12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 10, 2023
in Opini
Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?

Pahlawan Indonesia | Sumber : https://silmuku.blogspot.com/2017/02/daftar-nama-pahlawan-perjuangan.html

HARI ini 10 Nopember adalah hari istimewa untuk rakyat Indonesia, karena setiap 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Secara moralitas, penetapan tersebut merupakan cermin bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat mengerti tata cara menghormati jasa orang – orang di masa lalu. Dalilnya adalah, tidak ada masa kini tanpa jejak masa lalu.

Penghormatan dan pengharagaan yang telah mengantarkan negara ini menjadi Repbulik yang terbebas dari ekploitasi dan tekanan negara lain yang telah dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan merupakan fakta yang terbantahkan. Para pejuang kemerdekaan pun mendapat tempat yang layak secara sosial – mendapat Surat Penetapan; di makamkan di tempat yang tiada biasa. Pokoknya dalam hal dibuatkan standar kepantasan bagi mereka yang telah berjasa terhadap bangsa ini. Jasa yang telah ditorehkan diukur melalui parameter KIP (Keberanian, Integritas dan Pengorbana). Ketiganya itu jelas merupakan parameter maskulin yang dilekatkan pada jenis kelamin laki-laki.

10 Nopember: Perenungan Tiada Henti tentang Kepahlawanan

Secara harfiah definisi pahlawan kiranya sudah clear. Dalam KBBI terjelaskan pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan adalah pejuang yang gagah berani. Sampai kapanpun kiranya parameter tersebut telah diyakini kebenarannya. Seolah-olah parameter tersebut sudah dibakukan dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Padahal, setiap tiba datangnya hari pahlawan sesungguhnya terbuka lebar melakukan perenungan atas apa yang selama ini diyakini sebagai kebenaran ilmu.

Misalnya, standar kepahlawanan yang dibakukan tersebut jelas lebih tertuju pada pensifatan maskulin yang notabena melekat pada jenis kelamin laki-laki, sedangkan pensifatan feminin terpinggirkan. Tidaklah mengherankan deretan gambar pahlawan sampai hari ini didominasi oleh gambar para pahlawan laki-laki.

Kalaupun muncul gambar sosok perempuan yang sudah dikenal yakni Cut Nyak Mutia; Cut Nyak Dien; RA Kartini; adalah orang-orang yang tergolong memenuhi paramater kepahlawanan. Materi sejarah di dunia pendidikan dipenuhi dengan narasi dan gambar yang membangun konstruksi siswa bahwa pahlawan adalah identik dengan laki-laki. Ini adalah pengetahuan yanag biasa dan dibiasakan dalam pembelajaran sejarah di jenjang pendidikan sejarah, tanpa koreksi.

Pertempuran Surabaya: Kilas Balik Sejarah

Siapa Pencetusnya ?

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, yang dikenal sebagai Gubernur Soerjo atau Suryo karena saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, adalah tokoh pencetus Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 silam. Gubernur Suryo disebut sebagai sosok yang mempelopori pecahnya Pertempuran Surabaya tersebut karena pidato yang disampaikannya pada 9 November 1945 yang berisi seruan untuk melawan pasukan Sekutu kepada para arek-arek Surabaya. Pidato yang dikumandangkan telah sanggup membakar semangat arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu. Di bawah komando Bung Tomo meletusnya pertempuran Surabaya, yang diawali lewat aksi perobekan bendera sekutu di hotel Oranye selanjutnya memicu kemarahan seorang Jenderal Malaby.

.

.

.

Sumber foto: https://id.search.yahoo.com/search?fr=mcafee&type=E210ID739G0&p=pertempuran+surabaya dan https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/09/19/sejarah-hari-ini-19-september-1945-perobekan-bendera-belanda-di-hotel-yamato-surabaya

Keempat gambar tersebut adalah suguhan yang sudah terbukti memiliki kekuatan yang sanggup mengkonstruksi perspektif/sudut pandanga para siswa bahwa perilaku heroik adalah hingar bingar teriakan yang melibatkan baku hantam atau yang sejenisnya. Cara pandang semacam ini, jelas sebuah penegasan bahwa perilaku heroik adalah standar baku pahlawan.

Cara pandang inilah yang menjadi kritik pedas kaun feminis multikultural yang mencoba menyuguhkan pemikiran yang tidak biasa untuk  mengukur nilai kepahlawanan yang tidak serta merta harus ditunjukkan melalui perilaku heroik. RA Kartini adalah contoh yang tidak biasa dalam menimbang kehadiran seorang pahlawan. Melalui kekuatan pena sebagai senjata, dia hadir sebagai perempuan yang tidak biasa. Ternyata, menjadi yang tidak biasa untuk masuk dalam jajaran pahlawan tidaklah mudah.

Setidaknya mindset tentang pahlawan yang hanya bersandar pada kekuatan fisik adalah batu sandungan yang bertahan sangat lama untuk memastikan parameter kepahlawanan yang selama ini berpijak pada steriotyp tentang keberanian fisik semata yang tertuju pada pensifatan laki-laki seolah-olah diabadikan dan tidak perlu dipersoalkan. Implikasi atas cara berpikir semacam ini adalah pembedaan atas apa yang penting dan tidak penting, apa yang berharga dan tidak berharga dan seterusnya.

Sama halnya dalam kita memaknai peristiwa 10 Nopember di Surabaya yang diabadikan melalui gambar klasik tersebut di atas yang telah menyusupi cara pandang anak-anak kita tentang terminologi kepahlawanan. Tanda-tanda yang dikirim oleh gambar semacam itu adalah gambar yang tidak akan sanggup membuka cakrawala berpikir anak agar bisa lebih luas memaknai sebuah peristiwa. Garda depan dari sebuah peristiwa sejarah yang memang didominasi dengan peristiwa heroik yang baku hantam memang merupakan suguhan yang menyimpan ideologi patriakhi yakni ideologi pengutamaan terhadap laki-laki.

Sementara, garda belakang dari suatu peristiwa sejarah yang notabena dimainkan oleh kaum perempuan tidak tertampilkan sebagai peristiwa utama dalam sejarah. Inilah yang oleh Sartono Kartodirdjo disebuat sebagai sejarah wong cilik (perempuan masuk di dalamnya). Contoh dari cara berpikir yang tidak biasa dapat diperoleh dari garda belakang peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya adalah saat ada sejumlah perempuan yang mengendap-ngendap tengah malam memberi pertolongan pada mereka yang terluka; mengangkuti jasad yang gugur dari peristiwa Surabaya adalah aksi yang tidak digolongkan sebagai tindakan heroik, tapi terlupakan bahwa tindakan itu membutuhkan keberanian di tengah situasi yang chaos. Sayangnya, itu tidak masuk dalam parameter kepahlawanan.

Belum lagi, perempuan kurir yang bertugas membawa pesan penting untuk para pejuang, lewat nyali yang dimiliki harus berhasil menembus blokade musuh agar bisa selamat mengemban tugas. Dalam konteks kejuangan semacam ini perempuan sudah tidak lagi memandang tubuhnya sebagai bahaya yang menguntit. Bahkan dalam suatu peruangan di era jamannya tubuh perempuan menjadi bagian dari sebuah pengorbanan. Setidaknya, itulah pengakuan yang pernah penulis dengar dari pengakuan seorang kurir, saat berbincang di kaki Gunung Batur, beberapa tahun silam. Ini pun luput dari parameter kepahlawanan.

Hal lain lagi, para perempuan yang bertugas menyiapkan keperluan logistik perang adalah orang-orang yang tidak tampil dalam panggung sejarah. Apakah dengan demikian mereka beramai-ramai dimasukkan dalam katagori pahlawan. Terlalu naif jika tafsir ini dinilai sebatas pengakuan sebagai pahlawan. Yang terpenting adalah mengajarkan diri ataukah siswa berpikir tentang hal yang tidak biasa adalah sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang hanya mengejar sebuah predikat.

Menarik kiranya pemikiran sastrawan – Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan kritis yang melemparkan gagasan tentang pentingnya memperhitungkan perempuan dalam panggung sejarah. Di benak pencita sastra di Indonesia, seorang Pramoedya dikenal bukan hanya karena namanya pernah disebut sebagai kandidat kuat peraih hadiah nobel bidang sastra, namun juga karena ketrelibatannya dalam membongkar renik sejarah bangsa ini. Sejarah menjadi spirit utama kraya-karyanya. Dalam keterlibatannya dengan bahan-bahan sejarah, Pram coba menelaah unsur terpenting yang membangun sejarah, yakni manusia.

Menariknya, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam karya Pram adalah tokoh yang memiliki daya untuk menolak dan resisten, walaupun tokoh tersebut selalu mengalami kekalahan eksistensial. Dalam kaitan inilah Pram menghadirkan tokoh “gurem” dalam karyanya. Tokoh “gurem” dalam karyanya sering menyertakan perempuan. Sosok perempuan yang diutamakan Pram adalah berlatar kelas rendahan  atau orang kebanyakan, mereka sering dijadikan corong yang menyuarakan pandangan dunia seorang Pram.

Tokoh wanita dalam karya Pram punya pengaruh yang kuat terhadap visi cerita  yang ditampilkannya, kendati dalam kenyataan sejarah, seringkapi perempuan hanya menempati lembaran yang hampir tidak terbaca. Setidaknya, lewat seorang Pram, kita jadi paham bahwa sastra adalah alat perjuangan untuk membangun perspektif.

Sejarah bukanlah konstruksi yang disusun dan tersusun secara permanen. Sejarah memiliki sifat politis, tergantung siapa pemegang kuasa wacana. Sejarah akhirnya tampil dalam berbagai versi. Harusnya, suara-suara perempuan memang tidak bisa diabaikan dalam panggung sejarah, sebab mereka juga adalah anasir-anasir sejarah yang punya power untuk menunjukkan eksistensinya. Hegemoni patriarki seringkali menyembunyikan sebagian sosok  mereka dari catatan sejarah.

Seorang Pramudya punya peran untuk bernegosiasi dengan sistim hegemonik dan selalu mempertanyakan dan berusaha mengisi ceruk bopeng perjalanan sejarah. Dengan begitu Pramodya adalah sosok yang tidak sepakat jika sejarah hanya muncul dalam satu wajah-wajah yang culas, penuh instrik dan manipulatif (http://oase.kompas.com/read/2013/05/18/19562759/Pram.Sejarah.Wanita) [T]

  • BACA artikel lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI
Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan
Tags: Hari PahlawanpahlawanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Uma Tattwa: Harmonisasi Manusia dengan Lingkungan Agraris Melalui Yadnya

Next Post

Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Media Sosial untuk Membangun Loyalitas Wisatawan ke Bali | Dari Kuliah Umum Prof. Christine PETR di Unud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co