24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satua Bali “I Durma”: Jembatan Asa Menuju Sosok Ayah di Hari Ayah

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 13, 2023
in Opini
Satua Bali “I Durma”: Jembatan Asa Menuju Sosok Ayah di Hari Ayah

Gambar diambil dari youtube Kalpa Wreksa/@kalpawreksa792

SATUA atau cerita Bali I Durma tergolong cerita yang sudah dikenal eksis di masyarakat Bali. Popularitasnya saat ini telah hadir di berbagai ajang lomba dan tayangan youtube. Bahkan sebelum medium komunikasi masyarakat Bali disentuh  media, pementasan drama, seni tari menjadi santapan rohani yang sangat di tunggu-tunggu.

Masih kuat dalam ingatan penulis, di tahun 1975-an tayangan drama tari yang sangat populer era itu, salah satunya adalah pentas seni Rajapala. Sebuah drama yang diramu tentang romantisme percintaan seorang pemuda Rajapala yang akhirnya memboyong seorang bidadari – Ken Sulasih menjadi istrinya.

Ada perjanjian di antara mereka, jika kelak ada anak yang dilahirkan dari perkawinan itu, maka diminta agar Rajapala mengembalikan selendang milik Ken Sulasih agar bisa kembali ke Swargaloka.

Ending cerita Rajapala ditinggal oleh Ken Sulasih dengan lahirnya I Durma. Walaupun masyarakat saat itu sudah mengenal ceritanya, namun saat dipentaskan ulang, sudah dipastikan tidak pernah sepi penonton. Hanya saja, saat itu pentas seni hanya lebih diserap sebagai hiburan semata, di tengah terbatasnya hiburan yang tersedia. Tidak mengherankan drama gong, wayang kulit atau pentas seni lainnya senantiasa ditunggu, pemainnya dirindukan dan diidolakan bak layaknya aktris dan aktor seperti era sekarang ini.

Tersedianya tayangan-tayangan satua I Durma lewat media massa saat ini dimaksudkan untuk mengirim literasi kepada masyarakat luas bahwa cerita ini sarat dengan pesan-pesan moral yang masih relevan dewasa ini tentang kemandirian, kesantunan adalah dua pesan kunci yang sesungguhnya menonjol dalam cerita ini. Apa menariknya?

Yang jelas, kemasan cerita yang menonjolkan sosok seorang ayah dengan peran feminin yang sedang dijalankan menawarkan suatu cerita yang keluar dari pola umum tentang peran pengasuhan yang lazimnya ada di pundak seorang ibu.

Pokok Satua I Durma

Kisah ini hadir dari penggalan kisah kasih Rajapala dengan Ken Sulasih – seorang bidadari yang diceritakan turun ke bumi bersama bidadari lainnya. Sesampainya di bumi, para bidadari tersebut dikisahkan mandi di telaga. Pada saat yang bersamaan muncul seorang pemuda tampan I Rajapala yang berasal dari Desa Singapanjaron.

Rajapala sangat terkesima menyaksikan kecantikan para bidadari, muncullah niatnya mencuri selendang dari salah satu bidadari. Melalui ketangkasan dan kecerdikannya dia berhasil mengambil salah satu selendang yang ternyata milik Bidadari Ken Sulasih. Rajapala memasang jurus menahan selendang milik Ken Sulasih dan akan mengembalikan jika dia bersedia menjadi istrinya.

Tidak ada pilihan bagi Ken Sulasih menyanggupi keinginan I Rajapala dengan 1 syarat, jika nanti ada anak yang lahir dan telah berusia 7 tahun, maka Rajapala harus mengembalikan selendang yang dicuri darinya, sehingga Ken Sulasih bisa kembali ke Kendran (Istana Dewa Indra di Kahyangan).

Perkawinan antara keduanyalah melahirkan I Durma. Saat I Durma berusia 7 tahun Rajapala menepati janjinya, merelakan Ken Sulasih kembali ke Kahyangan dengan selendang miliknya. Selama Ken Sulasih pergi, I Rapala menjadi pengasuh tunggal. Selama 3 tahun I Durma ada di bawah asuh sang ayah.

Selama pengasuhan selama 3 tahun, ada masa-masa yang paling berkesan bagi I Durma yakni saat di setiap sore dia dipanggil oleh ayahnya agar duduk di sampingnya. Saat itulah ayahnya menjadi penutur. Sembari mendengar tutur ayahnya, dia merasakan kelembutan dan curahan kasih sayang ayahnya.

Berbagai wejangan tentang kehidupan, aturan-aturan norma ditanamkan padanya. Semua ini dilakukan oleh Rajapala untuk menyiapkan anaknya agar menjadi anak yang tabah, tawakal dan siap mandiri saat ditinggal oleh orang tuanya. Di saat usia 10 tahun, I Durma ditinggal oleh ayahnya mengembara ke hutan, dan pendidikan karakter dirinya diserahkan kepada Jro Dukuh.

Selama di pedukuhan dalam gemblengan Jro Dukuh, I Durma senantiasa ingat akan wejangan ayahnya. Dalam suasana pendidikan yang menyenangkan di pedukuhan, dengan karisma yang dimiliki Jro Dukuh serta penanaman karakter oleh ayahnya, dikisahkan I Durma tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sukses dipercaya menjadi penyarikan (Sekretaris) di bawah raja Wanakeling.

I Durma dan Pemaknaan Hari Ayah

Satua I Durma sesungguhnya bisa masuk dalam asset sains lokal yang bermuatan model pendidikan karakter yang ingin memutarbalikan kultur dominan tentang peran pengasuhan yang selam ini ditimpakan pada sosok perempuan. Munculnya ide hari ayah yang notabena lahir dari pemikiran Barat (Amerika) sebenarnya bukanlah hal yang baru jika kita merunutnya dari cerita tradisional I Durma.

Satu pemikiran positif yang mengemuka dari deklarasi kelahiran hari ayah di Kota Solo pada tahun 2006 adalah tidak dimaksudkan untuk menciptakan narasi tandingan karena adanya hari Ibu yang dirayakan secara Nasional setiap tgl 22 Desember, namun lebih dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat kita bahwa gagasan tentangnya dalam rangka menegakkan pandangan bahwa keluarga haruslah dilihat sebagai kesatuan yang utuh dari keterlibatan peran ibu dan ayah.

Pemikiran ini sebenarnya peneguhan atas pentingnya menegakkan fungsi manusia tanpa sekat jenis kelamin (perempuan maupun laki-laki) dalam pola pengasuhan anak. Apapun jenis kelaminnya bisa mengambil peran secara natural dalam pengasuhan karena di dalam diri manusia sesungguhnya memiliki unsur feminin dan maskulin yang bisa dimainkan untuk tujuan pengasuhan. Inilah yang disebut dengan manusia androgyn, yakni manusia yang bisa menyeimbangkan unsur feminin dan maskulin secara seimbang.

Meminjam pemikiran Roland Barthes tentang upaya mencari pemaknaan atas suatu kultur, maka satua/cerita I Durma dapatlah dicerna dalam pemaknaan denotatif dan konotatifnya. Pada makna denotatifnya, cerita ini secara gamblang menuju pada pemahaman berikut.

  1.  Perkawinannya bisa dimakanai sebagai tindakan transaksional, dimana ada kejelasan antara hak dan tanggung jawab. Dalam konteks ini kisah Rajapala dan Ken Sulasih memberi pesan bahwa rancang bangun keluarga harulah melalui komunikasi yang diladasi atas dasar kesetiaan dan tanggung jawab kedua belah pihak, sehingga terbangun keluarga berdasarkan kesepakatan dan tiada dusta satu sama lain. Pemufakatan dalam berkeluarga bermuatan janji kedua belah pihak yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sederetan pandangan ini menjadi bingkai kisah Rajapala membangun keluarga bersama Ken Sulasih. Dan, di ending cerita keduanya memenuhi janji perkawinannya dengan penuh tanggung jawab.
  2. Di kisahkan I Rajapala menunjukkan kesanggupan sebagai orang tua tunggal dalam mengasuh I Durma setelah ditinggal oleh Ken Sulasih. Dia digambarkan dapat menjalankan dua peran sekaligus sebagai ayah dan ibu. Pesan-pesan moral yang ditanamkan kepada anaknya tidak berat sebelah. Artinya, dia bukan hanya menanamkan unsur maskulin (tanggung jawab, mandiri), namun juga dimensi feminin (kasih sayang, empati) kepada I Durma sebagai anak laki-laki.
  3. Penanaman nilai kepada anak memang strategis dimulai pada usia 7 tahun, yang mana anak mulai mengenal “dunia lain”, yakni dunia sekolah – dunia yang penuh warna di luar duania

Sedangkan pemaknaan konotatif dapat diartikan bahwa cerita I Durma bermuatan makna pembongkaran/dekonstruktif atas budaya dominan tentang pengasuhan yang selama ini dibebankan pada pundak perempuan. Dalam kultur budaya dominan, tugas pengasuhan di pantas kan untuk perempuan. Sosok ibu dihadirkan sebagai sosok yang memiliki kewajiban utama dalam tumbuh kembang anak.

Dalam konteks sosial, harapan besar dalam pengasuhan anak ada pada sosok ibu, bahkan jika ada kesalahan dalam proses tumbuh kembang anak maka kesalahan akan ditimpakan kepada sosok ibu. Ini pertanda betapa timpangnya cara pandang dalam hal pengasuhan.

Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan umumnya dinapikan dengan alasan seorang anak terlahir dari rahin seorang ibu, maka wajarlah kedekatan secara psikologis dan sosial ada pada sosok ibu, maka wajar pula peran pengasuhan pada pada ibu. Ini penjelasan yang bersumber dari aspek sosiobiologis yang memiliki kelemahan.

Pemaknaan dekonstruktif yang terkandung dalam cerita I Durma memberi ajaran bahwa wacana pembakuan atas sesuatu yang dianggap benar hendaknya dilakukan penundaan, bukan sesuatu yang final. Artinya, peran pengasuhan yang ada di pundak perempuan secara sosial kultural bukan harga mati, bukan pula sesuatu yang tidak bisa diubah, namun produk wacana tersebut hanyalah hasil sebuah konstruksi sosial. Menjadi ayah maupun menjadi ibu hanyalah hasil sebuah konstruksi yang diidealkan dan tentunya bisa diubah. Itulah sebuah esensi dari konsep dekonstruksi.

Kehadiran peran ayah yang dibuatkan perhelatan melalui adanya hari ayah di level dunia maupun di Indonesia bisa diartikan sebagai tindakan positif dalam menghasilkan cara pandang yang berbeda dari sebelumnya tentang pentingnya peran ayah di tengah-tengah telah populernya peran ibu. Ibarat melahirkan wacana penyeimbang, maka kelahiran hari ayah adalah upaya melatihkan kita untuk adil terhadap laki-laki. Keadilan itu bisa dibentuk melalui konstruksi gender yang seimbang.

Konstruksi Gender Sosok Ayah di Hari Ayah

Ayah yang tergenderkan digambarkan sebagai sosok yang tegas dan berkuasa. Memiliki privilese yang lebih dibandingkan anggota keluarga lainnya. Pengambil keputusan dan sederetan predikat lainnya yang dilekatkan secara budaya. Steriotyp semacam itu bukanlah sesuatu yang secara otomatis diterima oleh seorang anak laki-laki dari sejak lahir, namun semua itu diperoleh dari bentukan sistem sosial yang idealkan sebagai calon ayah.

Kehadiran anak laki-laki pada masyarakat yang mengusung budaya patriakhat sedemikian diistimewakan sebagai persiapan kelak menjadi sosok ayah yang mewarisi dan  melanjutkan budaya yang diidealkan. Lihatlah pada tayangan youtube tentang perlakuan atas kelahiran seorang anak laki-laki, melalui tayangan ritual tiga bulanan, demikian istimewanya, demikian meriahnya dan sedemikian megahnya, dan sampai saat ini belum ditemukan tayangan dan perlakukan yang sebanding untuk kelahiran anak perempuan.

Bahkan sebuah riset antropologi menemukan adanya etnis tertentu yang memberikan penyambutan istimewa atas kelahiran anak laki-laki dengan ritual khusus yang dilengkapi dengan tembakan senapan ke udara, dan jika ada anak perempuan yang lahir, tidak akan mendapatkan perlakukan yang serupa. Perlakuan itu berujung pada tujuan untuk menyiapkan anak laki-laki sebagai calon ayah kelak di kemudian hari.

Bentukan anak laki-laki melalui gender yang baku akan menghasilkan konstruksi pribadi maupun karakter yang tidak utuh atas potensi diri manusia. Ketika seorang anak laki-laki maupun perempuan dibentuk hanya dengan gender spesifiknya masing-masing, sebenarnya itu sama halnya dengan membuka ruang ketidakadilan bagi keduanya untuk tumbuh secara maksimal.

Misalnya, laki-laki yang tergenderkan dalam kebiasaan untuk dilayani dalam segala hal, ini adalah sesuatu yang tidak adil bagi laki-laki. Karena ketergantungan itu akan membuat laki-laki menjadi tidak berdaya di saat tidak ada yang membantunya, padahal kemandirian bisa dibentuk.

Dalam sebuah percakapan santai di kampus, ada teman saya berseloroh : “coba aja perhatikan kalau laki-laki ditinggal mati istrinya, belum kering kuburannnya sudah nikah lagi, alasannya nggak kuat nggak ada istri. Beda dengan perempuan begitu rupa dijejali pesan moral kalau ditinggal mati suami, ingat selalu sama anak. Dalam bahasa Bali  ujarannya :yasaang panake, de kalaine nganten”.

Seloroh teman saya sebenarnya ingin menyorot suatu anggapan bahwa laki-laki itu adalah mahkluk yang kuat. Kalaupun pengalaman empirik banyak dijumpai sebagai seloroh teman saya, sebenarnya itu terjadi juga berakar dari hasil konstruksi.

Secara kultural sosok ayah bisa diartikan sebagai seuatu yang sudah di strukturkan secara sosial budaya. Dalam artian struktur, seorang ayah memiliki simbol/tanda, kekuasaan dan legitimasi. Ketiganya, bisa dijadikan bahan untuk melakukan penanaman nilai karakter kepada anak. Misalnya, tanda bisa berupa ekspresi seorang ayah akan mempengaruhi cara seorang anak mengekspresikan dirinya.

Penyaluran kekuasaan yang dimiliki seorang ayahpun akan ikut menentukan cara seorang memainkan kekuasaan yang dimilikinya atas orang lain. Misalnya, cara suami memberlakukan istrinya dalam bentuk interaksi,  perlakuan, merupakan cermin dari praktik kuasa suami akan menjadi tontonan yang diserap oleh seorang anak.

Demikian juga dalam wujud legitimasi yang dimiliki seorang ayah bisa berbentuk larangan/batasan yang diciptakan oleh seorang ayah di dalam keluarga akan bisa menjadi penentu harmoni tidaknya iklim sosial yang terbangun.

Deklarasi hari ayah di Indonesia yang telah ditetapkan dan dirayakan setiap tgl 12 Nopember seharusnya dijadikan bahan perenungan mendalam tentang cara para ayah memainkan struktur yang telah dimilikinya. Bukan hanya dimaknai sebagai perhelatan menuju kemenangan atas pengakuan pentingnya sosok ayah. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI
Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?
Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan
Tags: balicerita anakcerita rakyatdongengGenderhari ayah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat The Munchies, Grup Musik Asal Bali, Konser di Kapal Pesiar Norwegian Pearl

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co