2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 5, 2025
in Kuliner
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Komang Trisna Sari Dewi, penual nasi kuning vegan di Warung Laksmi Singaraja

SINGARAJA selalu punya cerita. Saat Hari Raya Kuningan—yang identik dengan nasi kuning berwadah copok busung untuk dihaturkan dalam banten—saya teringat pada sebuah momen di sudut Kota Singaraja.  Saya teringat nasi kuning vegan yang pernah saya cicipi.

Tersebutlah Jalan Laksamana di wilayah Baktiseraga, Singaraja, Bali utara. Kawasan Jalan Laksamana yang biasa dipadati oleh motor dan suara riuh pedagang, punya daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari sesuatu yang berbeda. Di salah satu sudut jalan itu, ada sebuah warung kecil bernama Warung Laksmi.

Hanya papan nama sederhana itulah yang menandai tempat ini. Tapi di balik kesederhanaannya, Warung Laksmi menyimpan cerita yang menarik untuk dikulik, diceritakan melalui tangan seorang wanita yang penuh semangat bernama Komang Trisna Sari Dewi.

Pelanggan antri di Warung Laksmi di Jalan Laksamana Singaraja | Foto: Arix

Warung Laksmi, saya tahu ini dari teman saya yang pernah menjajakan saya nasi kuning, tapi ini jelas beda. Inspirasi tidak selalu datang dari hal besar. Terkadang, ia muncul dari kebutuhan yang sederhana.

“Yang menginspirasi saya untuk menjual nasi kuning vegan, khususnya di Singaraja, karena di sini belum ada yang menjual nasi kuning vegan untuk sarapan,” ungkap Komang Trisna, yang waktu itu saya tanya karena memang penasaran.

Dari celah kecil inilah, ia menciptakan terobosan nasi kuning vegan yang tidak hanya sehat tetapi juga menggugah selera. Iya juga ya, pikir saya. Selama saya hidup, baru kali ini saya mendengar ada nasi kuning vegan. Atau, memang saya saja yang mainnya kurang jauh?

Semangat Komang Trisna membawa perubahan kecil dengan pesan besar. Dia percaya bahwa makanan bisa menjadi jembatan gaya hidup modern yang sehat.

Saya mencicipi nasi kuning vegan ini tanpa sadar bahwa semua kondimennya benar-benar bebas daging. Rasanya begitu mendekati rasa daging asli hingga saya terkejut saat mengetahui bahan utamanya hanyalah tepung kedelai. Ini adalah bukti betapa seriusnya Ibu Komang dalam menciptakan makanan sehat yang tetap menggugah selera.

Warung Nasi Kuning Laksmi | Foto: Arix

Perlu kita ketahui bersama, dalam dunia kuliner, istilah “vegan” dan “vegetarian” sering kali disalahpahami. Keduanya memang memiliki kesamaan, yaitu menghindari konsumsi daging, tetapi veganisme memiliki batasan yang lebih ketat. Seorang vegetarian mungkin masih mengonsumsi produk hewani seperti susu, keju, dan telur, sedangkan seorang vegan sama sekali tidak mengonsumsi produk hewani apa pun, termasuk madu.

Dalam ranah kuliner, seperti yang diterapkan Komang Trisna di Warung Laksmi, makanan vegan murni tidak mengandung bahan-bahan seperti bawang, micin, atau kondimen lain yang sering kali dianggap tidak sesuai dengan prinsip veganisme. 

Menciptakan sesuatu yang berbeda tidak pernah mudah. Komang Trisna menghabiskan waktu berjam-jam belajar, baik dari komunitas vegan maupun dari internet. Namun, dia menyadari bahwa tidak semua orang bersedia berbagi rahasia dapur mereka.

“Resep yang diberikan di website atau dari sesama vegan belum sesuai dengan resep vegan murni. Maka dari itu, saya merubah resepnya dengan resep saya sendiri,” jelasnya.

Di bayangan saya, untuk bisa menjiplak rasa yang sama dengan kondimen yang berbeda, rasanya sangat mustahil. Tapi, itu jadi mungkin oleh Komang Trisna.

Contohnya, untuk membuat ayam suwir ala vegan, ia menggunakan tepung kedelai sebagai bahan utama. Dengan bumbu sederhana seperti cabai dan garam, ia menciptakan lauk yang menyerupai rasa ayam asli. Yang menarik, ia bahkan menghilangkan bawang dan micin dari seluruh masakannya untuk menjaga keaslian makanan vegan.

“Makanan itu harus sederhana, tetapi penuh makna,” kata Komang Trisna waktu itu.

Dia tidak hanya ingin menciptakan makanan sehat, tetapi juga menghadirkan rasa yang akrab di lidah masyarakat Bali. “Banyak yang meminati karena rasa yang saya berikan adalah rasa yang digemari lidah orang Bali,” tambahnya.

Setiap piring nasi kuning vegan di Warung Laksmi adalah perpaduan sempurna, bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita dan dedikasi yang terkandung di dalamnya.

Bagi Komang Trisna, Warung Laksmi adalah lebih dari sekadar tempat mencari nafkah. “Usaha ini tidak sekadar untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga bertujuan untuk memberi tahu masyarakat bahwa masakan vegan bukanlah masakan yang hambar,” tuturnya.

Ia ingin mendobrak stigma bahwa masakan vegan hanya untuk segelintir orang.

Melalui usahanya, Komang Trisna juga menemukan kebahagiaan. “Saya bahagia bisa menjual makanan yang sehat, sekaligus menghidupi keluarga saya,” katanya.

Senyumnya yang setia menyambut pelanggan di pagi hari itu masih saya ingat jelas. Setiap pelanggan yang datang ke warung kecil ini adalah pengingat bahwa apa yang dia lakukan memiliki dampak nyata.

Namun, Komang Trisna tidak berhenti di sini. Dia memiliki impian besar untuk Warung Laksmi. “Harapan saya, pastinya membuat usaha saya semakin dikenal banyak orang dan semakin banyak orang yang peduli dengan kesehatan diri sendiri,” katanya yang setara dengan semangatnya.

Pelanggan antri di Warung Laksmi di Jalan Laksamana Singaraja | Foto: Arix

Warung Laksmi juga berperan dalam mendukung gerakan hidup sehat dan berkelanjutan. Dengan menyajikan makanan bebas bahan pengawet dan zat kimia berbahaya, Dia berharap dapat membantu lebih banyak orang untuk menjalani hidup yang lebih sehat.

Warung kecil di Jalan Laksamana ini adalah bukti bahwa hal besar bisa dimulai dari tempat sederhana. Di balik setiap piring nasi kuning vegan yang disajikan, memang jelas semua butuh perjuangan, inovasi, dan cinta.

Komang Trisna Sari Dewi tidak hanya menjual makanan, Dia menyebarkan harapan dan semangat hidup sehat kepada siapa saja yang berkunjung.

Jika kalian kebetulan melewati Jalan Laksamana di Singaraja, sempatkan diri untuk mampir ke Warung Laksmi. Cicipi nasi kuning ala vegannya, harganya sangat bersahabat sampai-sampai ingin menjadikan besan di pagi hari, dan rasakan bagaimana setiap suapannya. Kalian mungkin akan pulang dengan lebih dari sekadar kenyang, dan isi dompet pun tenang. [T]

enulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: kulinernasi kuningSingarajavegan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cek dan Ricek, Riset Dulu, Baru Bikin Konten

Next Post

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co