24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

Chusmeru by Chusmeru
June 26, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENEMPATI ruangan kerja yang nyaman, bersih, dan tenang adalah dambaan semua orang. Ruang kerja yang nyaman akan membuat orang betah bekerja di kantor, dari pagi hingga sore; bahkan hingga larut malam jika ada lembur.

Ruangan untuk dosen memang tidak seluas ruang pegawai atau pejabat di kantor pemerintahan. Ruang dosen biasanya berbentuk kotak, disekat-sekat. Namun bagi dosen, ruang kerja tidak begitu penting. Untuk dosen yang penting nyaman dan bersih, karena banyak dosen yang jarang berada di ruangan bila sedang penelitian di lapangan.

Setiap dosen menempati ruang yang ukuran, penataan, dan posisi berbeda-beda. Para pengelola atau pejabat di tingkat fakultas dan jurusan memiliki ukuran ruang yang lebih luas dari dosen biasa. Penataan dan posisi ruangan tergantung pada selera dan kebiasaan masing-masing dosen.

Isnaeni, misalnya memiliki ukuran ruang kerja yang tidak besar. Dosen mata kuliah Teknologi Komunikasi itu menata ruangannya dengan homy. Ada beberapa perabotan rumah yang dia tempatkan di ruangan, sehingga ruang kerjanya terasa nyaman seperti di rumah.

Elisabeth Nunce lain lagi. Sebagai pengelola program magister, ia tidak begitu memperhatikan penataan ruang kerjanya. Padahal ruangan itu cukup luas, ada sofa dan meja untuk menerima tamu atau mahasiswa bimbingan. Ruangannya justru penuh dengan buku-buku dan tumpukan tugas serta skripsi mahasiswa.

Ruang kerja Sri Pangesti berbeda. Dosen senior yang mengajar mata kuliah Komunikasi Politik itu memilih ruang kerja yang memiliki jendela menghadap ke luar. Sri Pangesti mengutamakan posisi ruangan ketimbang ukuran luas. Jika sedang suntuk berada di depan laptop, ia akan membuka tirai jendela untuk melihat pemandangan di luar ruangan.

Sedangkan Wisnawan Wijaya memiliki selera tersendiri dibanding dosen lain. Ruang kerjanya ditata  rapi. Ada vas bunga di atas meja kerja. Sebagai dosen mata kuliah Komunikasi Keluarga, ia memandang penting nuansa keluarga hadir di ruangannya. Tak heran bila di meja kerja dan di dinding ruangan terpajang foto-foto istri dan kedua anak lelakinya.

Namun ada pula dosen yang tidak memiliki ruang sendiri, karena keterbatasan jumlah ruangan. Jumlah dosen tidak sebanding dengan jumlah ruangan. Karenanya, ada satu ruangan yang ditempati oleh tiga atau empat dosen. Memang membuat tidak nyaman jika kebetulan semua dosen hadir bersamaan. Ruangan menjadi terasa sempit dan pengap.

                                                                        ***

Pemandangan yang aneh dan mengundang tanya terjadi. Di saat dosen berebut ruangan, bahkan satu ruangan ditempati empat orang dosen, terdapat satu ruangan dosen yang dibiarkan kosong. Tidak ada dosen yang menempati. Gusnadi, dosen yang sebelumnya menempati ruang itu telah lama purnatugas.

Hingga kini ruang dosen yang ditinggalkan Gusnadi dibiarkan kosong. Isu yang beredar, ruangan Gusnadi dikenal angker. Padahal ruangan itu cukup lebar, berada di sebelah utara. Jika tirai jendela dibuka, maka tampak di kejauhan Gunung Slamet yang indah.

Beberapa dosen yang melintas di depan ruangan yang kosong itu sering merasa merinding. Asifa Furoda pernah melintas di ruang dosen yang kosong itu. Dia mencium bau bunga kamboja. Aldo Nugroho suatu waktu melihat sosok bayangan menyeramkan di ruang dosen yang kosong. Bayangan laki-laki tinggi besar dan telanjang dada. Lidahnya menjulur merah, mirip seperti leak dari Bali.

Lama tidak ditempati, ruang dosen itu semakin memancarkan aura mistis. Anehnya, dulu Gusnadi tenang-tenang saja menempati ruangan itu. Dia tidak pernah bercerita ada makhluk halus ataupun hantu di ruangannya. Para dosen berspekulasi, jangan-jangan sosok yang mirip leak itu memang teman Gusnadi, atau makhluk halus peliharaan Gusnadi.

Ada beberapa dosen yang sempat menempati ruang itu setelah Gusnadi pensiun. Hampir semua tidak bertahan lama. Paling hanya seminggu bertahan, lantas pindah dari ruangan itu. Selalu saja ada kejadian aneh dan menyeramkan yang dialami dosen di ruangan itu.

Shanti Prastiani sempat tiga hari menempati ruang kosong itu. Awalnya ia tak percaya pada cerita menyeramkan tentang ruang dosen. Baru dua hari berada di ruangan, Shanti Prastiani mencium aroma bunga cempaka dan dupa. Bulu kuduknya berdiri. Bukan hanya itu, ia merasa dicolek oleh seseorang di ruangan itu.

 Bahkan di rumah, Shanti Prastiani mengalami demam tinggi pada malam hari. Saat tubuhnya menggigil, ia melihat sosok tinggi besar, matanya merah dan lebar, lidahnya menjulur seperti leak. Esoknya ia langsung mengemas barang-barang di ruang kerjanya di kampus. Ia memutuskan untuk pindah ke ruangan lain, berdua satu ruangan dengan Ayik Rosita.

Kristoper Heri dosen berikutnya yang menempati ruang dosen yang dibiarkan kosong. Sebenarnya Kristoper Heri sudah memiliki ruangan sendiri, namun posisinya ada di petak ruang tengah. Ia ingin ruangan yang memiliki jendela untuk dapat melihat suasana di luar gedung fakultas.

Agak lama Kristoper Heri menempati ruang itu, sekitar hampir dua minggu. Bukannya tanpa gangguan dari makhluk penghuni ruangan itu, Kristoper Heri memilih bersikap cuek saja. Awal menempati ruangan itu ia sudah mencium aroma bunga dan dupa, hampir setiap hari. Kadang juga terdengar musik gamelan Bali secara sayup-sayup seolah ada makhluk halus yang hadir. Jika suasananya seperti ini Kristoper Heri merinding juga.

Puncaknya, pada malam tanggal 1 Suro, Kristoper Heri sulit untuk tidur di rumahnya. Ia mencoba membaca buku, tetapi belum juga mengantuk. Tepat tengah malam tercium bau dupa dan bunga cempaka di kamarnya. Ia kaget dan mencoba mengendus dari mana asal bau itu. Belum sempat terjawab pertanyaannya, muncul sosok makhluk yang menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar, rambutnya panjang dan gimbal, matanya bulat besar, dan lidahnya merah membara. “Leak..!!!” pikir Kristoper Heri. Ia ketakutan sambil berkata gemetaran.

“Oke… besok saya pindah dari ruangan itu..!” kata Kristoper Heri kepada makhluk seperti leak  yang memandanginya.

Tak lama kemudian leak itu pun menghilang. Kristoper Heri memutuskan untuk pindah kembali ke ruang dosen sebelumnya. Ia tak mau diteror makhluk yang menyeramkan itu. Apalagi makhluk semacam leak itu sampai mendatangi kamarnya di rumah. Artinya leak itu tidak suka jika Kristoper Heri menempati ruang dosen yang kosong itu.

Giliran berikutnya Candrika Rohima Sari. Dosen perempuan yang baru saja diterima itu belum memiliki ruangan. Ia mau saja diminta menempati ruang dosen yang lama dibiarkan kosong. Candrika Rohima Sari girang. Sebagai dosen baru ia mendapat ruangan yang cukup luas dan nyaman. Tentu saja ia senang lantaran belum mendapat cerita dari dosen lain tentang ruangan yang pernah ditempati Gusnadi itu.

Dosen-doaen yang lain memang bersepakat untuk tidak menceritakan kepada Candrika Rohima Sari tentang sosok makhluk leak yang sering muncul di ruang dosen yang kini ia tempati. Mereka ingin menjaga perasaan Candrika Rohima Sari sebagai dosen baru. Selain itu, siapa tahu dia nyaman-nyaman saja menempati ruangan misterius itu.

Awalnya Candrika Rohima Sari biasa-biasa saja. Setiap hari bekerja di ruang dosen yang lama kosong. Makhluk seperti leak itu tidak muncul. Namun saat ia menstruasi, berkelebat bayangan laki-laki tinggi besar di depan ruangannya. Ia mencoba memperhatikan bayangan itu. Candrika nyaris terjatuh ketika bayangan itu masuk ke ruangannya. Tampak sosok leak yang menyeramkan. Laki-laki tinggi, perutnya besar, lidahnya menjulur seperti api.

Ketakutan Candrika berlanjut ketika ia tidur di rumahnya. Ia bermimpi bertemu leak itu. Candrika dikejar-kejar makhluk menyeramkan. Dia berhasil menghindar. Namun saat berada di ujung jalan, Candrika tertangkap. Leak itu mencekik leher Candrika. Tersengal-sengal napasnya. Selanjutnya ia terbangun dari mimpinya.

Candrika Rohima Sari tampak pucat. Tubuhnya masih lemas hingga pagi hari. Ia memutuskan untuk berpindah dari ruang dosen yang dihuni makhluk leak. Ia tak mau setiap hari dikejar mimpi buruk bertemu leak yang menyeramkam. Ruang dosen itu pun kembali kosong.

***

Rapat jurusan sempat membahas ruang dosen yang dihuni leak. Edward Santo Sonara, Ketua Jurusan meminta pendapat dosen-dosen terkait nasib ruangan itu. Hampir semua dosen merasa ketakutan jika melewati ruang itu, apalagi menempatinya. Tidak pandang waktu, leak itu bisa saja muncul malam, siang, maupun pagi hari.

Dina Bestiari selaku Sekretaris Jurusan mengusulkan agar Edward menemui Gusnadi di rumahnya. Barangkali Gusnadi dapat memberikan jalan keluar, karena dia cukup lama menempati ruangan itu. Selama Gusnadi berada di ruangan itu, ia tidak pernah mengeluh atau bercerita apa pun. Dia tidak pernah bercerita ada leak di ruangannya. Meskipun kadang beberapa dosen mendengar ada musik gamelan Bali di ruang Gusnadi.

“Mungkin leak itu belum pensiun, Pak Edward… ha..ha..ha,” kata Gusnadi sambil tertawa, ketika Edward Santo Sonara mengunjugi rumahnya.

“Bagaimana caranya agar leak itu tidak menampakkan diri, Pak Gusnadi? Kasihan dosen-dosen pada ketakutan. Ruangan itu juga jadi kosong lama, nggak ada yang mau menempati” tanya Edward.

Gusnadi terdiam sejenak. Ia berpikir dan tampak menerawang jauh, entah ke mana.

“Coba di sudut ruangan itu dikasih daun jelatang atau latang,” kata Gusnadi.

“Daun seperti apa itu, Pak Gusnadi?” tanya Edward.

“Daun jelatang merupakan tanaman liar, tanaman perdu, bentuknya seperti daun papaya. Namun jika tersentuh bagian tumbuhan ini, kulit kita bisa gatal. Leak takut pada daun ini. Daun jelatang tidak disukai oleh leak. Taruh daun itu selama seminggu di ruangan. Mudah-mudahan leak itu segera pergi dari ruangan itu,” Gusnadi menjelaskan.

Edward Santo Sonara segera memerintahkan pegawainya untuk mencari daun jelatang. Tidak sulit untuk mendapatkan daun itu di kota Purwokerto. Tumbuhan ini banyak ditemukan di hutan, ladang, maupun pekarangan yang terlantar.

Seminggu sudah ruangan itu ditaruh daun jelatang. Dosen-dosen mulai tampak lega dan tenang. Leak itu tidak lagi menampakkan diri. Musik misterius gamelan Bali juga sudah tak lagi terdengar. Hanya lagu-lagu Sal Priadi yang terdengar dari laptop Isnaeni, atau lagu Yura Yunita dari ruangan Aldo Nugroho. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha

Next Post

MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI

MENJAGA ARJA AGAR TAK MATI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co