14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyusuri Rasa dan Tradisi: Sate Keladi di Pasar Intaran

Gia by Gia
February 22, 2025
in Kuliner
Menyusuri Rasa dan Tradisi: Sate Keladi di Pasar Intaran

Membakar sate keladi di Pasar Intaran | Foto: Dok. Pasar Intara

SETIAP Minggu pagi, Pasar Intaran yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, menjadi surga bagi para pecinta kuliner, komunitas, maupun individu yang mencari tempat untuk berkumpul. Banyak orang dari berbagai kalangan, baik itu anak-anak, orang tua, anak muda, pelajar, pengusaha, jurnalis, aktivis, dan mahasiswa datang untuk menikmati berbagai acara yang diadakan oleh pasar ini.

Terletak di pedesaan dengan pepohonan rindang dan udara segar, Pasar Intaran menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar tempat berbelanja. Di sini, pengunjung bisa memulai hari dengan olahraga Zumba, mencari sarapan, bertukar gagasan, hingga menikmati hangatnya matahari pagi.

Dari banyak hal yang dapat kita temukan di Pasar Intaran, tetap yang menjadi daya tarik utamanya adalah keberagaman makanan tradisional yang menggugah selera. Bagi generasi yang lebih tua, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi kesempatan untuk bernostalgia, mengingat kembali rasa-rasa yang dulu pernah ada, eakk.

Sementara bagi muda-mudi, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi ini adalah pengalaman mencicipi kembali hidangan yang semakin jarang ditemukan sekaligus merasakan kedekatan dengan akar budaya melalui kuliner.

Pada hari Minggu, 16 Februari 2025, salah satu makanan yang paling mencuri perhatian adalah sate keladi, primadona baru di antara jajanan Pasar Intaran.  Sate keladi terbuat dari campuran keladi (talas), kentang, dan ikan cakalang yang menghasilkan perpaduan rasa gurih yang unik. Teksturnya lembut namun tetap memberikan sedikit gigitan khas dari keladi.

Dengan hanya satu koin neem (alat tukar/transaksi di Pasar Intaran), setara dengan Rp10.000, pengunjung sudah bisa menikmati lima tusuk sate keladi yang kaya rasa dan sarat sejarah. Lokasinya pun mudah ditemukan, berada di dekat Pojok Literasi, dengan ciri khas meja dan alat pemanggang yang menguar aroma khas sate yang sedang dibakar.

Namun, menikmati sate keladi di Pasar Intaran bukan sekadar soal mencicipi makanan lezat. Ini juga menjadi perjalanan untuk mengenali kembali jejak kuliner khas Bali Utara yang semakin langka. Sebuah pengalaman yang mengajak kita untuk tidak sekadar makan, tetapi juga memahami makna di balik setiap suapan.

Mengapa Sate Keladi Bukan Sekadar Hidangan Biasa?

Konon kuliner adalah jendela untuk memahami sebuah kebudayaan. Lewat rasa, aroma, tekstur, dan tampilan, makanan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar mengenyangkan perut. Setiap gigitan mengandung cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang melekat dalam suatu masyarakat.

Namun, merasakan sebuah hidangan tidak cukup hanya dengan indera perasa. Di balik setiap makanan, ada kisah yang menjadikannya lebih bermakna. Mengetahui latar belakang suatu hidangan akan memberikan apresiasi yang lebih mendalam terhadap cita rasanya.

Memabakar sate keladi di Pasar Intaran | Foto: Dok. Pasar Intaran

Begitulah pengalaman saya ketika berada di Pasar Intaran. Berawal dari mencicipi sate keladi, percakapan dengan sesama pengunjung pasar yaitu Pak Patut dan Pak Made, membawa saya pada perjalanan mengenal lebih jauh tipologi peradaban di Bali Utara. Hal itu diawali dengan pertanyaan sederhana yaitu, “Apakah sate keladi banyak ditemukan di Singaraja?”.

Dari pertanyaan sederhana itu diketahui bahwa sate keladi bukan sekadar sajian khas, tetapi juga bagian dari identitas kuliner desa-desa di Bali Aga, kelompok masyarakat Bali asli yang mempertahankan tradisi leluhurnya di wilayah Bali Utara.

“Mereka itu yang budayanya Bali sebelum ‘dijajah’, kalau kita kan sudah pernah ‘dijajah’,” jelas Pak Made.

Tentu yang ia maksudkan dari jajah-dijajah ini merujuk pada proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan Bali di era Kerajaan Majapahit (1343), yang mana hal itu tidak terjadi di desa-desa Bali Aga.  

Sate keladi dikenal sebagai makanan khas dari Desa Pedawa. Sebuah desa yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Buleleng, di mana keladi menjadi tumbuhan yang bisa tumbuh di mana-mana,  bahkan ia tumbuh liar di pekarangan rumah, hingga menjadi sumber pangan yang vital bagi masyarakat.

Jika keladi pada umumnya direbus atau dikukus, diolah menjadi kue, atau juga dicampur dengan nasi seperti nasi muranan. Uniknya, masyarakat Pedawa mengolah keladi menjadi bahan baku sate lilit. Kok bisa ya?

“Kalau saya sih melihatnya, sate keladi ini spesial karena dia pakai keladi, tidak perlu lagi tepung tapioka atau terigu untuk merekatkan adonannya,” ujar Pak Patut.

Sate keladi siap disantap | Foto: Dok. Pasar Intaran

Sama hal nya dengan kentang ataupun singkong, keladi juga kaya akan pati sehingga tanaman ini merupakan potensi sumber karbohidrat lokal. Selain itu kandungan amilopektin yang tinggi juga membuat talas atau keladi terasa lengket dan pulen.

Bisa dibayangkan bahwa sate keladi merupakan buah pikiran arif dan kreatif dari komunitas Bali Aga, yang kehidupannya penuh dengan kesadaran ekologis. Tidak perlu membeli tepung terigu atau tapioka yang sudah mengalami proses yang cukup panjang, cukup dengan memanfaatkan keladi yang ada di lingkungan sekitar, satu makanan lezat sudah bisa terhidang di meja makan.

Santapan lain yang bisa dinikmati di Pasar Intaran

Tidak hanya sate keladi, di Pasar Intaran kita bisa mencicipi santapan khas Bali Utara lainnya dalam bentuk jaje, di antaranya: nagasari, olen-olen, injin (ketan hitam), dan jaje giling-giling yang dikemas dalam wadah daun pisang.

Selain itu kudapan lain seperti nasi bakar, tipat cantok, siomay, mie asin, dan mengguh dapat ditemukan dengan mudah di pasar ini. Hanya dengan satu koin neem, kita bisa mendapatkan satu porsi dari makanan tersebut.

Jika anda haus setelah mejajaki makanan tradisional yang ada di pasar, ada es daluman yang kaya akan serat dan manis karena gula aren. Dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemanis buatan. Selain itu ada juga es kelapa muda yang laris manis, dan kopi dari Kedai Kopi Dekakiang yang nikmat sekali disruput sembari bercengkerama.

BACA JUGA:

Di Pasar Intaran, Anak-anak Riang Menyanyi dalam Wimbakara Karaoke Gending Bali, Bulan Bahasa Bali

Tidak hanya sekedar makan, di Pasar Intaran juga kita dikenalkan pada gaya hidup yang berkelanjutan. Karena semua produk, baik itu makanan atau barang-barang yang dijual di Pasar Intaran merupakan hasil kurasi pihak penyelenggara.

Produk-produk di pasar ini sebanyak mungkin harus mengakomodasi penggunaan bahan-bahan alami, dimulai dari bahan baku produk hingga pengemasannya. Seperti daun kelapa dan daun pisang yang dijadikan bungkus, alas, atau piring menggantikan plastik. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan cara belajar dari masa lalu dengan mengadopsi kebiasaan lama yang lebih ramah lingkungan.

Lebih dari Sekadar Pasar, Lebih dari Sekadar Kuliner

Sate keladi di Pasar Intaran adalah lebih dari sekadar jajanan baru yang sedang naik daun. Ia membawa cerita tentang asal-usul, kearifan lokal, dan bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan untuk memahami sejarah dan identitas sebuah masyarakat.

Pasar Intaran sendiri bukan sekadar tempat bertransaksi. Ia adalah ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan tradisi, mengenalkan kembali kearifan lokal dalam keseharian, serta memberikan ruang bagi komunitas untuk berbagi pengalaman.

Di sini, kita tidak hanya makan, tetapi juga belajar. Kita tidak sekadar membeli, tetapi juga mengapresiasi. Dan di antara semua itu, kita diingatkan bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan dan makna di baliknya. [T]

Reporter/Penulis: Gia
Editor: Adnyana Ole

  • Liputan ini terselenggara atas kerjasama Pasar Intaran dan tatkala.co
Pasar Intaran, Pasar Minggu, Pasar Ekonomi Kreatif di Bali Utara
Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!
Tags: bulelengkulinerPasar Intaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Next Post

Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Gia

Gia

Seorang peneliti kebudayaan dan komunitas maritim (suku nomaden laut) di Indonesia. Meski sempat mengalami pasang-surut dalam dunia penulisan kreatif, ia senang menulis catatan perjalanannya berkeliling Indonesia di kosongtong.worpress.com.

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Gede Suanda aka Sayur, dan Cara Dia Merespon Hari Tumpek Landep dengan Lukisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co