23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ironi Efisiensi dan Bangga Berwisata di Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
March 8, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

EFISIENSI anggaran dijadikan jurus ampuh pada 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Banyak pos Kementerian dan Lembaga (K/L) yang dipangkas. Efisiensi anggaran pun menjadi kebijakan politis demi gengsi penguasa baru.

Jika dirunut, efisiensi anggaran tercetus setelah program kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan mengusung isu Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Program MBG ternyata terseok-seok lantaran menyedot biaya banyak. Padahal program itu merupakan salah satu nilai jual politis yang sangat tinggi dalam kampanye Pilpres kemarin.

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus memangkas anggaran K/L untuk memenuhi biaya MBG. Hal itu diakui sendiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah terpaksa menggunakan dana hasil efisiensi anggaran sebesar Rp 24 Triliun untuk mendukung program MBG. Pernyataan itu disampaikan Prabowo pada saat pidato Perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Partai Gerindra di Bogor, 15 Februari 2025 ( Kompas.com, 16/2/2025).

Kebijakan tersebut bukan tanpa ironi. Efisiensi anggaran mengakibatkan perubahan pola dan irama kerja pegawai. Beberapa instansi pemerintah membatasi aktivitas yang berkaitan dengan pengeluaran anggaran. Mulai dari tidak diperbolehkan untuk rapat di rumah makan hingga hemat dalam penggunaan listrik dan AC.

Ironinya, di tengah kebijakan efisiensi anggaran, masyarakat disuguhi tontonan yang kontradiktif. Acara retreat kepala daerah di Akademi Militer Magelang menelan biaya Rp 13 miliar. Jumlah yang tidak sedikit bagi rakyat yang ekonominya sedang terjepit.

Kebijakan Reaksioner

Di tengah ironi efisiensi anggaran, muncul gagasan kampanye dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan meluncurkan tagar #MudikYuk dan #LebarandiJakartaAja. Kampanye  itu untuk meningkatkan minat wisatawan melakukan perjalanan wisata selama libur Lebaran 2025.

Kampanye tersebut juga bertujuan mendorong pencapaian 1,08 miliar perjalanan nusantara yang ditargetkan pada tahun 2025. Hal ini  merupakan bagian dari kampanye besar #DiIndonesiaAja, dan program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI). Nantinya, melalui kampanye #MudikYuk, masyarakat diajak untuk menjelajahi destinasi wisata di Indonesia, terutama di sekitar kampung halaman mereka (Kumparan, 2/3/2025).

Kampanye Kemenpar sesungguhnya bukan sesuatu yang inovatif dan progresif. Kampanye Bangga Berwisata di Indonesia justru menggambarkan kebijakan yang reaksioner terhadap kondisi perekonomian yang sedang lesu; ditambah lagi dengan efisiensi anggaran dari pemerintah.

Tagar #MudikYuk tidak berkorelasi terlalu signifikan dengan perkembangan pariwisata Tanah Air. Terkesan Kemenpar hanya mendompleng momentum Lebaran untuk mendorong masyarakat berwisata. Tidak muncul program yang jelas, bagaimana menggairahkan sektor pariwisata di tengah efisiensi anggaran.

Setiap Lebaran sebagian besar masyarakat Indonesia sudah pasti akan mudik. Selain pulang kampung, masyarakat juga akan berkunjung ke tempat-tempat wisata di daerah. Namun kegiatan berwisata itu sesungguhnya bagian dari kultur mudik, bukan terdorong oleh motif berwisata. Semestinya Kemenpar punya gagasan yang lebih bernas untuk menghidupkan sektor pariwisata.

Sektor Terdampak

Bangga Berwisata di Indonesia tidak cukup dengan tagar #MudikYuk. Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah akan berdampak serius terhadap sektor pariwisata. Masalah ini semestinya yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Kemenpar.

Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang menaungi banyak sektor usaha bisnis dan pelayanan. Ada sektor transportasi, akomodasi, objek dan daya tarik wisata, kuliner, industri kreatif, dan usaha kecil kerajinan. Semua sektor itu saling terkait dan saling pengaruh.

Efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah akan berdampak serius pada sektor pariwisata. Banyak kegiatan di K/L yang sangat berkaitan dengan sektor pariwisata. Sebut saja perjalanan dinas, kunjungan kerja, dan studi banding.

Sektor transportasi tentu saja akan terdampak. Berkurangnya perjalanan dinas pegawai pemerintahan akan mengurangi mobilitas. Karenanya, target  1,08 miliar perjalanan nusantara tahun 2025 diperkirakan sulit tercapai. Dampak efisiensi anggaran juga akan dirasakan biro perjalanan yang selama ini sering menangani kegiatan-kegiatan instansi pemerintah ke luar daerah.

Akomodasi menjadi sektor yang terdampak pula. Berkurangnya anggaran untuk kunjungan kerja maupun studi banding ke daerah lain akan berdampak pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel dan lama menginap. Kegiatan yang biasanya dapat dilakukan selama tiga atau empat hari, bisa dipangkas menjadi hanya satu atau dua hari saja.

Jika sektor akomodasi terdampak, maka sektor kuliner pun akan terdampak. Restoran dan rumah makan selama ini sangat diuntungkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan instansi pemerintah. Banyak kegiatan rapat dinas yang dilakukan di restoran, rumah makan, dan kafe. Bisa jadi semua rapat akan dilakukan di kantor masing-masing.

Objek dan daya tarik wisata (ODTW) meski tidak terlalu terdampak serius, namun tetap saja akan merasakan imbas efisiensi anggaran. Biasanya kegiatan dinas sebuah instansi merupakan satu paket dengan mengunjungi objek-objek wisata, termasuk mengunjungi sentra-sentra kerajinan dan industri kecil. Padahal kegiatan seperti rapat dinas maupun seminar sering melibatkan banyak peserta.

Penurunan pendapatan diperkiran akan menimpa industri kreatif, event organizer (EO), kelompok kesenian, hingga artis nasional dan daerah. Banyak kegiatan meeting, incentive, conference, dan exhibition (MICE) yang melibatkan mereka. Kegiatan konferensi misalnya, akan melibatkan banyak pihak, mulai dari EO hingga artis.  Begitu pula dengan acara-acara seremonial yang acapkali melibatkan pelaku kesenian di daerah.

Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang progresif dan inovatif dari Kemenpar. Jika tidak, maka industri pariwisata akan mengalami masa paceklik, hidup enggan mati pun tak mau. Meski sesungguhnya sektor pariwisata bukan hanya bergantung pada kegiatan K/L, namun nyatanya para pengusaha dan pelaku pariwisata mulai mengeluhkan kebijakan efisiensi anggaran pemerintahan Prabowo Subianto.

Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Arya Pering Arimbawa mengatakan sebagian hotel bergantung pada acara dan kunjungan kerja pemerintah. Dengan kebijakan efisiensi anggaran, mereka otomatis harus menekan biaya operasional, termasuk gaji pegawai (CNN Indonesia, 5/3/2025).

IHGMA menaungi sekitar 1.000 hotel dari Aceh hingga Papua. Mereka menggelar survei dengan sampel 315 hotel untuk mengetahui dampak efisiensi anggaran terhadap perhotelan.
Hasilnya, pengusaha-pengusaha hotel bintang tiga mengaku pendapatan mereka turun hingga 100 persen. Senada, hotel bintang empat terdampak dengan pendapatan menurun sampai 60 persen. Terutama pada bintang empat yang melaporkan potensi kerugian lebih dari Rp3 miliar per hotel selama efisiensi dilakukan, per satu hotel, demikian kata Wakil Ketua Umum IHGMA Garna Sobhara Swara, seperti diberitakan CNN Indonenia.

Garna mengatakan kerugian itu merembet ke berbagai hal. Misalnya, hotel-hotel mengurangi pembelian pasokan dari ratusan suplier, mulai dari bahan makanan hingga  keperluan hotel. Jika tidak diantisipasi, kebijakan efisiensi anggaran Presiden Prabowo akan dapat berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor pariwisata. Tentu ini akan menjadi ironi di tengah kampanye Bangga Berwisata di Indonesia.

Efisiensi anggaran tampaknya nyaris identik dengan kebijakan mengencangkan ikat pinggang di zaman pemerintahan Soeharto. Penuh ironi. Masyarakat diminta untuk berhemat dan mengencangkan ikat pinggang, sementara para pejabat dan konglomerat semakin lebar lingkar pinggangnya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?
Kuliner sebagai Ikon Wisata: Ya Makan, Ya Wisata
“Nostalgic Tourism” : Reduksi dan Kanalisasi Kenangan
Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata
“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Croptop, Yamaha Filano, Filter Selfie: Upaya-upaya Mengatasi Keterasingan

Next Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Vito Prasetyo  |  Antara Hitam dan Putih

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co