12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Vanitas Seharga Satu Meliar

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 26, 2025
in Ulas Rupa
Vanitas Seharga Satu Meliar

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

DI Nuanu City,  tak jauh dari Pantai Nyanyi, Braban, Tabanan,  sebuah kota kreatif  terbangun glamour,  dijaga ketat security berbadan tegap. Tentu, tak sembarang pengunjung boleh masuk ke kondominium wisata ini. Dihuni 95 persen turis Rusia, sejak negara itu berbaku hantam dengan Ukrania  ̶  di mana hingga kini  terus berperang.

Luas kawasan  kurang lebih 60 hektar,  dengan panjang masa kontrak 50 tahun. Petani di Nyayi   secara sadar mengkontrakkan tanah sawah mereka, menukar subak, lumbung pangan mereka untuk  disulap menjadi destinasi wisata bernama Nuanu City   ̶  hunian turis satu negara  ̶  tempat orang-orang Rusia berkumpul, berkreasi, membangun bisnis bersama. Walau suatu saat, generasi di Nyanyi bisa lupa, bahwa itu  tanah pusakanya, warisan leluhur mereka.

Tahun ini,  mulai 22 Maret hingga 17 Juni,  di Nuanu, tepatnya di Galerry Labyrinth Art Gallerry  digelar  pameran  bersama; bertajuk 5DIMENSIONS OF CHANGE, bekerjasama dengan Militan Art.  I Ketut Putrayasa, bersama teman-teman di Militan Art  tampil dengan seni instalasi berjudul “Vanitas”.  Tak tanggung-tanggung  karya  seni instalasi  ini dipatok  dengan  harga   satu meliar. Harga paling tinggi di antara karya yang terpajang di galeri ini. Setidaknya  harga ini bisa kita “klik” pada kotak batang karya. Entah  sang seniman sedang mencibir atau mengingatkan, atau sekadar seberangan nakal, kata vanitas berasal-usul dari Bahasa Latin, bermakna  “kosong”, “sia-sia”,  dan “tidak berharga.’

Tak kurang dingin dan  menghujam. Kali ini seniman kelahiran Desa Tibu Beneng ini tampil dengan tiga elemen teror; potongan linggis, gunting emas, dan semburat ceceran darah. Betul-betul beku dan kaku, satire  pedih, kritik sosial yang  menikam  jantung  sosial, yang nyaris absurd, sia-sia, tak berguna. Ia bicara perihal kecenderungan zaman, tentang birokrasi yang kusut, alam yang rusak, orang-orang lokal yang terusir, rakyat yang diolok-olok, ketimpangan, ketidakadilan yang menyengsarakan, dan kemanusiaan yang dicabik-cabik.

Di situ, di atas box berwarna putih, sang seniman menaruh potongan-potongan linggis.  Patahan-patahan linggis dipotong gunting bedah, naif memang. Sebagai alat, elemen ini cuma fungsional pada dunianya masing-masing.  Tak ada relasi fungsional, kecuali tiga elemen itu untuk membahasakan absurditas. Sebab sungguh  tak mungkin  gunting  bisa  memotong linggis, dan   sungguh mustahil   potongan linggis mengeluarkan   darah segar.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Lagi-lagi  ini satire yang absurd, sesuatu yang sia-sia  dan mubasir. Tetapi begitulah dunia modern berkelindan, di mana hubungan-hubungan logis dunia kerap dikabuti absurditas. Orang-orang  mengalami kesia-siaan, jiwa-jiwa yang garing dan kosong. Itulah absurditas. Boleh jadi ini penderitaan abadi manusia.

Menengok Vanitas, di Nuanu City, kita merasakan  seniman  tengah memberontak sembari mengaduh kesakitan, kejengkelan yang kelam. Teringat padi-padi di Subak Nyanyi, petani-petani meluku tanah, kaki-kaki berlumpur, sapi-sapi mengembik.  Memandang padi-padi menguning, palawija subur, deburan ombak yang menenangkan. Ia mengingat sungai dan parit-parit mengalir bening, ibu-ibu memungut kakul, memetik daun-daun untuk sayur. Setidaknya ada tapak-tapak DNA  leluhur  berpeluh di situ.

Orang Bali sadar subak itu sumber hidup mereka. Subak itu ibu mereka, mandala Dewi Sri. Namun dihadapan tekanan modal, kekuatan luku,  mata bajak, cangkul dan linggis jadi lumer. Alat-alat kerja itu, linggis itu kini terpotong-potong, berdarah. Yang absurd, linggis    dipotong gunting bedah. Sungguh betapa mubasirnya “drama sosial” ini. Kemana kini kaki-kaki petani yang dulu bekerja di areal subak seluas 60 hektar itu? Apakah ia dimutilasi kekuatan modal?  Diusir dengan riang dan nikmat lewat kemakmuran sekejap – lalu lenyap dari tanah pusaka.

Lewat Vanitas, Putrayasa tak cuma mengkritik senjakala peradaban agraris yang dimutilasi  kapitalisme. Vanitas juga menunjukkan tumbal-tumbal sosial, kepala-kepala  jatuh menggelinding di karpet merah kekuasaan, cerdik pandai   merunduk karena tak kuat menahan perut kosong, para profesor mengabdi kekuasaan korup. Mereka  dimutilasi secara sosial. Harga diri dibeli tidak dengan nilai luhur. Namun diturunkan karena kemaruk perut. Lalu  kalah  sia-sia, tanpa melawan. Mereka mati diantara kelindan kemakmuran dan ketidakberdayaan. Ia lalu lenyap, vanitas kemudian mencatat tragedinya  ̶  drama kolosal yang kian menjauhkan orang Bali dari kisah leluhur dan  tanah-tanah  surga yang pernah dipeluknya.

Vanitas adalah seni instalasi dengan narasi yang disembunyikan. Narasi dan kritik yang disaput  potongan-potongan linggis, gunting bedah, serta ceceran darah yang mengental. Putrayasa mengkritik sekaligus memberontak, bahwa semua telah dimutilasi kini. Sesuatu yang masif terjadi di sekeliling kita, menjarah ruang-ruang bebas hingga ke tempat tidur, dan segalanya lalu dihitung, dihargai dengan uang. Puncak kebahagiaan pun cuma ditaruh pada uang.

Kekuatan-kekuatan masyarakat bawah paling tajam,  yang dibayangkan sebagai  ujung lingis  telah memuai, lumer oleh janji kesejahteraan semu. Tengkurap oleh citra  dunia yang dibangun iklan, gincu-gincu kapitalis. Para  cendekia, rohaniawan, akademisi, LSM, lembaga tradisi, dimutilasi dengan sempurna. Dan mereka  akhirnya  menjadi bagian yang memutilasi diri-sendiri. Lagi-lagi ini kesia-siaan.

Hari ini, meminjam pandangan kritis Parakirti T. Simbolon[2000:3],  kondisinya masih  sama seperti 25 tahun silam, di mana kita hidup dalam onggokan dunia “seolah-olah”, a heap of delusion. Dalam kasus negeri ini misalnya, Indonesia membangun dengan fundamental ekonomi yang seolah-olah kuat; dengan politik yang seolah-olah stabil; dengan pemerintah yang seolah-olah bersih dan kompeten; dengan politikus yang seolah-olah negarawan; dengan ABRI yang seolah-olaah satria; dengan pengusaha yang seolah-olah captains of industry; dengan kemewahan seolah-olah kaya raya,; dengan orang sekolahan yang seolah-olah cendekia; dengan ahli hukum yang seolah-olah pendekar keadilan, dengan pengajar yang solah-olah guru; dengan pelajar yang seolah-olah murid, dengan agamawan yang seolah-olah religius, dengan masyarakat yang seolah-olah ramah-tamah. Semua tampak salah, ibarat gigi palsu yang memang lebih kemilau daripada gigi asli.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Di titik ini Vanitas telah menjadi semacam “ critic symbolism”, kritik tanpa narasi di mana sesungguhnya ia adalah narasi besar dunia, itihasa kekalahan. Suatu kondisi  dunia yang tidak baik-baik saja. Negara memutilasi rakyatnya. Pajak kendaraan tinggi, jalan-jalan rusak. Pajak bumi dan bangunan tinggi, fasilitas umum tidak memadai. Sumber daya alam  melimpah,  rakyat  dalam kondisi miskin. Rohaniawan dan guru besar makin melimpah, tetapi moral kita tetap bobrok. Inilah drama yang  absurd itu, tragedi kemanusian yang  kusut. Perih, pedih yang menghujam.

Inilah sesungguh bentuk absurditas yang tengah digelindingkan Ketut Putrayasa. Linggis dipotong gunting lalu berdarah. Seperti kata-kata pelukis Made Wianta, lemari es membakar korek api.  Ini  boleh jadi sebentuk eksistensialisme, sebab  meminjam kata-kata Romo Sindhunata [1982: 19] absurditas berarti ketidakmungkinan mencari jawab pada yang transenden.

Sebab sebagaimana kumandang Nietzsche ketika menyatakan Tuhan telah mati, agar manusia setia pada buminya sendiri. Agar manusia hidup lebih real. Bagi Nietzsche mencari jawab pada yang transenden untuk persoalan-persoalan dunia adalah tindakan pemalas yang mencari gampang-gampangan saja. Di sini pandangan penulis  Zarathustra pun kemudian sejalan dengan dimensi eksistensialisme manusia Bali, apan manusa juga saka wenang, sebab manusialah maha penentu nasib sendiri.

Dan Putrayasa terlihat lebih memilih jalan ini, manusia harus melawan ketidak-beresan, berdiri di kaki sendiri. Kesalahpahaman besar ada pada mereka yang lemah memegang prinsip. Prinsip yang lemah, melahirkan suprastruktur kekuasaan yang  lemah,  melahirkan pemimpin yang korup, yang bangga pada onggokan seolah-olah. Seolah-olah bijak, seolah-olah bermoral tinggi, seolah-olah memberdayakan masyarakat, tapi mencipatakan ketergantungan akut. Yang lahir adalah kebodohan dan pembudakan.

Sepanjang pemimpin itu berumah di “perut”, ia tak mungkin melahirkan masyarakat  bahagia dan sejahtera. Ia akan selalu mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Kemaruk bila hendak mau dilukiskan dengan satu kata. Sebab  rumah pemimpin sejati ada di akal. Karena ia telah menempatkan keadilan sejak di pikiran. Ia kekuatan dewa yang nyata, ia filosuf yang bertindak, yang telah selesai dengan diri sendiri.

Tapi hari ini yang ada hanya paradok, drama sosial yang nungkalik. Semua jumpalitan, penjahat dipuja sebagai hero. Yang adil dan jujur tersungkur, kekuasaan  memutilisasinya -̶   Sejarah lalu pelan-pelan  membukanya, menunjukkan ke jalan  terang; sidang keadilan kebenaran. Bahwa yang batil akan tersingkap, sebagaimana dinginnya vanitas,  mengkritik kondisi   tanpa narasi besar, namun menghujam  jantung zaman.

Vanitas bukan seni yang enak ditonton, alih-alih untuk dinikmati  perasaan dan indra mata. Di balik itu ia menunjukkan kesubliman penatanya, kegelisahan, kelebatan pikiran-pikiran tajam senimannya melihat, merasakan zaman yang tumpang tindih. Lalu ia pun memberondongkan tiga elemen teror; linggis, gunting, dan  semburat darah kental. [T]

Kusa Agra,
25 Maret 2025

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 
Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Komunikasi Intrapersonal bagi Umat Hindu

Next Post

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co