25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
June 19, 2025
in Esai
Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Foto diambil dari ANTARA

PECALANG adalah sebutan petugas pengamanan wilayah adat yang di Bali. Kemunculannya 1970an seolah-olah mempertegas bahwa penjagaan Bali atas nama adat adalah suatu identitas.

Secara umum, banyak pihak mengatakan identitas etnis yang sama halnya dengan identitas budaya penting bagi seseorang untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Dalam konteks kehadiran pecalang bisa diartikan bermuara kepada peng-ajegan identitas diri manusia Bali yang punya kesanggupan menjaga wilayahnya dengan atribut budaya Bali.

Penolakan atas kehadiran kelompok lain yang berdalih ikut mengamankan Bali memicu gelombang penolakan dari pecalang seluruh Bali bisa juga dimaknai sebgai upaya penegakan identitas.

Muncul reaksi lewat ujaran : “Kami tidak butuh Ormas dari luar untuk bawa agenda”; “Saya Pecalang, bukan Penjaga biasa”; “Kami Pewaris Sistem Keamanan di Bali yang sudah Turun Temurun”.

Reaksi tersebut lagi-lagi bisa diartikan penguatan atas adanya ideologi penguatan identitas manusia Bali dalam koridor menjaga adat istiadat Bali.

Secara yuridis, pecalang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Adat; pasal 17 ayat (1) menyebutkan: Keamanan dan ketertiban wilayah desa pakraman dilaksanakan oleh pecalang; ayat (2) Pecalang melaksanakan tugas-tugas pengamanan dalam wilayah desa pakraman dalam hubungan tugas adat.

Kehadiran pecalang perempuan menarik di tengah-tengah kemapanan cara berpikir dan tindak maskulin. Mengingat selama ini sosok dan karakteristik pecalang lebih diartikan sebagaimana sosok pada karikatur di bawah ini.

Karikatur semacam ini menjadi penegas citra maskulin yang melekat pada pecalang. Beberapa ikon yang melekat pada tubuh pecalang  berupa ekpresi wajah, seragam, bahasa tubuh. Ikon-ikon bisa diartikan sebagai upaya pelekatan atas pensifatan laki-laki yang dituntut gendernya sebagai sosok yang tegas, berani, cakap dan agresif.

Pencitraan semacam ini dibakukan melalui berbagai mekanisme elemen system social (Keluarga, Sekolah, Masyarakat dan Negara). Pencitraan pecalang laki-laki telah menjadi citra baku tentang pecalang yang selama ini ada. Pertanyaan menariknya adalah apakah kehadiran pecalang perempuan dimaksudkan untuk mengadopsi pencitraan yang selama ini telah dibakukan?

Berdasarkan atribut yang dilekatkan pada pecalang laki-laki selama ini, dari segi steriotyp yang ada pada perempuan tentu ada ketidaksesuaian antara keduanya.

Konsep tradisional perempuan Bali dari sisi gendernya acapkali hanya berhenti pada gambaran gender yang tercitrakan sebagai perempuan rumahan yang berkutat dengan adat dan tradisi. Gambaran ini sangat bertentangan dengan catatan sejarah politik di Bali.

Setidaknya karya tulis  Geoffrey Robinson dalam bukunya yang berjudul The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali, terbit pada tahun 1995 merupakan catatan sejarah menyuguhkan tampilan berbeda tentang citra perempuan Bali di luar citra yang dibakukan. 

Melalui penggambaran berdasarkan fakta historis, sesungguhnya perempuan Bali tidak apolitis. Tetapi menunjukkan aksi politis yang agresif.

Contoh spektakuler ditunjukkan melalui aksi heroik perempuan Bali sebagai pemberontak atas ketidakdilan tampil melalui aksi Gerakan yang popular dengan sebutan puputan,  Puputan Badung (1906), Puputan Klungkung (1908) dengan sosok Ida I Dewa Agung Istri Kanya yang dijuluki “wanita besi”, dan Puputan Margarana (1946) dan heroiknya aksi Jro Jempiring melalui Perang Jagaraga (1848).

Berlanjut pada saat Revolusi Fisik di Bali muncul nama-nama yang terlibat pada aksi agresifnya revolusi yaitu Wayan Gunung Sukarti (Djero Wiladja), Luh Sudarmi, Gusti Ayu Sukesi, Luh Parmi, Wirasni, Nariasih, Luh Taman, Ni Wayan Munak, dan lain sebagainya.

Kebijakan politis etis yang dicetuskan oleh Pemerintah Hindia Belanda di tahun 1931 berimbas pula pada eksistensi perempuan Bali yang ujung-ujungnya telah melahirkan sederetan perempuan sekolahan I Goesti Ajoe Rapeg, Anak Agoeng Rai, Ni Loeh Kenteng, Ketoet Setiari, dan Made Tjateri.

Kehadiran Gerwani yang bertujuan memutus mata rantai penindasan kapitalisme melalui Pendidikan adalah sisi lain dari potret progresifnya Gerakan perempuan di Bali.Pesona perempuan Bali yang non mainstream dapat dicontohkan dari  kehadiran sosok Gedong Bagus Oka di tahun 1970 yang menggagas pemikiran akan pentingnya nilai-nilai anti kekerasan terhadap perempuan.

Sederetan catatan sejarah tentang kiprah perempuan, semuanya merupakan bahan untuk mematahkan kebakuan steriotyp tentang perempuan Bali. Sekiranya aksi heroic dan aksi humanis perempuan Bali yang terekam dalam catatan sejarah maupun dijadikan dasar melihat kehadiran fenomena kehadiran pecalang perempuan, maka kehadirannya bukanlah hal baru.

Setidaknya, keberanian yang telah ditunjukkan oleh perempuan di masa lalu sejiwa dengan karakteristik jiwa pecalang yang dikait-kaitkan dengan keberanian, ketegasan dan kekuatan. Pertanyaannya apakah kehadiran pecalang perempuan harus diukur mendasarkan atas ikon yang dilekatkan pada pecalang perempuan? Harus berani , kuat dan tegas.

Dalam konteks hadir sebagai pengaman wilayah maka harus diakui ketiganya menjadi prasyarat mutlak. Keberanian yang dituntut bukan hanya keberanian fisik, dan keberanian moral.

Terminologi keberanian yang notabena “milik” laki-laki saat digandengkan pada pecalang perempuan sebenarnya tidak ada masalah karena sejatinya tatkala pecalang dipahami sebagai manusia maka sesungguhnya dalam diri manusia tak terbatas jenis kelaminnya terdapat unsur feminin dan maskulin.

Berpijak atas hakekat manusia maka, terminologi karakter pecalang perempuan maupun laki-laki seyogyanya hadir dalam sosok manusia androgini.
Pecalang perempuan maupun pecalang laki-laki harusnya hadir sebagai pengaman yang bisa menunjukkan sikap tegas, berani dan juga lembut, bukan mengandalkan ekpresi garang sebagai representasi ketegasan.

Saat ini beberapa kabupaten di Bali memiliki pecalang perempuan yakni Kabupaten Karangasem dan Tabanan. Sebutan lainnya adalah “pecalang istri” dalam arti Bahasa Jawa Kuno adalah penguatan identitas keperempuanan.

Dilihat sisi fisik yang terwakili dari ikon seragam, pecalang perempuan dihadirkan dengan ikon feminin. Dari sisi ini, dapat diartikan sebagai upaya pembongkaran atas anggapan selama ini tentang pecalang yang identik dengan ikon seragam laki-laki. Pecalang perempuan tetapi tampil dengan sesuai gender perempuan. Aspek yang diandalkan dalam diri pecalang perempuan adalah hadir sebagai mahkluk androgini dari sisi psikologis karakter berani, tegas, sekaligus lembut.

Penyebutan “pecalang istri” menjadi pertanda ada pesan hidden yang menjadi pengingat bahwa predikat sebagai pecalang harus selalu ingat identitas gendernya.

Sebagaimana formula gender, maka pecalang perempuan diingatkan harus selalu ingat peran gendernya. Walaupun dalam prakteknya peran gender laki-laki mesti diadopsi juga oleh pecalang perempuan.

Ide dasar kehadiran pecalang perempuan memiliki tujuan yang umum dan khusus. Secara umum diharapkan pecalang perempuan ikut serta menjadi pengaman atas hal-hal yang terjadi di kegiatan acara adat dan agama di areal pura dan desa adat. Menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

Sedangkan tujuan khususnya memberi pelayanan atas hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Misalnya saat ada kerauhan (trance) pada perempuan, maka menjadi tugas pecalang perempuan untuk membantu mengatasi agar terhindar dari fitnah.

Namun, di tengah-tengah layanan yang bertujuan pengamanan ada pula hal yang perlu dikritisi tentang pengembangan tugas pecalang perempuan yang tercetus dari Majelis Desa Adat Propinsi Bali yang mendudukkan kehadiran pecalang perempuan untuk “menjaga Etika Perempuan”. Ternyata konsep etika  dimuculkan bertujuan untuk menjaga tatanan cara berpakaian ke pura dalam ukuran kesopanan.

Menariknya adalah mengapa etika perempuan? Mengapa hanya diterjemahkan sebatas urusan berpakaian. Pengaturan tata cara berpakaian perempuan adalah bentuk pendisiplinan tubuh secara social. Tubuh perempuan memang tidak pernah merdeka. Dia diatur, ditata dan di disiplinkan lewat standar budaya dominan, yakni standar kultur patriarkhi.

Oleh karenanya perempuan “dipaksa” agar tunduk pada aturan yang disepakati berdasarkan ukuran kultur laki-laki. Ketika ada perempuan yang keluar dari standar normative budaya dominan, maka predikat tidak sopan, tidak senonoh, liar dsb akan muncul menimpa perempuan. Ingatlah dengan larangan memakai kebaya brokat, kain transparan  dst.

Tetapi dinamika cara berpakaian perempuan di Bali bergerak sangat dinamis. Lagi-lagi urusan berpakaian sopan muncul dalam agenda pecalang perempuan. Dalam pengaturan berpakaian yang sopan untuk para wisatawan masuk ke tempat suci bisa dimaknai sebagai upaya menjaga benteng budaya Bali.

Berbicara prihal etika, keluasan etika tidaklah hanya berhenti pada urusan pakaian semata, namun ada urusan yang tidak kalah mendasarnya dari urusan standar kesopanan berpakaian. Ada etika berbicara, etika menjaga kebersihan, etika di dunia maya, menghargai waktu, menjaga amanah, menjaga kehormatan dirin dll. Semua itu sangat terkait erat dengan pensifatan feminin.

Apakah itu menjadi  kepedulian dari kehadiran pecalang perempuan di wilayah desa adat?

Konsekuensi menyebut etika sebagai tugas yang melekat seharusnya diterjemahkan bukan hanya sekedar pada urusan mengatur tata cara berpakaian tetapi lebih jauh dari itu mesti bersinggungan dengan prinsip yang jauh lebih hakiki yang bermuara pada pemuliaan terhadap nilai ketuhanan, kemanusiaan dan nilai lingkungan.

Ketika kehadiran pecalang perempuan disambut dalam konteks menjaga dan merawat Bali di Kawasan desa pekraman, maka penegakan peran gender dalam tugas pemuliaan nilai ketuhanan, kemanusian dan lingkungan harus menjadi agenda yang dapat memastikan bahwa kehadiran “pecalang istri” bukan hanya menjadi pelengkap “pecalang lanang”, tetapi mereka hadir dalam marwah pemuliaan nilai- nilai profetik (humanisasi – penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan dan keadilan; liberasi – bebas dari tekanan; transendensi – punya kesanggupan menginternalisasi nilai agama dalam kehidupan sehari-hari). [T]

Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Lagu dan Meme Tentang Ibu di Hari Ibu : Kehebatan Emak-Emak yang Diabadikan
PACALANG: Antara Jenis Pajak, Kewaspadaan, dan Pertaruhan Jiwa
Satua Bali “I Durma”: Jembatan Asa Menuju Sosok Ayah di Hari Ayah

Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?
Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik

Tags: pecalangPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Next Post

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja -- Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co