24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
March 29, 2025
in Khas
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Dua Penari dari Banjar Kaliuntu sedang melakukan pragmentari "Sangkala Tiga Sakti" | Foto Rusdy Ulu

BANJAR-banjar yang berada di Kota Singaraja, menampilkan ogoh-ogoh terbaiknya dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, pada malam pengerupukan, Jumat, 28 Maret 2025. Acara itu bertajuk “Pengerupukan Festival” yang digelar oleh Desa Adat Buleleng.

Acara itu sangat meriah, banyak orang tumpah di areal Tugu Singa di Jalan Ngurah Rai. Dengan kostum khas asal banjar mereka, ogoh-ogoh itu diarak menuju Jalan Veteran atau tepatnya di depan Gedung Sasana Budaya, dengan finish terakhir di Setra Buleleng di Jalan Gajah Mada.

Sebelum ke setra—akan dibakar, beberapa pertunjukan lebih dulu digelar di areal lampu lalu-lintas dekat patung kuda di Jalan Veteran, Singaraja. Ada sekitar 14 ogoh-ogoh dari 14 banjar yang melakukan pentas. Pragmentari dipertunjukan di sana berdasarkan cerita ogoh-ogoh yang dibawakan.

Di antara ogoh-ogoh berderet panjang di Jalan Ngurah Rai menuju Jalan Veteran, sebuah epitaf bertuliskan “Sang Kala Tiga Sakti” diangkat seorang perempuan. Ia dari Seka Teruna Satya Eka Dharma Banjar Adat Kaliuntu.

Diikuti oleh 13 perempuan pembawa obor, dan tiga puluh laki-laki memonggok ogoh-ogoh itu, suara tetabuhan baleganjur mengiringi mereka berjalan satu kelompok dari Jalan Ngurah Rai—Jalan Veteran.

Ogoh-ogoh “Sangkala Tiga Sakti” diponggok 30 orang bajang-bajang kuat | Foto Rusdy Ulu

“Sang Kala Tiga Sakti” bak monster besar dengan tampilan yang seram. Kepalanya tiga, dan—tiga-tiganya iblis. Bhuta Kala itu sedang berhadapan dengan orang suci seperti sedang adu sihir. Selain hanya diponggok dan digoyang-goyang, ogoh-ogoh ini akan dipentaskan melalui sebuah pragamentari.

Sesampainya “Sang Kala Tiga Sakti” di lokasi pementasan, seseorang menjerit di depan enam penari,

“Ketika ada yang jatuh seperti kancing atau apapun di kostum, abaikan. Tetap fokus senyum, fokus menari. Sekarang waktunya lomba. Habiskan semua tenaga!” kata perempuan itu ketika saya mencuri dengar. Ya, mereka akan tampil sebentar lagi.

Proses Mecaru dalam Pragmentari “Sangkala Tiga Sakti” | Foto Rusdy Ulu

Perempuan yang berteriak itu bernama Sri Mustya, seorang koreografer dari Seka Teruna Banjar Kaliuntu. Ada enam penari perempuan dan tujuh orang laki-laki yang akan membawakan cerita “Sangkala Tiga Sakti”.

“Tarian ini diangkat dari Bhuta Kala Sangakala Tiga Sakti. Menceritakan tentang rakyat yang buruk dan bhuta kala yang marah. Rakyat di sini digambarkan memiliki ciri khas buruk seperti senang foya-foya, suka mabuk-mabukan, suka berantakin sampah (buang sampah). Intinya buat onar di lingkungan hingga membuat bhuta kala itu marah besar,” kata Sri.

Kemudian ia juga menjelaskan, setelah menyaksikan rakyat teler—terlena pada apa yang buruk itu, di sanalah kemurkaan bhuta kala muncul—melalui penyakit gaib. Cetik atau santet, atau apa saja—juga entah itu virus. Dan untuk menghentikan kemurkaan bhuta kala semacam ini, rakyat mesti pergi ke Ida Pedangda (orang suci), atau melakukan upacara mecaru secara kolektif.

Setelah pengarahan dan persiapan semua selesai, pertunjukan pun dimulai.

Para pembawa obor “Sangkala Tiga Sakti” | Foto: Rusdy

Obor kemudian dinyalakan. Bhuta Kala bangkit dari tidurnya dibopong banyak orang—setelah rehat sejenak. Mereka segera bergegas ke tempat utama untuk tampil.

Sebuah penghalang berwarna putih dibuka, dan tiga perempuan masuk melakukan tarian dengan liukan tangan dan tubuh yang eksotis dan erotis. Mereka melakukan selebrasi modern—menggunakan kacamata dan selfi dengan ponsel.

Setelah itu beberapa laki-laki masuk dan menari, lalu melakukan obrolan sembari mabuk dan buang sampah. Tiga perempuan itu masih menari. Di susul beberapa perempuan membersamai tiga laki-laki sedang mabuk, juga sambil menari. Perempuan itu juga membuang sampah sembarang di pusaran mabuk.

Setelah semua tenggelam pada apa yang buruk—bernama mabuk dan buang sampah sembarang, tiga laki-laki digambarkan sebagai iblis—Sang Bhuta Kala Sakti itu, masuk melalui tirai penghalang yang dibuka orang-orang dibalik layar.

Tiga iblis itu melakukan keonaran dengan sangat marah. Marah-marah. Beberapa penari pria dan perempuan yang berperan sebagai rakyat itu panik dan kacau sekali. Suasana menjadi chaos dan tetabuhan semakin kencang ritmenya. Suasana mencekam…

Tiga penari dalam peran utama “Sangkala Tiga Sakti” dalam pragmentari | Foto Rusdy Ulu

Pada akhirnya mereka melakukan mecaru dengan mendatangi orang suci. Tarian itu ditutup ketika Ida Pedanda masuk dan begulat dengan bhuta kala itu dengan mantra dan air suci, ya, dupa masih menyala. Iblis-iblis itu lenyap kemudian setelah semua obor dinyalakan dan bunyi-bunyi dikeraskan, juga doa dirapal keras-keras.

Penampilan itu berakhir dengan suara gemuruh penonton melalui tepuk tangan yang kencang…

Memang, semua penampilan yang digelar malam itu menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, para penonton rela berjubel. Ada yang duduk di pagar, berdiri di bawah patung, di trotoar di mana-mana mencari celah.

Sehingga festival semacam ini seakan merupa ritual yang heboh. Karena semua orang membawa spirit keakraban dan keharmonisan di tengah desak-desakan badan, tentu, sebelum akhirnya akan benar-benar mensunyikan diri masing-masing.

Seperti pada Widya Astiti, ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi demi mengambil momen video dan foto ketika ogoh-ogoh yang ia tonton, dihadang punggung penonton lain. Tangannya tetap kokoh menjulang ke atas, matanya meliuk—melihat celah lubang seakan mengintip.

“Keren, Kak. Apalagi yang gotong ogoh-ogohnya ganteng-ganteng, hehe,”  kata Astiti di sela menonton pragmentari tadi. “Saya dari Kampung Baru, saya mau nonton ogoh-ogoh dari banjar saya,” lanjut Astiti hendak menonton lagi.

Seorang koreografer pragmentari, Sri Mustya, sedang memperbaiki topeng pemain | Foto: Rusdy Ulu

Semua yang hadir, nyaris—semua memiliki jagoannya masing-masing. Ada empat belas peserta dari berbagai macam banjar dengan hasil kreativitasnya yang unik, dan memiliki pesan terbaik tentang moral tentu saja.

Seperti tadi dari Banjar Kaliuntu yang membawa ogoh-ogoh bertajuk “Sangkala Tiga Sakti”—mengingatkan kita semua sebagai masyarakat jangan mabok aja, juga jangan buang sampah sembarang aja; di kali atau di laut, atau di lingkungan sekitar. Nanti ada yang marah, Bhuta Kala.

Selain dari Banjar Kaliuntu, ada juga dari Banjar Peguyangan membawa ogoh-ogoh “Kala Raksa” yang melakukan pragmentari. Terus ada juga pragmentari “Bhuta Kala Jenggitan” dari Banjar Adat Penataran, Bhuta Dasa Angkara dari Banjar Liligundi.

Kemudian “Kharisma Kroda Geni Rupa” dari Banjar Adat Delodpeken, “Bhuta Wilis” dari Banjar Adat Bali, “Sang Kala Samar” dari Banjar Adat Paketan, “Buta Bun Pamastu” dari Banjar Adat Tengah,  “Buta Cuil” dari Banjar Adat Petak,

“Sang Kala Catur Buta” dari Banjar Adat Kampung Anyar, “Bhuta Kala Dangen” dari Banjar Adat Tegal, dan “Nyi Rimbit” dari Banjar Adat Bale Agung. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogohSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Next Post

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co