23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Perlu Desain dan Terapi Kejut Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
January 19, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SIAPA yang harus memikirkan masa depan Bali dengan budaya, adat, agama, dan pariwisatanya? Seharusnya masyarakat Bali sendiri. Nyatanya, Bali lebih banyak diintervensi oleh kekuasaan politik dan bisnis di pusat kekuasaan, Jakarta.

Berbagai kebijakan dirumuskan di pusat dengan target capaian peningkatan pendapatan nasional dan devisa negara. Apa hasilnya? Bali padat wisatawan. Jika ada bantahan bahwa yang padat hanya ada di Bali Selatan, itu hanyalah retorika yang mengabaikan realitas bahwa citra Bali adalah satu kesatuan antara Selatan, Utara, Barat, dan Timur.

Bali macet. Itu juga hasil lomba mengejar devisa. Apologi pun muncul. Kemacetan itu hanya terjadi di Badung. Bahwa bukan kemacetan yang terjadi, tetapi penumpukan wisatawan di Badung sehingga menimbulkan kemacetan. Sementara keluh kesah dan sumpah serapah masyarakat terhadap kemacetan lalu lintas nyaris terlontar setiap hari.

Apa lagi hasilnya? Sampah menjadi persoalan klasik di Bali. Solusi yang bersifat teknologi adaptif belum dilakukan, justru solusi ekonomis yang dikedepankan. Wisatawan mancanegara dikenai pungutan untuk mengatasi persoalan sampah. Miliaran rupiah sudah dihasilkan, tapi masalah sampah belum terpecahkan.

Investasi meningkat drastis di Bali. berbarengan dengan itu, terjadi alih fungsi lahan yang berlangsung sejak lama. Lahan-lahan produktif berubah bentuk menjadi tembok-tembok fasilitas pariwisata. Bukan rahasia pula jika kepemilikan tanah di Bali mengalami perubahan begitu drastis. Konglomerat dari Jakarta dan orang asing begitu mudah memiliki lahan di Bali, dengan dalih keterbukaan investasi.

Hanya itu? Tentu tidak. Bule-bule yang berkunjung ke Bali kini semakin brutal. Pelecehan terhadap simbol-simbol agama, adat, dan budaya Bali kerap terjadi. Kriminalitas bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Bali dan pendatang, wisatawan asing pun turut menyumbang angka kriminalitas.

Pesta seks dan sarang narkoba menjadi julukan baru bagi Bali. Dan tentu saja, orang asing begitu mudah untuk bekerja apa saja. Bali yang mendapat julukan Pulau Dewata, kini mendapat predikat baru sebagai surga dunia, lantaran turis bisa melakukan apa saja.

Apakah orang Bali diam? Sebagian kecil berbicara, berteriak, dan protes. Sebagian besar memilih diam. Mereka yang kritis bicara di forum maupun di media tidak jarang mendapat stigma tidak pro pada pembangunan. Sementara yang diam lebih karena apatis; atau ada pula karena pertimbangan diuntungkan oleh relasi politik dan bisnis dengan pusat kekuasaan.

Bagaimana dengan kampus sebagai mata, hati, telinga, dan mulut untuk bicara kritis atas permasalahan di sekitar? Lazimnya kampus di berbagai daerah, kaum intelektual yang semestinya punya kepekaan menjadi terdiam ketika mendapat proyek yang bersumber dari pemerintah maupun donatur. Bagi yang kritis akan dianggap sebagai tidak kebagian proyek dan hanya dapat berwacana.

Bali dan pemerintah pusat bukannya tidak pernah menjadi sasaran kritik akademisi kampus. Tidak sedikit pula kaum intelektual kampus yang berteriak lantang. Namun rezim selalu masih sensitif terhadap kritik, bahkan terkesan anti kritik. Pada satu isu kekinian misalnya, seorang Guru Besar yang mengkritik kebijakan pemerintah justru dianggap tidak tahu apa-apa, bahkan diragukan  profesornya.

Perlu Grand Design

Pariwisata Bali tidak bisa berjalan secara auto pilot. Bali perlu grand design yang jelas terhadap pariwisata ke depan. Disain besar pariwisata Bali itu diperlukan agar perkembangan pariwisatanya tidak hanya berkutat pada Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).

Perlu reorientasi pariwisata yang bertujuan mengembangkan pariwisata dan memakmurkan masyarakat di Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur. Tentu tidak mudah; karena akan memerlukan disain besar yang menyangkut aksesibilitas, amenitas, atraksi, dan kelembagaan.

Aksesibilitas menjadi masalah yang krusial bagi pengembangan pariwisata ke barat, utara, dan timur. Mencari solusi untuk mengurai kemacetan di Sarbagita memang penting. Tetapi tak kalah penting adalah menyiapkan aksesibilitas ke barat, utara, dan timur. Sayangnya, wacana aksesibilitas seperti pembangunan Bandara Bali Utara hingga kini hanya sebatas isu kampanye; yang dikalahkan dengan program makan bergizi gratis.

Grand design pariwisata Bali perlu merumuskan secara jelas dan tegas tentang amenitas pariwisatanya. Sebagai destinasi wisata yang berlandaskan budaya Bali, amenitas pariwisata selayaknya berpedoman pada arsitektur Bali. Pembangunan sarana prasarana pariwisata tidak dapat dibiarkan jor-joran tanpa mengacu pada konsep arsitektur tradisional Bali.

Pemetaan daya tarik pariwisata perlu masuk dalam disain besar pariwisata. Ini menjadi penting mengingat atraksi wisata di setiap kabupaten yang ada di Bali begitu beragam. Jika memang pariwisata Bali Barat, Utara, dan Timur hendak dikembangkan, maka perlu disain besar atraksi mana di setiap kabupaten yang memiliki kekuatan daya tarik wisatanya.

Disain besar pariwisata Bali juga perlu menjelaskan posisi kelembagaan sosial ekonomi dalam industri pariwisata. Lembaga-lembaga tradisional perlu memiliki peran penting dalam pengembangan pariwisata. Bukan sekadar ikut berebut kue pariwisata, tetapi lebih penting adalah menjaga alam dan budaya Bali tetap lestari. Lembaga tradisional di tingkat desa harus memiliki kekuatan dan legalitas untuk menolak investor asing jika ditengarai akan merusak alam dan tatanan budaya Bali.

Perlu Terapi Kejut

Bali memerlukan kebijakan yang proaktif dan progresif. Kebijakan itu akan sulit dibuat jika hanya menunggu inisiatif pemerintah pusat. Jika diperlukan, Pemerintah Provinsi Bali dengan dukungan pemangku kepentingan pariwisata dapat membuat kebijakan yang dapat menimbulkan efek kejut dalam industri pariwisata.

Kebijakan yang bertujuan memberikan terapi kejut (shock therapy) memang kadang menyakitkan. Tetapi kebijakan itu diperlukan untuk mencegah dan menyembuhkan kerusakan Bali akibat industri pariwisata yang berjalan tanpa arah.

Pariwisata Bali sedang sakit karena berbagai tekanan yang hebat terhadap lingkungan fisik, sosial, ekonomi, adat, dan budaya. Pariwisata yang sakit membuat masyarakat Bali terpinggirkan di rumah mereka sendiri. Karenanya diperlukan terapi kejut untuk mempercepat penyembuhannya.

Moratorium sarana pariwisata menjadi salah satu pilihan terapi kejut. Semua rencana pembangunan sarana pariwisata dihentikan sementara untuk pemulihan kerusakan. Moratorium terutama diperlukan untuk destinasi di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan,

Sudah pasti terapi kejut moratorium akan mendapat reaksi pro dan kontra. Yang sepakat didasari oleh keprihatinan kerusakan alam dan budaya akibat eksploitasi pariwisata yang berlebihan. Yang menolak tentunya lantaran kepentingan politik dan bisnisnya terganggu.

Usulan agar Bali menjadi Daerah Istimewa dapat menjadi terapi kejut berikutnya. Istimewa apanya? Bukan pariwisata Bali yang istimewa. Agama, adat, dan budaya Bali yang istimewa, sehingga perlu diselamatkan. Untuk menjadi Daerah Istimewa, perlu suara kritis dan komitmen berbagai kalangan di Bali.

Terapi kejut lain yang bisa diterapkan di Bali adalah menjadikannya sebagai Daerah Otonom. Dengan menjadi Daerah Otonom, Bali memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus daerahnya sendiri; tanpa intervensi dan didikte dari pusat.

Bali adalah pulau kecil yang sarat beban akibat ekploitasi pariwisata secara terus-menerus. Seolah tanpa istirahat, Bali terus dipacu dan dituntut menghasilkan pendapatan dan devisa negara. Celakanya, hanya sedikit kewenangan bagi Bali untuk dapat mengatur masa depan pariwisata dan budaya mereka sendiri.

Masa depan Bali ada di tangan masyarakat Bali sendiri. Intervensi politik dan ekonomi yang berlebihan dari pusat kekuasaan mestinya perlu disikapi. Jika tidak, maka Bali secara perlahan akan keropos, hancur, dan lenyap dalam gempuran kapitalisme pariwisata. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
“Voluntourism”: Berwisata Seraya Berderma
“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali
Meraba Kecenderungan Pilihan Destinasi Wisata
Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis

Next Post

Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Berkenalan dengan Filla, Unit Rock Tunanetra Asal Bali, dan Cerita di Balik “Keidela”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co