6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi

Chusmeru by Chusmeru
June 21, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SALAH satu hal yang sulit diprediksi dalam industri pariwisata adalah perilaku wisatawan. Selalu saja terjadi perubahan pada perilaku orang dalam berwisata. Perubahan bisa terjadi pada moda transportasi, preferensi pilihan destinasi, akomodasi, dan sebagainya.

Dunia pariwisata sempat diwarnai dengan fenomena FOMO ( Fear Of Missing Out). Orang merasa takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengunjungi satu destinasi wisata yang sedang viral. Peran media sosial sangat mempengaruhi FOMO dalam pariwisata. Semakin viral objek wisata di media sosial, semakin banyak diburu wisatawan.

Fenomena FOMO dalam berwisata didukung pula oleh gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang melanda generasi milenial dan generasi Z. Gaya hidup ini lebih berorientasi pada mengejar pengalaman dan kesenangan saat ini tanpa memikirkan jangka panjang.

Berwisata sempat menjadi semacam kebutuhan primer bagi kalangan muda. Prinsipnya, hidup hanya sekali. Maka selagi masih hidup, berwisata menjadi wajib dilakukan. Orang menjadi tak peduli jika terpaksa harus berhutang untuk berwisata.

Seiring dengan perjalanan waktu, gaya hidup FOMO dan YOLO ternyata menjadikan beban hidup kaum muda semakin berat. Terjadi perubahan gaya hidup yang lebih realistis, yaitu YONO (You Only Need One). Gaya hidup minimalis ini merupakan antitesis dari YOLO. Orang mulai berpikir pentingnya keberlanjutan dalam hidup, lebih fungsional dan berkualitas.

Orang melakukan perjalanan wisata bukan lagi karena viralitas objek wisata, tetapi lebih karena pertimbangan kondisi objektif keuangan. Frugal living sebagai gaya hidup hemat menjadi faktor bagi orang untuk menentukan perjalanan wisatanya.

Berwisata kini bagi sebagian orang bukan lagi soal kemewahan dan gaya hidup. Muncul kemudian konsep micro tourism dalam aktivitas pariwisata. Micro tourism merupakan konsep berwisata lokal yang lebih mengutamakan destinasi wisata terdekat dengan biaya perjalanan yang serendah mungkin. Tak heran jika konsep berwisata ini menjadi alasan bagi kaum milenial dan Z untuk berwisata dengan prinsip efisiensi.

            Faktor Pendukung

Micro tourism tidak mengharuskan orang mengunjungi objek wisata yang populer. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk menikmati objek wisata. Tidak harus menikmati wahana wisata yang seru. Tidak pula harus merasakan sensasi kuliner yang mahal. Cukup berwisata ke destinasi yang biasa-biasa saja, sepanjang anggaran mencukupi.

Banyak faktor yang mendukung tumbuhnya micro tourism ini. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu alasan yang paling kuat. Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada masalah ekonomi yang sulit. Kebijakan efisiensi anggaran bukan hanya berdampak pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta.

Kelompok milenial yang bekerja terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran. Mereka tidak lagi leluasa mengunjungi destinasi wisata yang jauh. Perjalanan dinas dipangkas, lama tinggal di destinasi juga berkurang. Sementara generasi Z yang sebagian masih bergantung pada orang tua juga tak lagi menjadikan berwisata sebagai gaya hidup kekinian. Andai pun mereka bepergian, akan menyasar objek wisata yang dekat dengan anggaran yang hemat.

Pembangunan infrastruktur di daerah ikut menjadi faktor pendukung micro tourism. Daerah yang sudah memiliki aksesibilitas baik akan memacu mobilitas orang untuk berwisata di daerah sendiri. Apalagi kini banyak daerah yang mengembangkan objek dan daya tarik wisata baru, sehingga membuat banyak pilihan berwisata di daerah.

Kemacetan di destinasi wisata populer menjadi alasan lain bagi orang untuk berwisata ke objek wisata yang dekat, sepi, dan murah. Secara ideal, mereka yang melakukan micro tourism adalah wisatawan yang juga jenuh pada destinasi favorit yang mulai terjadi kerusakan lingkungan.  Mengunjungi objek wisata yang baru dan masih natural menjadi alternatif dalam micro tourism.

Arah Perubahan

Perilaku wisatawan yang berubah dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi mereka yang menggeluti bisnis akomodasi, perubahan efisiensi pengeluaran wisatawan dalam menginap tentu saja merugikan, utamanya pada hotel berbintang. Namun arah perubahan perilaku wisatawan dalam hal akomodasi akan sangat menguntungkan bagi pengelola homestay maupun rumah penginapan.

Kondisi tersebut kadang memunculkan kasus baru dalam bisnis akomodasi, seperti terjadi di Bali misalnya. Dengan alasan menghemat biaya perjalanan wisata, orang akan mencari penginapan atau tempat kost murah yang dapat ditinggali selama beberapa hari. Menginap di hotel untuk jangka waktu yang lama tentu memakan biaya tinggi.

Hanya saja, muncul kemudian problematik perizinan berkaitan dengan bisnis pariwisata. Di satu sisi perubahan perilaku wisatawan menguntungkan pemilik homestay dan tempat kost, di lain sisi pemerintah daerah kehilangan pajak pendapatan dari sektor akomodasi. Wisatawan tentunya tidak dapat disalahkan, karena mereka berwisata dengan prinsip efisiensi.

Arah perubahan berwisata juga terjadi pada moda transportasi, terutama pada wisatawan dalam strata ekonomi menengah ke bawah. Sarana transportasi yang murah meriah akan menjadi pilihan. Menuju destinasi wisata cukup menggunakan kereta api kelas ekonomi maupun transportasi umum yang murah. Untuk rombongan keluarga kecil, transportasi kendaraan pribadi menjadi solusi.

Perubahan perilaku wisatawan dalam micro tourism tak luput menyasar pada pilihan objek wisata yang akan dikunjungi. Objek wisata yang dekat dengan tempat tinggal dan objek wisata yang murah menjadi alternatif. Orang tidak lagi tergiur pada objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan jika ternyata jarak tempuh cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya banyak.

Objek wisata yang dekat dengan pemandangan alam yang masih belum terkontaminasi oleh wahana permainan dan baliho iklan produk lebih diminati. Wisatawan cukup menikmati kuliner khas daerah dengan harga yang sangat terjangkau. Justru sensasi kuliner tradisional ini yang kini kembali diminati wisatawan.

Dengan mengunjungi objek wisata yang dekat, wisatawan tidak perlu menginap di hotel. Andaikan menginap, cukup satu malam. Tidak heran jika muncul keluhan dari pengusaha bisnis perhotelan di daerah. Pariwisata bergeliat, jumlah hotel meningkat, kunjungan wisatawan juga melesat; namun tingkat hunian hotel menurun.

Micro tourism dapat menjadi antitesis pengembangan pariwisata yang kapitalistik. Pariwisata yang mengeksploitasi alam dengan target kunjungan sebanyak-banyaknya. Micro tourism secara nyata berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal. Bahagia memang sederhana, cukup berwisata di tempat yang dekat dengan anggaran seadanya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
“Pseudotourism”: Pepesan Kosong dalam Pariwisata
Desa Wisata, Ujung Tombak yang Tumpul?
Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata
Tags: ilmu pariwisataPariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Anak Bukan Libur Didik: Inspirasi Dunia, Solusi Lokal

Next Post

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Tak Mesti ke Denpasar untuk Shopping, di Singaraja Sudah Ada AZKO: Solusi Berbelanja dari A sampai Z…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co