25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Selalu Bersama Pancasila, Benarkah Demikian?

Suradi Al Karim by Suradi Al Karim
June 3, 2025
in Esai
Ramadhan Sepanjang Masa

Suradi

MENGENANG peristiwa merupakan hal yang terpuji, tentu diniati mengadakan perhitungan apa  yang  telah dicapai selama masa berlalu  atau tepatnya 80 tahun yang lalu (1-06-1945- 1-06-2025). Hidup oleh siapa, saat mana, dan di mana saja pun harus diterima sesuai kodrat Ilahi, selama mengalami perubahan. Justru adanya perubahan itulah, manusia diajak menempa diri mampu menerima dan menghadapi tantangan.

Hidup adalah tantangan. Sebutlah pernah melakukan kesalahan, disesali! Menyesal terpuji, berbuat salah namun enggan bertobat dan bahkan tetap melanjutkan kesalahan, akibatnya cobaan akan ditimpakan Tuhan; sebaliknya rahmat dan berkat ditahan-Nya. Itulah mungkin cermin kehidupan umat dan bangsa saat ini.

Berebut melakukan perubahan, mengajak pejabat negara, pejabat publik, politisi sadar akan kondrat Ilahi, untuk itulah peringatan Hari Lahirnya Pancasila  memasuki usia ke -80 tahun, sekaligus mengadakan perhitungan sejauh mana negara  yang berasaskan Pancasila sebagai ideologi  tunggal keberhasilannya dicapai, baik esensniya maupun urgensinya. Sebaliknya, jelas ada kegagalan, tanpa mencari sebab terjadi yang demikian.

Jangan ragu bersikap, jujurlah mengakui apa adanya, jangan ragu bersikap para pejabat negara apa adanya, jangan berpura-pura dan membohongi rakyat dan menutupi diri, berhasil disyukuri, gagal istighfar, jangan sekali-kali menuding penyebabnya pada orang lain. Sebabnya,  adanya negara, karena ada wilayah,  rakyat, dan adanya pemerintahan, sangat terpuji dan kesatria, mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulangi dan istighfar memperbaiki diri.

Pancasila Masa Depan dan Perubahan!

Berikut ini saya mengajak pembaca yang budiman untuk menyimak pesan luhur ini : “ Sungguh Allah, tiadakan mengubah keadaan suatu kaum jika tiada mereka mengubah kedaannya sendiri”. (QS: Ar-Rad 13:11). Siapa pun tidak akan meragukan. Esensi Pancasila adalah landasan filofosi dan konstitusional bagi penyelenggaraan negara di Indomesia, bukan di negara Konoha.

Pancasila mempunyai nilai yang dapat mempersatukan berbagai suku, agama, dan budaya yang ada di Indonesia, bukan di negara Konoha. Juga Pancasila memiliki nilai-nilai luhur, seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadialan. Urgensinya, memberikan dasar bagi stabilitas politik dan sosial, serta mempersatukan bangsa dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal.

Pancasila juga menjadi landasan  pembangunan nasional seperti ekonomi, sosial dan budaya,  serta memperkuat wawasan kebangsaan, di mana anak bangsa memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dan cinta tanah air atau ungkapan yang populer dalam ajaran Islam terutama  di Indoneia adalah Hubbul wathon minal iman. Dan tidak kalah penting dengan memahami Pancasila, bangsa Indonesia dapat menghindari berbagai bentuk ideologi tertentu yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan (mencegah arah kesesatan)

Hadapi kenyaan, tempatkan iman dan taqwa sebagai landasan perjuangan. Harapan kepada anak bangsa pada umumnya, kalau menerima rahmat, jangan lupa bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebaliknya bila negara kita ditimpa musibah seperti korupsi korporasi dan uang negara dirampok oleh pejabat negara, apa pun bentuknya dan wujudnya, jangan lupa mawas diri, bertanya apa penyebab semua  terjadi di negeri ini. Mawas diri itu sekarang dituntut oleh anak bangsa. Ia Maha Adil dalam segala kejadian, “ Dan ingatlah, ketika Tuhanmu memaklumi : akan kuberi kamu karunia lebih banyak lagi. Tapi jika kamu tiada besyukur, sungguh,siksaan-Ku amatlah dahsyat: (QS: Ibrahim 14:7).

Mungkin yang demikian itu terlupakan di waktu  lalu ( Orba  dan Era Reformasi), penyebabnya nikmat dan rahmat ditahan-Nya, dan bukankah kenyataan sekarang ini adalah akibat sikap bangsa demikian? Mari diakui dengan jujur, terjadi di seluruh badan, lembaga, institusi dalam bidang kegiatan masyarakat tak terkecuali Ormas dan pejabat negara serta politisi  lupa bersyukur atas karunia kemerdekaan.

Bukan hal yang tidak pernah diperingatkan. Langsung atau bahkan berulang kali telah ada kejadian, hanya manusianya yang juga lupa memperhatikan. Semoga pikiran penulis tersebut keliru, bangsa Indonesia tidak tergolong demikian, cukup di negara Konoha. Peringatan itu antara lain, “sekiranya penduduk Kota beriman dan bertaqwa,tentulah Kami bukakan baginya pintu rahmat dari langit dan bumi. Tapi mereka mendustakan kebenaran lalu kami siksa mereka karena perbuatan mereka (QS: Al-Araf 96).

Tak seorang pun, sekira ia seorang Pancasilais sejati yang tidak ikut prihatin atas nasib bangsa dan negara sekarang ini. Ancaman bertimpa ancaman, bahaya beruntun bahaya, perpecahan sudah bukan hal yang diragukan. Mari diakui kenyataan sudah diambang pintu. Masalahnya, masih ada orang  dan golongan (pejabat negara)  yang demikian itu kok direpotkan!

Tangan-tangan jahil berhasil menggerogoti semangat persatuan. Apa yang disebut “NKRI Harga Mati”, seolah-olah belum selesai dan memilukan, bahwa sungguh benar apa yang disebut  Bhineka Tunggal Ika tak bermakna bagi sementara pihak. Rasanya kebencian, dendam akibat kekecewaan di masa lalu disebarluaskan. Seakan sebutlah,  secara jujur segala yang dikakukan Era Refomasi perbuatan haram yang harus disingkirkan. Apa benar  demikian sikap seorang Pancasilais? Jelas bukan. Firman Allah SWT “ “Dan janganlah kamu memaafkan kebaikan di antara kamu “ (QS Al Baqarah : 237).  Dan Pesan Rasulullah SAW: “ Ingatlah selalu kebaikan seseorang dan lupakan kesalahan”, ( HR. Tirmidzi).

Kini kesalahan yang diungkapkan, kebaikan sengaja dilupakan. Tidak bolehkah kita memperingakatkan yang bersangkutan? Berbuat demikian itu akhlak setan, sungguh bertentangan dengan watak seorang Pancasilais. Mari jangan ragu, ada pesan kewajiban : “Saling ingat-mengingatkan tentang kebenaran, Dan saling ingat-mengingtkan tentang kesabaran (QS Asl Ashr 103:3).

Sungguh ironis, apa yang menjadi gejala sekarang, luapan ketidakpuasan dibesar-besarkan. Rasa permusuhan antara etnis disulut dan membara di mana-mana. Permusuhan antar sesama iman pernah terjadi dan masih terjadi dan akan masih terjadi. Pertentangan antaragama dan sesama agama belum terhentikan, dan kalau berlama-lama akan menjadi dendam tidak berkesudahan. Pancasila adalah ideologi persatuan, bukan? Dan kita harus sadar, tampillah menyelamatkan bangsa yang lahir dan ada atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Jangan diam, karena diam itu penghianatan; kalau menyampaikan, sampaikanlah dengan kata-kata yang baik dan hikmat. Jangan memaksakan.

Tampillah, bulatkan tekad, bina diri yang pertama menentang segala upaya, sengaja atau bukan, sadar atau tidak, langsung atau berjarak, jelas ada pihak ketiga sebagai provokator, siapakah dia itu? Setan-setan berbaju manusia sudah merasuki sebagian bangsa. Mari dengan merendah diri dihadapan-Nya mengakui apa yang disebut atas berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa tercantum dalam alinea ketiga Pembukaan UUD RI 1945 dianggap baru hanya sekedar ucap-ucap (omon-omon) dan belum terwujud amal kenyataan.

Mari dengan penuh dengan kesadaran hati terhadap sesama tanpa ada yang dikecualikan, mulai dari presiden beserta kabinetnya, anggota DPR RI, MPR RI, DPD RI, gubernur se Indonesia, bupati dan walikota se Indonesia, termasuk Ketum Parpol tingkat pusat menyadari hal demikian. Mawas diri dalam situasi dan kondisi sekarang perlu digalakkan. Presiden dan DPR RI, MPR RI serta DPD RI wajib berperan menyelamatkan nasib anak bangsa dari ancaman bahaya perpecahan.

Apa pun alasan yang dikemukakan mari diterima dengan hati yang terbuka. Benar di waktu lalu kesalahan itu ada (10 tahun terakhir), masalahnya seakan dibiarkan lupa. Percaya sepenuhnya Presiden Prabowo menyadari akan makna tanggungjawab dan untuk yang akan datang tidak terulang yang demikian. Mari tingkatkan kewaspadaan serta berupaya sebatas kemampuan Presiden Prabowo  telah ditimpa sejarah mengalami manis-pahitnya perjuangan sebagai seorang prajurit, jadikan modal untuk tidak ragu dan bimbang menghadapi tantangan. Percaya diri, wajib ditempa dan kepercayaan itu hanyalah kalau berbuat tiada lain sesuai Pancasila ; “ Lillahi Rabbil ‘alamiin”.

Di dalam negara yang ber-Pancasila kita tidak akan khawatir, asal anak bangsanya melaksanakan Pancasila secara konsekuen. Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun juga, justru Islam telah mengabadikan dan mengabdikannya dengan syariat agamanya. Hanya kaum Pancasilais gadungan  yang akan membahayakan Pancasila dan kehidupan beragama. Orang-orang serupa ini harus kita bersihkan dari persada Tanah Air dalam bentuk apa pun juga dan memakai baju apa pun juga.

Sebagai penutup dari seorang yang mencintai Pancasila sebagai wadah tunggal persatuan bangsa: Pancasila azas perilaku hidup setiap warga, disemangati sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila sumber dari segala sumber hukum atas nama Tuhan Yang Maha Esa, hukum dan keadilan ditegakkan. Semua itu di waktu sepuluh tahun lalu telah diabaikan.

Mari istighfar kepada Allah Ghafurur Rahim! Ia Maha Pengasih, di atas segala kasih. Ia Maha Penyayang di atas segala sayang. Ia Maha Pemaaf dan Pengampun di atas segala maaf dan ampunan. Tidak ada dosa yang tidak diampuni-Nya. Mari dengan sepenuh hati! Tulisan ini  resensi pemikiran  dari Bismar Siregar, mantan Hakim Agung (1984-2000) dimuat pada buku “Pemuda Pancasila di Mata Publik” (2001).  Wallahu ‘alam bi-shawab. [T]

Penulis: Suradi Al  Karim,
Editor:Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Suatu Kajian Sumber-Sumber PAD Menurut UU No. 1 Tahun 2022
Ramadhan Sepanjang Masa
Sabar, “Password” Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan dan Madrasah Ramadhan
Tags: Hari Lahir Pancasilapancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pindang Ayam Gunung: Aroma Rumah dari Pangandaran yang Menguar di Ubud Food Festival 2025

Next Post

Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Suradi Al Karim

Suradi Al Karim

Penasihat MD KAHMI Banyumas Raya, Penasihat DPC Peradi Purwokerto, Fungsionaris BPPH MPC PP Kab. Banyumas dan LBH AP PDM Kab. Banyumas, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Kab. Banyumas.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Terong Saus Kenari: Jejak Rasa Banda Neira di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co