24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
June 10, 2025
in Panggung
Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Rizki Pratama

DI acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” itu, Rizki Pratama tampaknya energik ketika tampil sebagai opening di Café Halaman Belakang by Rumah Momo pada Minggu, 08 Juni 2025 malam.

Acara itu digarap oleh Reimspace untuk memperkenalkan Akalpati—sebuah grup band asal Tabanan—kepada anak-anak muda di Singaraja.

Tour  itu sudah berlangsung sejak tanggal 6 di Kedai Kopi Dekakiang malam pertama, dan tanggal 7 di Danke Kafe malam kedua. Dan di Café Halaman Belakang by Rumah Momo itu merupakan malam ketiga atau malam terakhir di Singaraja.

Ada sejumlah penampil sebagai band opening  di malam ketiga itu, seperti Eternals, Sadddha, dan Rizki Pratama. Mereka masih sama membawakan lagu ciptaannya masing-masing.

Rizki Pratama, ia mengikuti sedari awal-sampai akhir acara tour itu.

Rizki adalah seorang penyanyi solois muda yang mulai berkarir di dunia musik kembali, setelah sekian tahun sibuk bekerja di kapal pesiar.

Di malam itu, ia tampil bersama Prey (bass), Samuel (gitaris), Yabes (drummer), dan teman featuring Rista (vokalist).

Selain membawakan dua lagu cover dari Hindia “Rumah ke Rumah” dan “Berdansalah Karir Ini Tak Ada Artinya”.

Sebagai pengenalannya, ia juga suguhkan album terbarunya tahun 2025 ini bertajuk “Perubahan Diri” setelah sekian tahun tidak manggung.

Album mini itu memuat empat lagu yang rilis di bulan Mei 2025. Antara lain, “Lepas”, “Hidupku Ya Hidupku”, “Damai” dan “Komedi Hati”.

Setiap lagu dari mini album miliknya, ditulis Rizki di sela kerjanya di Kapal Pesiar Disney—bagian dari Disney Cruise Line ketika sedang berlayar.

Di sela tamu-tamu mereka (Disney) ketika di jam istirahat, siang hari, sedang beraktifitas ikut acara tertentu atau berada di kamar untuk istirahat.

“Di sanalah kesempatanku untuk menulis lagu,” kata Rizki Pratama saat menunggu giliran tampil di Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo.

Rasa lelah selepas bekerja lalu bersandar di waktu istirahat, semua keriuhan—kerja seperti tidak pernah selesai di kepala Rizki, terus bergulir seakan mereka konser tersendiri di kepalanya. Lalu ia menangkapnya jadi tulisan.

Di lagu berjudul “Lepas” itu, mempersentasikan dirinya tentang sebuah kebebasan berekspresi yang ia butuhkan ketika suntuk oleh sistem kerja.

Ketika ia bawakan lagu itu di Kafe Halaman Belakang, energi dirinya tentang melepas beban pikir atau rasa lelah tubuh, seakan terhempaskan ketika itu. Ia membawakannya begitu ekspresif.

Kemudian tidak lama setelah lagu itu lahir, beberapa teman lamanya menghubungi Rizki Pratama menjejalkan sesuatu tentang hidup harus begini, harus begitu, jika sudah mendapat pekerjaan enak di sebuah kapal ternama. Itu menambah kemumetan pikirannya.

Sehingga di waktu mepet—di waktu jam istirahat, dan bersantai, ia kembali mengolah ide dari keadaan menyebalkan baginya itu, dituangkannya dalam lagunya yang berjudul “Hidupku ya Hidupku”.

Sementara untuk lagu ketiga berjudul “Keresahanku”, adalah tekanan dari dunia sekitarnya, ketika baru tahu ia sudah bekerja di kapal pesiar.

“Mereka pikir aku bisa beli segalanya itu dengan instan, mereka lupa, aku kerja mati-matian di dalam kapal!” cerita Rizki tentang awal mula lagunya tercipta.

Dan untuk menenangkan emosional berkecamuk marah-kesal pada mereka yang rewel mencibir, atau memuji tanpa tahu dari apa yang dipandang enak, adalah berawal dari proses kerja keras yang mengerikan.

“Karena mereka (barangkali) lupa soal itu, ya, aku mengingatkan diriku sendiri akhirnya, yang sudah nyakitin diri sendiri untuk dimaafkan. Dari perasaan seperti itulah lagu ketiga berjudul “Damai” tercipta,” katanya.

Sedang lagu keempat “Komedi Hati”, lagu itu dicomot dari album miliknya yang sempat hilang ketika konser di Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha tahun 2022.

Kembali ke Darat untuk Bermusik, Setelah di Laut Pergi Berlayar

Album “Perubahan Diri” digarap oleh Rizki Pratama ketika ia sedang bekerja di kapal, namun belum sempat dirampungkan. Kemudian betul-betul dirampungkannya setelah insiden tak terduga.

Awal januari 2025, ia mengalami kejepit pintu di bagian tangannya sewaktu bekerja, dan sehari setelah itu ia langsung pulang ke Bali untuk istirahat total.

Di saat masa penyembuhan itulah, ia mulai merampungkan setiap lagu yang digarapnya setengah-setengah sewaktu di kapal.

Rizki Pratama, atau bernama lengkap Rizki Pratama Silalahi, ia lahir di Singaraja pada 3 Juli 2001.

Dan terkait manggung, terkait menyanyi, mungkin wajahnya agak asing dikenali sebagai wajah akamsi (anak kampung sini) yang berkecimpung di dunia musik.

Rizki Pratama

Tapi, tentu, Rizki Pratama bukan anak kemarin sore soal bermusik. Sudah lama ia berkecimpung di dunia musik. Tapi karena ia bekerja di kapal pesiar pada tahun 2022, sehingga ia lama tidak muncul ke permukaan.

Di tahun 2015, misalnya, ketika dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), kelas delapan, ia pernah membuat lagu pertamanya berjudul “Masih Mencintai”, yang direkam secara manual menggunakan handphone, kemudian di publish di YouTube.

Melihat dirinya menciptakan satu lagu—adalah sebuah keberhasilan, kebanggaan tersendiri. Ia akhirnya ikut serta dengan teman-temannya pada lomba musikalisasi puisi, atau untuk manggung di beberapa tempat raya sederhana. Yang membuat pengalaman bermusiknya jadi bertambah.

Setelah lulus SMP, dan melanjutkan sekolah di SMA 1 Singaraja di tahun 2017, ia bergaul dengan beberapa temannya yang suka musik dan membuat grup band.

“Di kelas 10, aku gabung ke ekstrakurikuler musik, di sana aku dapet band pertamaku namanya Extosic (Extraordinary Music) dengan format band kolaborasi dengan gamelan Bali, di situ aku sebagai basist dan backing vocal,” kata Rizki Pratama.

Tak dinyana, sebagai sebuah band, Extosic yang terdiri dari Rama Sanjaya (drummer), Indah Lestari (vokalis), Rizki Pratama (basist), Dany Indrawan (gitaris), Lanang Mahardika (gangsa), dan Angga Purnama (gangsa), di tahun itu perkembangannya cukup pesat, khususnya di musik kolaborasi—di setiap event lomba band tingkat SMA se-Bali, ataupun tingkat umum di Bali.

Kemudian di tahun 2018, ketika mereka menginjak ke kelas 11, mereka dihantam titik jenuh di musik dengan format demikian; tradisional dan modern.

Karena mereka merasa tidak puas jika hanya bisa bermain di tangga nada pentatonik, akhirnya Rizki dan teman-temannya itu, memutuskan mengubah format dan konsep. Ada beberapa personil keluar dan masuk, sehingga nama band mereka berubah menjadi Dark Light bergenre rock.

“Di Dark Light aku masih menjadi basist sekaligus backing vocal, sesuai dengan namanya, band ini beraliran alternatif rock, yang menggambarkan kita pada masa itu.” kata Rizki Pratama.

Sementara ketika duduk di kelas 12 atau di akhir tahun 2018, pemerintah kota Singaraja menghubungi pihak sekolah dan meminta Rizki dan teman-temannya untuk menjadi Duta Kabupaten Buleleng di PKB (Pesta Kesenian Bali).

Lantas band Extosic—yang pernah berubah nama jadi jadi Dark Light itu kembali dikumpulkan, dan kembali berubah nama menjadi Gita Mahardika.

Ketika itu, memang Rizki masih berkutat sebagai seorang basist sekaligus backing vocal. Namun setelah acara PKB, ketika ia ada inisiden patah cinta, keinginan untuk menulis lagu seperti di masa SMP silam, muncul kembali.

Sejak itulah ia mulai membeli alat recording pertamanya, dan mulai belajar dapur rekaman serta memproduksi musiknya sendiri. Mula-mula lagu orang lain di-cover, kemudian ia menciptakan lagu sendiri, diproduksi sendiri.

Rizki Pratama dan beberapa temannya sedang membawakan album “Perubahan Diri” di Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo | Foto Panitia

Antara lain lagu-lagu telah ia buat waktu itu sebagai solois, “Cinta Khayalan”, “Memeluk Bulan”, “Cinta”, dan “Kamu”.

“Meskipun ketika itu aku juga masih bagian dari Band Dark Light, tapi project soloku jalan, dan Dark Light juga tetep jalan.” kata Rizki Pratama.

Tak disangka pun, ternyata lagu-lagu dalam project solonya itu, di-notice oleh teman-temannya di SMA dan banyak yang suka.

Tentu. Semangat untuk menulis lagu, akhirnya semakin menggebu dan makin mencintai musik sebagai bagian dari hidupnya.

Setelah beberapa waktu bersama Dark Light, yang mengalami perubahan nama menjadi N’Cuts dengan format ada penyanyi wanita di dalamnya.

N’Cuts Band menyanyikan lagu-lagu top 40 Indonesia, dan karena band ini lebih menjual, akhirnya mereka, mendapat panggung panggung besar seperti Buleleng Festival, Lovina Festival 4, dan Twinlake Festival.

Tapi sayang tidak bertahan lama, karena setelah mereka tamat SMA di tahun 2019, band ini pasif. “Aku lanjut ke SPB (Sekolah Perhotelan Bali) International. Karena soal jarak, aku jadi jarang ikut main bareng Dark Light, dan N’Cuts, pun para personilnya sudah pada sibuk masing-masing. Band itu jadi pasif,” kata Rizki Pratama.

Sehingga ketika senggang waktu di perkuluahan, ia mempelajari seni recording atau rekaman secara otodidak.

Dan setelah 1 semester di kampus, dan program semester 2, ia mengikuti program magang di Malaysia, ia membawa alat-alat rekamannya ke sana.

Namun karena sibuk magang, ia blum punya waktu untuk fokus ke rekamanya. Sampai akhirnya covid19 datang dan ia terjebak di Malaysia kurang lebih 2 bulan mendekap di aprtemen.

“Saat itu aku kembali punya banyak waktu untuk menulis lagu-lagu, sehingga aku mulai sedikit merekam-rekam demo lagu tulisanku. Nah, setelah balik dari Malaysia atau pulang ke Indonesia, meskipun itu masa covid di tahun 2020, aku memulai project album, jadi lagu-lagu dan demo-demo yang aku buat di Malaysia,”

Ia ingin menjadikannya sebuah album, namun karena keterbatasan pengetahuannya tentang recordingnya masih minim, ada 12 lagu miliknya—sewaktu digarap di Malaysia itu, baru rampung di tahun 2021.

“Di tahun 2021 itu juga pertama kali nama saya, Rizki Pratama, sebagai solois dikumandangkan di sebuah event RIMAJI by REIM,” kata Rizki Pratama, terkait Reimspace yang memiliki hubungan kuat dengan karirnya.

Pada tour Akalpati ini, ia merasakan dirinya kembali hadir. Merasakan kembali bagaimana udara darat, terhirup di antara banyak penonton malam itu.

“Setelah ini, saya diajak manggung di SMPN 1 Sukasada pada tanggal 14 bulan ini, sebagai guestar,” ucap Rizki sambil mengulum senyum.

Pada penampilan berikut dirinya, ia akan membawakan mini album “Perubahan Diri” dalam versi akustik. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
ft. moreNarra di Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana: “Ya, Biarkan”
Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana
“ASMARALOKA”, Album Launch Showcase Arkana di Berutz Bar and Resto, Singaraja
Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  
Tags: book cafemusikSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra

Next Post

Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co