2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Chusmeru by Chusmeru
December 5, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MASYARAKAT yang sering menonton film atau sinetron Indonesia tentu tidak asing dengan kehadiran pemain yang menggambarkan sosok orang Jawa – Banyumas. Sosok tersebut biasanya digambarkan sebagai orang yang menggunakan bahasa Jawa dengan logat Banyumasan. Bahasa tersebut sering disebut bahasa Ngapak yang membedakan dengan bahasa Jawa logat daerah Yogya, Solo, maupun Surabaya.

Bahasa Banyumasan juga sering dijadikan bahan pancingan tawa para komedian di televisi. Masyarakat Banyumas mungkin merasa bangga, lantaran dialek atau logat Banyumasan menjadi populer di media massa. Namun jika dicermati, tampilan logat Banyumasan itu selalu merepresentasikan sosok kaum marginal di tengah gemerlap kota Jakarta.

Logat Banyumasan selalu dikaitkan dengan sosok pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, sopir, kuli bangunan, dan stereotip kelompok marginal lain. Seolah logat, dialek, bahasa, atau pun budaya Banyumasan di mata industri media dan pusat kekuasaan Jakarta, adalah konstruksi budaya orang pinggiran dan budaya yang terpinggirkan. 

Ketika para selebriti menikmati popularitasnya lewat peran yang mengharuskan dia membawakan logat Banyumasan, justru di daerah asalnya sendiri, Banyumas, budaya tutur Ngapak itu mulai memasuki tahap kritis. Entah karena stigma dan konstruksi media yang menganggap budaya Banyumas milik kaum pinggiran, atau pemilik sah budaya itu sendiri yang mulai enggan menggunakannya.

Logat dan budaya Banyumasan kian kurang digandrungi, kecuali dalam rembug masyarakat desa atau ritual adat. Selebihnya, etnis atau wong Banyumas merasa bangga dan lebih percaya diri jika bertutur dengan bahasa Indonesia dalam interaksi sosialnya. Pedagang dan pembeli di pasar tradisional tak urung mulai ada yang melakukan transaksi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Persoalannya memang bukan sekadar logat atau bahasa. Keterpinggiran budaya Banyumas merupakan masalah “ideologis” yang harus dituntaskan. Stigma budaya Banyumas dan kaum marginal di Ibukota serta konstruksi media tentang etnis Banyumas perlu dijawab oleh pemangku budaya, yaitu masyarakat Banyumas itu sendiri. Jika tidak, maka wong Banyumas akan selalu merasa dan dicitrakan perannya sebagai wong cilik di tengah polah pongah wong gedean, menjadi ikan teri tercengkeram gurita di samudera raya.

Sosial Geografis

Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Utara kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Udaranya terasa sejuk. Potensi wisata dan seni budaya lokal cukup banyak. Salah satu kuliner khas Banyumas adalah Tempe Mendoan, yaitu tempe yang digoreng setengah matang menggunakan tepung.

Bahasa Banyumasan yang lebih dikenal dengan bahasa Ngapak, digunakan oleh masyarakat di kabupaten sekitarnya yang dikenal sebagai Eks Karesidenan Banyumas, yaitu Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Pengucapan bahasa Banyumasan biasanya dengan intonasi dalam dan keras. Hal itu disebabkan bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter. Apalagi masyarakat Banyumas secara struktural juga tidak mengenal kasta sosial.

Konstruksi media tentang etnis Banyumas sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Bahwa ada etnis Banyumas yang merantau ke Jakarta dan menjadi pembantu rumah tangga adalah benar. Orang Banyumas di Jakarta juga banyak yang menjalani profesi sopir angkutan umum, pedagang kaki lima, tukang kebun, dan pekerja bangunan. Meski demikian, generalisasi peran sebagai kelompok marginal di Ibukota tentulah sebuah konstruksi media yang berlebihan.

Banyumas juga memiliki andil besar dalam kancah sosial, ekonomi, politik, dan budaya nasional. Banyak “orang besar” dan tokoh nasional yang berasal dari Eks Karesidenan Banyumas. Sebut saja, Bapak Tentara Nasional Indonesia, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah kelahiran Purbalingga, yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas.

Pahlawan Nasional, Jenderal Gatot Subroto juga berasal dari Banyumas. Begitu pula Jenderal Soesilo Soedarman, mantan Menkopolhukam dan Menparpostel di era Orde Baru berasal dari Cilacap. Banyak lagi petinggi TNI dan Polri yang berasal dari daerah yang berbahasa Banyumasan.

Banyumas mempunyai tokoh yang berkecimpung di bidang sosial budaya. Penyair dan novelis Ahmad Tohari berasal dari Banyumas. Artis Panky Suwito dan Mayangsari juga berasal dari Banyumas. Selain itu banyak pula pengusaha sukses di kancah nasional yang berasal dari Banyumas.

Konstruksi media atas etnis Banyumas oleh karenanya perlu dipertanyakan. Mengapa media selalu menempatkan etnis Banyumas dalam peran kaum marginal. Dan kenapa pula orang Banyumas menikmati saja konstruksi media itu.

Revolusi Budaya

Bahasa Banyumasan sesungguhnya representasi dari budaya Banyumas yang egaliter dan apa adanya. Namun sebagaimana budaya daerah lain, budaya Banyumas juga sedang berhadapan dengan dan tertindas oleh gurita-gurita budaya, baik yang datang dari Amerika, Eropa, Timur Tengah, maupun gurita budaya Asia, seperti Jepang, China, dan Korea.

Penindasan oleh gurita budaya itu berjalan begitu halus dan santun, sehingga masyarakat Banyumas merasa tetap bebas merdeka dan pasrah pada beragam budaya kapitalis itu. Memang, penindasan acapkali menghasilkan kepatuhan yang tidak disadari. Sama seperti tatkala bangsa Indonesia di era penjajahan harus menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassouwe dan Kimigayo.

Suatu ketika masyarakat Banyumas pun akan merasa malu dan takut disebut ketinggalan jaman dan kampungan bila harus minum badheg (air nira kelapa yang difermentasi), dan makan gethuk, karena soft drink, es krim, burger, dan pizza nyaris tersedia di setiap super market dan mall.

Karenanya, langkah progresif yang perlu dilakukan oleh masyarakat Banyumas adalah dengan revolusi budaya. Revolusi bukan berarti menumbangkan rejim gurita budaya atau mengharamkan budaya entah- berantah itu. Revolusi budaya adalah upaya untuk memperkuat dan mempertegas jati diri budaya Banyumas agar mampu bersaing dalam hiruk pikuk globalisasi.

Revolusi  budaya dapat dilakukan dengan pemanfaatan media komunikasi tradisional dan media massa untuk menggelorakan semangat cinta budaya Banyumas. Oleh sebab itu perlu ada koeksistensi antara media komunikasi tradisional dan media massa.

Persoalannya memang tidak mudah. Media massa adalah industri yang berwatak kapitalis. Sepanjang tidak mendatangkan profit bagi pemilik modal dan organisasi media, maka budaya Banyumas hanya menjadi juru kunci yang akan muncul jika dibutuhkan saja.

Revolusi budaya dengan memanfaatkan media massa dapat dilakukan melalui radio, televisi, film, maupun media sosial. Banyak contoh budaya daerah yang nyaris mati suri dan kembali bangkit lantaran koeksistensi antarmedia. Kelompok kesenian Srimulat, ketoprak, dan wayang kulit pernah kembali bergairah ketika diberi ruang dalam pertunjukan televisi.

Kesenian Drama Gong, Bondres, dan Arja di Bali juga mengalami kejayaan kembali saat stasiun TV lokal memberi kesempatan tampil. Namun sekali lagi, media massa adalah industri yang padat modal. Sehingga, diperlukan kesadaran ideologis dari pemilik media untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.

Revolusi, pengembangan, maupun kebijakan politik terkait budaya Banyumas semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan generasi yang beradab dan berkepribadian di kemudian hari. Bukan untuk meniadakan budaya lain. Bukan pula untuk membangkitkan etnosentrisme, pengentalan etnis, atau menjadikan masyarakat Banyumas menjadi rasis.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi
Merawat Tradisi dari Masjid Saka Tunggal yang Ikonik
Tags: Bahasajawakomunikasikomunikasi antarbudayamedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Next Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co