24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Vanitas Seharga Satu Meliar

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 26, 2025
in Ulas Rupa
Vanitas Seharga Satu Meliar

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

DI Nuanu City,  tak jauh dari Pantai Nyanyi, Braban, Tabanan,  sebuah kota kreatif  terbangun glamour,  dijaga ketat security berbadan tegap. Tentu, tak sembarang pengunjung boleh masuk ke kondominium wisata ini. Dihuni 95 persen turis Rusia, sejak negara itu berbaku hantam dengan Ukrania  ̶  di mana hingga kini  terus berperang.

Luas kawasan  kurang lebih 60 hektar,  dengan panjang masa kontrak 50 tahun. Petani di Nyayi   secara sadar mengkontrakkan tanah sawah mereka, menukar subak, lumbung pangan mereka untuk  disulap menjadi destinasi wisata bernama Nuanu City   ̶  hunian turis satu negara  ̶  tempat orang-orang Rusia berkumpul, berkreasi, membangun bisnis bersama. Walau suatu saat, generasi di Nyanyi bisa lupa, bahwa itu  tanah pusakanya, warisan leluhur mereka.

Tahun ini,  mulai 22 Maret hingga 17 Juni,  di Nuanu, tepatnya di Galerry Labyrinth Art Gallerry  digelar  pameran  bersama; bertajuk 5DIMENSIONS OF CHANGE, bekerjasama dengan Militan Art.  I Ketut Putrayasa, bersama teman-teman di Militan Art  tampil dengan seni instalasi berjudul “Vanitas”.  Tak tanggung-tanggung  karya  seni instalasi  ini dipatok  dengan  harga   satu meliar. Harga paling tinggi di antara karya yang terpajang di galeri ini. Setidaknya  harga ini bisa kita “klik” pada kotak batang karya. Entah  sang seniman sedang mencibir atau mengingatkan, atau sekadar seberangan nakal, kata vanitas berasal-usul dari Bahasa Latin, bermakna  “kosong”, “sia-sia”,  dan “tidak berharga.’

Tak kurang dingin dan  menghujam. Kali ini seniman kelahiran Desa Tibu Beneng ini tampil dengan tiga elemen teror; potongan linggis, gunting emas, dan semburat ceceran darah. Betul-betul beku dan kaku, satire  pedih, kritik sosial yang  menikam  jantung  sosial, yang nyaris absurd, sia-sia, tak berguna. Ia bicara perihal kecenderungan zaman, tentang birokrasi yang kusut, alam yang rusak, orang-orang lokal yang terusir, rakyat yang diolok-olok, ketimpangan, ketidakadilan yang menyengsarakan, dan kemanusiaan yang dicabik-cabik.

Di situ, di atas box berwarna putih, sang seniman menaruh potongan-potongan linggis.  Patahan-patahan linggis dipotong gunting bedah, naif memang. Sebagai alat, elemen ini cuma fungsional pada dunianya masing-masing.  Tak ada relasi fungsional, kecuali tiga elemen itu untuk membahasakan absurditas. Sebab sungguh  tak mungkin  gunting  bisa  memotong linggis, dan   sungguh mustahil   potongan linggis mengeluarkan   darah segar.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Lagi-lagi  ini satire yang absurd, sesuatu yang sia-sia  dan mubasir. Tetapi begitulah dunia modern berkelindan, di mana hubungan-hubungan logis dunia kerap dikabuti absurditas. Orang-orang  mengalami kesia-siaan, jiwa-jiwa yang garing dan kosong. Itulah absurditas. Boleh jadi ini penderitaan abadi manusia.

Menengok Vanitas, di Nuanu City, kita merasakan  seniman  tengah memberontak sembari mengaduh kesakitan, kejengkelan yang kelam. Teringat padi-padi di Subak Nyanyi, petani-petani meluku tanah, kaki-kaki berlumpur, sapi-sapi mengembik.  Memandang padi-padi menguning, palawija subur, deburan ombak yang menenangkan. Ia mengingat sungai dan parit-parit mengalir bening, ibu-ibu memungut kakul, memetik daun-daun untuk sayur. Setidaknya ada tapak-tapak DNA  leluhur  berpeluh di situ.

Orang Bali sadar subak itu sumber hidup mereka. Subak itu ibu mereka, mandala Dewi Sri. Namun dihadapan tekanan modal, kekuatan luku,  mata bajak, cangkul dan linggis jadi lumer. Alat-alat kerja itu, linggis itu kini terpotong-potong, berdarah. Yang absurd, linggis    dipotong gunting bedah. Sungguh betapa mubasirnya “drama sosial” ini. Kemana kini kaki-kaki petani yang dulu bekerja di areal subak seluas 60 hektar itu? Apakah ia dimutilasi kekuatan modal?  Diusir dengan riang dan nikmat lewat kemakmuran sekejap – lalu lenyap dari tanah pusaka.

Lewat Vanitas, Putrayasa tak cuma mengkritik senjakala peradaban agraris yang dimutilasi  kapitalisme. Vanitas juga menunjukkan tumbal-tumbal sosial, kepala-kepala  jatuh menggelinding di karpet merah kekuasaan, cerdik pandai   merunduk karena tak kuat menahan perut kosong, para profesor mengabdi kekuasaan korup. Mereka  dimutilasi secara sosial. Harga diri dibeli tidak dengan nilai luhur. Namun diturunkan karena kemaruk perut. Lalu  kalah  sia-sia, tanpa melawan. Mereka mati diantara kelindan kemakmuran dan ketidakberdayaan. Ia lalu lenyap, vanitas kemudian mencatat tragedinya  ̶  drama kolosal yang kian menjauhkan orang Bali dari kisah leluhur dan  tanah-tanah  surga yang pernah dipeluknya.

Vanitas adalah seni instalasi dengan narasi yang disembunyikan. Narasi dan kritik yang disaput  potongan-potongan linggis, gunting bedah, serta ceceran darah yang mengental. Putrayasa mengkritik sekaligus memberontak, bahwa semua telah dimutilasi kini. Sesuatu yang masif terjadi di sekeliling kita, menjarah ruang-ruang bebas hingga ke tempat tidur, dan segalanya lalu dihitung, dihargai dengan uang. Puncak kebahagiaan pun cuma ditaruh pada uang.

Kekuatan-kekuatan masyarakat bawah paling tajam,  yang dibayangkan sebagai  ujung lingis  telah memuai, lumer oleh janji kesejahteraan semu. Tengkurap oleh citra  dunia yang dibangun iklan, gincu-gincu kapitalis. Para  cendekia, rohaniawan, akademisi, LSM, lembaga tradisi, dimutilasi dengan sempurna. Dan mereka  akhirnya  menjadi bagian yang memutilasi diri-sendiri. Lagi-lagi ini kesia-siaan.

Hari ini, meminjam pandangan kritis Parakirti T. Simbolon[2000:3],  kondisinya masih  sama seperti 25 tahun silam, di mana kita hidup dalam onggokan dunia “seolah-olah”, a heap of delusion. Dalam kasus negeri ini misalnya, Indonesia membangun dengan fundamental ekonomi yang seolah-olah kuat; dengan politik yang seolah-olah stabil; dengan pemerintah yang seolah-olah bersih dan kompeten; dengan politikus yang seolah-olah negarawan; dengan ABRI yang seolah-olaah satria; dengan pengusaha yang seolah-olah captains of industry; dengan kemewahan seolah-olah kaya raya,; dengan orang sekolahan yang seolah-olah cendekia; dengan ahli hukum yang seolah-olah pendekar keadilan, dengan pengajar yang solah-olah guru; dengan pelajar yang seolah-olah murid, dengan agamawan yang seolah-olah religius, dengan masyarakat yang seolah-olah ramah-tamah. Semua tampak salah, ibarat gigi palsu yang memang lebih kemilau daripada gigi asli.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Di titik ini Vanitas telah menjadi semacam “ critic symbolism”, kritik tanpa narasi di mana sesungguhnya ia adalah narasi besar dunia, itihasa kekalahan. Suatu kondisi  dunia yang tidak baik-baik saja. Negara memutilasi rakyatnya. Pajak kendaraan tinggi, jalan-jalan rusak. Pajak bumi dan bangunan tinggi, fasilitas umum tidak memadai. Sumber daya alam  melimpah,  rakyat  dalam kondisi miskin. Rohaniawan dan guru besar makin melimpah, tetapi moral kita tetap bobrok. Inilah drama yang  absurd itu, tragedi kemanusian yang  kusut. Perih, pedih yang menghujam.

Inilah sesungguh bentuk absurditas yang tengah digelindingkan Ketut Putrayasa. Linggis dipotong gunting lalu berdarah. Seperti kata-kata pelukis Made Wianta, lemari es membakar korek api.  Ini  boleh jadi sebentuk eksistensialisme, sebab  meminjam kata-kata Romo Sindhunata [1982: 19] absurditas berarti ketidakmungkinan mencari jawab pada yang transenden.

Sebab sebagaimana kumandang Nietzsche ketika menyatakan Tuhan telah mati, agar manusia setia pada buminya sendiri. Agar manusia hidup lebih real. Bagi Nietzsche mencari jawab pada yang transenden untuk persoalan-persoalan dunia adalah tindakan pemalas yang mencari gampang-gampangan saja. Di sini pandangan penulis  Zarathustra pun kemudian sejalan dengan dimensi eksistensialisme manusia Bali, apan manusa juga saka wenang, sebab manusialah maha penentu nasib sendiri.

Dan Putrayasa terlihat lebih memilih jalan ini, manusia harus melawan ketidak-beresan, berdiri di kaki sendiri. Kesalahpahaman besar ada pada mereka yang lemah memegang prinsip. Prinsip yang lemah, melahirkan suprastruktur kekuasaan yang  lemah,  melahirkan pemimpin yang korup, yang bangga pada onggokan seolah-olah. Seolah-olah bijak, seolah-olah bermoral tinggi, seolah-olah memberdayakan masyarakat, tapi mencipatakan ketergantungan akut. Yang lahir adalah kebodohan dan pembudakan.

Sepanjang pemimpin itu berumah di “perut”, ia tak mungkin melahirkan masyarakat  bahagia dan sejahtera. Ia akan selalu mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Kemaruk bila hendak mau dilukiskan dengan satu kata. Sebab  rumah pemimpin sejati ada di akal. Karena ia telah menempatkan keadilan sejak di pikiran. Ia kekuatan dewa yang nyata, ia filosuf yang bertindak, yang telah selesai dengan diri sendiri.

Tapi hari ini yang ada hanya paradok, drama sosial yang nungkalik. Semua jumpalitan, penjahat dipuja sebagai hero. Yang adil dan jujur tersungkur, kekuasaan  memutilisasinya -̶   Sejarah lalu pelan-pelan  membukanya, menunjukkan ke jalan  terang; sidang keadilan kebenaran. Bahwa yang batil akan tersingkap, sebagaimana dinginnya vanitas,  mengkritik kondisi   tanpa narasi besar, namun menghujam  jantung zaman.

Vanitas bukan seni yang enak ditonton, alih-alih untuk dinikmati  perasaan dan indra mata. Di balik itu ia menunjukkan kesubliman penatanya, kegelisahan, kelebatan pikiran-pikiran tajam senimannya melihat, merasakan zaman yang tumpang tindih. Lalu ia pun memberondongkan tiga elemen teror; linggis, gunting, dan  semburat darah kental. [T]

Kusa Agra,
25 Maret 2025

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 
Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Komunikasi Intrapersonal bagi Umat Hindu

Next Post

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co