2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghadang “Kanibalisme” Subak

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
May 24, 2024
in Esai
Menghadang “Kanibalisme” Subak

Foto ilustrasi: Bakti Wiyasa

Apabila dihitung sejak tanggal 29 Juni 2012, maka per bulan Mei 2024, landskap subak hampir 12 tahun ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Selama dua belas tahun pengakuan itu berjalan, nama subak kian berkibar di dunia global.

Namun, ketenaran acapkali memang tidak berjalan lurus dengan perbaikan. Meskipun kian terkenal, permasalahan subak seolah hanya berputar pada lingkaran setan yang sama. Tidak banyak masalah subak yang berhasil kita urai. Persoalan subak justru terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Pembusukan demi pembusukan atas sistem tata kelola air leluhur Bali ini terus terjadi. Posisi dan kondisi subak tetap hidup segan mati tak mau. Berbagai persoalan terus menikam subak. Masalah-masalah tersebut antara lain adalah alih fungsi lahan, daya dukung irigasi, serta kesejahteraan petani subak.

Peradaban Subak

Subak setidaknya telah eksis selama seabad di Bali. Menurut Callenfels, kata kasuwakan ‘wilayah subak’ telah terekam dalam Prasasti Pandak Badung (1071 Masehi) yang kemudian dipertegas melalui keterangan kalimat, masukatang huma di kadandan di errara di kasuwakan rawas ‘mengukur sawah di Kadandan pada Yeh Aa dalam wilayah Subak Rawas’ pada Prasasti Klungkung (1072 Masehi) (Purwita, 1993 dalam Sutawan, 2008).

Jauh daripada itu, istilah-istilah yang berkaitan dengan tata cara bercocok tanam dan tata kelola air telah dikenal dalam beberapa prasasti masa Bali Kuno lainnya. Callenfels mengatakan bahwa kata huma ‘sawah’ telah ada dalam Prasasti Sukawana A1 ( 882 Masehi), sedangkan undagi pangarung ‘tukang pembuat terowongan/aungan’ ditemukan dalam Prasasti Bebetin A1 pada tahun 896 Masehi) (Purwita, 1993 dalam Sutawan, 2008).

Dalam khazanah manuskrip, eksistensi subak sangat banyak ditemukan. Teks Tantu Panggelaran yang diduga berasal dari abad ke-15 membicarakan asal-muasal jenis padi yang kini hidup di dunia. Pada teks yang sama, konon pada masa silam para dewalah yang telah mengajarkan manusia bercocok tanam untuk bertahan hidup. Berdasarkan narasi ini, maka tidaklah salah apabila orang Bali sangat menjunjung tinggi pertanian.

Manuskrip lain yang memiliki hubungan erat dengan subak antara lain Darma Pamaculan. Teks ini kadang kala disebut Pratekaning Bhatara ring Bali. Darma Pamaculan bisa dikatakan sebagai salah satu teks etik bagi petani di Bali. Kedudukannya sama seperti halnya teks Kusuma Dewa yang jadi sumber etik bagi seorang pamangku ‘pendeta’ maupun Siwagama bagi orang Bali yang memilih jalan spiritual (sulinggih). Darma Pamaculan menjelaskan seluk-beluk praktik pertanian, baik dari praktik fisik hingga rohani berupa pelaksanaan ritual.

Tradisi lisan orang Bali juga mewariskan pengetahuan tata kelola air di Bali. Sebagai contoh adalah mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah yang menarasikan bagaimana air Danau Batur mengalir ke berbagai kawasan di Bali hingga membangun relasi budaya antara masyarakat pegunungan dengan masyarakat pesisir.

Penempatan subak sebagai entitas mahapenting dalam peradaban Bali ditunjukkan melalui praktik ritual dan adat-istiadat orang Bali. Petani Bali memandang padi selayaknya manusia, sehingga padi harus dipelihara layaknya memelihara manusia. Ada masa ketika padi dianggap tengah hamil, sehingga petani merayakan kehamilan padi itu dengan suka cita melalui ritual biukukung.

Ritual-ritual orang Bali tidak terlepas dari daur hidup padi. Salah satu yang terpenting adalah ngusaba. Ngusaba dapat dikatakan sebagai pesta ungkapan syukur masyarakat terhadap hasil panen melimpah ke hadapan Tuhan Yang Mahamenghidupi. Ngusaba dilakukan dalam berbagai tingkatan, seperti di Pura Ulun Carik, Pura Masceti, hingga Pura Ulun Danu.

Di Bawah Asuhan Pariwisata

Popularitas subak membawa dampak seperti dua mata pisau yang sama-sama tajam. Pada satu sisi popularitas subak menyajikan potensi besar dalam perlindungan dan pengembangannya untuk kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Namun, di sisi lain, eksploitasi yang terlampau masif acapkali tidak memperhatikan kelestarian subak. Subak seolah menjadi kanibal memakan dirinya sendiri.

Popularitas subak menjadikannya bahan jualan pariwisata yang efektif. Daerah dengan persawahan indah, seperti Jatiluwih dan Tegalalang, menjadikan lahan persawahan sebagai magnet kunjungan wisatawan. Langkah tersebut berhasil. Kunjungan wisatawan meledak, tempat tersebut menjadi destinasi wisata favorit yang dikunjungi ribuan orang sepanjang tahun.

Arus pariwisata ke subak pada akhirnya mendorong alih fungsi yang kian masif. Kedatangan wisatawan direspons dengan penyediaan fasilitas pariwisata seperti rumah makan, coffeeshop, vila, hingga hotel berbintang. Tidak jarang pemainnya adalah kaum kapitalis yang berorientasi hanya pada keuntungan sebesar-besarnya tanpa memberi dampak bagi masyarakat.

Pada sisi yang lain, pemilik lahan yang tersandera kesejahteraan akhirnya hanya bisa berhadapan pada realitas kehidupan: lebih baik menjual lahan daripada bertani yang tak menjanjikan masa depan. Mereka dipaksa berdamai dengan keadaan, sembari berharap kebaikan pemodal untuk memberi jatah pekerjaan bagi anak cucunya.

Fasilitas penunjang pariwisata yang dibangun di kawasan subak acapkali mencaplok lahan-lahan produktif persawahan dan ekosistem penyokong subak seperti sempadan sungai atau jurang. Bersama dengan itu, mereka turut “membegal” air—sumber daya utama dalam ekosistem subak—untuk memanjakan wisatawan. Seluruh praktik itu dilegitimasi seolah bijak dan berkelanjutan dalam bingkai ekowisata yang konon menawarkan keharmonisan antara alam dengan pariwisata.

Petani-petani Bali yang masih bertahan dalam lakunya sebagai wong tani seolah tidak terurus. Petani nyebak ‘menangis keras’ membaca nasib. Tanggung jawab petani subak demikian banyak, terbingkai sakala-niskala. Bersamaan ketika mereka ditonton pada panggung semu pariwisata subak, harga pupuk dan piranti produksi pertanian tetap mahal melambung di angkasa. Apabila mereka panen, harga gabah sering tak bersahabat karena berbagai persoalan. Segala kepahitan itu belum dihitung jika mereka mengalami gagal panen atau lahannnya mengalami musibah akibat bencana dan perubahan iklim.

Konflik horizontal antara desa adat dan subak dalam beberapa tahun belakangan juga kian mengkhawatirkan. Konflik semacam ini tercitrakan pada kasus “saling klaim” Pura Masceti Medahan antara desa adat dan subak setempat. Konon, persoalan ini muncul sebagai dampak turunan dari “pemberian kuasa” pemerintah pada desa adat sebagaimana diatur dalam Perda Desa Adat.

Meruwat Kanibalisme Subak

Kanibalisme yang merasuki sistem subak sesungguhnya berakar dari cara pandang kita terhadapnya. Banyak dari kita hanya memandang subak sekadar sawah. Subak dipandang hanya sebagai hamparan sawah atau terasering bertingkat-tingkat yang sedap dipandang mata sebagaimana dipromosikan dalam buklet promosi pariwisata. Oleh karena itulah banyak dari kita menempatkan subak hanya sebagai objek wisata dengan menafikkan jalinan nilai luhur yang ditanam leluhur selama berabad-abad.

Teks Rajapurana Pura Ulun Danu Batur yang disimpan dan disakralkan oleh masyarakat adat Batur bersama aliansi subak mengingatkan pada kita tentang nilai konektivitas dan solidaritas yang dikandung sistem subak. Tata kelola air yang menjadi napas hidup subak adalah ajaran mengelola perkawanan dan kesetiakawanan. Warisan ini mengajarkan orang-orang Bali untuk berbagi peran sembari tetap terhubung demi kesejahteraan bersama.

Nilai-nilai perkawanan dan kesetiakawanan itu termaktub dalam konsep pasihan ‘tempat-tempat terkasih’ dalam struktur sosio-kultural manusia Batur. Pasihan—sebagaimana dijelaskan Rajapurana Pura Ulun Danu Batur bagian Babad Patisora, Pangeling-eling Pasihan, dan Pratekaning Usana Siwa Sasana—merujuk pada kawasan atau organisasi yang memanfaatkan air dan tanah milik Ida Bhatari Sakti Batur.

Anggota Pasihan Batur kini jumlahnya 340-an lembaga (desa dan/atau subak). Jumlahnya telah beranak pinak dari konsep awal sejumlah 45 lembaga. Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa air dan tanah adalah milik seluruh rakyat, bukan milik satu dua orang. Secara spiritual, pemilik air dan tanah termanifestasi sebagai Ida Bhatara Sakti Makalihan, yakni entitas Tuhan yang bergelar Ida I Ratu Sakti Ayu Luwih atau Ida I Ratu Tengahing Segara atau Ida Bhatari Dewi Danuh (pemilik air) dan Ida I Ratu Sakti Madue Gumi (pemilik tanah).

Masyarakat yang memanfaatkan lahan-lahan dan air milik Ida I Ratu Sakti Batur memiliki kewajiban berbakti kepada dua manifestasi Tuhan Yang Mahapengasih tersebut. Bakti masyarakat pasihan itu direalisasi melalui persembahan sarin tahun atau sawinih ‘hasil panen’ pada saat pelaksanaan upacara terbesar di Pura Ulun Danu Batur—pura pemujaan Ida I Ratu Sakti Batur, yakni pada Ngusaba Kadasa.

Nilai-nilai yang dititipkan melalui Bhisama Bhatari Batur di dalam konsep pasihan penting untuk dikontekstualisasi pada era kekinian untuk “meruwat” kanibalisme subak yang kian mengkhawatirkan. Persembahan sarin tahun mengajarkan manusia untuk tidak tamak. Perkawanan dan kesetiakawanan dikemas dalam laku nyata berupa apresiasi sarin tahun bagi masyarakat di hulu oleh masyarakat di hilir.

Manajemen satu pulau wajib direalisasi dalam kebijakan nyata. Pemerintah sebagai leading sector perlu memetakan ulang bentang alam Bali secara menyeluruh. Zonasi perlu dilakukan. Ketika ada kawasan dimanfaatkan untuk aktivitas produksi, harus ada kawasan yang tetap berperan menjaga kelangsungan sumber daya.

Dalam konteks pengembangan subak menjadi pariwisata, sawah dan ekosistem penunjangnya mengambil peran sebagai sumber daya. Sawah, hutan, dan sungai berada di hulu, sementara pariwisata di hilir. Maka, pemerintah, tanpa kecuali, harus melindungi lahan subak dari ancaman alih fungsi pembangunan pariwisata. Polanya dapat dengan mereplikasi subak abadi.

Demi menjamin kesejahteraan bersama, seluruh keuntungan dari aktivitas pariwisata dapat dikelola pada satu pintu, sebelum didistribusikan ke seluruh rakyat secara berkeadilan. Distribusi kesejahteraan ini dapat dikemas dalam bentuk penyediaan fasilitas publik memadai seperti layanan kesehatan, air bersih gratis, dan/atau dana dukung pendidikan maupun pemberdayaan petani.

Pemerintah idealnya berani mensubsidi segala keperluan petani, termasuk membebaskan petani subak dari berbagai pajak. Menuntut pelestarian subak hanya dari podium orasi, tanpa melihat penderitaan petani hanyalah mimpi indah yang terlalu usang. Omon-omon doang! [T]

BACA artikel lain dari penulis JERO PENYARIKAN DUURAN BATUR

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?
Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan
Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno
Tags: balilontarpertanianpertanian balipuranasubak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pancaka Tirta: Melihat Unsur Api dalam Air sebagai Peleburan Melalui Adi Parwa dan Japatuan

Next Post

Komunikasi Internasional lewat Janji

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi Internasional lewat Janji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co