23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satua Bali “I Durma”: Jembatan Asa Menuju Sosok Ayah di Hari Ayah

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 13, 2023
in Opini
Satua Bali “I Durma”: Jembatan Asa Menuju Sosok Ayah di Hari Ayah

Gambar diambil dari youtube Kalpa Wreksa/@kalpawreksa792

SATUA atau cerita Bali I Durma tergolong cerita yang sudah dikenal eksis di masyarakat Bali. Popularitasnya saat ini telah hadir di berbagai ajang lomba dan tayangan youtube. Bahkan sebelum medium komunikasi masyarakat Bali disentuh  media, pementasan drama, seni tari menjadi santapan rohani yang sangat di tunggu-tunggu.

Masih kuat dalam ingatan penulis, di tahun 1975-an tayangan drama tari yang sangat populer era itu, salah satunya adalah pentas seni Rajapala. Sebuah drama yang diramu tentang romantisme percintaan seorang pemuda Rajapala yang akhirnya memboyong seorang bidadari – Ken Sulasih menjadi istrinya.

Ada perjanjian di antara mereka, jika kelak ada anak yang dilahirkan dari perkawinan itu, maka diminta agar Rajapala mengembalikan selendang milik Ken Sulasih agar bisa kembali ke Swargaloka.

Ending cerita Rajapala ditinggal oleh Ken Sulasih dengan lahirnya I Durma. Walaupun masyarakat saat itu sudah mengenal ceritanya, namun saat dipentaskan ulang, sudah dipastikan tidak pernah sepi penonton. Hanya saja, saat itu pentas seni hanya lebih diserap sebagai hiburan semata, di tengah terbatasnya hiburan yang tersedia. Tidak mengherankan drama gong, wayang kulit atau pentas seni lainnya senantiasa ditunggu, pemainnya dirindukan dan diidolakan bak layaknya aktris dan aktor seperti era sekarang ini.

Tersedianya tayangan-tayangan satua I Durma lewat media massa saat ini dimaksudkan untuk mengirim literasi kepada masyarakat luas bahwa cerita ini sarat dengan pesan-pesan moral yang masih relevan dewasa ini tentang kemandirian, kesantunan adalah dua pesan kunci yang sesungguhnya menonjol dalam cerita ini. Apa menariknya?

Yang jelas, kemasan cerita yang menonjolkan sosok seorang ayah dengan peran feminin yang sedang dijalankan menawarkan suatu cerita yang keluar dari pola umum tentang peran pengasuhan yang lazimnya ada di pundak seorang ibu.

Pokok Satua I Durma

Kisah ini hadir dari penggalan kisah kasih Rajapala dengan Ken Sulasih – seorang bidadari yang diceritakan turun ke bumi bersama bidadari lainnya. Sesampainya di bumi, para bidadari tersebut dikisahkan mandi di telaga. Pada saat yang bersamaan muncul seorang pemuda tampan I Rajapala yang berasal dari Desa Singapanjaron.

Rajapala sangat terkesima menyaksikan kecantikan para bidadari, muncullah niatnya mencuri selendang dari salah satu bidadari. Melalui ketangkasan dan kecerdikannya dia berhasil mengambil salah satu selendang yang ternyata milik Bidadari Ken Sulasih. Rajapala memasang jurus menahan selendang milik Ken Sulasih dan akan mengembalikan jika dia bersedia menjadi istrinya.

Tidak ada pilihan bagi Ken Sulasih menyanggupi keinginan I Rajapala dengan 1 syarat, jika nanti ada anak yang lahir dan telah berusia 7 tahun, maka Rajapala harus mengembalikan selendang yang dicuri darinya, sehingga Ken Sulasih bisa kembali ke Kendran (Istana Dewa Indra di Kahyangan).

Perkawinan antara keduanyalah melahirkan I Durma. Saat I Durma berusia 7 tahun Rajapala menepati janjinya, merelakan Ken Sulasih kembali ke Kahyangan dengan selendang miliknya. Selama Ken Sulasih pergi, I Rapala menjadi pengasuh tunggal. Selama 3 tahun I Durma ada di bawah asuh sang ayah.

Selama pengasuhan selama 3 tahun, ada masa-masa yang paling berkesan bagi I Durma yakni saat di setiap sore dia dipanggil oleh ayahnya agar duduk di sampingnya. Saat itulah ayahnya menjadi penutur. Sembari mendengar tutur ayahnya, dia merasakan kelembutan dan curahan kasih sayang ayahnya.

Berbagai wejangan tentang kehidupan, aturan-aturan norma ditanamkan padanya. Semua ini dilakukan oleh Rajapala untuk menyiapkan anaknya agar menjadi anak yang tabah, tawakal dan siap mandiri saat ditinggal oleh orang tuanya. Di saat usia 10 tahun, I Durma ditinggal oleh ayahnya mengembara ke hutan, dan pendidikan karakter dirinya diserahkan kepada Jro Dukuh.

Selama di pedukuhan dalam gemblengan Jro Dukuh, I Durma senantiasa ingat akan wejangan ayahnya. Dalam suasana pendidikan yang menyenangkan di pedukuhan, dengan karisma yang dimiliki Jro Dukuh serta penanaman karakter oleh ayahnya, dikisahkan I Durma tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sukses dipercaya menjadi penyarikan (Sekretaris) di bawah raja Wanakeling.

I Durma dan Pemaknaan Hari Ayah

Satua I Durma sesungguhnya bisa masuk dalam asset sains lokal yang bermuatan model pendidikan karakter yang ingin memutarbalikan kultur dominan tentang peran pengasuhan yang selam ini ditimpakan pada sosok perempuan. Munculnya ide hari ayah yang notabena lahir dari pemikiran Barat (Amerika) sebenarnya bukanlah hal yang baru jika kita merunutnya dari cerita tradisional I Durma.

Satu pemikiran positif yang mengemuka dari deklarasi kelahiran hari ayah di Kota Solo pada tahun 2006 adalah tidak dimaksudkan untuk menciptakan narasi tandingan karena adanya hari Ibu yang dirayakan secara Nasional setiap tgl 22 Desember, namun lebih dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat kita bahwa gagasan tentangnya dalam rangka menegakkan pandangan bahwa keluarga haruslah dilihat sebagai kesatuan yang utuh dari keterlibatan peran ibu dan ayah.

Pemikiran ini sebenarnya peneguhan atas pentingnya menegakkan fungsi manusia tanpa sekat jenis kelamin (perempuan maupun laki-laki) dalam pola pengasuhan anak. Apapun jenis kelaminnya bisa mengambil peran secara natural dalam pengasuhan karena di dalam diri manusia sesungguhnya memiliki unsur feminin dan maskulin yang bisa dimainkan untuk tujuan pengasuhan. Inilah yang disebut dengan manusia androgyn, yakni manusia yang bisa menyeimbangkan unsur feminin dan maskulin secara seimbang.

Meminjam pemikiran Roland Barthes tentang upaya mencari pemaknaan atas suatu kultur, maka satua/cerita I Durma dapatlah dicerna dalam pemaknaan denotatif dan konotatifnya. Pada makna denotatifnya, cerita ini secara gamblang menuju pada pemahaman berikut.

  1.  Perkawinannya bisa dimakanai sebagai tindakan transaksional, dimana ada kejelasan antara hak dan tanggung jawab. Dalam konteks ini kisah Rajapala dan Ken Sulasih memberi pesan bahwa rancang bangun keluarga harulah melalui komunikasi yang diladasi atas dasar kesetiaan dan tanggung jawab kedua belah pihak, sehingga terbangun keluarga berdasarkan kesepakatan dan tiada dusta satu sama lain. Pemufakatan dalam berkeluarga bermuatan janji kedua belah pihak yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sederetan pandangan ini menjadi bingkai kisah Rajapala membangun keluarga bersama Ken Sulasih. Dan, di ending cerita keduanya memenuhi janji perkawinannya dengan penuh tanggung jawab.
  2. Di kisahkan I Rajapala menunjukkan kesanggupan sebagai orang tua tunggal dalam mengasuh I Durma setelah ditinggal oleh Ken Sulasih. Dia digambarkan dapat menjalankan dua peran sekaligus sebagai ayah dan ibu. Pesan-pesan moral yang ditanamkan kepada anaknya tidak berat sebelah. Artinya, dia bukan hanya menanamkan unsur maskulin (tanggung jawab, mandiri), namun juga dimensi feminin (kasih sayang, empati) kepada I Durma sebagai anak laki-laki.
  3. Penanaman nilai kepada anak memang strategis dimulai pada usia 7 tahun, yang mana anak mulai mengenal “dunia lain”, yakni dunia sekolah – dunia yang penuh warna di luar duania

Sedangkan pemaknaan konotatif dapat diartikan bahwa cerita I Durma bermuatan makna pembongkaran/dekonstruktif atas budaya dominan tentang pengasuhan yang selama ini dibebankan pada pundak perempuan. Dalam kultur budaya dominan, tugas pengasuhan di pantas kan untuk perempuan. Sosok ibu dihadirkan sebagai sosok yang memiliki kewajiban utama dalam tumbuh kembang anak.

Dalam konteks sosial, harapan besar dalam pengasuhan anak ada pada sosok ibu, bahkan jika ada kesalahan dalam proses tumbuh kembang anak maka kesalahan akan ditimpakan kepada sosok ibu. Ini pertanda betapa timpangnya cara pandang dalam hal pengasuhan.

Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan umumnya dinapikan dengan alasan seorang anak terlahir dari rahin seorang ibu, maka wajarlah kedekatan secara psikologis dan sosial ada pada sosok ibu, maka wajar pula peran pengasuhan pada pada ibu. Ini penjelasan yang bersumber dari aspek sosiobiologis yang memiliki kelemahan.

Pemaknaan dekonstruktif yang terkandung dalam cerita I Durma memberi ajaran bahwa wacana pembakuan atas sesuatu yang dianggap benar hendaknya dilakukan penundaan, bukan sesuatu yang final. Artinya, peran pengasuhan yang ada di pundak perempuan secara sosial kultural bukan harga mati, bukan pula sesuatu yang tidak bisa diubah, namun produk wacana tersebut hanyalah hasil sebuah konstruksi sosial. Menjadi ayah maupun menjadi ibu hanyalah hasil sebuah konstruksi yang diidealkan dan tentunya bisa diubah. Itulah sebuah esensi dari konsep dekonstruksi.

Kehadiran peran ayah yang dibuatkan perhelatan melalui adanya hari ayah di level dunia maupun di Indonesia bisa diartikan sebagai tindakan positif dalam menghasilkan cara pandang yang berbeda dari sebelumnya tentang pentingnya peran ayah di tengah-tengah telah populernya peran ibu. Ibarat melahirkan wacana penyeimbang, maka kelahiran hari ayah adalah upaya melatihkan kita untuk adil terhadap laki-laki. Keadilan itu bisa dibentuk melalui konstruksi gender yang seimbang.

Konstruksi Gender Sosok Ayah di Hari Ayah

Ayah yang tergenderkan digambarkan sebagai sosok yang tegas dan berkuasa. Memiliki privilese yang lebih dibandingkan anggota keluarga lainnya. Pengambil keputusan dan sederetan predikat lainnya yang dilekatkan secara budaya. Steriotyp semacam itu bukanlah sesuatu yang secara otomatis diterima oleh seorang anak laki-laki dari sejak lahir, namun semua itu diperoleh dari bentukan sistem sosial yang idealkan sebagai calon ayah.

Kehadiran anak laki-laki pada masyarakat yang mengusung budaya patriakhat sedemikian diistimewakan sebagai persiapan kelak menjadi sosok ayah yang mewarisi dan  melanjutkan budaya yang diidealkan. Lihatlah pada tayangan youtube tentang perlakuan atas kelahiran seorang anak laki-laki, melalui tayangan ritual tiga bulanan, demikian istimewanya, demikian meriahnya dan sedemikian megahnya, dan sampai saat ini belum ditemukan tayangan dan perlakukan yang sebanding untuk kelahiran anak perempuan.

Bahkan sebuah riset antropologi menemukan adanya etnis tertentu yang memberikan penyambutan istimewa atas kelahiran anak laki-laki dengan ritual khusus yang dilengkapi dengan tembakan senapan ke udara, dan jika ada anak perempuan yang lahir, tidak akan mendapatkan perlakukan yang serupa. Perlakuan itu berujung pada tujuan untuk menyiapkan anak laki-laki sebagai calon ayah kelak di kemudian hari.

Bentukan anak laki-laki melalui gender yang baku akan menghasilkan konstruksi pribadi maupun karakter yang tidak utuh atas potensi diri manusia. Ketika seorang anak laki-laki maupun perempuan dibentuk hanya dengan gender spesifiknya masing-masing, sebenarnya itu sama halnya dengan membuka ruang ketidakadilan bagi keduanya untuk tumbuh secara maksimal.

Misalnya, laki-laki yang tergenderkan dalam kebiasaan untuk dilayani dalam segala hal, ini adalah sesuatu yang tidak adil bagi laki-laki. Karena ketergantungan itu akan membuat laki-laki menjadi tidak berdaya di saat tidak ada yang membantunya, padahal kemandirian bisa dibentuk.

Dalam sebuah percakapan santai di kampus, ada teman saya berseloroh : “coba aja perhatikan kalau laki-laki ditinggal mati istrinya, belum kering kuburannnya sudah nikah lagi, alasannya nggak kuat nggak ada istri. Beda dengan perempuan begitu rupa dijejali pesan moral kalau ditinggal mati suami, ingat selalu sama anak. Dalam bahasa Bali  ujarannya :yasaang panake, de kalaine nganten”.

Seloroh teman saya sebenarnya ingin menyorot suatu anggapan bahwa laki-laki itu adalah mahkluk yang kuat. Kalaupun pengalaman empirik banyak dijumpai sebagai seloroh teman saya, sebenarnya itu terjadi juga berakar dari hasil konstruksi.

Secara kultural sosok ayah bisa diartikan sebagai seuatu yang sudah di strukturkan secara sosial budaya. Dalam artian struktur, seorang ayah memiliki simbol/tanda, kekuasaan dan legitimasi. Ketiganya, bisa dijadikan bahan untuk melakukan penanaman nilai karakter kepada anak. Misalnya, tanda bisa berupa ekspresi seorang ayah akan mempengaruhi cara seorang anak mengekspresikan dirinya.

Penyaluran kekuasaan yang dimiliki seorang ayahpun akan ikut menentukan cara seorang memainkan kekuasaan yang dimilikinya atas orang lain. Misalnya, cara suami memberlakukan istrinya dalam bentuk interaksi,  perlakuan, merupakan cermin dari praktik kuasa suami akan menjadi tontonan yang diserap oleh seorang anak.

Demikian juga dalam wujud legitimasi yang dimiliki seorang ayah bisa berbentuk larangan/batasan yang diciptakan oleh seorang ayah di dalam keluarga akan bisa menjadi penentu harmoni tidaknya iklim sosial yang terbangun.

Deklarasi hari ayah di Indonesia yang telah ditetapkan dan dirayakan setiap tgl 12 Nopember seharusnya dijadikan bahan perenungan mendalam tentang cara para ayah memainkan struktur yang telah dimilikinya. Bukan hanya dimaknai sebagai perhelatan menuju kemenangan atas pengakuan pentingnya sosok ayah. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI
Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?
Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan
Tags: balicerita anakcerita rakyatdongengGenderhari ayah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat The Munchies, Grup Musik Asal Bali, Konser di Kapal Pesiar Norwegian Pearl

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (4): Soliditas Hulu-Hulu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co