14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Vivit Arista Dewi by Vivit Arista Dewi
June 19, 2025
in Ulas Musik
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Tangkapan layar video clip Denny Caknan Feat Bella Bonita - SINARENGAN (Official Music Video)

DENNY Caknan, yang memiliki nama asli Deni Setiawan adalah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu. Pria kelahiran 10 Desember 1993 ini telah berhasil membawa warna baru dalam industri musik Indonesia melalui genre pop Jawa dan Koplo. Sebagian besar lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh penyanyi asal Ngawi, Jawa Timur ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama dan sedikit sisipan kalimat berbahasa Indonesia untuk memperluas jangkauan pendengar. Gaya bermusik Denny sangat dipengaruhi oleh almarhum Didi Kempot, sosok yang dijuluki “The Godfather of Broken Heart”. Namun, Denny mengembangkan pendekatannya sendiri dengan memasukkan nuansa pop yang kuat, beat modern, serta unsur kendhang yang khas dalam aransemen lagunya. Perpaduan tersebut menjadikan karya-karyanya terasa segar, easy listening, dan tetap berakar pada budaya lokal.

Salah satu karya terbarunya yang mencuri perhatian publik adalah lagu “Sinarengan”, yang dirilis pada 12 Maret 2025 dan dinyanyikan bersama sang istri, Bella Bonita. Lagu ini bukan sekadar kolaborasi musikal, melainkan juga simbol kebersamaan dan komitmen mereka sebagai pasangan suami istri. Dalam waktu kurang dari dua bulan setelah perilisannya, lagu ini telah meraih lebih dari 41 juta tayangan dan 629 ribu tanda suka di YouTube, menunjukkan antusiasme besar dari para pendengar. Secara musikal, “Sinarengan” tetap membawa identitas khas Denny Caknan, yakni penggunaan bahasa Jawa yang lembut dengan sentuhan pop dan irama koplo yang tidak terlalu dominan, sehingga memberikan nuansa romantis yang hangat. Kehadiran Bella Bonita dalam lagu ini juga menambah dimensi emosional yang kuat, karena chemistry mereka sebagai pasangan terasa sangat natural dan tulus. Lalu, sebenarnya apasih makna dari lagu ini? Yuk, kita bedah bersama.

Membedah lirik lagu ‘Sinarengan’

Bait 1

Kedaden tenan (Sesuatu yang benar terjadi/terwujud)
Nduwe omah sing ra berisik (Memiliki rumah yang tidak berisik)
Kebak katresnan (Penuh dengan cinta)
Kebak kasih lan sayang (Penuh dengan kasih sayang dan perhatian)

Pada bait pertama ini mengungkapkan gambaran rumah yang tenang dan penuh cinta. Frasa “Nduwe omah sing ra berisik” (memiliki rumah yang tidak berisik) ini tidak hanya berbicara tentang rumah fisik, tetapi lebih kepada rumah batin yang sudah dibangun bersama. Frasa tersebut juga mencerminkan hubungan yang bebas dari pertengkaran atau masalah yang merusak kedamaian. Pada lirik tersebut, Denny dan Bella seolah ingin menekankan bahwa mereka telah menciptakan ruang bersama yang bebas dari hal-hal yang mengganggu dengan cinta bisa tumbuh tanpa terhalang oleh suara-suara luar.

Adapun lirik selanjutnya “Kebak katresnan” (penuh dengan cinta) dan “Kebak kasih lan sayang” (penuh dengan kasih dan sayang), memberi penekanan pada suatu hubungan yang diisi dengan rasa saling mendukung dan menguatkan sehingga semakin memberi penggambaran bahwa cinta itu seharusnya ada dalam suatu hubungan. Pada bait ini, Denny menekankan bahwa rumah batin yang “Kebak katresnan” dan “Kebak kasih lan sayang” adalah gambaran dari sebuah ikatan emosional yang sehat dan kuat sehingga menjadi tempat perlindungan dan ketenangan. Hal ini tidak hanya memberi rasa aman, tetapi juga memberi kekuatan untuk tumbuh bersama, mendewasa, dan saling memberi dukungan dalam setiap langkah kehidupan yang mereka jalani. Lirik pada bait ini mengajak pendengar untuk merenung dan menghargai esensi hubungan yang tidak terburu-buru atau penuh gejolak, tetapi lebih mengutamakan ketenangan, kedamaian, dan saling memahami (yang menjadi fondasi dari cinta sejati).

Bait 2

Ngobrol raono entek e ning tengah wengi (Mengobrol tanpa henti di tengah malam)
Tetes embun sing ngancani (Tetes embun yang menemani)
Aku sampean koyo lagi kasmaran (Aku dan kamu seperti sedang jatuh cinta)
Tenan (Sungguh)
Mlaku teko tuwo bebarengan (Berjalan menuju tua bersama-sama)

Pada bait tersebut menggambarkan sebuah percakapan yang tak berujung di tengah keheningan malam. Hal ini bukan hanya sekadar berbincang, melainkan pertemuan dua jiwa yang saling membuka diri (komunikasi yang mengalir tanpa batas, tanpa jeda). Malam menjadi saksi bisu keintiman batin yang tidak bisa diungkap hanya dengan kata-kata. Kata “embun” pada lirik “Tetes embun sing ngancani” bukan hanya sebagai gambaran suasana malam, tetapi sebagai metafora dari kesejukan dan kelembutan. Embun menggambarkan hubungan mereka yang jernih, ringan, tetapi menenangkan.

Selanjutnya, kata “kasmaran” pada lirik “Aku sampean koyo lagi kasmaran” tidak hanya sebagai penanda cinta yang membara, tetapi juga keterpesonaan yang terus tumbuh. Baris penutup dari bait ini “mlaku teko tuwo bebarengan” menunjukkan tawaran janji yang tidak hanya menjadi janji manis di ujung bibir, tetapi komitmen untuk berjalan bersama hingga tua. Denny menekankan bahwa cinta yang tidak tergesa, tidak terburu-buru mengejar klimaks, melainkan cinta yang sabar, tumbuh seiring waktu, dan bersedia menua dalam kebersamaan.

Bait 3–4

Matursuwun wis ngancani aku selama iki (Terima kasih sudah menemani aku selama ini)
Wis iso saling nguat-nguatke (Sudah bisa saling menguatkan)
Gudo wong lio sing ra seneng hubungan iki berlanjut (Meski ada orang lain yang tidak suka hubungan ini berlanjut)
Tatak mlakune (Langkahnya mantap/tegas)
Ning jobo banter tenan angine (Di luar anginnya kencang sekali)
Soyo dewasa ra ngenteni badai terang (Semakin dewasa tidak menunggu badai reda dulu)
Nanging sinau nari ning tengah udan (Namun belajar menari di tengah hujan)

Ucapan terima kasih menjadi bagian dari lirik sebagai bentuk syukur paling tulus dari seseorang yang tahu, bahwa ditemani dalam diam pun adalah sebuah anugerah. Cinta dalam bait ini telah menjelma menjadi ruang yang saling menguatkan. Hubungan mereka bukanlah kisah tanpa ujian, tapi cerita tentang dua jiwa yang saling menopang saat dunia mencoba menggoyang. Pada lirik “tatak mlakune” menjadi bukti bahwa langkah mereka tak lagi ragu. Meskipun dunia luar tidak selalu ramah dan ditandai dengan angin kehidupan bertiup kencang, mencoba mematahkan dan mendinginkan semangat. Tapi mereka tetap yakin dengan langkah mereka bersama.

Pada lirik “Soyo dewasa ra ngenteni badai terang” juga menggambarkan kedewasaan sebagai keberanian untuk tetap hidup meski langit gelap. Denny memberi tahu melalui liriknya bahwa mereka tidak sedang mengulur waktu berharap dunia menjadi lebih lunak, tetapi lebih memilih berjalan meski di atas jalan yang basah dan licin. Denny juga menekankan bahwa menari di tengah hujan pada “Nanging sinau nari ning tengah udan” bukan berarti mengabaikan duka, tetapi menjadikannya bagian dari tarian bahagia, bangkit dan terus bergerak bersama

Bait 5

Bait ini dinyanyikan oleh Denny dengan menggunakan bahasa Jawa halus seolah ingin menyampaikan rasa hormat, kasih yang tulus, dan sikap ngajeni (menghargai) istrinya, Bella. Menggenggam tangan, dalam bait ini, tak hanya simbol fisik dari kedekatan. Namun, menjadi tanda kebersamaan yang saling menopang saat langkah mulai gemetar. Frasa “bakoh bebrayan” menegaskan bahwa relasi yang kuat dibangun dari kesediaan untuk tetap saling menggenggam bahkan ketika yang digenggam mulai basah oleh hujan atau goyah oleh angin.

Saat kesulitan (rubedo) menghadang, mereka tidak melarikan diri, tidak saling menyalahkan. Sebaliknya, mereka memilih manekung (hening dalam batin, menundukkan ego, menyelami diri sendiri). Dalam budaya Jawa, manekung adalah bentuk keheningan spiritual, sebuah cara untuk merenung, menyatukan kehendak diri dengan semesta. Di sini, makna cinta sudah melampaui keromantisan dan menjadi laku batin, sebuah bentuk ibadah dalam kebersamaan.

Bait 6

Mugi slawase ngancani (Semoga selamanya menemani)
Setyo tulus ku anggon dampingi mu (Kesetiaanku yang tulus untuk mendampingimu)
Bedo rogo gandeng tresno (Berbeda raga, tapi digandeng oleh cinta)

Bait penutup ini terasa seperti sebuah doa atau permohonan yang penuh harap tapi tetap disampaikan dengan tenang dan anggun. Frasa “Mugi slawase ngancani” bukan sekadar harapan akan kebersamaan, melainkan cerminan dari cinta yang tidak ingin memaksa, hanya berharap dengan ikhlas agar perjalanan ini tetap sejalan.

Ungkapan “Setyo tulus ku anggon dampingi mu” menegaskan bahwa kehadiran yang ditawarkan adalah kehadiran yang penuh ketulusan dan kesetiaan, yang sering kali tak terlihat namun menjadi dasar dari cinta yang dewasa. Ini bukan tentang janji kemewahan, tetapi pendampingan yang utuh dan penuh hati. Kemudian, pada baris “Bedo rogo gandeng

 tresno”, terdapat makna mendalam tentang perpisahan fisik, baik oleh jarak atau waktu, tidak menghalangi cinta yang sudah mengikat dua jiwa. Cinta yang sesungguhnya melampaui batas tubuh, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar keberadaan fisik.

Secara keseluruhan, lagu “Sinarengan” karya Denny Caknan ini menyajikan sebuah refleksi mendalam tentang cinta yang tidak hanya berfokus pada romantisme, tetapi pada ketulusan, kesetiaan, dan kebersamaan yang sejati. Lagu ini mengajarkan tentang pentingnya ketulusan dan kesetiaan dalam menjalani hubungan, serta mengingatkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang bisa tumbuh dan bertahan dalam segala keadaan. [T]

Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Penjajah” Baru Itu Bernama Lagu-Lagu Jawa
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi
Tags: Denny Caknanlagu pop jawamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekali Lagi Tentang Revisi Sejarah Nasional yang Perlu Kita Kritisi

Next Post

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Vivit Arista Dewi

Vivit Arista Dewi

Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Udayana yang memiliki minat besar terhadap sejarah. Lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur, ia gemar melakukan perjalanan (travelling) ke berbagai tempat bersejarah untuk mengeksplorasi kekayaan budaya dan cerita masa lampau. IG: vivitarsta

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Pecalang Perempuan atau Pecalang Istri: Antara Atribut dan Atensi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co