KELOKALAN dan adab manusia di berbagai tempat memiliki perbedaan satu sama lainnya. Bagaimana mereka hidup berdampingan dengan tanah yang memberikan kesuburan untuk hidup, bagaimana air yang sehat dan memberikan kesegaran hidup mereka, maka hal ini memberikan makna bagaimana sesungguhnya manusia menjaga adab hidupnya dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.
Tidak berbeda dengan manusia Bali, yang secara sosiologis merupakan masyarakat yang selalu merawat hidup secara berdampingan dengan alamnya. Aplikasi konsep luhur Tri Hita Karana yang sangat kental bagi masyarakat Hindu Bali sangat perlu diapresiasi untuk menyatakan bahwa ada adab yang baik dalam rangka menunjang keharmonisan antara makhluk Bumi.
Keharmonisan terhadap aplikasi sila pertama Pancasila sebagai lambang negara kita, bagaimana merawat kemanusiaan dan melestarikan lingkungan adalah adab yang hanya dimiliki manusia yang adabnya terbangun dari keyakinan yang luhur.
Hal ini tidak terlepas dari bagaimana perilaku kita utuk memuliakan yang hidup seperti pelaksanaan Tumpek Uye. Penghujung sapta wara (saniscara) dan pancawara (kliwon) yang jatuh pada Wuku Uye ini merupakan hari yang sangat sakral. Sebab hari ini, doa dan pemuliaan dengan aksi nyata kita lakukan untuk para binatang yang ada.
Bukan hanya binatang peliharaan namun juga seluruh yang kita sebut binatang kita doakan pada hari ini, dengan doa yang khusyuk tertuju kehadapan Hyang Pasupati dalam manifestasinya Sang Hyang Rare Angon. Pemuliaan bisa kita lakukan dengan menjaga dan memeliharanya, serta merituali dengan harapan akan hidup baik dan sehat.
Sekilas Tumpek Uye menjadi sakral tatkala kita mengingat bahwa binatang dalam pandangan Hindu merupakan wahana atau kendaraan dari para dewa. Hal inilah memerlukan kontemplasi yang dalam ketika ritual kita lakukan untuk pengharapan agar baiknya keadaan hewan-hewan yang ada di lingkungan kita.
Jika mereka adalah wahana dari para Dewa, maka dengan memuliakan dan memperhatikan mereka maka kita juga akan mendapatkan welas asih yang agung dari para Dewata, sederhananya bisa kita simpulkan demikian.
Merujuk pada salah satu nasihat kitab suci, Lontar Sundarigama: Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa sato. Artinya: Pada hari Saniscara Kliwon Uye hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan.
Kata pelestarian inilah menurut Hindu dilakukan dengan cara memuliakan. Di dalamnya juga tersirat pesan yang menjelaskan bahwa peringatan Tumpek Uye bertujuan menjaga keselarasan antara manusia dengan lingkungan, khususnya hewan.
Bukan hanya hewan peliharaan, tetapi juga semua hewan yang ada bumi ini didoakan. Namun, karena hewan peliharaan yang terdekat, maka hewan peliharaanlah yang diupacarai sebagai perwakilan hewan lainnya.
Lalu, apakah kita mesti memperlakukan para binatang layaknya manusia? Dengan pakaian, hiasan, makanan, dan lainnya? Sesungguhnya itu adalah cara dan cetusan bhakti kita, yang dalam hal ini bukan saja berpaku pada euforia, tetapi pemaknaan yang dalam tentang perilaku memuliakan.
Sebuah refrensi lain menguatkan tentang hari Tumpek Uye ini. Bacalah kutipan sloka dalam Lontar Sundarigama yang esensinya mewajibkan umat manusia untuk menyayangi hewan. Hewan adalah salah satu mahluk yang menjadi kekuatan alam, yakni ketika prana atau unsur hidup mereka digunakan sebagai alat untuk pelaksanaan caru (Bhuta Yadnya).
Kutipan sloka tersebut berbunyi: Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana. Artinya: Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Karena hewan adalah kekuatan maka perlu dipelihara demi keharmonisan.
Adapun sarana upakara yang penting untuk diketahui dalam peringatan Tumpek Uye ini, antara lain: untuk sarana bebantenan bagi pemilik hewan kuda, sapi atau kerbau, banten-nya terdiri dari tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayut dan canang raka. Sedangkan bagi umat Hindu yang memelihara babi, bisa menghaturkan tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag.
Untuk bebanten sebangsa unggas, dibuatkan bebanten berupa bermacam-macam ketupat sesuai dengan nama atau unggas itu, seperti tipat kedis, tipat kukur, tipat gelatik, dan lain sebagainya, yang dilengkapi dengan penyeneng, tetebus, dan kembang payas.
Bebanten atau sarana pemujaan tersebut dilakukan permohonan di Kemulan Tiga Sakti atau Bhatara Hyang Guru, lalu tirta yang ditunas digunakan di tempat ternak dipelihara.
Sekilas sangatlah sederhana secara ritual, namun pesannya sangat sarat dengan pelestarian dan mengikat eling kita kepada lingkungan untuk keharmonisan. Maka, melalui tulisan ini, mari kita wujudnyatakan ritual Tumpek Uye dengan memelihara anjing bali, memelihara ayam bali, babi bali, burung bali, dan sebagainya sebagai upaya menjaga ke-ajegan taksu Bali yang bermula dari keharmonisan dan pelestarian yang kita lakukan secara nyata.
Pada akhirnya, Tumpek Uye bukan hanya perayaan, tetapi harus juga dijadikan sebagai momentum untuk lebih eling pada lingkungan. Rahajeng Tumpek Uye.[T]
























