23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
March 29, 2025
in Khas
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Dua Penari dari Banjar Kaliuntu sedang melakukan pragmentari "Sangkala Tiga Sakti" | Foto Rusdy Ulu

BANJAR-banjar yang berada di Kota Singaraja, menampilkan ogoh-ogoh terbaiknya dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, pada malam pengerupukan, Jumat, 28 Maret 2025. Acara itu bertajuk “Pengerupukan Festival” yang digelar oleh Desa Adat Buleleng.

Acara itu sangat meriah, banyak orang tumpah di areal Tugu Singa di Jalan Ngurah Rai. Dengan kostum khas asal banjar mereka, ogoh-ogoh itu diarak menuju Jalan Veteran atau tepatnya di depan Gedung Sasana Budaya, dengan finish terakhir di Setra Buleleng di Jalan Gajah Mada.

Sebelum ke setra—akan dibakar, beberapa pertunjukan lebih dulu digelar di areal lampu lalu-lintas dekat patung kuda di Jalan Veteran, Singaraja. Ada sekitar 14 ogoh-ogoh dari 14 banjar yang melakukan pentas. Pragmentari dipertunjukan di sana berdasarkan cerita ogoh-ogoh yang dibawakan.

Di antara ogoh-ogoh berderet panjang di Jalan Ngurah Rai menuju Jalan Veteran, sebuah epitaf bertuliskan “Sang Kala Tiga Sakti” diangkat seorang perempuan. Ia dari Seka Teruna Satya Eka Dharma Banjar Adat Kaliuntu.

Diikuti oleh 13 perempuan pembawa obor, dan tiga puluh laki-laki memonggok ogoh-ogoh itu, suara tetabuhan baleganjur mengiringi mereka berjalan satu kelompok dari Jalan Ngurah Rai—Jalan Veteran.

Ogoh-ogoh “Sangkala Tiga Sakti” diponggok 30 orang bajang-bajang kuat | Foto Rusdy Ulu

“Sang Kala Tiga Sakti” bak monster besar dengan tampilan yang seram. Kepalanya tiga, dan—tiga-tiganya iblis. Bhuta Kala itu sedang berhadapan dengan orang suci seperti sedang adu sihir. Selain hanya diponggok dan digoyang-goyang, ogoh-ogoh ini akan dipentaskan melalui sebuah pragamentari.

Sesampainya “Sang Kala Tiga Sakti” di lokasi pementasan, seseorang menjerit di depan enam penari,

“Ketika ada yang jatuh seperti kancing atau apapun di kostum, abaikan. Tetap fokus senyum, fokus menari. Sekarang waktunya lomba. Habiskan semua tenaga!” kata perempuan itu ketika saya mencuri dengar. Ya, mereka akan tampil sebentar lagi.

Proses Mecaru dalam Pragmentari “Sangkala Tiga Sakti” | Foto Rusdy Ulu

Perempuan yang berteriak itu bernama Sri Mustya, seorang koreografer dari Seka Teruna Banjar Kaliuntu. Ada enam penari perempuan dan tujuh orang laki-laki yang akan membawakan cerita “Sangkala Tiga Sakti”.

“Tarian ini diangkat dari Bhuta Kala Sangakala Tiga Sakti. Menceritakan tentang rakyat yang buruk dan bhuta kala yang marah. Rakyat di sini digambarkan memiliki ciri khas buruk seperti senang foya-foya, suka mabuk-mabukan, suka berantakin sampah (buang sampah). Intinya buat onar di lingkungan hingga membuat bhuta kala itu marah besar,” kata Sri.

Kemudian ia juga menjelaskan, setelah menyaksikan rakyat teler—terlena pada apa yang buruk itu, di sanalah kemurkaan bhuta kala muncul—melalui penyakit gaib. Cetik atau santet, atau apa saja—juga entah itu virus. Dan untuk menghentikan kemurkaan bhuta kala semacam ini, rakyat mesti pergi ke Ida Pedangda (orang suci), atau melakukan upacara mecaru secara kolektif.

Setelah pengarahan dan persiapan semua selesai, pertunjukan pun dimulai.

Para pembawa obor “Sangkala Tiga Sakti” | Foto: Rusdy

Obor kemudian dinyalakan. Bhuta Kala bangkit dari tidurnya dibopong banyak orang—setelah rehat sejenak. Mereka segera bergegas ke tempat utama untuk tampil.

Sebuah penghalang berwarna putih dibuka, dan tiga perempuan masuk melakukan tarian dengan liukan tangan dan tubuh yang eksotis dan erotis. Mereka melakukan selebrasi modern—menggunakan kacamata dan selfi dengan ponsel.

Setelah itu beberapa laki-laki masuk dan menari, lalu melakukan obrolan sembari mabuk dan buang sampah. Tiga perempuan itu masih menari. Di susul beberapa perempuan membersamai tiga laki-laki sedang mabuk, juga sambil menari. Perempuan itu juga membuang sampah sembarang di pusaran mabuk.

Setelah semua tenggelam pada apa yang buruk—bernama mabuk dan buang sampah sembarang, tiga laki-laki digambarkan sebagai iblis—Sang Bhuta Kala Sakti itu, masuk melalui tirai penghalang yang dibuka orang-orang dibalik layar.

Tiga iblis itu melakukan keonaran dengan sangat marah. Marah-marah. Beberapa penari pria dan perempuan yang berperan sebagai rakyat itu panik dan kacau sekali. Suasana menjadi chaos dan tetabuhan semakin kencang ritmenya. Suasana mencekam…

Tiga penari dalam peran utama “Sangkala Tiga Sakti” dalam pragmentari | Foto Rusdy Ulu

Pada akhirnya mereka melakukan mecaru dengan mendatangi orang suci. Tarian itu ditutup ketika Ida Pedanda masuk dan begulat dengan bhuta kala itu dengan mantra dan air suci, ya, dupa masih menyala. Iblis-iblis itu lenyap kemudian setelah semua obor dinyalakan dan bunyi-bunyi dikeraskan, juga doa dirapal keras-keras.

Penampilan itu berakhir dengan suara gemuruh penonton melalui tepuk tangan yang kencang…

Memang, semua penampilan yang digelar malam itu menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, para penonton rela berjubel. Ada yang duduk di pagar, berdiri di bawah patung, di trotoar di mana-mana mencari celah.

Sehingga festival semacam ini seakan merupa ritual yang heboh. Karena semua orang membawa spirit keakraban dan keharmonisan di tengah desak-desakan badan, tentu, sebelum akhirnya akan benar-benar mensunyikan diri masing-masing.

Seperti pada Widya Astiti, ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi demi mengambil momen video dan foto ketika ogoh-ogoh yang ia tonton, dihadang punggung penonton lain. Tangannya tetap kokoh menjulang ke atas, matanya meliuk—melihat celah lubang seakan mengintip.

“Keren, Kak. Apalagi yang gotong ogoh-ogohnya ganteng-ganteng, hehe,”  kata Astiti di sela menonton pragmentari tadi. “Saya dari Kampung Baru, saya mau nonton ogoh-ogoh dari banjar saya,” lanjut Astiti hendak menonton lagi.

Seorang koreografer pragmentari, Sri Mustya, sedang memperbaiki topeng pemain | Foto: Rusdy Ulu

Semua yang hadir, nyaris—semua memiliki jagoannya masing-masing. Ada empat belas peserta dari berbagai macam banjar dengan hasil kreativitasnya yang unik, dan memiliki pesan terbaik tentang moral tentu saja.

Seperti tadi dari Banjar Kaliuntu yang membawa ogoh-ogoh bertajuk “Sangkala Tiga Sakti”—mengingatkan kita semua sebagai masyarakat jangan mabok aja, juga jangan buang sampah sembarang aja; di kali atau di laut, atau di lingkungan sekitar. Nanti ada yang marah, Bhuta Kala.

Selain dari Banjar Kaliuntu, ada juga dari Banjar Peguyangan membawa ogoh-ogoh “Kala Raksa” yang melakukan pragmentari. Terus ada juga pragmentari “Bhuta Kala Jenggitan” dari Banjar Adat Penataran, Bhuta Dasa Angkara dari Banjar Liligundi.

Kemudian “Kharisma Kroda Geni Rupa” dari Banjar Adat Delodpeken, “Bhuta Wilis” dari Banjar Adat Bali, “Sang Kala Samar” dari Banjar Adat Paketan, “Buta Bun Pamastu” dari Banjar Adat Tengah,  “Buta Cuil” dari Banjar Adat Petak,

“Sang Kala Catur Buta” dari Banjar Adat Kampung Anyar, “Bhuta Kala Dangen” dari Banjar Adat Tegal, dan “Nyi Rimbit” dari Banjar Adat Bale Agung. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogohSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Next Post

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co