12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Chusmeru by Chusmeru
December 5, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MASYARAKAT yang sering menonton film atau sinetron Indonesia tentu tidak asing dengan kehadiran pemain yang menggambarkan sosok orang Jawa – Banyumas. Sosok tersebut biasanya digambarkan sebagai orang yang menggunakan bahasa Jawa dengan logat Banyumasan. Bahasa tersebut sering disebut bahasa Ngapak yang membedakan dengan bahasa Jawa logat daerah Yogya, Solo, maupun Surabaya.

Bahasa Banyumasan juga sering dijadikan bahan pancingan tawa para komedian di televisi. Masyarakat Banyumas mungkin merasa bangga, lantaran dialek atau logat Banyumasan menjadi populer di media massa. Namun jika dicermati, tampilan logat Banyumasan itu selalu merepresentasikan sosok kaum marginal di tengah gemerlap kota Jakarta.

Logat Banyumasan selalu dikaitkan dengan sosok pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, sopir, kuli bangunan, dan stereotip kelompok marginal lain. Seolah logat, dialek, bahasa, atau pun budaya Banyumasan di mata industri media dan pusat kekuasaan Jakarta, adalah konstruksi budaya orang pinggiran dan budaya yang terpinggirkan. 

Ketika para selebriti menikmati popularitasnya lewat peran yang mengharuskan dia membawakan logat Banyumasan, justru di daerah asalnya sendiri, Banyumas, budaya tutur Ngapak itu mulai memasuki tahap kritis. Entah karena stigma dan konstruksi media yang menganggap budaya Banyumas milik kaum pinggiran, atau pemilik sah budaya itu sendiri yang mulai enggan menggunakannya.

Logat dan budaya Banyumasan kian kurang digandrungi, kecuali dalam rembug masyarakat desa atau ritual adat. Selebihnya, etnis atau wong Banyumas merasa bangga dan lebih percaya diri jika bertutur dengan bahasa Indonesia dalam interaksi sosialnya. Pedagang dan pembeli di pasar tradisional tak urung mulai ada yang melakukan transaksi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Persoalannya memang bukan sekadar logat atau bahasa. Keterpinggiran budaya Banyumas merupakan masalah “ideologis” yang harus dituntaskan. Stigma budaya Banyumas dan kaum marginal di Ibukota serta konstruksi media tentang etnis Banyumas perlu dijawab oleh pemangku budaya, yaitu masyarakat Banyumas itu sendiri. Jika tidak, maka wong Banyumas akan selalu merasa dan dicitrakan perannya sebagai wong cilik di tengah polah pongah wong gedean, menjadi ikan teri tercengkeram gurita di samudera raya.

Sosial Geografis

Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Utara kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Udaranya terasa sejuk. Potensi wisata dan seni budaya lokal cukup banyak. Salah satu kuliner khas Banyumas adalah Tempe Mendoan, yaitu tempe yang digoreng setengah matang menggunakan tepung.

Bahasa Banyumasan yang lebih dikenal dengan bahasa Ngapak, digunakan oleh masyarakat di kabupaten sekitarnya yang dikenal sebagai Eks Karesidenan Banyumas, yaitu Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Pengucapan bahasa Banyumasan biasanya dengan intonasi dalam dan keras. Hal itu disebabkan bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter. Apalagi masyarakat Banyumas secara struktural juga tidak mengenal kasta sosial.

Konstruksi media tentang etnis Banyumas sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Bahwa ada etnis Banyumas yang merantau ke Jakarta dan menjadi pembantu rumah tangga adalah benar. Orang Banyumas di Jakarta juga banyak yang menjalani profesi sopir angkutan umum, pedagang kaki lima, tukang kebun, dan pekerja bangunan. Meski demikian, generalisasi peran sebagai kelompok marginal di Ibukota tentulah sebuah konstruksi media yang berlebihan.

Banyumas juga memiliki andil besar dalam kancah sosial, ekonomi, politik, dan budaya nasional. Banyak “orang besar” dan tokoh nasional yang berasal dari Eks Karesidenan Banyumas. Sebut saja, Bapak Tentara Nasional Indonesia, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah kelahiran Purbalingga, yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas.

Pahlawan Nasional, Jenderal Gatot Subroto juga berasal dari Banyumas. Begitu pula Jenderal Soesilo Soedarman, mantan Menkopolhukam dan Menparpostel di era Orde Baru berasal dari Cilacap. Banyak lagi petinggi TNI dan Polri yang berasal dari daerah yang berbahasa Banyumasan.

Banyumas mempunyai tokoh yang berkecimpung di bidang sosial budaya. Penyair dan novelis Ahmad Tohari berasal dari Banyumas. Artis Panky Suwito dan Mayangsari juga berasal dari Banyumas. Selain itu banyak pula pengusaha sukses di kancah nasional yang berasal dari Banyumas.

Konstruksi media atas etnis Banyumas oleh karenanya perlu dipertanyakan. Mengapa media selalu menempatkan etnis Banyumas dalam peran kaum marginal. Dan kenapa pula orang Banyumas menikmati saja konstruksi media itu.

Revolusi Budaya

Bahasa Banyumasan sesungguhnya representasi dari budaya Banyumas yang egaliter dan apa adanya. Namun sebagaimana budaya daerah lain, budaya Banyumas juga sedang berhadapan dengan dan tertindas oleh gurita-gurita budaya, baik yang datang dari Amerika, Eropa, Timur Tengah, maupun gurita budaya Asia, seperti Jepang, China, dan Korea.

Penindasan oleh gurita budaya itu berjalan begitu halus dan santun, sehingga masyarakat Banyumas merasa tetap bebas merdeka dan pasrah pada beragam budaya kapitalis itu. Memang, penindasan acapkali menghasilkan kepatuhan yang tidak disadari. Sama seperti tatkala bangsa Indonesia di era penjajahan harus menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassouwe dan Kimigayo.

Suatu ketika masyarakat Banyumas pun akan merasa malu dan takut disebut ketinggalan jaman dan kampungan bila harus minum badheg (air nira kelapa yang difermentasi), dan makan gethuk, karena soft drink, es krim, burger, dan pizza nyaris tersedia di setiap super market dan mall.

Karenanya, langkah progresif yang perlu dilakukan oleh masyarakat Banyumas adalah dengan revolusi budaya. Revolusi bukan berarti menumbangkan rejim gurita budaya atau mengharamkan budaya entah- berantah itu. Revolusi budaya adalah upaya untuk memperkuat dan mempertegas jati diri budaya Banyumas agar mampu bersaing dalam hiruk pikuk globalisasi.

Revolusi  budaya dapat dilakukan dengan pemanfaatan media komunikasi tradisional dan media massa untuk menggelorakan semangat cinta budaya Banyumas. Oleh sebab itu perlu ada koeksistensi antara media komunikasi tradisional dan media massa.

Persoalannya memang tidak mudah. Media massa adalah industri yang berwatak kapitalis. Sepanjang tidak mendatangkan profit bagi pemilik modal dan organisasi media, maka budaya Banyumas hanya menjadi juru kunci yang akan muncul jika dibutuhkan saja.

Revolusi budaya dengan memanfaatkan media massa dapat dilakukan melalui radio, televisi, film, maupun media sosial. Banyak contoh budaya daerah yang nyaris mati suri dan kembali bangkit lantaran koeksistensi antarmedia. Kelompok kesenian Srimulat, ketoprak, dan wayang kulit pernah kembali bergairah ketika diberi ruang dalam pertunjukan televisi.

Kesenian Drama Gong, Bondres, dan Arja di Bali juga mengalami kejayaan kembali saat stasiun TV lokal memberi kesempatan tampil. Namun sekali lagi, media massa adalah industri yang padat modal. Sehingga, diperlukan kesadaran ideologis dari pemilik media untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.

Revolusi, pengembangan, maupun kebijakan politik terkait budaya Banyumas semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan generasi yang beradab dan berkepribadian di kemudian hari. Bukan untuk meniadakan budaya lain. Bukan pula untuk membangkitkan etnosentrisme, pengentalan etnis, atau menjadikan masyarakat Banyumas menjadi rasis.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi
Merawat Tradisi dari Masjid Saka Tunggal yang Ikonik
Tags: Bahasajawakomunikasikomunikasi antarbudayamedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Next Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co