23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 30, 2024
in Esai
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Selagi badan masih muda, diri harus berani keluar dari zona nyaman!  Cari pekerjaan di luar dan gali pengalaman sebanyak – banyaknya.”

Kurang lebih seperti itu kata-kata nasihat seorang tetua banjar kepada para pemuda desa yang saya ingat beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil. Sambil melihat pembuatan ogoh-ogoh di balai banjar, tetua itu memberi semacam motivasi agar anak-anak muda desa giat dalam bekerja dan tidak hanya fokus gradag-grudug (bermain-main).

Tidak lupa tetua itu juga mengingatkan anak muda desa akan pentingnya untuk belajar dan mengeruk pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal tersebut seakan menjadi bekal dalam ingatan untuk meningkatkan kualitas diri dan mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.

Nasihat-nasihat tetua itu pun menjadi kenyataan. Fenomena anak muda keluar desa untuk pergi ke kota menjadi begitu masif di Bali . Bahkan muncul sebuah desas-desus, bernaung dan memilih bekerja di dalam desa dianggap sesuatu yang kuno serta ketinggalan zaman.

Anak-anak muda yang memilih tinggal di rumah orang tua dan bekerja di desa juga dipandang insan yang terlalu aman berada di zona nyaman. Pada akhirnya, banyak anak muda desa yang mulai memberanikan diri untuk keluar dari desa, baik untuk menuntut ilmu maupun mengadu nasib untuk bekerja.

Di samping bersandar pada stigma, anak-anak muda desa hari ini juga mesti menghadapi era disrupsi di mana harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Penghasilan dengan bekerja di desa atau hanya sekadar menjadi pegawai kontrak di lingkungan tempat tinggal, dipandang belum cukup untuk membangun rumah tangga serta memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Jangankan bermimpi mampu membeli rumah yang mewah, membeli sebidang tanah saja sudah menjadi pekerjaan berat untuk anak muda desa di era sekarang. Tidak salah apabila anak muda desa di Bali hari ini sangat semangat untuk keluar desa, berlayar dan bekerja dengan giat untuk menjemput sebanyak-banyaknya dollar.

Layaknya konsep Rwa Bhineda yang menjadi pedoman masyarakat Bali, di satu sisi fenomena ini sesungguhnya positif dalam pengembangan kompetensi anak muda desa untuk menjawab tantangan persaingan global di era disrupsi saat ini. Namun di sisi lain, fenomena tersebut terkadang juga membuat kondisi desa di Bali hari ini terasa semakin sepi.

Bukti kecil bisa dilihat dari kondisi banjar-banjar di beberapa desa, di mana intensitas aktivitas dan kuantitas anak-anak muda di lingkup sekaa teruna atau Karang Taruna Desa menjadi semakin menurun. Alasan masih bekerja, sedang menempuh perkuliahan, dan alasan lainnya bak kalimat klise yang rutin terlontar ketika ada jadwal kumpul antar pemuda banjar.

Melalui fenomena ini, pertanyaan kecil yang menggelitik pun sering muncul dalam sanubari. “Apakah anak desa hari ini, sudah mulai ogah balik ke desa ya?”

Apabila menoleh kebelakang, secara historis sebenarnya belum ada data yang konkret untuk menyatakan kapan fenomena ini dimulai. Asumsi atau hipotesa pertama yang bisa dihubungkan tentu sejak dimulainya era globalisasi sampai era revolusi industri 4.0 yang turut menyentuh sampai tingkatan desa.

Masifnya penggunaan teknologi dan informasi seakan menjadi tuntutan yang mesti dipenuhi oleh anak muda desa agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Kepemilikan akan teknologi juga dipandang sebagai sesuatu yang wajib untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Pada awalnya, hadirnya teknologi dan masifnya penyebaran informasi menjadi sesuatu yang memudahkan pekerjaan dan aktivitas anak-anak muda desa. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi ternyata juga mampu merongrong kebudayaan adiluhung yang ada dalam lingkup banjar atau desa.

Budaya kumpul-kumpul dan berdaya untuk desa pun secara perlahan mulai ditinggalkan. Terlebih bagi anak muda desa yang sudah terlanjur berada di luar desa, pada akhirnya lebih memilih untuk memprioritaskan urusan perkuliahan atau bekerja yang dianggap lebih memberikan hasil yang pasti.

Terlebih ketika muncul pengumuman untuk rapat antar pemuda, sebagian besar anak muda akan menjawab, “Via online saja brother, atau kalau mau rapat langsung lebih baik sekalian saat masa pengerupukan saja.”  

Dikaji dari sisi dampak dan akibat, fenomena ini sesungguhnya dapat mengarah ke sisi negatif apabila tidak mendapat perhatian khusus dari desa itu sendiri. Karakter apatis dan sikap skeptis bisa menjamur dalam diri anak desa apabila fenomena ini dibiarkan begitu saja apa adanya. Terlebih anak-anak muda tetap menjadi pionir dan pemegang tongkat estafet dalam melanjutkan adat dan tradisi yang ada di desa.

Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dari pihak-pihak yang sadar terutama pemerintah dalam usaha memanggil sesekali dan memberdayakan kembali anak – anak muda desa agar kembali aktif berdaya untuk desa.

Di beberapa desa dan lewat inisiasi beberapa komunitas, sebenarnya telah beberapa kali hadir ruang dan wadah pelatihan bagi anak muda desa untuk mengembangkan potensinya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan, ekonomi, jurnalistik, dan lainnya untuk pemberdayaan anak muda di lingkup desa.

Namun kembali lagi, tidak intensnya program serta sifatnya yang insidental belum bisa menarik banyak anak muda desa untuk berkenan berdaya aktif di desanya. Ditambah lagi, anak muda yang sudah terlanjur keluar desa belum disediakan panggung khusus oleh pemerintah desa untuk dapat membagikan dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam perkembangan desa.

Jadi ke depannya, sinergi antara pemerintah desa dan anak muda dalam mengembangkan desa sangat diperlukan. Di satu sisi, pemerintah desa bisa melakukan pendataan dan pemetaan jumlah anak di desa yang berkuliah atau bekerja sesuai passion yang ditekuninya. Lebih lanjut, pemerintah desa juga bisa menyediakan wadah pelatihan dan pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi anak-anak muda di desanya secara masif.

Pelatihan ini bisa disempurnakan dengan bersinergi bersama pihak eksternal untuk membuat wadah pelatihan yang intens dan berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, barulah pemerintah desa bisa memanggil dan memberdayakan anak muda desanya yang berkuliah atau sudah bekerja di luar desa untuk berkenan berbagi ilmu, wawasan, dan pengalaman untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengan demikian, pertanyaan tantangan tentang anak desa ogah balik ke desa bisa ditepis, dijawab, dan dihadapi dengan sebaik-baiknya. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: desaorang desapemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Next Post

Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Drama "Putri Ayu": Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co