3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Lagi Tentang Revisi Sejarah Nasional yang Perlu Kita Kritisi

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
June 19, 2025
in Esai
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa

Mansurni Abadi

ALKISAH, di sebuah negeri dengan keragaman ormas yang berkombo dengan bonus 194 juta penduduk di garis kemiskinan—yang tafsirannya sudah disesuaikan oleh Badan Statistik Nasional agar selaras dengan cita rasa lokal—persoalan sejarah ternyata mulai kembali dilirik sebagai keutamaan publik.

Adalah Menteri Kebudayaaan yang langsung membuat gebrakan dengan mengusulkan perubahan sejarah agar lebih Indonesiasentris dan sesuai dengan fakta. Sekilas terdengar seperti upaya dekolonisasi sejarah, yaitu pembebasan sejarah dari perspektif penjajah, sejalan dengan sikap presiden yang sedikit-sedikit teriak anti-asing sekaligus juga  upaya demistifikasi sejarah, yaitu  membersihkan sejarah dari pemahaman yang keliru agar bisa dipahami lebih rasional dan objektif. Bukan sekadar mistika apalagi cocoklogi, seperti halnya menganggap Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman.

Namun di balik semua itu, bak alegori berlayar di antara dua karang ala Mohammad Hatta—wakil presiden pertama yang menurut tafsir Ade Armando bukanlah wapres terbaik sepanjang masa sebagaimana Gibran Rakabuming Raka, persoalan pelurusan sejarah yang  idealnya netral, rasional, dan objektif, tetap  berlayar di antara dua karang. Di satu sisi, revisi sejarah bisa jadi proyek buang-buang anggaran yang berakhir pada seremoni penuh jargon efisiensi, sementara di sisi lain dapat menjadi medium penguasa untuk membungkus mistisisme versi baru sambil menutupi fakta-fakta sejarah  yang dapat  menggugat kekuasaan termasuk pada persoalan dosa masa lalu.

Mungkin jika revisi sejarah nasional dilakukan pada dekade 90-an atau pada zaman di saat internet belum massif, polemik dari proyek bernilai 9 milyar tadi tidak akan muncul, begitulah kata seorang teman dari Jember Book Party pada momentum diskusi yang diadakan untuk membahas persoalan ini sehari setelah Idul Adha, sebagaimana kolestrol yang masih menyala-nyala, begitu pula kiranya permasalahan revisi sejarah nasional yang masih hangat untuk terus kita bicarakan kalau perlu protes  agar masyarakat tidak terjebak pada kondisi nrimo ing pandum terhadap output dari versi sejarah yang diluruskan itu.

Sepenting apa  sejarah itu

Membahas sejarah artinya membahas masa lalu, baik yang tertulis maupun lisan, baik yang pahit maupun manis. sejarah tidak bisa lepas dari seluk beluk  masa lalu, melupakan sejarah merupakan kemustahilan bahkan tidak diperbolehkan. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau disingkat Jasmerah, begitulah nasehat  dari presiden Sukarno, yang juga bapak dari seorang ibu bangsa yang sempat menyuruh rakyatnya  agar lebih banyak makan rebusan di kala kelangkaan minyak goreng terjadi, nasehat yang baik bagi kesehatan meskipun terkesan naif di tengah budaya masyarakat yang masih membutuhkan gorengan sebagai panganan.

Meskipun dalam konteks pendidikan, menurut Rebecca Cairns (2023) dalam essaynya ‘Learning from history is something that is important for the future’:Why Australian students think history matters” subjek sejarah banyak dianggap oleh generasi muda tidak relevan bagi karir dan masa depan mereka namun tidak bagi Roger Smith (2007) yang dalam essainya “Why history matters”  justru menegaskan bahwasanya pengetahuan sejarah merupakan bagian yang melekat dari kemampuan manusia untuk berefleksi atau berkesadaran di tengah kompleksitas aktivitas dunia modern.

Menurut Rogert Smith, menjadi manusia sendiri artinya menjadi makhluk sejarah sesuai dengan istilah latin tentang  Homo historicus yang memiliki tiga ciri, (1) hidup dalam dimensi sejarah, (2) memiliki kesadaran akan masa lalu, dan (3) membentuk identitas serta masa depannya melalui pemaknaan sejarah.

Berangkat sebagai makhluk homo historicus tadi setidaknya ada empat praksis yang menjadikan sejarah penting di level mikro, mezzo, dan makro, yang pertama, sejarah memberikan konteks bagi peristiwa masa kini. Dengan mempelajari tindakan, keputusan, dan konsekuensi di masa lalu, kita dapat lebih memahami kompleksitas dunia saat ini;  Yang kedua,  sejarah berfungsi sebagai alat untuk  menganalisis kesalahan-kesalahan masa lalu, dari situ kita dapat mencegah terulangnya kesalahan serupa di masa depan, baik dalam pemerintahan, gerakan sosial, maupun keputusan pribadi; yang ketiga, sejarah membentuk identitas budaya dan ingatan kolektif, artinya sejarah  memengaruhi cara suatu komunitas memandang dirinya sendiri dan posisinya di dunia, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan keberlanjutan; dan yang keempat, sejarah menjadi sumber inspirasi, sudah menjadi hal yang lumrah sepak terjang dari tokoh serta gerakan historis terdahulu selalu   menjadi sumber inspirasi bagi aksi masa kini sekaligus  juga menjadi peringatan akan potensi kesalahan manusia dan bahaya dari kekuasaan yang tidak terkendali.     

Pertautan sejarah dan politik serta peran sejarahrawan

Sejarah tidaklah netral, yang netral itu kalau bukan band yang digawangi oleh om Eno, Bagus, dan Coki dengan tembang “walah”nya bisa juga merujuk pada mesin kendaraan bermotor yang berada dalam  keadaan di mana transmisi tidak terhubung dengan roda, sehingga tidak ada tenaga yang disalurkan dari mesin ke roda.

Dalam lintasan peradaban manusia dari sejak Homo sapien sampailah ke Homo  Deus, jika berdasarkan kronologinya dari Yuval Noah Harari, sejarah memang selalu berpihak terutama pada kekuatan politik yang mengendalikan pada masa terjadinya sejarah itu. Peran cendekia sejarah seringkali dikendalikan oleh kekuatan politik meskipun ada yang berposisi netral dan melawan tapi karya mereka biasanya tidak menjadi rujukan utama dalam dunia pendidikan umum seperti buku-buku karya mendiang Anthony Reid dan John Rossa misalnya meskipun bermuatan informasi yang lengkap tentang Aceh dan peristiwa 1965, tentu saja buku-buku mereka tidak layak dibaca apalagi di bawa ke ranah pendidikan dari sudut pandang penguasa karena secara gambling memperlihat sisi penindasan dari penguasa.

Hames Swoboda dan Jan Marinus, dalam buku mereka yang terbit pada 2007, berjudul “Politics of the Past: The Use and Abuse of History” yang berisi sekumpulan esai bernas terkait manipulasi politik masa lalu terhadap sejarah, menuliskan jika sebagian besar sejarawan profesional sepakat bahwa penafsiran objektif terhadap fakta sejarah tidaklah mungkin.

Fakta, sebagai fakta saja, tidak memiliki makna apa-apa. Sejarawanlah yang memilih fakta-fakta tersebut dan membentuk kerangka yang memberi makna padanya dan ada campur tangan penguasa didalamnya artinya ketika mereka menatap masa lalu dari perspektif mereka sendiri, yang tentu berbeda dari para pendahulu maupun penerus mereka. Sejarawan bukan pihak yang netral; mereka dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya masyarakat tempat mereka hidup termasuk juga masalah kekuasaan .

 Apa yang berlaku bagi sejarawan juga berlaku bagi politisi. Meski para sejarawan menggunakan perangkat ilmiah dalam menelaah masa lalu dan tetap berupaya bersikap seobjektif mungkin, namun objektivitas juga tidak bisa dicapai hanya dengan menerima begitu saja gambaran masa lalu yang dibumbui dan diagung-agungkan apalagi diarahkan menurut cita rasa penguasa.

Para politisi telah cukup sering diingatkan oleh para sejarawan untuk berhati-hati dalam mengklaim objektivitas sejarah begitupun sebaliknya. Peringatan ini membuka perdebatan lain yang pernah dirumuskan oleh Richard Evans, yang mengatakan “Dalam pengertian ini, persoalan bagaimana sejarawan mendekati perolehan pengetahuan tentang masa lalu, dan apakah mereka bisa sepenuhnya berhasil dalam usaha ini, melambangkan persoalan yang jauh lebih besar—yakni sejauh mana masyarakat dapat benar-benar mencapai kepastian objektif mengenai isu-isu besar zaman kita yang dapat dijadikan dasar andal untuk mengambil keputusan-keputusan penting bagi masa depan kita di abad ke-21.

Empat skema manipulasi sejarah yang mungkin terjadi dalam revisi

Melalui buku berjudul Menyangah Belenggu: Kerancuan Pikiran Masa Kini, intelektual singapura yang juga pengajar di jurusan kajian budaya Melayu di Universitas Nasional Singapura, Dr. Azhar Ibrahim, telah  mengkonsepkan empat skema manipulasi yang bisa terjadi pada sejarah yang layak kita jadikan pertimbangan ketika membaca maupun membahas lebih dalam perihal revisi sejarah nasional.

Skema yang pertama adalah pemandulan sejarah, atau bahasa KDM-nya mengvasektomi sejarah artinya di sini sejarah dijauhkan dari esensi (hal yang pokok atau dasarnya) dan relevansi (kepentingan praktis atau kegunaan suatu hal dalam waktu atau situasi tertentu), berdampak serius dalam membentuk kesadaran palsu (false consciousness) dalam masyarakat Indonesia. Dari sudut pandang filsafat kritis, khususnya pendekatan Frankfurt School, sejarah seharusnya menjadi medium emansipatoris untuk memahami struktur kekuasaan, relasi kelas, dan perlawanan rakyat. Namun ketika sejarah direduksi menjadi serangkaian mitos nasionalistik atau dipelintir demi kepentingan penguasa, esensi sejarah sebagai pencarian kebenaran dan keadilan pun dirusak. Relevansi sejarah dalam menyuarakan pengalaman mereka yang tertindas—seperti korban kekerasan 1965, korban kekerasan ham berat era orde baru, atau gerakan wanita—menjadi hilang, digantikan oleh glorifikasi narasi dominan. Akibatnya, sejarah tidak lagi membebaskan, melainkan menjadi instrumen reproduksi ideologi penguasa, menjauhkan rakyat dari refleksi kritis atas masa lalu dan menyempitkan kemungkinan perubahan sosial yang bermakna di masa depan.

Skema yang kedua adalah pendustaan sejarah, menurut Dr Azhar Ibrahim, yang dimaksud dengan pendustaan sejarah itu adalah upaya untuk memutarbalikkan fakta dan tafsir sejarah. Pendustaan sejarah dilakukan oleh kelas penguasa dan digerakkan oleh ideologi tertentu. Diksi resmi dan demi persatuan bangsa akan dipakai ketika sejarah berada pada skema pendustaan. Melakukan tafsir tunggal terhadap sejarah sangat penting agar pemahaman sejarah oleh rakyat  menjadi satu kesatuan dengan kelas penguasa yang tidak memiliki cela. 

Skema yang ketiga adalah pensenyapan sejarah yang berarti ada upaya untuk memingirkan sejaran mereka yang terpinggirkan atau kalah, menurut Dr. Azhar Ibrahim dalam konteks negara yang pluralistik misalnya sejarah kaum pribumi yang terpinggir dalam  pembangunan, misalnya  tidak bernilai sejarah yang perlu dikaji. Dan skema yang keempat adalah pembuataan sejarah yaitu menjauhkan kritisme dalam memahami sejarah, disinilah puncak dari manipulasi sejarah yang menjadi sekedar dogma yang diterima tanpa tanya apalagi bantahan.

Sejarah yang dibutakan harus diterima dengan tone yang positif  sehingga tidak menimbulkan pencarian ataupuan pembahasan terhadap kesalahan-kesalahan dimasa lalu apalagi menjadikan kesalahan-kesalahan di masa lalu sebagai pemantik untuk mencetuskan kesadaran moral-religius, intelektual, dan estetik untuk masa depan.

Tentang Menulis Ulang Ingatan  dan Pengarusutamaan Sejarah sebagai Tindakan Pembebasan yang melampuai sekedar highlight

Pengarusutamaan sejarah di tengah keterpinggiran epistemik dunia modern yang kian terobsesi pada kecepatan, efisiensi, dan teknologi, menuntut upaya radikal untuk mereposisi sejarah bukan sekadar sebagai mata pelajaran atau ingatan masa lalu, tetapi sebagai alat pembebasan kesadaran. Sejarah harus diarusutamakan dengan cara membongkar struktur pengetahuan dominan yang menjadikan masa lalu sebagai arsip beku, dan sebaliknya, menempatkannya sebagai ruang refleksi kritis yang hidup terhadap ketimpangan masa kini. Dalam konteks ini, sejarah perlu dibaca secara transformatif—tidak netral, tetapi berpihak pada mereka yang selama ini disenyapkan dari narasi besar: kaum tani, buruh, perempuan, dan komunitas adat. Pengarusutamaan sejarah bukan hanya soal kurikulum pendidikan, tetapi soal keberanian politis untuk menjadikan sejarah sebagai alat pembongkar mitos kekuasaan dan penyusun imajinasi masa depan yang lebih adil.

 Dari sudut pandang Paulo Freire dan teori pendidikan pembebasannya, pengarusutamaan sejarah harus dimaknai sebagai proses conscientização—kesadaran kritis yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan yang dipelihara oleh sistem pengetahuan yang menindas. Dalam dunia modern yang cenderung melahirkan manusia-manusia teknokratis yang ahistoris, sejarah perlu dihadirkan sebagai ruang dialogis, bukan sebagai narasi satu arah yang dogmatis. Sejarah yang diajarkan bukan untuk dihafal, tetapi untuk dipersoalkan; bukan untuk mengagungkan tokoh-tokoh besar, tetapi untuk membuka ruang bagi rakyat kecil agar dapat menafsirkan ulang realitas mereka sendiri. Dalam kerangka Freirean, sejarah menjadi medan praksis—tempat di mana refleksi dan aksi bertemu untuk menciptakan transformasi sosial. Maka, mengarusutamakan sejarah bukan sekadar menghadirkannya kembali dalam kelas-kelas formal, tetapi menjadikannya alat sadar diri kolektif agar masyarakat dapat menantang struktur ketidakadilan yang terus direproduksi oleh sistem sosial yang tidak adil.

Akhirul kalam mari sambut revisi sejarah nasional dengan tetap objektif, kritis, dan tidak partisan sembari berteriak “Hidup Jokowi” [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Merayakan Moderasi di Tengah Dinamika Intoleransi
Bersama dalam Fitri dan Nyepi: Romansa Toleransi di Tengah Problematika Bangsa
Langkah Sederhana Mengubah Kekotoran Politik
Tags: sejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa

Next Post

‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

‘SINARENGAN’: Refleksi Rasa pada Sulaman Tembang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co