22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Vivit Arista Dewi by Vivit Arista Dewi
June 19, 2025
in Ulas Musik
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Tangkapan layar video clip Denny Caknan Feat Bella Bonita - SINARENGAN (Official Music Video)

DENNY Caknan, yang memiliki nama asli Deni Setiawan adalah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu. Pria kelahiran 10 Desember 1993 ini telah berhasil membawa warna baru dalam industri musik Indonesia melalui genre pop Jawa dan Koplo. Sebagian besar lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi asal Ngawi, Jawa Timur ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama dan sedikit sisipan kalimat berbahasa Indonesia untuk memperluas jangkauan pendengar. Gaya bermusik Denny sangat dipengaruhi oleh almarhum Didi Kempot, sosok yang dijuluki “The Godfather of Broken Heart”. Namun, Denny mengembangkan pendekatannya sendiri dengan memasukkan nuansa pop yang kuat, beat modern, serta unsur kendhang yang khas dalam aransemen lagunya. Perpaduan tersebut menjadikan karya-karyanya terasa segar, easy listening, dan tetap berakar pada budaya lokal.

Salah satu karya terbarunya yang mencuri perhatian publik adalah lagu “Sinarengan”, yang dirilis pada 12 Maret 2025 dan dinyanyikan bersama sang istri, Bella Bonita. Lagu ini bukan sekadar kolaborasi musikal, melainkan juga simbol kebersamaan dan komitmen mereka sebagai pasangan suami istri. Dalam waktu kurang dari dua bulan setelah perilisannya, lagu ini telah meraih lebih dari 41 juta tayangan dan 629 ribu tanda suka di YouTube, menunjukkan antusiasme besar dari para pendengar. Secara musikal, “Sinarengan” tetap membawa identitas khas Denny Caknan, yakni penggunaan bahasa Jawa yang lembut dengan sentuhan pop dan irama koplo yang tidak terlalu dominan, sehingga memberikan nuansa romantis yang hangat. Kehadiran Bella Bonita dalam lagu ini juga menambah dimensi emosional yang kuat, karena chemistry mereka sebagai pasangan terasa sangat natural dan tulus. Lalu, sebenarnya apasih makna dari lagu ini? Yuk, kita bedah bersama.

Membedah lirik lagu ‘Sinarengan’

Bait 1

Kedaden tenan (Sesuatu yang benar terjadi/terwujud)
Nduwe omah sing ra berisik (Memiliki rumah yang tidak berisik)
Kebak katresnan (Penuh dengan cinta)
Kebak kasih lan sayang (Penuh dengan kasih sayang dan perhatian)

Pada bait pertama ini mengungkapkan gambaran rumah yang tenang dan penuh cinta. Frasa “Nduwe omah sing ra berisik” (memiliki rumah yang tidak berisik) ini tidak hanya berbicara tentang rumah fisik, tetapi lebih kepada rumah batin yang sudah dibangun bersama. Frasa tersebut juga mencerminkan hubungan yang bebas dari pertengkaran atau masalah yang merusak kedamaian. Pada lirik tersebut, Denny dan Bella seolah ingin menekankan bahwa mereka telah menciptakan ruang bersama yang bebas dari hal-hal yang mengganggu dengan cinta bisa tumbuh tanpa terhalang oleh suara-suara luar.

Adapun lirik selanjutnya “Kebak katresnan” (penuh dengan cinta) dan “Kebak kasih lan sayang” (penuh dengan kasih dan sayang), memberi penekanan pada suatu hubungan yang diisi dengan rasa saling mendukung dan menguatkan sehingga semakin memberi penggambaran bahwa cinta itu seharusnya ada dalam suatu hubungan. Pada bait ini, Denny menekankan bahwa rumah batin yang “Kebak katresnan” dan “Kebak kasih lan sayang” adalah gambaran dari sebuah ikatan emosional yang sehat dan kuat sehingga menjadi tempat perlindungan dan ketenangan. Hal ini tidak hanya memberi rasa aman, tetapi juga memberi kekuatan untuk tumbuh bersama, mendewasa, dan saling memberi dukungan dalam setiap langkah kehidupan yang mereka jalani. Lirik pada bait ini mengajak pendengar untuk merenung dan menghargai esensi hubungan yang tidak terburu-buru atau penuh gejolak, tetapi lebih mengutamakan ketenangan, kedamaian, dan saling memahami (yang menjadi fondasi dari cinta sejati).

Bait 2

Ngobrol raono entek e ning tengah wengi (Mengobrol tanpa henti di tengah malam)
Tetes embun sing ngancani (Tetes embun yang menemani)
Aku sampean koyo lagi kasmaran (Aku dan kamu seperti sedang jatuh cinta)
Tenan (Sungguh)
Mlaku teko tuwo bebarengan (Berjalan menuju tua bersama-sama)

Pada bait tersebut menggambarkan sebuah percakapan yang tak berujung di tengah keheningan malam. Hal ini bukan hanya sekadar berbincang, melainkan pertemuan dua jiwa yang saling membuka diri (komunikasi yang mengalir tanpa batas, tanpa jeda). Malam menjadi saksi bisu keintiman batin yang tidak bisa diungkap hanya dengan kata-kata. Kata “embun” pada lirik “Tetes embun sing ngancani” bukan hanya sebagai gambaran suasana malam, tetapi sebagai metafora dari kesejukan dan kelembutan. Embun menggambarkan hubungan mereka yang jernih, ringan, tetapi menenangkan.

Selanjutnya, kata “kasmaran” pada lirik “Aku sampean koyo lagi kasmaran” tidak hanya sebagai penanda cinta yang membara, tetapi juga keterpesonaan yang terus tumbuh. Baris penutup dari bait ini “mlaku teko tuwo bebarengan” menunjukkan tawaran janji yang tidak hanya menjadi janji manis di ujung bibir, tetapi komitmen untuk berjalan bersama hingga tua. Denny menekankan bahwa cinta yang tidak tergesa, tidak terburu-buru mengejar klimaks, melainkan cinta yang sabar, tumbuh seiring waktu, dan bersedia menua dalam kebersamaan.

Bait 3–4

Matursuwun wis ngancani aku selama iki (Terima kasih sudah menemani aku selama ini)
Wis iso saling nguat-nguatke (Sudah bisa saling menguatkan)
Gudo wong lio sing ra seneng hubungan iki berlanjut (Meski ada orang lain yang tidak suka hubungan ini berlanjut)
Tatak mlakune (Langkahnya mantap/tegas)
Ning jobo banter tenan angine (Di luar anginnya kencang sekali)
Soyo dewasa ra ngenteni badai terang (Semakin dewasa tidak menunggu badai reda dulu)
Nanging sinau nari ning tengah udan (Namun belajar menari di tengah hujan)

Ucapan terima kasih menjadi bagian dari lirik sebagai bentuk syukur paling tulus dari seseorang yang tahu, bahwa ditemani dalam diam pun adalah sebuah anugerah. Cinta dalam bait ini telah menjelma menjadi ruang yang saling menguatkan. Hubungan mereka bukanlah kisah tanpa ujian, tapi cerita tentang dua jiwa yang saling menopang saat dunia mencoba menggoyang. Pada lirik “tatak mlakune” menjadi bukti bahwa langkah mereka tak lagi ragu. Meskipun dunia luar tidak selalu ramah dan ditandai dengan angin kehidupan bertiup kencang, mencoba mematahkan dan mendinginkan semangat. Tapi mereka tetap yakin dengan langkah mereka bersama.

Pada lirik “Soyo dewasa ra ngenteni badai terang” juga menggambarkan kedewasaan sebagai keberanian untuk tetap hidup meski langit gelap. Denny memberi tahu melalui liriknya bahwa mereka tidak sedang mengulur waktu berharap dunia menjadi lebih lunak, tetapi lebih memilih berjalan meski di atas jalan yang basah dan licin. Denny juga menekankan bahwa menari di tengah hujan pada “Nanging sinau nari ning tengah udan” bukan berarti mengabaikan duka, tetapi menjadikannya bagian dari tarian bahagia, bangkit dan terus bergerak bersama

Bait 5

Bait ini dinyanyikan oleh Denny dengan menggunakan bahasa Jawa halus seolah ingin menyampaikan rasa hormat, kasih yang tulus, dan sikap ngajeni (menghargai) istrinya, Bella. Menggenggam tangan, dalam bait ini, tak hanya simbol fisik dari kedekatan. Namun, menjadi tanda kebersamaan yang saling menopang saat langkah mulai gemetar. Frasa “bakoh bebrayan” menegaskan bahwa relasi yang kuat dibangun dari kesediaan untuk tetap saling menggenggam bahkan ketika yang digenggam mulai basah oleh hujan atau goyah oleh angin.

Saat kesulitan (rubedo) menghadang, mereka tidak melarikan diri, tidak saling menyalahkan. Sebaliknya, mereka memilih manekung (hening dalam batin, menundukkan ego, menyelami diri sendiri). Dalam budaya Jawa, manekung adalah bentuk keheningan spiritual, sebuah cara untuk merenung, menyatukan kehendak diri dengan semesta. Di sini, makna cinta sudah melampaui keromantisan dan menjadi laku batin, sebuah bentuk ibadah dalam kebersamaan.

Bait 6

Mugi slawase ngancani (Semoga selamanya menemani)
Setyo tulus ku anggon dampingi mu (Kesetiaanku yang tulus untuk mendampingimu)
Bedo rogo gandeng tresno (Berbeda raga, tapi digandeng oleh cinta)

Bait penutup ini terasa seperti sebuah doa atau permohonan yang penuh harap tapi tetap disampaikan dengan tenang dan anggun. Frasa “Mugi slawase ngancani” bukan sekadar harapan akan kebersamaan, melainkan cerminan dari cinta yang tidak ingin memaksa, hanya berharap dengan ikhlas agar perjalanan ini tetap sejalan.

Ungkapan “Setyo tulus ku anggon dampingi mu” menegaskan bahwa kehadiran yang ditawarkan adalah kehadiran yang penuh ketulusan dan kesetiaan, yang sering kali tak terlihat namun menjadi dasar dari cinta yang dewasa. Ini bukan tentang janji kemewahan, tetapi pendampingan yang utuh dan penuh hati. Kemudian, pada baris “Bedo rogo gandeng

 tresno”, terdapat makna mendalam tentang perpisahan fisik, baik oleh jarak atau waktu, tidak menghalangi cinta yang sudah mengikat dua jiwa. Cinta yang sesungguhnya melampaui batas tubuh, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar keberadaan fisik.

Secara keseluruhan, lagu “Sinarengan” karya Denny Caknan ini menyajikan sebuah refleksi mendalam tentang cinta yang tidak hanya berfokus pada romantisme, tetapi pada ketulusan, kesetiaan, dan kebersamaan yang sejati. Lagu ini mengajarkan tentang pentingnya ketulusan dan kesetiaan dalam menjalani hubungan, serta mengingatkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang bisa tumbuh dan bertahan dalam segala keadaan. [T]

Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi
Tags: Denny Caknanlagu pop jawamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekali Lagi Tentang Revisi Sejarah Nasional yang Perlu Kita Kritisi

Next Post

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Vivit Arista Dewi

Vivit Arista Dewi

Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana yang memiliki minat besar terhadap sejarah. Lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur, ia gemar melakukan perjalanan (travelling) ke berbagai tempat bersejarah untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan cerita masa lampau. IG: vivitarsta

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co