2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (5): Konektivitas dan Solidaritas Hulu-Hilir

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
November 19, 2023
in Esai
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (5): Konektivitas dan Solidaritas Hulu-Hilir

Foto-foto: Panitia Karya Agung Danu Kerthi i Saka 1945/Warsa 2023

KARYA Agung Danu Kerthi hadir dan dihadirkan sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan anugerah danau dan sumber daya air. Inti ritual ini adalah mendak tirta (menyambut air) serta meras danu lan gunung (mengupacarai danau dan gunung) yang berperan sebagai sumber kehidupan (amreta). Maka dari itu, subjek paling terlibat dalam ritual ini adalah mereka yang memanfaatkan air. Siapa saja mereka? Secara tradisional kami menyebutnya sebagai krama (masyarakat)Pasihan Bhatari Sakti Batur.

Pasihan—dalam teks Rajapuna Pura Ulun Danu Batur kadang tertulis pasyan atau pasihyan—merujuk pada daerah-daerah yang secara sosial-budaya terhubung dengan Pura Ulun Danu Batur. Menurut Rajapurana, air Danau Batur mengalir ke berbagai pelosok Pulau Bali. Bentang kawasan aliran air Batur membujur dari Tukad Unda (Klungkung) hingga ke Tukad Sungi (Tabanan) serta dari Tianyar (Karangasem) hingga ke Tukad Banyumala (Buleleng). Rajapurana Pura Ulun Danu Batur menyatakan jumlah anggota pasihan sebanyak 45 kawasan. Namun, secara nyata kini jumlahnya telah beranak-pinak menjadi sekitar 300-an kawasan. Pemekaran desa atau subak, serta pembukaan subak baru menjadi faktor meningkatnya jumlah pasihan.

Saya memilih kata “kawasan” untuk menegaskan bahwa objek pasihan tidak hanya subak seperti yang umum diketahui masyarakat. Lingkup pasihan jauh lebih luas. Anggota pasihan di dalam Rajapurana justru dominan merujuk ke desa. Desa pada arti yang paling dasar memang berarti ‘daerah’ atau ‘wilayah’, sehingga tidak harus dimaknai sebagai desa dalam makna yang umum saat ini. Selain desa dan subak, pasihan juga dapat mencakup puri dan pura.

Saya melihat pasihan berasal dari kata dasar sih. Kata ini selanjutnya mengalami afiksasi pa-an, sehingga menjadi pasihan. Sih berarti ‘kasih’, sedangkan konfiks pa-an menggiring maknanya sebagai suatu tempat. Maka, pasihan dapat diartikan sebagai ‘tempat yang terkasih’ atau ‘tempat yang mendapat kasih’. Penulisannya sebagai pasyan atau pahsyan di dalam Rajapurana pun terkait dengan tata penulisan aksara Bali yang terikat hukum sandi suara.

Kasih yang dimaksud dalam konsep ini secara material merujuk pada air dan tanah (lahan). Namun, secara rohani juga dapat dimaknai sebagai air suci (tirtha) bahkan ajaran (tattwa). Makna sih sebagai ajaran dibuktikan dengan adanya pura yang mengikuti tata laku spiritual Batur. Keberadaan pura seperti itu bisa dihubungkan oleh mitos atau adanya permohonan pelaksanaan nyanjan oleh penyungsung pura bersangkutan ke Pura Ulun Danu Batur. Nyanjan adalah ritual sakral yang digunakan untuk memilih seorang pemangku pura. Apabila proses sakral itu dilaksanakan, maka secara etis pura tersebut dapat dikatakan sebagai pasihan Batur.

Konsep Pasihan Bhatari Sakti Batur mengandung pesan konektivitas antarmasyarakat hulu-hilir Bali. Pasihan Bhatari Sakti memberi gambaran bagaimana setiap daerah di pulau ini diamanatkan untuk saling terhubung dan membutuhkan. Masyarakat yang tinggal di pegunungan membutuhkan sokongan masyarakat di tengah maupun pesisir. Hal yang sama berlaku sebaliknya.

Dalam kelindan hak dan tanggung jawab, Pasihan Bhatari Sakti Batur memiliki hak atas air, baik secara fisik maupun secara rohani yang menjelma dalam bentuk tirtha pangendag (awal menanam), tirtha panangluk mrana (menumpas hama), dan tirtha pangusaban (pascapanen). Ketika akan membangun sistem irigasi baru atau membuka sawah baru, masyarakat agraris di bentang otoritas air Batur biasanya akan menghadap ke Pura Ulun Danu Batur untuk memohon petunjuk.

Hak atas air yang diterima anggota pasihan diikuti dengan tanggung jawab untuk menyokong pelaksanaan upacara di Pura Ulun Danu Batur. Upaya menyokong ritual di Pura Ulun Danu Batur itu dilakukan melalui proses ngaturang sarin tahun (persembahan panen tahunan) pada Ngusaba Kadasa. Bentuk sarin tahun sangat beragam, ada yang berupa hasil hutan, kebun, pertanian, atau peternakan. Barang-barang yang dipersembahkan berupa beras, kelapa, kapas, kacang-kacangan, tuak, ayam, bebek, babi, kambing, kijang, termasuk kerbau.

Rajapurana Pura Ulun Danu Batur merinci jenis barang persembahan berdasarkan wilayah per wilayah. Jadi, wilayah satu dengan yang lain pasti berbeda, meskipun mereka bertetangga. Persembahan dari masing-masing anggota pasihan tampak disesuaikan dengan lanskap masing-masing daerah. Anggota pasihan di bagian selatan Pulau Bali cenderung mempersembahkan beras, kelapa, atau binatang kurban (babi, bebek, ayam), sedangkan pasihan di utara cenderung mempersembahkan kacang-kacangan, kapas, atau binatang kurban (kambing, kijang, bebek, ayam, dan kerbau).

Bagi saya, variasi persembahan setiap pasihan adalah bukti kecerdasan ekologis yang telah dikembangkan oleh leluhur Bali sejak masa silam. Variasi barang persembahan seolah memberi gambaran tata kelola Bali yang ideal. Bukankah semestinya Bali dikelola berdasarkan potensi setiap daerah?

Berbagi Peran, Saling Membutuhkan

Selama persiapan Karya Agung Danu Kerthi, saya menemukan cerita menarik dan sarat makna berkaitan dengan keberagaman potensi krama pasihan. Beberapa hari sebelum puncak upacara, salah satu utusan pasihan dari Bali Utara datang dan mempersembahkan beberapa tandan buah lontar. Pada sela-sela dialog formal penyerahan hasil bumi tersebut pimpinan desa itu bertanya—apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pertanyaannya kira-kira seperti ini, “Mengapa kami hanya diminta untuk mempersembahkan buah lontar, bukan yang lain?”

Jero Gede Batur Duhuran menjawab—jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jawabannya kira-kira juga seperti ini, “Karena daerah Anda menghasilkan buah itu. Buah lontar itulah yang membuat kita terhubung. Kami tidak punya pohon lontar, sehingga membutuhkan peran Anda untuk melengkapi piranti upacara dengan hasil bumi yang tumbuh di sana. Kami mungkin bisa membeli, tetapi itu akan memutus hubungan kita.”

Jawaban itu membuat saya puas, demikian pula tamu kami. Setidaknya itu yang saya lihat dari respons mereka. Jawaban lugas dari Jero Gede seolah menegaskan bahwa pasihan tidak hanya bermakna spiritual. Hubungan dan interaksi antarmasyarakat menjadi misi penting lain yang dikandung praktik persembahan hasil bumi ini.

Leluhur kita di masa silam mungkin menitipkan nilai kekerabatan pada ritual agama. Dalam hal ini, Ngusaba Kadasa dan Karya Agung Danu Kerthihadir sebagai ruang saling mengenal dan memahami. Mereka yang berasal dari berbagai daerah minimal dapat bertegur sapa setahun sekali secara rutin saat Ngusaba Kadasa atau lima tahun sekali setiap dilaksanakan upacara pakelem.

Apa yang terjadi jika persembahan sarin tahun tidak pernah ada? Coba pula dibayangkan apabila tanggung jawab setiap pasihan dilakukan sekadar dalam bentuk punia uang. Saya yakin ikatannya tidak akan terlalu dekat. Dalam dunia digital seperti saat ini, bahkan ada peluang mereka menggunakan metode pembayaran punia secara digital via digital transfer. Secara metode tindakan itu jelas lebih efisien dan modern, selayaknya praktik dana punia via QRIS di pura.

Pada sisi yang lain, praktik pasihan juga mewariskan pesan solidaritas.Persembahan sarin tahun menunjukkan setiap komunitas sosial di Bali tidak pernah dan tidak bisa saling meninggalkan. Masyarakat hulu sebagai yang diamanatkan menjaga resapan air tetap disokong oleh masyarakat hilir yang memanfaatkan air. Inilah inti solidaritas Bali dari masa silam yang kearifannya perlu dan penting diambil untuk dimaknai kembali saat ini.

Bagi saya, masyarakat Bali wajib hadir saling melengkapi sebagai satu-kesatuan utuh tanpa tersekat batas administrasi, perbedaan kelompok, trah, wangsa, dan kelas sosial lainnya. Kita semua memegang peran satu sama lain. Maka, bergotong-royong adalah kunci membangun Bali yang lebih baik. Inilah nilai ideal yang dapat dipegang sebagai pelita merawat kemanusiaan. Kesetiakawanan adalah nilai mendasar untuk melahirkan kesetaraan dan kemajuan bersama, sebuah cita-cita yang telah lama dikhayalkan bangsa manusia. [T] [bersambung]

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu
Tags: BaturDanau Baturdanu kertihPura Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (6): Melasti dan Narasi Kekerabatan yang Memudar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co