24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Selalu Bersama Pancasila, Benarkah Demikian?

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
June 3, 2025
in Esai
Ramadhan Sepanjang Masa

Suradi

MENGENANG peristiwa merupakan hal yang terpuji, tentu diniati mengadakan perhitungan apa  yang  telah dicapai selama masa berlalu  atau tepatnya 80 tahun yang lalu (1-06-1945- 1-06-2025). Hidup oleh siapa, saat mana, dan di mana saja pun harus diterima sesuai kodrat Ilahi, selama mengalami perubahan. Justru adanya perubahan itulah, manusia diajak menempa diri mampu menerima dan menghadapi tantangan.

Hidup adalah tantangan. Sebutlah pernah melakukan kesalahan, disesali! Menyesal terpuji, berbuat salah namun enggan bertobat dan bahkan tetap melanjutkan kesalahan, akibatnya cobaan akan ditimpakan Tuhan; sebaliknya rahmat dan berkat ditahan-Nya. Itulah mungkin cermin kehidupan umat dan bangsa saat ini.

Berebut melakukan perubahan, mengajak pejabat negara, pejabat publik, politisi sadar akan kondrat Ilahi, untuk itulah peringatan Hari Lahirnya Pancasila  memasuki usia ke -80 tahun, sekaligus mengadakan perhitungan sejauh mana negara  yang berasaskan Pancasila sebagai ideologi  tunggal keberhasilannya dicapai, baik esensniya maupun urgensinya. Sebaliknya, jelas ada kegagalan, tanpa mencari sebab terjadi yang demikian.

Jangan ragu bersikap, jujurlah mengakui apa adanya, jangan ragu bersikap para pejabat negara apa adanya, jangan berpura-pura dan membohongi rakyat dan menutupi diri, berhasil disyukuri, gagal istighfar, jangan sekali-kali menuding penyebabnya pada orang lain. Sebabnya,  adanya negara, karena ada wilayah,  rakyat, dan adanya pemerintahan, sangat terpuji dan kesatria, mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulangi dan istighfar memperbaiki diri.

Pancasila Masa Depan dan Perubahan!

Berikut ini saya mengajak pembaca yang budiman untuk menyimak pesan luhur ini : “ Sungguh Allah, tiadakan mengubah keadaan suatu kaum jika tiada mereka mengubah kedaannya sendiri”. (QS: Ar-Rad 13:11). Siapa pun tidak akan meragukan. Esensi Pancasila adalah landasan filofosi dan konstitusional bagi penyelenggaraan negara di Indomesia, bukan di negara Konoha.

Pancasila mempunyai nilai yang dapat mempersatukan berbagai suku, agama, dan budaya yang ada di Indonesia, bukan di negara Konoha. Juga Pancasila memiliki nilai-nilai luhur, seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadialan. Urgensinya, memberikan dasar bagi stabilitas politik dan sosial, serta mempersatukan bangsa dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal.

Pancasila juga menjadi landasan  pembangunan nasional seperti ekonomi, sosial dan budaya,  serta memperkuat wawasan kebangsaan, di mana anak bangsa memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dan cinta tanah air atau ungkapan yang populer dalam ajaran Islam terutama  di Indoneia adalah Hubbul wathon minal iman. Dan tidak kalah penting dengan memahami Pancasila, bangsa Indonesia dapat menghindari berbagai bentuk ideologi tertentu yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan (mencegah arah kesesatan)

Hadapi kenyaan, tempatkan iman dan taqwa sebagai landasan perjuangan. Harapan kepada anak bangsa pada umumnya, kalau menerima rahmat, jangan lupa bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebaliknya bila negara kita ditimpa musibah seperti korupsi korporasi dan uang negara dirampok oleh pejabat negara, apa pun bentuknya dan wujudnya, jangan lupa mawas diri, bertanya apa penyebab semua  terjadi di negeri ini. Mawas diri itu sekarang dituntut oleh anak bangsa. Ia Maha Adil dalam segala kejadian, “ Dan ingatlah, ketika Tuhanmu memaklumi : akan kuberi kamu karunia lebih banyak lagi. Tapi jika kamu tiada besyukur, sungguh,siksaan-Ku amatlah dahsyat: (QS: Ibrahim 14:7).

Mungkin yang demikian itu terlupakan di waktu  lalu ( Orba  dan Era Reformasi), penyebabnya nikmat dan rahmat ditahan-Nya, dan bukankah kenyataan sekarang ini adalah akibat sikap bangsa demikian? Mari diakui dengan jujur, terjadi di seluruh badan, lembaga, institusi dalam bidang kegiatan masyarakat tak terkecuali Ormas dan pejabat negara serta politisi  lupa bersyukur atas karunia kemerdekaan.

Bukan hal yang tidak pernah diperingatkan. Langsung atau bahkan berulang kali telah ada kejadian, hanya manusianya yang juga lupa memperhatikan. Semoga pikiran penulis tersebut keliru, bangsa Indonesia tidak tergolong demikian, cukup di negara Konoha. Peringatan itu antara lain, “sekiranya penduduk Kota beriman dan bertaqwa,tentulah Kami bukakan baginya pintu rahmat dari langit dan bumi. Tapi mereka mendustakan kebenaran lalu kami siksa mereka karena perbuatan mereka (QS: Al-Araf 96).

Tak seorang pun, sekira ia seorang Pancasilais sejati yang tidak ikut prihatin atas nasib bangsa dan negara sekarang ini. Ancaman bertimpa ancaman, bahaya beruntun bahaya, perpecahan sudah bukan hal yang diragukan. Mari diakui kenyataan sudah diambang pintu. Masalahnya, masih ada orang  dan golongan (pejabat negara)  yang demikian itu kok direpotkan!

Tangan-tangan jahil berhasil menggerogoti semangat persatuan. Apa yang disebut “NKRI Harga Mati”, seolah-olah belum selesai dan memilukan, bahwa sungguh benar apa yang disebut  Bhineka Tunggal Ika tak bermakna bagi sementara pihak. Rasanya kebencian, dendam akibat kekecewaan di masa lalu disebarluaskan. Seakan sebutlah,  secara jujur segala yang dikakukan Era Refomasi perbuatan haram yang harus disingkirkan. Apa benar  demikian sikap seorang Pancasilais? Jelas bukan. Firman Allah SWT “ “Dan janganlah kamu memaafkan kebaikan di antara kamu “ (QS Al Baqarah : 237).  Dan Pesan Rasulullah SAW: “ Ingatlah selalu kebaikan seseorang dan lupakan kesalahan”, ( HR. Tirmidzi).

Kini kesalahan yang diungkapkan, kebaikan sengaja dilupakan. Tidak bolehkah kita memperingakatkan yang bersangkutan? Berbuat demikian itu akhlak setan, sungguh bertentangan dengan watak seorang Pancasilais. Mari jangan ragu, ada pesan kewajiban : “Saling ingat-mengingatkan tentang kebenaran, Dan saling ingat-mengingtkan tentang kesabaran (QS Asl Ashr 103:3).

Sungguh ironis, apa yang menjadi gejala sekarang, luapan ketidakpuasan dibesar-besarkan. Rasa permusuhan antara etnis disulut dan membara di mana-mana. Permusuhan antar sesama iman pernah terjadi dan masih terjadi dan akan masih terjadi. Pertentangan antaragama dan sesama agama belum terhentikan, dan kalau berlama-lama akan menjadi dendam tidak berkesudahan. Pancasila adalah ideologi persatuan, bukan? Dan kita harus sadar, tampillah menyelamatkan bangsa yang lahir dan ada atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Jangan diam, karena diam itu penghianatan; kalau menyampaikan, sampaikanlah dengan kata-kata yang baik dan hikmat. Jangan memaksakan.

Tampillah, bulatkan tekad, bina diri yang pertama menentang segala upaya, sengaja atau bukan, sadar atau tidak, langsung atau berjarak, jelas ada pihak ketiga sebagai provokator, siapakah dia itu? Setan-setan berbaju manusia sudah merasuki sebagian bangsa. Mari dengan merendah diri dihadapan-Nya mengakui apa yang disebut atas berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa tercantum dalam alinea ketiga Pembukaan UUD RI 1945 dianggap baru hanya sekedar ucap-ucap (omon-omon) dan belum terwujud amal kenyataan.

Mari dengan penuh dengan kesadaran hati terhadap sesama tanpa ada yang dikecualikan, mulai dari presiden beserta kabinetnya, anggota DPR RI, MPR RI, DPD RI, gubernur se Indonesia, bupati dan walikota se Indonesia, termasuk Ketum Parpol tingkat pusat menyadari hal demikian. Mawas diri dalam situasi dan kondisi sekarang perlu digalakkan. Presiden dan DPR RI, MPR RI serta DPD RI wajib berperan menyelamatkan nasib anak bangsa dari ancaman bahaya perpecahan.

Apa pun alasan yang dikemukakan mari diterima dengan hati yang terbuka. Benar di waktu lalu kesalahan itu ada (10 tahun terakhir), masalahnya seakan dibiarkan lupa. Percaya sepenuhnya Presiden Prabowo menyadari akan makna tanggungjawab dan untuk yang akan datang tidak terulang yang demikian. Mari tingkatkan kewaspadaan serta berupaya sebatas kemampuan Presiden Prabowo  telah ditimpa sejarah mengalami manis-pahitnya perjuangan sebagai seorang prajurit, jadikan modal untuk tidak ragu dan bimbang menghadapi tantangan. Percaya diri, wajib ditempa dan kepercayaan itu hanyalah kalau berbuat tiada lain sesuai Pancasila ; “ Lillahi Rabbil ‘alamiin”.

Di dalam negara yang ber-Pancasila kita tidak akan khawatir, asal anak bangsanya melaksanakan Pancasila secara konsekuen. Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun juga, justru Islam telah mengabadikan dan mengabdikannya dengan syariat agamanya. Hanya kaum Pancasilais gadungan  yang akan membahayakan Pancasila dan kehidupan beragama. Orang-orang serupa ini harus kita bersihkan dari persada Tanah Air dalam bentuk apa pun juga dan memakai baju apa pun juga.

Sebagai penutup dari seorang yang mencintai Pancasila sebagai wadah tunggal persatuan bangsa: Pancasila azas perilaku hidup setiap warga, disemangati sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila sumber dari segala sumber hukum atas nama Tuhan Yang Maha Esa, hukum dan keadilan ditegakkan. Semua itu di waktu sepuluh tahun lalu telah diabaikan.

Mari istighfar kepada Allah Ghafurur Rahim! Ia Maha Pengasih, di atas segala kasih. Ia Maha Penyayang di atas segala sayang. Ia Maha Pemaaf dan Pengampun di atas segala maaf dan ampunan. Tidak ada dosa yang tidak diampuni-Nya. Mari dengan sepenuh hati! Tulisan ini  resensi pemikiran  dari Bismar Siregar, mantan Hakim Agung (1984-2000) dimuat pada buku “Pemuda Pancasila di Mata Publik” (2001).  Wallahu ‘alam bi-shawab. [T]

Penulis: Suradi Al  Karim,
Editor:Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Suatu Kajian Sumber-Sumber PAD Menurut UU No. 1 Tahun 2022
Ramadhan Sepanjang Masa
Sabar, “Password” Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan dan Madrasah Ramadhan
Tags: Hari Lahir Pancasilapancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pindang Ayam Gunung: Aroma Rumah dari Pangandaran yang Menguar di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co