2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
May 23, 2024
in Esai
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

DI situs-situs sumber air purba Bali seperti Tirta Empul dan Mangening, ada tempat khusus dengan lima pancuran yang disebut dengan Pancaka Tirta. Tidak hanya itu, di dekat Pura Pangastan, Belayu tempat seorang kawi-wiku Ida Padanda Ngurah menggelar yoga sastra juga ada situs Pancaka Tirta. Apa makna Pancaka Tirta yang tidak boleh sembarangan dimasuki oleh masyarakat tersebut?

Mari kita mulai dengan merujuk kisah pertama Mahabrata India yang digubah ke dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu Adi Parwa. 

Pustaka Adi Parwa sebagai parwa pertama dari delapan belas parwa memuat kisah menarik mengenai  air. Dikisahkan Parasurama yang hidup di antara zaman Traitia dan Dwapara Yuga berperang melawan Arjuna Sahasrabahu.  Peperangan yang terjadi di tanah Bharatawarsa dimenangkan oleh Parasurama. Peperangan itu ternyata dibalas oleh para ksatria di tanah Bharatawarsa dengan membunuh ayah Parasurama yang bernama Bhagawan Jamadagni. Kematian Bhagawan Jamadagni ini menyebabkan Parasurama murka dan berjanji untuk mempersembahkan darah dua puluh satu raja kepa leluhurnya.

Ucapan seorang pertapa seperti Bhagawan Parasurama ternyata menjadi kenyataan. Dua puluh satu kesatria tewas, termasuk, gajah dan kuda keretanya. Darah kesatria itu seketika berubah menjadi lautan (rudira arnawa) lalu menyusut menjadi lima telaga. 

Sesuai janji, darah itu dipersembahkan kepada para leluhurnya melalui upacara Tarpana Wipala Raktasna Pananjali. Namun sayang, darah persembahan dua puluh satu raja tersebut tidak menyebabkan para leluhur bahagia.  Persembahan darah itu ditolak. Oleh sebab itu, para leluhur datang menemui Parasurama, termasuk Bhawagan Jamadagni ayahnya. Para leluhur menyatakan sebagai berikut :

Anak Rama Parasu tan yogya kadi kita brahmana magawe rudira tarpana, kunêng yogya tarpaņaknanta ikang tirta pawitra juga. Hana pwa sadhanantamūja ri kami kabeh, ikang tirtha, wastwa temahana tirta limang talaga kwehnya, wênanga panghilanga kleśa rah ning samantanrêpa sang mating raņa denta. 

Terjemahan. 

Anakku Rama Parasu. Tidak pantas seorang brahmana seperti anakku ini melangsungkan korban darah, seyogianya air suci (tirta pawitra) sajalah yang anakku persembahkan. Sekarang ini juga, itulah syaratmu memuja kami. Terjadilah demikian, lima buah telaga tercipta, sakti dapat menyucikan darah para raja yang gugur di medan perang. 

Kutipan fragmen teks Adi Parwa di atas menyebutkan bahwa syarat untuk memuja para leluhur adalah menggunakan air penyucian (tirta pawitra). Pesan leluhur kepada Sang Brahmana muda itu menegaskan bahwa airlah sarana penyucian. Pernyataan itu dapat dipahami bahwa air bukan hanya sarana kesucian, tapi kesucian itu sendiri. Karena hanya kesucian yang dapat menyucikan. Apabila air dimaknai sebagai percik kesucian, apalah air samudra selain kumpulan kesucian. 

Pancaka Tirta yang telah diuraikan dalam kisah Bhagawan Ramaparasu juga disinggung dalam salah satu karya sastra geguritan yang berjudul Japatuan. Karya sastra yang menceritakan mengenai pencarian Japatuan terhadap istrinya Ratnaning Rat ke sorga karena dijadikan penari legong oleh Dewa Indra tersebut membahas fragmen Pancaka Tirta.

Uraian mengenai Pancaka Tirta dan fungsi-fungsinya dengan cukup rinci dimuat dalam adegan ketika Japatuan yang atas anugrah Siwa menuju sorga. Setelah ia menuntaskan tapa selama 42 hari di sungai Serayu, Dewa Wisnupun memberikannya jalan untuk bertemu dengan istri yang baru dinikahinya selama 3 bulan itu. Dalam perjalanannya, Japatuan bertemu dengan saudara mistisnya yang berwujud buaya (malan smara bapa), raksasa (meme), macan (getih), anjing hitam (yeh nyom), dan empat raksasa yang juga manifestasi saudara mistisnya. Sebelum bertemu dengan Indra, saudara-saudaranya menyuruh untuk melakukan penyucian di Pancaka Tirta. Pancaka Tirta diuraikan sebagai berikut. 

Sampun rauh ring beji pancake tirta, toyannyane manca warna, toyagni aran beli, wetan petak, kidul abang, kulon kuning, lor hulung neki, ring tengah mancawarna.

Terjemahan. 

Telah sampai di permandian Pancaka Tirta. Airnya berwarna lima warna, air api namanya Kanda. Di timur berwarna putih, di selatan merah, di barat kuning, di utara berwarna hitam, di tengah lima warna.

Teks Geguritan Japatuan mendeskripsikan bahwa Japatuan mulai melakukan penyucian dari selatan ke utara, lalu ke tengah, selanjutnya dari timur ke barat. Tirta yang ada di selatan berwarna merah, yang utara berwarna hitam, di tengah berwarna panca warna, lalu di timur berwarna putih, di barat berwarna kuning. Melalui tokoh yang bernama Japatuan, pengarang memberikan informasi penting mengenia keberadaan Pancaka Tirta.

Beji Pancaka Tirta, Dekat Pura Pangastan, Tabanan | Foto: Ida Bagus Anom Wisnu Pujana

Tirta yang berada di Selatan berwarna merah ditempati oleh Brahma, sebagai penyucian bagi orang-orang yang berperilaku jahat (wong muat mait, salahe mandang mandung, laksasana hala). Tirta yang berada di Barat adalah api kuning ditempati oleh Mahadewa, sebagai penyucian orang-orang yang berdosa terhadap orang tua (alpaka ring guru rabya), angkara kepada suami (angkara ring laki). Tirta yang berada di utara ditempati oleh Sang Hyang Ari berwujud api hitam, sebagai penyucian bagi orang yang bisa ilmu hitam seperti ngeleak (wong nluh ngleyak), orang selingkuh (maro sih tkening lakinia). Tirta yang ada di timur berwujud api putih stana Sang Hyang Iswara, sebagai penyucian bagi orang yang suka berbohong (munyi mauk). Tirta yang berada di tengah, berwujud api lima warna milik Batara Siwa sebagai penyucian bagi orang yang terkena berbagai penyakit (sasar gring) serta peleburan segala dosa dan papa.  

Sampai di sini, pembaca barangkali bertanya, mana mungkin ada unsur api di dalam air? Kalau kita membaca teks tattwa seperti Wrehaspati Tattwa kita akan menemukan hubungan di antara lima elemen besar pembentuk alam semesta yang disebut Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta terdiri atas unsur akasa (udara), bayu (angin), teja (api), apah (air), dan pertiwi (zat padat/tanah).

Rumusnya, unsur yang di atas selalu ada di bawahnya. Dengan demikian, di dalam angin pasti ada udara (ether). Di dalam api (teja) pasti ada udara (akasa) dan angin (angin). Itu sebabnya orang pada masa lalu selalu menyuruh ketika memasuki suatu gua atau arungan seseorang mesti membawa obor. Tujuannya bukan hanya sebagai penerang, tetapi sekaligus mengukur keadaan udara dan angin di dalamnya. Selanjutnya, di dalam air (apah) pasti ada udara (akasa), angin (bayu), dan api (teja). Karena ada unsur udara dan anginlah air dapat mengalir dan bergerak memenuhi siklus hidrologi. Untuk membuktikan bahwa ada unsur api di dalam air, sampai hari ini kita masih bisa mengunjungi air hangat di Toya Bungkah-Kintamani, dan Angsri-Tabanan. Terakhir, di dalam tanah (pertiwi), ada empat unsur lainnya yaitu udara, angin, api, dan air. Keberadaan api di dalam tanah tak perlu diragukan lagi. Itu bisa dilihat dengan jelas apabila suatu gunung erupsi atau meletus. Api di dalam tanah ini disebut dengan pawaka.  

Demikianlah uraian teks Geguritan Japatuan mengenai Pancaka Tirta sebagai lima air yang memiliki unsur api. Dalam realitasnya, Pancaka Tirta masih ada di sejumlah situs air penting di Bali seperti Tirta Empul dan Pura Mangening. Sampai saat ini, tirta-tirta tersebut masih difungsikan sebagai sarana penyucian. Oleh sebab itulah, air dalam konteks Pancaka Tirta dapat dimaknai sebagai sarana penyucian dengan kekuatan peleburan dahsyat dalam baik sakala maupun niskala dalam kehidupan masyarakat Bali.

Mari kita jaga Pancaka Tirta bukan hanya dengan ritus, tetapi gerak nyata melindungi kebersihan dan kesuciannya dengan hati yang tulus. [T]

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

“Nglebur Basa Gegawan”: Strategi Adaptasi Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan
Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira

Tags: airsastratirta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Next Post

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menghadang “Kanibalisme” Subak

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co