23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Asti | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
April 19, 2025
in Cerpen
Ketut Asti  |  Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SETELAH mandi dan ganti baju, aku duduk di teras, berhadapan-hadapan dengan Riz. Ia mulai mengajariku membaca puisi yang harus aku tampilkan di sesi break pelatihan Sastra Bali. Meski sudah berulang kali mencoba, tetap saja aku kesulitan membaca seperti yang Riz ajarkan. Kulihat Riz terlihat mulai kesal. “Kenapa sih nggak bisa-bisa?” gumamnya sambil memijat kening.

Aku meringis, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda, tapi ia mendadak berdiri, masuk ke rumah. Tapi ketika kembali, Riz sudah kembali tenang. “Aku berangkat dulu!” katanya sembari berjalan menuju motornya tanpa menungguku.

Sambil tetap khusyuk dengan bait-bait puisi, gegas aku menyusulnya. Namun, saat aku sudah sampai di dekatnya, Riz berbalik dan menatapku. “Aku bisa kena masalah kalau kamu bonceng aku!” katanya sebelum melesat pergi meninggalkanku berdiri bagai patung.

Pikiranku masih terpaku pada perkataannya, kena masalah, masalah apa? Tapi aku malas memikirkan lebih lanjut. Tak punya pilihan, segera aku pesan ojek. Setelah dua puluh menit, akhirnya aku tiba di pondok joglo sederhana tempat pelatihan. Aku mendengar Riz sudah memberikan materi di dalam ruangan.

Tanpa banyak pikir, aku langsung masuk dapur, mengambil piring, nasi, dan beberapa sate untuk kumakan di teras. Peserta lain menatapku heran, tapi aku tidak peduli. Tak lama, seorang perempuan Bali menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Ketut Asti, orang yang bertanggung jawab terhadap tempat pelatihan. “Kita di sini dua malam. Kamu bisa tidur di pondok itu,” katanya sambil menunjuk bangunan kecil di belakang joglo.

Aku mengangguk, merasa lega. Sesaat kemudian ponselku berdering. Nama Riz muncul di layar. “Aku khawatir kamu nggak sampai dengan aman!” ucapnya dengan nada cemas. Aku tertawa kecil dan meminta maaf. Aku spontan melirik ke arah Ketut Asti yang duduk di sebelahku.

Riz lantas memberitahu waktunya aku tampil baca puisi, dan tak kusangka penampilanku berjalan tanpa cacat, bahkan Riz memujiku. Setelah itu aku kembali duduk di samping Ketut Asti. Belum lama aku meletakkan pantatku, Riz kembali menelepon. Dia mengatakan sesuatu yang aneh dengan nada bergetar. “Nanti malam aku ikut di kamarmu ya.”

Sepertinya Ketut Asti mendengar ucapan Riz, tapi kulihat ia hanya tersenyum samar dan mengangguk seolah mengerti. Aku mengakhiri telepon dengan perasaan campur aduk.

“Riz tampaknya peduli padamu.” Ketut Asti berkata pelan, sembari menyerahkan sebelah earphone padaku.

Aku terdiam, tak tahu harus menanggapi bagaimana. Namun saat musik Bali mengalun di telingaku, seperti ada rasa dingin yang tiba-tiba merayapi punggungku.

“Selain ngurusi tempat ini, aku ingin bertemu seseorang,” kata Ketut Asti tiba-tiba, pandangannya mengarah jauh ke depan. “Seseorang yang dulu sangat aku kasihi. Seseorang yang pergi dengan meninggalkan janji.”

“Apa dia ikut acara ini juga?” tanyaku.

Ketut Asti setengah mengangguk. “Kau tahu, terkadang, ketika seseorang meninggalkan kita tanpa janji yang ditepati, mereka tetap tinggal, mengikat kita.”

Aku merasakan sesuatu yang ganjil.

“Riz mengingatkanku pada seseorang,” kata Ketut Asti.

Perkataannya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah mungkin Ketut Asti melihat sesuatu di balik sosok Riz? Aku tak ingin berpikir jauh, tapi aku melihat tatapannya yang dalam seperti menyimpan duka.

Malam itu, setelah acara selesai, aku menuju pondok kecil yang ditawarkan Ketut Asti. Tak lama, terdengar ketukan di pintu, dan aku menduga itu Riz. Benar. Dia masuk dengan raut wajah penuh kecemasan.

“Dengar, aku harus cerita sesuatu.” Suaranya terdengar putus asa.

“Apa ini soal Ketut Asti?” tanyaku, langsung menerka.

Ia mengangguk perlahan. “Dia bukan sembarang peserta, dia adalah bayangan dari masa lalu. Kehidupan yang pernah ia jalani jauh sebelum kita lahir.”

Aku terdiam, bingung dengan ucapannya. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi katanya aku dan ia punya ikatan yang tak bisa kuabaikan. Katanya pula, kami pernah berada di masa lalu yang sama. Dan di masa itu aku meninggalkannya tanpa menepati janji.”

Aku menatapnya, bingung. “Jadi kamu pikir Ketut Asti adalah semacam arwah?”

Riz menunduk pelan, seperti tak berani menatapku. “Entahlah. Setiap kali aku dekat dengannya, aku merasa bayangan masa lalu menghantuiku. Mungkinkah aku adalah sarana dia untuk menuntut janji?”

“Tapi mengapa harus kamu?” tanyaku.

Kali ini Riz menggeleng. “Sialnya, mengapa aku seperti juga mengalaminya.”

Aku merasa tak nyaman. Kata-kata Riz terdengar mustahil, tapi ekspresinya begitu serius. Seakan ia berbicara dari dalam hatinya yang terdalam. Malam semakin larut, dan bayangan Ketut Asti tiba-tiba muncul di jendela, menatap ke arah kami. Senyumannya terlihat kosong, matanya menyiratkan rasa duka yang tak terungkap. Dia membuka pintu pondok, berdiri di ambang pintu dengan aroma dupa yang menyengat, membawa suasana mistis.

“Kamu tak perlu takut, aku hanya ingin menuntaskan janji,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

Aku menoleh pada Riz, yang menunduk, tampak pasrah.

“Ketut Asti, siapa sebenarnya kamu?” tanyaku, mencoba memecahkan misteri itu.

Dia menatapku, lalu berbisik pelan. “Aku adalah bagian dari masa lalu yang ingin dia abaikan. Aku adalah seseorang yang pernah dia janjikan kebahagiaan, tapi dia tinggalkan begitu saja.”

Riz mulai gemetar. “Aku, aku tidak tahu bagaimana caranya memenuhi janji itu di kehidupanku ini.”

Ketut Asti tersenyum tipis. “Aku tak butuh janji di kehidupan ini.”

“Maksudmu?” sahutku.

“Cukup ingatannya, cukup pengakuannya, bahwa aku memang ada. Setelah itu, aku bisa pergi.”

Perlahan, Ketut Asti menjauh. Sosoknya lenyap dalam kegelapan, bersama aroma dupa yang makin menghilang. Aku melihat Riz menarik napas dalam, seakan beban besar telah lepas dari pundaknya.

Esok paginya, sebelum menginjak acara diskusi, aku melihat sebuah potret di dinding joglo, seorang perempuan berkebaya mirip Ketut Asti. Di bawahnya tertulis nama dan tahun yang mencengangkan: 1947.

Aku tersentak, akhirnya memahami semuanya. Sosok Ketut Asti memang bukan bagian dari dunia ini, tapi mungkin memang bagian dari kehidupan Riz yang lain, yang dulu ia tinggalkan dengan janji tak tertepati.

Malam kedua, Ketut Asti tak lagi muncul. Tak di jendela, Tak ada di antara peserta latihan. tak di antara aroma dupa, tak dalam mimpiku. Dan Riz, ia tampak lebih tenang. Seolah sesuatu telah selesai. Di sela jeda sebelum sesi tanya jawab, aku duduk di tangga joglo, menatap Riz yang sedang menyeruput kopi. “Riz,” panggilku.

Ia menoleh, mengangguk kecil.

“Apa yang kau lakukan, sampai dia tidak datang lagi?”

Riz menghela napas, wajahnya terlihat damai. “Aku menerimanya,” katanya lirih.

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu?”

“Menerima kalau dia ada di dekatku,” katanya, “tanpa harus kupertanyakan, tanpa harus kutakuti, tanpa harus kuingkari. Kadang yang pergi hanya ingin dikenang, bukan diusir.” Setelah itu kami sama-sama diam dalam keheningan. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Next Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co