24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Asti | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
April 19, 2025
in Cerpen
Ketut Asti  |  Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SETELAH mandi dan ganti baju, aku duduk di teras, berhadapan-hadapan dengan Riz. Ia mulai mengajariku membaca puisi yang harus aku tampilkan di sesi break pelatihan Sastra Bali. Meski sudah berulang kali mencoba, tetap saja aku kesulitan membaca seperti yang Riz ajarkan. Kulihat Riz terlihat mulai kesal. “Kenapa sih nggak bisa-bisa?” gumamnya sambil memijat kening.

Aku meringis, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda, tapi ia mendadak berdiri, masuk ke rumah. Tapi ketika kembali, Riz sudah kembali tenang. “Aku berangkat dulu!” katanya sembari berjalan menuju motornya tanpa menungguku.

Sambil tetap khusyuk dengan bait-bait puisi, gegas aku menyusulnya. Namun, saat aku sudah sampai di dekatnya, Riz berbalik dan menatapku. “Aku bisa kena masalah kalau kamu bonceng aku!” katanya sebelum melesat pergi meninggalkanku berdiri bagai patung.

Pikiranku masih terpaku pada perkataannya, kena masalah, masalah apa? Tapi aku malas memikirkan lebih lanjut. Tak punya pilihan, segera aku pesan ojek. Setelah dua puluh menit, akhirnya aku tiba di pondok joglo sederhana tempat pelatihan. Aku mendengar Riz sudah memberikan materi di dalam ruangan.

Tanpa banyak pikir, aku langsung masuk dapur, mengambil piring, nasi, dan beberapa sate untuk kumakan di teras. Peserta lain menatapku heran, tapi aku tidak peduli. Tak lama, seorang perempuan Bali menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Ketut Asti, orang yang bertanggung jawab terhadap tempat pelatihan. “Kita di sini dua malam. Kamu bisa tidur di pondok itu,” katanya sambil menunjuk bangunan kecil di belakang joglo.

Aku mengangguk, merasa lega. Sesaat kemudian ponselku berdering. Nama Riz muncul di layar. “Aku khawatir kamu nggak sampai dengan aman!” ucapnya dengan nada cemas. Aku tertawa kecil dan meminta maaf. Aku spontan melirik ke arah Ketut Asti yang duduk di sebelahku.

Riz lantas memberitahu waktunya aku tampil baca puisi, dan tak kusangka penampilanku berjalan tanpa cacat, bahkan Riz memujiku. Setelah itu aku kembali duduk di samping Ketut Asti. Belum lama aku meletakkan pantatku, Riz kembali menelepon. Dia mengatakan sesuatu yang aneh dengan nada bergetar. “Nanti malam aku ikut di kamarmu ya.”

Sepertinya Ketut Asti mendengar ucapan Riz, tapi kulihat ia hanya tersenyum samar dan mengangguk seolah mengerti. Aku mengakhiri telepon dengan perasaan campur aduk.

“Riz tampaknya peduli padamu.” Ketut Asti berkata pelan, sembari menyerahkan sebelah earphone padaku.

Aku terdiam, tak tahu harus menanggapi bagaimana. Namun saat musik Bali mengalun di telingaku, seperti ada rasa dingin yang tiba-tiba merayapi punggungku.

“Selain ngurusi tempat ini, aku ingin bertemu seseorang,” kata Ketut Asti tiba-tiba, pandangannya mengarah jauh ke depan. “Seseorang yang dulu sangat aku kasihi. Seseorang yang pergi dengan meninggalkan janji.”

“Apa dia ikut acara ini juga?” tanyaku.

Ketut Asti setengah mengangguk. “Kau tahu, terkadang, ketika seseorang meninggalkan kita tanpa janji yang ditepati, mereka tetap tinggal, mengikat kita.”

Aku merasakan sesuatu yang ganjil.

“Riz mengingatkanku pada seseorang,” kata Ketut Asti.

Perkataannya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah mungkin Ketut Asti melihat sesuatu di balik sosok Riz? Aku tak ingin berpikir jauh, tapi aku melihat tatapannya yang dalam seperti menyimpan duka.

Malam itu, setelah acara selesai, aku menuju pondok kecil yang ditawarkan Ketut Asti. Tak lama, terdengar ketukan di pintu, dan aku menduga itu Riz. Benar. Dia masuk dengan raut wajah penuh kecemasan.

“Dengar, aku harus cerita sesuatu.” Suaranya terdengar putus asa.

“Apa ini soal Ketut Asti?” tanyaku, langsung menerka.

Ia mengangguk perlahan. “Dia bukan sembarang peserta, dia adalah bayangan dari masa lalu. Kehidupan yang pernah ia jalani jauh sebelum kita lahir.”

Aku terdiam, bingung dengan ucapannya. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi katanya aku dan ia punya ikatan yang tak bisa kuabaikan. Katanya pula, kami pernah berada di masa lalu yang sama. Dan di masa itu aku meninggalkannya tanpa menepati janji.”

Aku menatapnya, bingung. “Jadi kamu pikir Ketut Asti adalah semacam arwah?”

Riz menunduk pelan, seperti tak berani menatapku. “Entahlah. Setiap kali aku dekat dengannya, aku merasa bayangan masa lalu menghantuiku. Mungkinkah aku adalah sarana dia untuk menuntut janji?”

“Tapi mengapa harus kamu?” tanyaku.

Kali ini Riz menggeleng. “Sialnya, mengapa aku seperti juga mengalaminya.”

Aku merasa tak nyaman. Kata-kata Riz terdengar mustahil, tapi ekspresinya begitu serius. Seakan ia berbicara dari dalam hatinya yang terdalam. Malam semakin larut, dan bayangan Ketut Asti tiba-tiba muncul di jendela, menatap ke arah kami. Senyumannya terlihat kosong, matanya menyiratkan rasa duka yang tak terungkap. Dia membuka pintu pondok, berdiri di ambang pintu dengan aroma dupa yang menyengat, membawa suasana mistis.

“Kamu tak perlu takut, aku hanya ingin menuntaskan janji,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

Aku menoleh pada Riz, yang menunduk, tampak pasrah.

“Ketut Asti, siapa sebenarnya kamu?” tanyaku, mencoba memecahkan misteri itu.

Dia menatapku, lalu berbisik pelan. “Aku adalah bagian dari masa lalu yang ingin dia abaikan. Aku adalah seseorang yang pernah dia janjikan kebahagiaan, tapi dia tinggalkan begitu saja.”

Riz mulai gemetar. “Aku, aku tidak tahu bagaimana caranya memenuhi janji itu di kehidupanku ini.”

Ketut Asti tersenyum tipis. “Aku tak butuh janji di kehidupan ini.”

“Maksudmu?” sahutku.

“Cukup ingatannya, cukup pengakuannya, bahwa aku memang ada. Setelah itu, aku bisa pergi.”

Perlahan, Ketut Asti menjauh. Sosoknya lenyap dalam kegelapan, bersama aroma dupa yang makin menghilang. Aku melihat Riz menarik napas dalam, seakan beban besar telah lepas dari pundaknya.

Esok paginya, sebelum menginjak acara diskusi, aku melihat sebuah potret di dinding joglo, seorang perempuan berkebaya mirip Ketut Asti. Di bawahnya tertulis nama dan tahun yang mencengangkan: 1947.

Aku tersentak, akhirnya memahami semuanya. Sosok Ketut Asti memang bukan bagian dari dunia ini, tapi mungkin memang bagian dari kehidupan Riz yang lain, yang dulu ia tinggalkan dengan janji tak tertepati.

Malam kedua, Ketut Asti tak lagi muncul. Tak di jendela, Tak ada di antara peserta latihan. tak di antara aroma dupa, tak dalam mimpiku. Dan Riz, ia tampak lebih tenang. Seolah sesuatu telah selesai. Di sela jeda sebelum sesi tanya jawab, aku duduk di tangga joglo, menatap Riz yang sedang menyeruput kopi. “Riz,” panggilku.

Ia menoleh, mengangguk kecil.

“Apa yang kau lakukan, sampai dia tidak datang lagi?”

Riz menghela napas, wajahnya terlihat damai. “Aku menerimanya,” katanya lirih.

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu?”

“Menerima kalau dia ada di dekatku,” katanya, “tanpa harus kupertanyakan, tanpa harus kutakuti, tanpa harus kuingkari. Kadang yang pergi hanya ingin dikenang, bukan diusir.” Setelah itu kami sama-sama diam dalam keheningan. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Next Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co