14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
December 4, 2023
in Esai
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Ritual ngantukang Ida Bhatara (Bakti Patetami) pada Ngusaba Kadasa yang menggunakan ikan danau.

KARYA Agung Danu Kerthi tahun 2023digelar atas keyakinan bahwa alam semesta harus dijaga manusia. Maka daripada itu, lebih jauh saya menilai ritual yang memutar ekonomi Bali nyaris Rp2 miliar ini sebagai momentum menilai kualitas lingkungan. Mengapa saya berpendapat demikian? Saya akan menjelaskan.

Ada beberapa hal yang mengindikasikan bahwa Karya Agung Danu Kerthi berperan sebagai media memeriksa kualitas lingkungan Bali. Indikator yang paling jelas dapat diperiksa pada bahan-bahan upacara, misalnya pada piranti ritual tawur labuh gentuh dan mapaselang.

Tawur labuh gentuh digelar dengan berbagai kurban binatang. Beberapa di antaranya adalah binatang yang tergolong langka, misalnya pitu (monyet berwarna hitam), penyu, kijang, dan menjangan. Panitia secara khusus harus bersurat ke otoritas terkait untuk mendapatkan dan menggunakan binatang-binatang tersebut sebagai piranti upacara.

Beberapa jenis tumbuhan upakara yang digunakan melengkapi bagia, pulakerti, dan panyegjeg juga mulai langka. Tanaman yang mulai langka misalnya pilasa (palasa; Butea monosperma), sakasti, dan nyuh madan (beragam jenis kelapa). Pohon tiblun yang hidup di kawasan Kaldera Batur juga mulai terancam keberadaannya. Panitia pun harus bergerilya mencari tumbuhan-tumbuhan tersebut agar upacara lengkap paripurna.

Saya yakin, sebagian dari anda akan mengerutkan dahi dan tidak sepakat terhadap pendapat bahwa kurban binatang langka adalah media melestarikan alam. Anda mungkin mengatakan pendapat saya sebagai pembenaran, pembualan, atau mungkin “kamuflase kreti” (baca: kamuflase hijau). Bagaimana mungkin praktik ritual yang mengorbankan binatang atau tumbuhan langka justru bertujuan untuk melestarikan alam? Saya sangat maklum apabila ada yang bertanya demikian.

Mari kita berpikir terbalik. Ketika binatang atau tumbuhan tercatat sebagai piranti ritual, bukankah artinya keberadaan mereka harus selalu ada? Bagi saya, binatang dan tumbuhan tersebut bukan sekadar menjadi kurban. Melalui kebudayaan, kita berupaya melegitimasi eksistensi mereka sebagai penduduk bumi yang memiliki hak sama seperti halnya manusia.

Amanat terdalam dari pengorbanan mereka adalah pesan keberlanjutan ekologi. Manusia Bali idealnya memikirkan upaya agar tumbuhan dan binatang langka tetap lestari pada siklus ritual berikutnya. Lima tahun, sepuluh tahun, seratus tahun, atau seribu tahun ke depan binatang dan tumbuhan tersebut tidak boleh punah dari muka bumi.

Olahan caru kijang pada Karya Agung Danu Kerthi 2023

Lalu bagaimana kondisi terkini Danau Batur dan Gunung Batur pasca-Karya Agung Danu Kerthi 2023? Jawaban paling nyata saya temukan ketika pelaksanaan upacara mapaselang. Upacara itu salah satunya menghadirkan peran biota-biota air, baik dari danau, sungai (tukad), dan laut (sagara).

Pada saat itu, biota-biota danau seolah menjadi diplomat yang menyuarakan kondisi Danau Batur. Bagi saya, merekalah yang paling tepat bersuara atas kondisi danau terbesar di Bali ini. Merekalah “tuan rumah” yang sesungguhnya dari Danau Batur, bukan manusia yang tinggal di darat, yang membaca kondisi alam atas data-data hasil uji laboratorium.

Seperti dugaan kita, mereka bersuara lantang! Ketika kami memanggil mereka untuk menjadi kurban, beberapa dari mereka memilih absen. Saya berharap mereka hanya jengkel dan memilih bersembunyi sejenak sembari memberi alarm terkait kualitas danau kita. Saya benar-benar berharap mereka tidak punah.

Kala itu, bangsa ikan yang kami dapatkan dari danau adalah gerang danu (sejenis ikan gupi), kraca (jenis siput danau yang kecil), serta penduduk danau kekinian seperti ikan nila, mujair, dan ikan red devil. Sejarah harus mengetahui dan mencatat bahwa yuyu (ketam danau; suku Gecarcinucoidea), ikan nyalian (Rasbora sp.), dan uyung (sejenis siput danau) tidak ditemukan di danau untuk melengkapi kurban Karya Agung Danu Kerthi 2023.

Sebelum tahun 2010, saya masih dengan mudah menjumpai biota-biota tersebut di danau. Jukut uyung (sup olahan uyung) masih sering tersaji pada panci hitam legam di dapur saya. Mereka adalah olahan rakyat yang banyak dijual di pasar. Saya masih mengingat rasa nikmat kala menyeruput kuahnya, termasuk suara khas yang keluar ketika menyedot daging dari cangkangnya yang mungil.

Pada kisaran waktu yang sama, apabila saya mandi atau berendam di danau, yuyu masih sering ditemui. Mereka biasanya bersembunyi di antara rekahan batu atau kain yang tersangkut di bebatuan. Kehadiran mereka sering membuat saya waspada, memantau anggota tubuh agar tidak dicapit. Capitan mereka tentu bisa menimbulkan masalah besar.

Ketika almarhum kakek saya mengajak ngedengin angas (menjebak ikan pada jebakan sejenis tambak di tepi danau), ikan nyalian juga masih berseliweran di danau. Kadang kala mereka ikut nimbrung terperangkap sau (jaring tangkap) kami yang berongga kecil. Ikan nyalian adalah sasaran paling mudah ketika saya dan teman-teman mencari ikan di sela-sela odalan Pura Jati. Nyalian yang diolah seadanya adalah hidangan yang kami santap di atas batuan rejeng dengan beragam bentuk di dekat dunungan (tenda). Batuan rejeng di sekitar dunungan kami memang berbentuk unik-unik. Kami pun berimajinasi bebas pada bentuk itu. Bagi kami ada yang bentuknya mirip buaya, ular, atau kura-kura. Kala itu kami belum dikuasai bentuk-bentuk semacam banteng, garuda, atau beringin.

Saya benar-benar berharap absennya uyung, yuyu, dan nyalian pada Karya Agung Danu Kerthi 2023 bukan sebagai tanda kepunahan mereka. Semoga mereka hanya kebetulan tidak menyahut ketika kami memanggil. Semoga mereka hanya marah pada kami yang jarang perhatian pada hidup dan kehidupan mereka. Semoga mereka hanya langka seperti halnya ikan kuyuh dan simbuh yang kini semakin sulit ditemukan. Namun yang pasti, kemungkinan terburuk tentang kepunahan uyung, yuyu, dan nyalian Danau Batur ada di depan mata. Mereka bisa menyusul kepunahan ikan bedu (ikan betok; Anabas sp.). Beruntung saya masih memiliki kerangka yang diawetkan oleh almarhum kakek. Jika tidak ada warisan kakek, saya hanya akan tahu namanya di dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur sebagai kelengkapan ritus yang kini perannya juga sudah diganti ikan lain. Sebagai informasi, nyalian juga banyak disebut sebagai piranti ritual pada Rajapurana Pura Ulun Danu Batur.

Menunggu Bhatara Pasupati Turun Kembali?

Saya ingin berandai-andai sekali lagi. Apa jadinya jika binatang atau tumbuhan upakara—sebagaimana disinggung sebelumnya—tidak didapatkan dalam suatu penyelenggaraan upacara? Menurut bahasa sastra yang simbolis, ketika piranti upacara tidak lengkap maka ritual tersebut tidak selesai (tan siddha ikang karya). Upacara yang tidak siddha mustahil akan siddhi (berhasil guna).

Sesuatu yang tidak memiliki ke-siddhi-an, tetapi memantas-mantaskan diri seolah berdaya guna, berdekatan dengan hipokrisi. Ritual seperti itu tidak akan mampu membangun refleksi dan edukasi. Ritual seperti itu hanya akan menjadi rutinitas yang menghambur-hamburkan sumber daya. Ketidak-siddhi-an itu tidak akan melahirkan kesucian (suddha), lebih-lebih kebijaksanaan (sadhu). Sebab, manusia yang semestinya menjadi sadhaka dunia telah kehilangan tongkat penuntunnya. Mahkotanya runtuh ke ceruk kehinaan.

Pada lontar-lontar yang kita sakralkan, fenomena semacam ini erat dengan narasi “ida bhatara ninggal kadaton”. Para dewa binasa. Mereka moksa ke alam Sunia, berduyun-duyun meninggalkan “Gunung Agung”. Mereka mungkin kembali ke Mahameru di dwipa antah-berantah. Pada kondisi itu, Nusa Bali akan kembali mengambang di lautan penderitaan akibat mutu lingkungan yang nyungsep.

Mungkin pada saat itu Bhatara Pasupati akan kembali terusik, kemudian bangun dari samadhi-nya. Setelah bangun, Hyang Jagatkarana akan turun ke Balidwipa Mandala membawa “gunung”. Orang bijak menunggu momentum heroik itu. Namun, di tengah krisis kepercayaan pada segala hal sebagaimana yang dipertontonkan elit negeri belakangan ini, siapakah Bhatara Pasupati yang kita tunggu untuk turun?

Suara gaib membisiki saya, “Tokoh tak selalu jatuh dari langit, kadang ia dibuat dari kayu legam sisa kebakaran di Bukit Abang!” (bersambung)

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (5): Konektivitas dan Solidaritas Hulu-Hilir
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar
Tags: Danau Baturdanu kertihGunung BaturPura Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Wisaeni, 20 Tahun Menjual Mengguh Khas Desa Les, Tejakula

Next Post

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co