3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Vanitas Seharga Satu Meliar

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 26, 2025
in Ulas Rupa
Vanitas Seharga Satu Meliar

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

DI Nuanu City,  tak jauh dari Pantai Nyanyi, Braban, Tabanan,  sebuah kota kreatif  terbangun glamour,  dijaga ketat security berbadan tegap. Tentu, tak sembarang pengunjung boleh masuk ke kondominium wisata ini. Dihuni 95 persen turis Rusia, sejak negara itu berbaku hantam dengan Ukrania  ̶  di mana hingga kini  terus berperang.

Luas kawasan  kurang lebih 60 hektar,  dengan panjang masa kontrak 50 tahun. Petani di Nyayi   secara sadar mengkontrakkan tanah sawah mereka, menukar subak, lumbung pangan mereka untuk  disulap menjadi destinasi wisata bernama Nuanu City   ̶  hunian turis satu negara  ̶  tempat orang-orang Rusia berkumpul, berkreasi, membangun bisnis bersama. Walau suatu saat, generasi di Nyanyi bisa lupa, bahwa itu  tanah pusakanya, warisan leluhur mereka.

Tahun ini,  mulai 22 Maret hingga 17 Juni,  di Nuanu, tepatnya di Galerry Labyrinth Art Gallerry  digelar  pameran  bersama; bertajuk 5DIMENSIONS OF CHANGE, bekerjasama dengan Militan Art.  I Ketut Putrayasa, bersama teman-teman di Militan Art  tampil dengan seni instalasi berjudul “Vanitas”.  Tak tanggung-tanggung  karya  seni instalasi  ini dipatok  dengan  harga   satu meliar. Harga paling tinggi di antara karya yang terpajang di galeri ini. Setidaknya  harga ini bisa kita “klik” pada kotak batang karya. Entah  sang seniman sedang mencibir atau mengingatkan, atau sekadar seberangan nakal, kata vanitas berasal-usul dari Bahasa Latin, bermakna  “kosong”, “sia-sia”,  dan “tidak berharga.’

Tak kurang dingin dan  menghujam. Kali ini seniman kelahiran Desa Tibu Beneng ini tampil dengan tiga elemen teror; potongan linggis, gunting emas, dan semburat ceceran darah. Betul-betul beku dan kaku, satire  pedih, kritik sosial yang  menikam  jantung  sosial, yang nyaris absurd, sia-sia, tak berguna. Ia bicara perihal kecenderungan zaman, tentang birokrasi yang kusut, alam yang rusak, orang-orang lokal yang terusir, rakyat yang diolok-olok, ketimpangan, ketidakadilan yang menyengsarakan, dan kemanusiaan yang dicabik-cabik.

Di situ, di atas box berwarna putih, sang seniman menaruh potongan-potongan linggis.  Patahan-patahan linggis dipotong gunting bedah, naif memang. Sebagai alat, elemen ini cuma fungsional pada dunianya masing-masing.  Tak ada relasi fungsional, kecuali tiga elemen itu untuk membahasakan absurditas. Sebab sungguh  tak mungkin  gunting  bisa  memotong linggis, dan   sungguh mustahil   potongan linggis mengeluarkan   darah segar.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Lagi-lagi  ini satire yang absurd, sesuatu yang sia-sia  dan mubasir. Tetapi begitulah dunia modern berkelindan, di mana hubungan-hubungan logis dunia kerap dikabuti absurditas. Orang-orang  mengalami kesia-siaan, jiwa-jiwa yang garing dan kosong. Itulah absurditas. Boleh jadi ini penderitaan abadi manusia.

Menengok Vanitas, di Nuanu City, kita merasakan  seniman  tengah memberontak sembari mengaduh kesakitan, kejengkelan yang kelam. Teringat padi-padi di Subak Nyanyi, petani-petani meluku tanah, kaki-kaki berlumpur, sapi-sapi mengembik.  Memandang padi-padi menguning, palawija subur, deburan ombak yang menenangkan. Ia mengingat sungai dan parit-parit mengalir bening, ibu-ibu memungut kakul, memetik daun-daun untuk sayur. Setidaknya ada tapak-tapak DNA  leluhur  berpeluh di situ.

Orang Bali sadar subak itu sumber hidup mereka. Subak itu ibu mereka, mandala Dewi Sri. Namun dihadapan tekanan modal, kekuatan luku,  mata bajak, cangkul dan linggis jadi lumer. Alat-alat kerja itu, linggis itu kini terpotong-potong, berdarah. Yang absurd, linggis    dipotong gunting bedah. Sungguh betapa mubasirnya “drama sosial” ini. Kemana kini kaki-kaki petani yang dulu bekerja di areal subak seluas 60 hektar itu? Apakah ia dimutilasi kekuatan modal?  Diusir dengan riang dan nikmat lewat kemakmuran sekejap – lalu lenyap dari tanah pusaka.

Lewat Vanitas, Putrayasa tak cuma mengkritik senjakala peradaban agraris yang dimutilasi  kapitalisme. Vanitas juga menunjukkan tumbal-tumbal sosial, kepala-kepala  jatuh menggelinding di karpet merah kekuasaan, cerdik pandai   merunduk karena tak kuat menahan perut kosong, para profesor mengabdi kekuasaan korup. Mereka  dimutilasi secara sosial. Harga diri dibeli tidak dengan nilai luhur. Namun diturunkan karena kemaruk perut. Lalu  kalah  sia-sia, tanpa melawan. Mereka mati diantara kelindan kemakmuran dan ketidakberdayaan. Ia lalu lenyap, vanitas kemudian mencatat tragedinya  ̶  drama kolosal yang kian menjauhkan orang Bali dari kisah leluhur dan  tanah-tanah  surga yang pernah dipeluknya.

Vanitas adalah seni instalasi dengan narasi yang disembunyikan. Narasi dan kritik yang disaput  potongan-potongan linggis, gunting bedah, serta ceceran darah yang mengental. Putrayasa mengkritik sekaligus memberontak, bahwa semua telah dimutilasi kini. Sesuatu yang masif terjadi di sekeliling kita, menjarah ruang-ruang bebas hingga ke tempat tidur, dan segalanya lalu dihitung, dihargai dengan uang. Puncak kebahagiaan pun cuma ditaruh pada uang.

Kekuatan-kekuatan masyarakat bawah paling tajam,  yang dibayangkan sebagai  ujung lingis  telah memuai, lumer oleh janji kesejahteraan semu. Tengkurap oleh citra  dunia yang dibangun iklan, gincu-gincu kapitalis. Para  cendekia, rohaniawan, akademisi, LSM, lembaga tradisi, dimutilasi dengan sempurna. Dan mereka  akhirnya  menjadi bagian yang memutilasi diri-sendiri. Lagi-lagi ini kesia-siaan.

Hari ini, meminjam pandangan kritis Parakirti T. Simbolon[2000:3],  kondisinya masih  sama seperti 25 tahun silam, di mana kita hidup dalam onggokan dunia “seolah-olah”, a heap of delusion. Dalam kasus negeri ini misalnya, Indonesia membangun dengan fundamental ekonomi yang seolah-olah kuat; dengan politik yang seolah-olah stabil; dengan pemerintah yang seolah-olah bersih dan kompeten; dengan politikus yang seolah-olah negarawan; dengan ABRI yang seolah-olaah satria; dengan pengusaha yang seolah-olah captains of industry; dengan kemewahan seolah-olah kaya raya,; dengan orang sekolahan yang seolah-olah cendekia; dengan ahli hukum yang seolah-olah pendekar keadilan, dengan pengajar yang solah-olah guru; dengan pelajar yang seolah-olah murid, dengan agamawan yang seolah-olah religius, dengan masyarakat yang seolah-olah ramah-tamah. Semua tampak salah, ibarat gigi palsu yang memang lebih kemilau daripada gigi asli.

Vanitas, karya Ketut Putrayasa

Di titik ini Vanitas telah menjadi semacam “ critic symbolism”, kritik tanpa narasi di mana sesungguhnya ia adalah narasi besar dunia, itihasa kekalahan. Suatu kondisi  dunia yang tidak baik-baik saja. Negara memutilasi rakyatnya. Pajak kendaraan tinggi, jalan-jalan rusak. Pajak bumi dan bangunan tinggi, fasilitas umum tidak memadai. Sumber daya alam  melimpah,  rakyat  dalam kondisi miskin. Rohaniawan dan guru besar makin melimpah, tetapi moral kita tetap bobrok. Inilah drama yang  absurd itu, tragedi kemanusian yang  kusut. Perih, pedih yang menghujam.

Inilah sesungguh bentuk absurditas yang tengah digelindingkan Ketut Putrayasa. Linggis dipotong gunting lalu berdarah. Seperti kata-kata pelukis Made Wianta, lemari es membakar korek api.  Ini  boleh jadi sebentuk eksistensialisme, sebab  meminjam kata-kata Romo Sindhunata [1982: 19] absurditas berarti ketidakmungkinan mencari jawab pada yang transenden.

Sebab sebagaimana kumandang Nietzsche ketika menyatakan Tuhan telah mati, agar manusia setia pada buminya sendiri. Agar manusia hidup lebih real. Bagi Nietzsche mencari jawab pada yang transenden untuk persoalan-persoalan dunia adalah tindakan pemalas yang mencari gampang-gampangan saja. Di sini pandangan penulis  Zarathustra pun kemudian sejalan dengan dimensi eksistensialisme manusia Bali, apan manusa juga saka wenang, sebab manusialah maha penentu nasib sendiri.

Dan Putrayasa terlihat lebih memilih jalan ini, manusia harus melawan ketidak-beresan, berdiri di kaki sendiri. Kesalahpahaman besar ada pada mereka yang lemah memegang prinsip. Prinsip yang lemah, melahirkan suprastruktur kekuasaan yang  lemah,  melahirkan pemimpin yang korup, yang bangga pada onggokan seolah-olah. Seolah-olah bijak, seolah-olah bermoral tinggi, seolah-olah memberdayakan masyarakat, tapi mencipatakan ketergantungan akut. Yang lahir adalah kebodohan dan pembudakan.

Sepanjang pemimpin itu berumah di “perut”, ia tak mungkin melahirkan masyarakat  bahagia dan sejahtera. Ia akan selalu mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Kemaruk bila hendak mau dilukiskan dengan satu kata. Sebab  rumah pemimpin sejati ada di akal. Karena ia telah menempatkan keadilan sejak di pikiran. Ia kekuatan dewa yang nyata, ia filosuf yang bertindak, yang telah selesai dengan diri sendiri.

Tapi hari ini yang ada hanya paradok, drama sosial yang nungkalik. Semua jumpalitan, penjahat dipuja sebagai hero. Yang adil dan jujur tersungkur, kekuasaan  memutilisasinya -̶   Sejarah lalu pelan-pelan  membukanya, menunjukkan ke jalan  terang; sidang keadilan kebenaran. Bahwa yang batil akan tersingkap, sebagaimana dinginnya vanitas,  mengkritik kondisi   tanpa narasi besar, namun menghujam  jantung zaman.

Vanitas bukan seni yang enak ditonton, alih-alih untuk dinikmati  perasaan dan indra mata. Di balik itu ia menunjukkan kesubliman penatanya, kegelisahan, kelebatan pikiran-pikiran tajam senimannya melihat, merasakan zaman yang tumpang tindih. Lalu ia pun memberondongkan tiga elemen teror; linggis, gunting, dan  semburat darah kental. [T]

Kusa Agra,
25 Maret 2025

Penulis: I Wayan Westa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Yang Tersisa Dibuat Abadi:  Patung Trenggiling Sunda Karya Ketut Putrayasa di Singapura 
Meja yang Menyatakan Hasrat
Catatan Akhir Tahun: Ulu Ledak Sang Kromoson   
Kode Gurita di Pantai Berawa
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
Tags: Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Komunikasi Intrapersonal bagi Umat Hindu

Next Post

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Ingatan Teater, Masyarakat dan Relasi Seni Andy Sri Wahyudi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co