24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konstruksi Media pada Etnis Jawa–Banyumas: Marginalisasi Peran

Chusmeru by Chusmeru
December 5, 2023
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MASYARAKAT yang sering menonton film atau sinetron Indonesia tentu tidak asing dengan kehadiran pemain yang menggambarkan sosok orang Jawa – Banyumas. Sosok tersebut biasanya digambarkan sebagai orang yang menggunakan bahasa Jawa dengan logat Banyumasan. Bahasa tersebut sering disebut bahasa Ngapak yang membedakan dengan bahasa Jawa logat daerah Yogya, Solo, maupun Surabaya.

Bahasa Banyumasan juga sering dijadikan bahan pancingan tawa para komedian di televisi. Masyarakat Banyumas mungkin merasa bangga, lantaran dialek atau logat Banyumasan menjadi populer di media massa. Namun jika dicermati, tampilan logat Banyumasan itu selalu merepresentasikan sosok kaum marginal di tengah gemerlap kota Jakarta.

Logat Banyumasan selalu dikaitkan dengan sosok pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, sopir, kuli bangunan, dan stereotip kelompok marginal lain. Seolah logat, dialek, bahasa, atau pun budaya Banyumasan di mata industri media dan pusat kekuasaan Jakarta, adalah konstruksi budaya orang pinggiran dan budaya yang terpinggirkan. 

Ketika para selebriti menikmati popularitasnya lewat peran yang mengharuskan dia membawakan logat Banyumasan, justru di daerah asalnya sendiri, Banyumas, budaya tutur Ngapak itu mulai memasuki tahap kritis. Entah karena stigma dan konstruksi media yang menganggap budaya Banyumas milik kaum pinggiran, atau pemilik sah budaya itu sendiri yang mulai enggan menggunakannya.

Logat dan budaya Banyumasan kian kurang digandrungi, kecuali dalam rembug masyarakat desa atau ritual adat. Selebihnya, etnis atau wong Banyumas merasa bangga dan lebih percaya diri jika bertutur dengan bahasa Indonesia dalam interaksi sosialnya. Pedagang dan pembeli di pasar tradisional tak urung mulai ada yang melakukan transaksi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Persoalannya memang bukan sekadar logat atau bahasa. Keterpinggiran budaya Banyumas merupakan masalah “ideologis” yang harus dituntaskan. Stigma budaya Banyumas dan kaum marginal di Ibukota serta konstruksi media tentang etnis Banyumas perlu dijawab oleh pemangku budaya, yaitu masyarakat Banyumas itu sendiri. Jika tidak, maka wong Banyumas akan selalu merasa dan dicitrakan perannya sebagai wong cilik di tengah polah pongah wong gedean, menjadi ikan teri tercengkeram gurita di samudera raya.

Sosial Geografis

Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Utara kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Udaranya terasa sejuk. Potensi wisata dan seni budaya lokal cukup banyak. Salah satu kuliner khas Banyumas adalah Tempe Mendoan, yaitu tempe yang digoreng setengah matang menggunakan tepung.

Bahasa Banyumasan yang lebih dikenal dengan bahasa Ngapak, digunakan oleh masyarakat di kabupaten sekitarnya yang dikenal sebagai Eks Karesidenan Banyumas, yaitu Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Pengucapan bahasa Banyumasan biasanya dengan intonasi dalam dan keras. Hal itu disebabkan bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter. Apalagi masyarakat Banyumas secara struktural juga tidak mengenal kasta sosial.

Konstruksi media tentang etnis Banyumas sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Bahwa ada etnis Banyumas yang merantau ke Jakarta dan menjadi pembantu rumah tangga adalah benar. Orang Banyumas di Jakarta juga banyak yang menjalani profesi sopir angkutan umum, pedagang kaki lima, tukang kebun, dan pekerja bangunan. Meski demikian, generalisasi peran sebagai kelompok marginal di Ibukota tentulah sebuah konstruksi media yang berlebihan.

Banyumas juga memiliki andil besar dalam kancah sosial, ekonomi, politik, dan budaya nasional. Banyak “orang besar” dan tokoh nasional yang berasal dari Eks Karesidenan Banyumas. Sebut saja, Bapak Tentara Nasional Indonesia, Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah kelahiran Purbalingga, yang berada di wilayah eks Karesidenan Banyumas.

Pahlawan Nasional, Jenderal Gatot Subroto juga berasal dari Banyumas. Begitu pula Jenderal Soesilo Soedarman, mantan Menkopolhukam dan Menparpostel di era Orde Baru berasal dari Cilacap. Banyak lagi petinggi TNI dan Polri yang berasal dari daerah yang berbahasa Banyumasan.

Banyumas mempunyai tokoh yang berkecimpung di bidang sosial budaya. Penyair dan novelis Ahmad Tohari berasal dari Banyumas. Artis Panky Suwito dan Mayangsari juga berasal dari Banyumas. Selain itu banyak pula pengusaha sukses di kancah nasional yang berasal dari Banyumas.

Konstruksi media atas etnis Banyumas oleh karenanya perlu dipertanyakan. Mengapa media selalu menempatkan etnis Banyumas dalam peran kaum marginal. Dan kenapa pula orang Banyumas menikmati saja konstruksi media itu.

Revolusi Budaya

Bahasa Banyumasan sesungguhnya representasi dari budaya Banyumas yang egaliter dan apa adanya. Namun sebagaimana budaya daerah lain, budaya Banyumas juga sedang berhadapan dengan dan tertindas oleh gurita-gurita budaya, baik yang datang dari Amerika, Eropa, Timur Tengah, maupun gurita budaya Asia, seperti Jepang, China, dan Korea.

Penindasan oleh gurita budaya itu berjalan begitu halus dan santun, sehingga masyarakat Banyumas merasa tetap bebas merdeka dan pasrah pada beragam budaya kapitalis itu. Memang, penindasan acapkali menghasilkan kepatuhan yang tidak disadari. Sama seperti tatkala bangsa Indonesia di era penjajahan harus menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassouwe dan Kimigayo.

Suatu ketika masyarakat Banyumas pun akan merasa malu dan takut disebut ketinggalan jaman dan kampungan bila harus minum badheg (air nira kelapa yang difermentasi), dan makan gethuk, karena soft drink, es krim, burger, dan pizza nyaris tersedia di setiap super market dan mall.

Karenanya, langkah progresif yang perlu dilakukan oleh masyarakat Banyumas adalah dengan revolusi budaya. Revolusi bukan berarti menumbangkan rejim gurita budaya atau mengharamkan budaya entah- berantah itu. Revolusi budaya adalah upaya untuk memperkuat dan mempertegas jati diri budaya Banyumas agar mampu bersaing dalam hiruk pikuk globalisasi.

Revolusi  budaya dapat dilakukan dengan pemanfaatan media komunikasi tradisional dan media massa untuk menggelorakan semangat cinta budaya Banyumas. Oleh sebab itu perlu ada koeksistensi antara media komunikasi tradisional dan media massa.

Persoalannya memang tidak mudah. Media massa adalah industri yang berwatak kapitalis. Sepanjang tidak mendatangkan profit bagi pemilik modal dan organisasi media, maka budaya Banyumas hanya menjadi juru kunci yang akan muncul jika dibutuhkan saja.

Revolusi budaya dengan memanfaatkan media massa dapat dilakukan melalui radio, televisi, film, maupun media sosial. Banyak contoh budaya daerah yang nyaris mati suri dan kembali bangkit lantaran koeksistensi antarmedia. Kelompok kesenian Srimulat, ketoprak, dan wayang kulit pernah kembali bergairah ketika diberi ruang dalam pertunjukan televisi.

Kesenian Drama Gong, Bondres, dan Arja di Bali juga mengalami kejayaan kembali saat stasiun TV lokal memberi kesempatan tampil. Namun sekali lagi, media massa adalah industri yang padat modal. Sehingga, diperlukan kesadaran ideologis dari pemilik media untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.

Revolusi, pengembangan, maupun kebijakan politik terkait budaya Banyumas semata-mata bertujuan untuk menyelamatkan generasi yang beradab dan berkepribadian di kemudian hari. Bukan untuk meniadakan budaya lain. Bukan pula untuk membangkitkan etnosentrisme, pengentalan etnis, atau menjadikan masyarakat Banyumas menjadi rasis.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
Baduy, Penolakan Internet, dan Pariwisata
Desa Banjarpanepen: Media Kontemplasi bagi Sejumput Toleransi
Merawat Tradisi dari Masjid Saka Tunggal yang Ikonik
Tags: Bahasajawakomunikasikomunikasi antarbudayamedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (7): Indikator Menilai Alam, Uyung dan Yuyu Telah Hilang?

Next Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co