3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Chusmeru by Chusmeru
December 5, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MASYARAKAT yang sering menonton film atau sinetron Indonesia tentu tidak asing dengan kehadiran pemain yang menggambarkan sosok orang Jawa – Banyumas. Sosok tersebut biasanya digambarkan sebagai orang yang menggunakan bahasa Jawa dengan logat Banyumasan. Bahasa tersebut sering disebut bahasa Ngapak yang membedakan dengan bahasa Jawa logat daerah Yogya, Solo, maupun Surabaya.

Bahasa Banyumasan juga sering dijadikan bahan pancingan tawa para komedian di televisi. Masyarakat Banyumas mungkin merasa bangga, lantaran dialek atau logat Banyumasan menjadi populer di media massa. Namun jika dicermati, tampilan logat Banyumasan itu selalu merepresentasikan sosok kaum marginal di tengah gemerlap kota Jakarta.

Logat Banyumasan selalu dikaitkan dengan sosok pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, sopir, kuli bangunan, dan stereotip kelompok marginal lain. Seolah logat, dialek, bahasa, atau pun budaya Banyumasan di mata industri media dan pusat kekuasaan Jakarta, adalah konstruksi budaya orang pinggiran dan budaya yang terpinggirkan. 

Ketika para selebriti menikmati popularitasnya lewat peran yang mengharuskan dia membawakan logat Banyumasan, justru di daerah asalnya sendiri, Banyumas, budaya tutur Ngapak itu mulai memasuki tahap kritis. Entah karena stigma dan konstruksi media yang menganggap budaya Banyumas milik kaum pinggiran, atau pemilik sah budaya itu sendiri yang mulai enggan menggunakannya.

Logat dan budaya Banyumasan kian kurang digandrungi, kecuali dalam rembug masyarakat desa atau ritual adat. Selebihnya, etnis atau wong Banyumas merasa bangga dan lebih percaya diri jika bertutur dengan bahasa Indonesia dalam interaksi sosialnya. Pedagang dan pembeli di pasar tradisional tak urung mulai ada yang melakukan transaksi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Persoalannya memang bukan sekadar logat atau bahasa. Keterpinggiran budaya Banyumas merupakan masalah “ideologis” yang harus dituntaskan. Stigma budaya Banyumas dan kaum marginal di Ibukota serta konstruksi media tentang etnis Banyumas perlu dijawab oleh pemangku budaya, yaitu masyarakat Banyumas itu sendiri. Jika tidak, maka wong Banyumas akan selalu merasa dan dicitrakan perannya sebagai wong cilik di tengah polah pongah wong gedean, menjadi ikan teri tercengkeram gurita di samudera raya.

Sosial Geografis

Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Utara kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Udaranya terasa sejuk. Potensi wisata dan seni budaya lokal cukup banyak. Salah satu kuliner khas Banyumas adalah Tempe Mendoan, yaitu tempe yang digoreng setengah matang menggunakan tepung.

Bahasa Banyumasan yang lebih dikenal dengan bahasa Ngapak, digunakan oleh masyarakat di kabupaten sekitarnya yang dikenal sebagai Eks Karesidenan Banyumas, yaitu Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Pengucapan bahasa Banyumasan biasanya dengan intonasi dalam dan keras. Hal itu disebabkan bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter. Apalagi masyarakat Banyumas secara struktural juga tidak mengenal kasta sosial.

Konstruksi media tentang etnis Banyumas sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Bahwa ada etnis Banyumas yang merantau ke Jakarta dan menjadi pembantu rumah tangga adalah benar. Orang Banyumas di Jakarta juga banyak yang menjalani profesi sopir angkutan umum, pedagang kaki lima, tukang kebun, dan pekerja bangunan. Meski demikian, generalisasi peran sebagai kelompok marginal di Ibukota tentulah sebuah konstruksi media yang berlebihan.

Banyumas juga memiliki andil besar dalam kancah sosial, ekonomi, politik, dan budaya nasional. Banyak “orang besar” dan tokoh nasional yang berasal dari Eks Karesidenan Banyumas. Sebut saja, Bapak Tentara Nasional Indonesia, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah kelahiran Purbalingga, yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas.

Pahlawan Nasional, Jenderal Gatot Subroto juga berasal dari Banyumas. Begitu pula Jenderal Soesilo Soedarman, mantan Menkopolhukam dan Menparpostel di era Orde Baru berasal dari Cilacap. Banyak lagi petinggi TNI dan Polri yang berasal dari daerah yang berbahasa Banyumasan.

Banyumas mempunyai tokoh yang berkecimpung di bidang sosial budaya. Penyair dan novelis Ahmad Tohari berasal dari Banyumas. Artis Panky Suwito dan Mayangsari juga berasal dari Banyumas. Selain itu banyak pula pengusaha sukses di kancah nasional yang berasal dari Banyumas.

Konstruksi media atas etnis Banyumas oleh karenanya perlu dipertanyakan. Mengapa media selalu menempatkan etnis Banyumas dalam peran kaum marginal. Dan kenapa pula orang Banyumas menikmati saja konstruksi media itu.

Revolusi Budaya

Bahasa Banyumasan sesungguhnya representasi dari budaya Banyumas yang egaliter dan apa adanya. Namun sebagaimana budaya daerah lain, budaya Banyumas juga sedang berhadapan dengan dan tertindas oleh gurita-gurita budaya, baik yang datang dari Amerika, Eropa, Timur Tengah, maupun gurita budaya Asia, seperti Jepang, China, dan Korea.

Penindasan oleh gurita budaya itu berjalan begitu halus dan santun, sehingga masyarakat Banyumas merasa tetap bebas merdeka dan pasrah pada beragam budaya kapitalis itu. Memang, penindasan acapkali menghasilkan kepatuhan yang tidak disadari. Sama seperti tatkala bangsa Indonesia di era penjajahan harus menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassouwe dan Kimigayo.

Suatu ketika masyarakat Banyumas pun akan merasa malu dan takut disebut ketinggalan jaman dan kampungan bila harus minum badheg (air nira kelapa yang difermentasi), dan makan gethuk, karena soft drink, es krim, burger, dan pizza nyaris tersedia di setiap super market dan mall.

Karenanya, langkah progresif yang perlu dilakukan oleh masyarakat Banyumas adalah dengan revolusi budaya. Revolusi bukan berarti menumbangkan rejim gurita budaya atau mengharamkan budaya entah- berantah itu. Revolusi budaya adalah upaya untuk memperkuat dan mempertegas jati diri budaya Banyumas agar mampu bersaing dalam hiruk pikuk globalisasi.

Revolusi  budaya dapat dilakukan dengan pemanfaatan media komunikasi tradisional dan media massa untuk menggelorakan semangat cinta budaya Banyumas. Oleh sebab itu perlu ada koeksistensi antara media komunikasi tradisional dan media massa.

Persoalannya memang tidak mudah. Media massa adalah industri yang berwatak kapitalis. Sepanjang tidak mendatangkan profit bagi pemilik modal dan organisasi media, maka budaya Banyumas hanya menjadi juru kunci yang akan muncul jika dibutuhkan saja.

Revolusi budaya dengan memanfaatkan media massa dapat dilakukan melalui radio, televisi, film, maupun media sosial. Banyak contoh budaya daerah yang nyaris mati suri dan kembali bangkit lantaran koeksistensi antarmedia. Kelompok kesenian Srimulat, ketoprak, dan wayang kulit pernah kembali bergairah ketika diberi ruang dalam pertunjukan televisi.

Kesenian Drama Gong, Bondres, dan Arja di Bali juga mengalami kejayaan kembali saat stasiun TV lokal memberi kesempatan tampil. Namun sekali lagi, media massa adalah industri yang padat modal. Sehingga, diperlukan kesadaran ideologis dari pemilik media untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.

Revolusi, pengembangan, maupun kebijakan politik terkait budaya Banyumas semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan generasi yang beradab dan berkepribadian di kemudian hari. Bukan untuk meniadakan budaya lain. Bukan pula untuk membangkitkan etnosentrisme, pengentalan etnis, atau menjadikan masyarakat Banyumas menjadi rasis.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi
Merawat Tradisi dari Masjid Saka Tunggal yang Ikonik
Tags: Bahasajawakomunikasikomunikasi antarbudayamedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Next Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co