menggunakan air penyucian (tirta pawitra). Pesan leluhur kepada Sang Brahmana muda itu menegaskan bahwa airlah sarana penyucian. Pernyataan itu dapat dipahami bahwa air bukan hanya sarana kesucian, tapi kesucian itu sendiri. Karena hanya kesucian yang dapat menyucikan. Apabila air dimaknai sebagai percik kesucian, apalah air samudra selain kumpulan kesucian. 

Pancaka Tirta yang telah diuraikan dalam kisah Bhagawan Ramaparasu juga disinggung dalam salah satu karya sastra geguritan yang berjudul Japatuan. Karya sastra yang menceritakan mengenai pencarian Japatuan terhadap istrinya Ratnaning Rat ke sorga karena dijadikan penari legong oleh Dewa Indra tersebut membahas fragmen Pancaka Tirta.

Uraian mengenai Pancaka Tirta dan fungsi-fungsinya dengan cukup rinci dimuat dalam adegan ketika Japatuan yang atas anugrah Siwa menuju sorga. Setelah ia menuntaskan tapa selama 42 hari di sungai Serayu, Dewa Wisnupun memberikannya jalan untuk bertemu dengan istri yang baru dinikahinya selama 3 bulan itu. Dalam perjalanannya, Japatuan bertemu dengan saudara mistisnya yang berwujud buaya (malan smara bapa), raksasa (meme), macan (getih), anjing hitam (yeh nyom), dan empat raksasa yang juga manifestasi saudara mistisnya. Sebelum bertemu dengan Indra, saudara-saudaranya menyuruh untuk melakukan penyucian di Pancaka Tirta. Pancaka Tirta diuraikan sebagai berikut. 

Sampun rauh ring beji pancake tirta, toyannyane manca warna, toyagni aran beli, wetan petak, kidul abang, kulon kuning, lor hulung neki, ring tengah mancawarna.

Terjemahan. 

Telah sampai di permandian Pancaka Tirta. Airnya berwarna lima warna, air api namanya Kanda. Di timur berwarna putih, di selatan merah, di barat kuning, di utara berwarna hitam, di tengah lima warna.

Teks Geguritan Japatuan mendeskripsikan bahwa Japatuan mulai melakukan penyucian dari selatan ke utara, lalu ke tengah, selanjutnya dari timur ke barat. Tirta yang ada di selatan berwarna merah, yang utara berwarna hitam, di tengah berwarna panca warna, lalu di timur berwarna putih, di barat berwarna kuning. Melalui tokoh yang bernama Japatuan, pengarang memberikan informasi penting mengenia keberadaan Pancaka Tirta.

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

Tirta yang berada di Selatan berwarna merah ditempati oleh Brahma, sebagai penyucian bagi orang-orang yang berperilaku jahat (wong muat mait, salahe mandang mandung, laksasana hala). Tirta yang berada di Barat adalah api kuning ditempati oleh Mahadewa, sebagai penyucian orang-orang yang berdosa terhadap orang tua (alpaka ring guru rabya), angkara kepada suami (angkara ring laki). Tirta yang berada di utara ditempati oleh Sang Hyang Ari berwujud api hitam, sebagai penyucian bagi orang yang bisa ilmu hitam seperti ngeleak (wong nluh ngleyak), orang selingkuh (maro sih tkening lakinia). Tirta yang ada di timur berwujud api putih stana Sang Hyang Iswara, sebagai penyucian bagi orang yang suka berbohong (munyi mauk). Tirta yang berada di tengah, berwujud api lima warna milik Batara Siwa sebagai penyucian bagi orang yang terkena berbagai penyakit (sasar gring) serta peleburan segala dosa dan papa.  

Sampai di sini, pembaca barangkali bertanya, mana mungkin ada unsur api di dalam air? Kalau kita membaca teks tattwa seperti Wrehaspati Tattwa kita akan menemukan hubungan di antara lima elemen besar pembentuk alam semesta yang disebut Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta terdiri atas unsur akasa (udara), bayu (angin), teja (api), apah (air), dan pertiwi (zat padat/tanah).

Rumusnya, unsur yang di atas selalu ada di bawahnya. Dengan demikian, di dalam angin pasti ada udara (ether). Di dalam api (teja) pasti ada udara (akasa) dan angin (angin). Itu sebabnya orang pada masa lalu selalu menyuruh ketika memasuki suatu gua atau arungan seseorang mesti membawa obor. Tujuannya bukan hanya sebagai penerang, tetapi sekaligus mengukur keadaan udara dan angin di dalamnya. Selanjutnya, di dalam air (apah) pasti ada udara (akasa), angin (bayu), dan api (teja). Karena ada unsur udara dan anginlah air dapat mengalir dan bergerak memenuhi siklus hidrologi. Untuk membuktikan bahwa ada unsur api di dalam air, sampai hari ini kita masih bisa mengunjungi air hangat di Toya Bungkah-Kintamani, dan Angsri-Tabanan. Terakhir, di dalam tanah (pertiwi), ada empat unsur lainnya yaitu udara, angin, api, dan air. Keberadaan api di dalam tanah tak perlu diragukan lagi. Itu bisa dilihat dengan jelas apabila suatu gunung erupsi atau meletus. Api di dalam tanah ini disebut dengan pawaka.  

Demikianlah uraian teks Geguritan Japatuan mengenai Pancaka Tirta sebagai lima air yang memiliki unsur api. Dalam realitasnya, Pancaka Tirta masih ada di sejumlah situs air penting di Bali seperti Tirta Empul dan Pura Mangening. Sampai saat ini, tirta-tirta tersebut masih difungsikan sebagai sarana penyucian. Oleh sebab itulah, air dalam konteks Pancaka Tirta dapat dimaknai sebagai sarana penyucian dengan kekuatan peleburan dahsyat dalam baik sakala maupun niskala dalam kehidupan masyarakat Bali.

Mari kita jaga Pancaka Tirta bukan hanya dengan ritus, tetapi gerak nyata melindungi kebersihan dan kesuciannya dengan hati yang tulus. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: airsastratirta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Next Post

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Menghadang “Kanibalisme” Subak

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co