14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 10, 2023
in Opini
Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?

Pahlawan Indonesia | Sumber : https://silmuku.blogspot.com/2017/02/daftar-nama-pahlawan-perjuangan.html

HARI ini 10 Nopember adalah hari istimewa untuk rakyat Indonesia, karena setiap 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Secara moralitas, penetapan tersebut merupakan cermin bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat mengerti tata cara menghormati jasa orang – orang di masa lalu. Dalilnya adalah, tidak ada masa kini tanpa jejak masa lalu.

Penghormatan dan pengharagaan yang telah mengantarkan negara ini menjadi Repbulik yang terbebas dari ekploitasi dan tekanan negara lain yang telah dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan merupakan fakta yang terbantahkan. Para pejuang kemerdekaan pun mendapat tempat yang layak secara sosial – mendapat Surat Penetapan; di makamkan di tempat yang tiada biasa. Pokoknya dalam hal dibuatkan standar kepantasan bagi mereka yang telah berjasa terhadap bangsa ini. Jasa yang telah ditorehkan diukur melalui parameter KIP (Keberanian, Integritas dan Pengorbana). Ketiganya itu jelas merupakan parameter maskulin yang dilekatkan pada jenis kelamin laki-laki.

10 Nopember: Perenungan Tiada Henti tentang Kepahlawanan

Secara harfiah definisi pahlawan kiranya sudah clear. Dalam KBBI terjelaskan pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan adalah pejuang yang gagah berani. Sampai kapanpun kiranya parameter tersebut telah diyakini kebenarannya. Seolah-olah parameter tersebut sudah dibakukan dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Padahal, setiap tiba datangnya hari pahlawan sesungguhnya terbuka lebar melakukan perenungan atas apa yang selama ini diyakini sebagai kebenaran ilmu.

Misalnya, standar kepahlawanan yang dibakukan tersebut jelas lebih tertuju pada pensifatan maskulin yang notabena melekat pada jenis kelamin laki-laki, sedangkan pensifatan feminin terpinggirkan. Tidaklah mengherankan deretan gambar pahlawan sampai hari ini didominasi oleh gambar para pahlawan laki-laki.

Kalaupun muncul gambar sosok perempuan yang sudah dikenal yakni Cut Nyak Mutia; Cut Nyak Dien; RA Kartini; adalah orang-orang yang tergolong memenuhi paramater kepahlawanan. Materi sejarah di dunia pendidikan dipenuhi dengan narasi dan gambar yang membangun konstruksi siswa bahwa pahlawan adalah identik dengan laki-laki. Ini adalah pengetahuan yanag biasa dan dibiasakan dalam pembelajaran sejarah di jenjang pendidikan sejarah, tanpa koreksi.

Pertempuran Surabaya: Kilas Balik Sejarah

Siapa Pencetusnya ?

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, yang dikenal sebagai Gubernur Soerjo atau Suryo karena saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, adalah tokoh pencetus Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 silam. Gubernur Suryo disebut sebagai sosok yang mempelopori pecahnya Pertempuran Surabaya tersebut karena pidato yang disampaikannya pada 9 November 1945 yang berisi seruan untuk melawan pasukan Sekutu kepada para arek-arek Surabaya. Pidato yang dikumandangkan telah sanggup membakar semangat arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu. Di bawah komando Bung Tomo meletusnya pertempuran Surabaya, yang diawali lewat aksi perobekan bendera sekutu di hotel Oranye selanjutnya memicu kemarahan seorang Jenderal Malaby.

.

.

.

Sumber foto: https://id.search.yahoo.com/search?fr=mcafee&type=E210ID739G0&p=pertempuran+surabaya dan https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/09/19/sejarah-hari-ini-19-september-1945-perobekan-bendera-belanda-di-hotel-yamato-surabaya

Keempat gambar tersebut adalah suguhan yang sudah terbukti memiliki kekuatan yang sanggup mengkonstruksi perspektif/sudut pandanga para siswa bahwa perilaku heroik adalah hingar bingar teriakan yang melibatkan baku hantam atau yang sejenisnya. Cara pandang semacam ini, jelas sebuah penegasan bahwa perilaku heroik adalah standar baku pahlawan.

Cara pandang inilah yang menjadi kritik pedas kaun feminis multikultural yang mencoba menyuguhkan pemikiran yang tidak biasa untuk  mengukur nilai kepahlawanan yang tidak serta merta harus ditunjukkan melalui perilaku heroik. RA Kartini adalah contoh yang tidak biasa dalam menimbang kehadiran seorang pahlawan. Melalui kekuatan pena sebagai senjata, dia hadir sebagai perempuan yang tidak biasa. Ternyata, menjadi yang tidak biasa untuk masuk dalam jajaran pahlawan tidaklah mudah.

Setidaknya mindset tentang pahlawan yang hanya bersandar pada kekuatan fisik adalah batu sandungan yang bertahan sangat lama untuk memastikan parameter kepahlawanan yang selama ini berpijak pada steriotyp tentang keberanian fisik semata yang tertuju pada pensifatan laki-laki seolah-olah diabadikan dan tidak perlu dipersoalkan. Implikasi atas cara berpikir semacam ini adalah pembedaan atas apa yang penting dan tidak penting, apa yang berharga dan tidak berharga dan seterusnya.

Sama halnya dalam kita memaknai peristiwa 10 Nopember di Surabaya yang diabadikan melalui gambar klasik tersebut di atas yang telah menyusupi cara pandang anak-anak kita tentang terminologi kepahlawanan. Tanda-tanda yang dikirim oleh gambar semacam itu adalah gambar yang tidak akan sanggup membuka cakrawala berpikir anak agar bisa lebih luas memaknai sebuah peristiwa. Garda depan dari sebuah peristiwa sejarah yang memang didominasi dengan peristiwa heroik yang baku hantam memang merupakan suguhan yang menyimpan ideologi patriakhi yakni ideologi pengutamaan terhadap laki-laki.

Sementara, garda belakang dari suatu peristiwa sejarah yang notabena dimainkan oleh kaum perempuan tidak tertampilkan sebagai peristiwa utama dalam sejarah. Inilah yang oleh Sartono Kartodirdjo disebuat sebagai sejarah wong cilik (perempuan masuk di dalamnya). Contoh dari cara berpikir yang tidak biasa dapat diperoleh dari garda belakang peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya adalah saat ada sejumlah perempuan yang mengendap-ngendap tengah malam memberi pertolongan pada mereka yang terluka; mengangkuti jasad yang gugur dari peristiwa Surabaya adalah aksi yang tidak digolongkan sebagai tindakan heroik, tapi terlupakan bahwa tindakan itu membutuhkan keberanian di tengah situasi yang chaos. Sayangnya, itu tidak masuk dalam parameter kepahlawanan.

Belum lagi, perempuan kurir yang bertugas membawa pesan penting untuk para pejuang, lewat nyali yang dimiliki harus berhasil menembus blokade musuh agar bisa selamat mengemban tugas. Dalam konteks kejuangan semacam ini perempuan sudah tidak lagi memandang tubuhnya sebagai bahaya yang menguntit. Bahkan dalam suatu peruangan di era jamannya tubuh perempuan menjadi bagian dari sebuah pengorbanan. Setidaknya, itulah pengakuan yang pernah penulis dengar dari pengakuan seorang kurir, saat berbincang di kaki Gunung Batur, beberapa tahun silam. Ini pun luput dari parameter kepahlawanan.

Hal lain lagi, para perempuan yang bertugas menyiapkan keperluan logistik perang adalah orang-orang yang tidak tampil dalam panggung sejarah. Apakah dengan demikian mereka beramai-ramai dimasukkan dalam katagori pahlawan. Terlalu naif jika tafsir ini dinilai sebatas pengakuan sebagai pahlawan. Yang terpenting adalah mengajarkan diri ataukah siswa berpikir tentang hal yang tidak biasa adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang hanya mengejar sebuah predikat.

Menarik kiranya pemikiran sastrawan – Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan kritis yang melemparkan gagasan tentang pentingnya memperhitungkan perempuan dalam panggung sejarah. Di benak pencita sastra di Indonesia, seorang Pramoedya dikenal bukan hanya karena namanya pernah disebut sebagai kandidat kuat peraih hadiah nobel bidang sastra, namun juga karena ketrelibatannya dalam membongkar renik sejarah bangsa ini. Sejarah menjadi spirit utama kraya-karyanya. Dalam keterlibatannya dengan bahan-bahan sejarah, Pram coba menelaah unsur terpenting yang membangun sejarah, yakni manusia.

Menariknya, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam karya Pram adalah tokoh yang memiliki daya untuk menolak dan resisten, walaupun tokoh tersebut selalu mengalami kekalahan eksistensial. Dalam kaitan inilah Pram menghadirkan tokoh “gurem” dalam karyanya. Tokoh “gurem” dalam karyanya sering menyertakan perempuan. Sosok perempuan yang diutamakan Pram adalah berlatar kelas rendahan  atau orang kebanyakan, mereka sering dijadikan corong yang menyuarakan pandangan dunia seorang Pram.

Tokoh wanita dalam karya Pram punya pengaruh yang kuat terhadap visi cerita  yang ditampilkannya, kendati dalam kenyataan sejarah, seringkapi perempuan hanya menempati lembaran yang hampir tidak terbaca. Setidaknya, lewat seorang Pram, kita jadi paham bahwa sastra adalah alat perjuangan untuk membangun perspektif.

Sejarah bukanlah konstruksi yang disusun dan tersusun secara permanen. Sejarah memiliki sifat politis, tergantung siapa pemegang kuasa wacana. Sejarah akhirnya tampil dalam berbagai versi. Harusnya, suara-suara perempuan memang tidak bisa diabaikan dalam panggung sejarah, sebab mereka juga adalah anasir-anasir sejarah yang punya power untuk menunjukkan eksistensinya. Hegemoni patriarki seringkali menyembunyikan sebagian sosok  mereka dari catatan sejarah.

Seorang Pramudya punya peran untuk bernegosiasi dengan sistim hegemonik dan selalu mempertanyakan dan berusaha mengisi ceruk bopeng perjalanan sejarah. Dengan begitu Pramodya adalah sosok yang tidak sepakat jika sejarah hanya muncul dalam satu wajah-wajah yang culas, penuh instrik dan manipulatif (http://oase.kompas.com/read/2013/05/18/19562759/Pram.Sejarah.Wanita) [T]

  • BACA artikel lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI
Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan
Tags: Hari PahlawanpahlawanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Next Post

Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co