22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyusuri Rasa dan Tradisi: Sate Keladi di Pasar Intaran

Gia by Gia
February 22, 2025
in Kuliner
Menyusuri Rasa dan Tradisi: Sate Keladi di Pasar Intaran

Membakar sate keladi di Pasar Intaran | Foto: Dok. Pasar Intara

SETIAP Minggu pagi, Pasar Intaran yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, menjadi surga bagi para pecinta kuliner, komunitas, maupun individu yang mencari tempat untuk berkumpul. Banyak orang dari berbagai kalangan, baik itu anak-anak, orang tua, anak muda, pelajar, pengusaha, jurnalis, aktivis, dan mahasiswa datang untuk menikmati berbagai acara yang diadakan oleh pasar ini.

Terletak di pedesaan dengan pepohonan rindang dan udara segar, Pasar Intaran menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar tempat berbelanja. Di sini, pengunjung bisa memulai hari dengan olahraga Zumba, mencari sarapan, bertukar gagasan, hingga menikmati hangatnya matahari pagi.

Dari banyak hal yang dapat kita temukan di Pasar Intaran, tetap yang menjadi daya tarik utamanya adalah keberagaman makanan tradisional yang menggugah selera. Bagi generasi yang lebih tua, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi kesempatan untuk bernostalgia, mengingat kembali rasa-rasa yang dulu pernah ada, eakk.

Sementara bagi muda-mudi, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi ini adalah pengalaman mencicipi kembali hidangan yang semakin jarang ditemukan sekaligus merasakan kedekatan dengan akar budaya melalui kuliner.

Pada hari Minggu, 16 Februari 2025, salah satu makanan yang paling mencuri perhatian adalah sate keladi, primadona baru di antara jajanan Pasar Intaran.  Sate keladi terbuat dari campuran keladi (talas), kentang, dan ikan cakalang yang menghasilkan perpaduan rasa gurih yang unik. Teksturnya lembut namun tetap memberikan sedikit gigitan khas dari keladi.

Dengan hanya satu koin neem (alat tukar/transaksi di Pasar Intaran), setara dengan Rp10.000, pengunjung sudah bisa menikmati lima tusuk sate keladi yang kaya rasa dan sarat sejarah. Lokasinya pun mudah ditemukan, berada di dekat Pojok Literasi, dengan ciri khas meja dan alat pemanggang yang menguar aroma khas sate yang sedang dibakar.

Namun, menikmati sate keladi di Pasar Intaran bukan sekadar soal mencicipi makanan lezat. Ini juga menjadi perjalanan untuk mengenali kembali jejak kuliner khas Bali Utara yang semakin langka. Sebuah pengalaman yang mengajak kita untuk tidak sekadar makan, tetapi juga memahami makna di balik setiap suapan.

Mengapa Sate Keladi Bukan Sekadar Hidangan Biasa?

Konon kuliner adalah jendela untuk memahami sebuah kebudayaan. Lewat rasa, aroma, tekstur, dan tampilan, makanan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar mengenyangkan perut. Setiap gigitan mengandung cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang melekat dalam suatu masyarakat.

Namun, merasakan sebuah hidangan tidak cukup hanya dengan indera perasa. Di balik setiap makanan, ada kisah yang menjadikannya lebih bermakna. Mengetahui latar belakang suatu hidangan akan memberikan apresiasi yang lebih mendalam terhadap cita rasanya.

Memabakar sate keladi di Pasar Intaran | Foto: Dok. Pasar Intaran

Begitulah pengalaman saya ketika berada di Pasar Intaran. Berawal dari mencicipi sate keladi, percakapan dengan sesama pengunjung pasar yaitu Pak Patut dan Pak Made, membawa saya pada perjalanan mengenal lebih jauh tipologi peradaban di Bali Utara. Hal itu diawali dengan pertanyaan sederhana yaitu, “Apakah sate keladi banyak ditemukan di Singaraja?”.

Dari pertanyaan sederhana itu diketahui bahwa sate keladi bukan sekadar sajian khas, tetapi juga bagian dari identitas kuliner desa-desa di Bali Aga, kelompok masyarakat Bali asli yang mempertahankan tradisi leluhurnya di wilayah Bali Utara.

“Mereka itu yang budayanya Bali sebelum ‘dijajah’, kalau kita kan sudah pernah ‘dijajah’,” jelas Pak Made.

Tentu yang ia maksudkan dari jajah-dijajah ini merujuk pada proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan Bali di era Kerajaan Majapahit (1343), yang mana hal itu tidak terjadi di desa-desa Bali Aga.  

Sate keladi dikenal sebagai makanan khas dari Desa Pedawa. Sebuah desa yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Buleleng, di mana keladi menjadi tumbuhan yang bisa tumbuh di mana-mana,  bahkan ia tumbuh liar di pekarangan rumah, hingga menjadi sumber pangan yang vital bagi masyarakat.

Jika keladi pada umumnya direbus atau dikukus, diolah menjadi kue, atau juga dicampur dengan nasi seperti nasi muranan. Uniknya, masyarakat Pedawa mengolah keladi menjadi bahan baku sate lilit. Kok bisa ya?

“Kalau saya sih melihatnya, sate keladi ini spesial karena dia pakai keladi, tidak perlu lagi tepung tapioka atau terigu untuk merekatkan adonannya,” ujar Pak Patut.

Sate keladi siap disantap | Foto: Dok. Pasar Intaran

Sama hal nya dengan kentang ataupun singkong, keladi juga kaya akan pati sehingga tanaman ini merupakan potensi sumber karbohidrat lokal. Selain itu kandungan amilopektin yang tinggi juga membuat talas atau keladi terasa lengket dan pulen.

Bisa dibayangkan bahwa sate keladi merupakan buah pikiran arif dan kreatif dari komunitas Bali Aga, yang kehidupannya penuh dengan kesadaran ekologis. Tidak perlu membeli tepung terigu atau tapioka yang sudah mengalami proses yang cukup panjang, cukup dengan memanfaatkan keladi yang ada di lingkungan sekitar, satu makanan lezat sudah bisa terhidang di meja makan.

Santapan lain yang bisa dinikmati di Pasar Intaran

Tidak hanya sate keladi, di Pasar Intaran kita bisa mencicipi santapan khas Bali Utara lainnya dalam bentuk jaje, di antaranya: nagasari, olen-olen, injin (ketan hitam), dan jaje giling-giling yang dikemas dalam wadah daun pisang.

Selain itu kudapan lain seperti nasi bakar, tipat cantok, siomay, mie asin, dan mengguh dapat ditemukan dengan mudah di pasar ini. Hanya dengan satu koin neem, kita bisa mendapatkan satu porsi dari makanan tersebut.

Jika anda haus setelah mejajaki makanan tradisional yang ada di pasar, ada es daluman yang kaya akan serat dan manis karena gula aren. Dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemanis buatan. Selain itu ada juga es kelapa muda yang laris manis, dan kopi dari Kedai Kopi Dekakiang yang nikmat sekali disruput sembari bercengkerama.

BACA JUGA:

Di Pasar Intaran, Anak-anak Riang Menyanyi dalam Wimbakara Karaoke Gending Bali, Bulan Bahasa Bali

Tidak hanya sekedar makan, di Pasar Intaran juga kita dikenalkan pada gaya hidup yang berkelanjutan. Karena semua produk, baik itu makanan atau barang-barang yang dijual di Pasar Intaran merupakan hasil kurasi pihak penyelenggara.

Produk-produk di pasar ini sebanyak mungkin harus mengakomodasi penggunaan bahan-bahan alami, dimulai dari bahan baku produk hingga pengemasannya. Seperti daun kelapa dan daun pisang yang dijadikan bungkus, alas, atau piring menggantikan plastik. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan cara belajar dari masa lalu dengan mengadopsi kebiasaan lama yang lebih ramah lingkungan.

Lebih dari Sekadar Pasar, Lebih dari Sekadar Kuliner

Sate keladi di Pasar Intaran adalah lebih dari sekadar jajanan baru yang sedang naik daun. Ia membawa cerita tentang asal-usul, kearifan lokal, dan bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan untuk memahami sejarah dan identitas sebuah masyarakat.

Pasar Intaran sendiri bukan sekadar tempat bertransaksi. Ia adalah ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan tradisi, mengenalkan kembali kearifan lokal dalam keseharian, serta memberikan ruang bagi komunitas untuk berbagi pengalaman.

Di sini, kita tidak hanya makan, tetapi juga belajar. Kita tidak sekadar membeli, tetapi juga mengapresiasi. Dan di antara semua itu, kita diingatkan bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan dan makna di baliknya. [T]

Reporter/Penulis: Gia
Editor: Adnyana Ole

  • Liputan ini terselenggara atas kerjasama Pasar Intaran dan tatkala.co
Pasar Intaran, Pasar Minggu, Pasar Ekonomi Kreatif di Bali Utara
Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!
Tags: bulelengkulinerPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Next Post

Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Gia

Gia

Seorang peneliti kebudayaan dan komunitas maritim (suku nomaden laut) di Indonesia. Meski sempat mengalami pasang-surut dalam dunia penulisan kreatif, ia senang menulis catatan perjalanannya berkeliling Indonesia di kosongtong.worpress.com.

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co