23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Komang Berata by Komang Berata
November 25, 2024
in Bahasa
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?

Ilustrasi tatkala.co | Wira

TERCANTUMNYA kosakata bahasa Indonesia beri dan kata turunannya menjadi predikat kalimat, lumayan menyita pemikiran ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali. Tidak cukup dengan menyematkan label kruna degag, kruna natya ka sor, dan kruna natya ka singgih.


Ketika aku dan kamu berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam degag, tidak ada yang rumit. Ci maang cang (kamu memberi aku) atau cang maang ci (aku memberi kamu), tidak ada masalah.


Kemudian, cang maang ci, laut ci maang iya (aku memberi kamu, lalu kamu memberi dia), tidak ada masalah juga. Atau, cang maang iya, laut iya maang ci (aku memberi dia, lalu dia memberi kamu), tetap tidak ada masalah. Iya maang cang, laut cang maang ci (dia memberi aku, lalu aku memberi kamu), tetap juga tidak ada masalah.


Entah aku, kamu, atau dia menjadi subjek memberi, entah berusia lebih muda atau lebih tua, tidak ada masalah ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam degag.


Aku dalam posisi bahasa berada di sor, kamu dan dia berada di posisi singgih, tidak yang rumit. Tityang ngaturin ratu. Tityang ngaturin ida. Ratu ngicen tityang. Ida ngicen tityang. Tityang ngaturin ratu, raris ratu ngaturin ida. Tityang ngaturin ratu, raris ratu ngicen ida. Tityang ngaturin ida, raris ida ngaturin ratu. Tityang ngaturin ida, raris ida ngicen ratu. Etika berbahasa hanya itu.

Ketika baang, aturin, dan icen menjadi predikat kalimat, tidak ada masalah berkomunikasi dalam bahasa Bali. Masalah mulai tampak ketika wehin (baca: wèhin) dan suken (baca: sukèn) menyelinap menjadi predikat kalimat.

Sebelum wehin dan suken menjadi predikat kalimat, terlebih dahulu saya menyusun tokoh kalimat yaitu Tityang (aku), Ratu (kamu), Ida Agung (dia dengan usia lebih tua dari Ratu), Ida Alit (dia dengan usia lebih muda dari Ratu), Ipun Kelih (dia dengan usia lebih tua dari Tityang), dan Ipun Cenik (dia dengan umur lebih muda dari Tityang).

Dengan tokoh kalimat di atas, Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit adalah orang yang kasinggihang oleh Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik. Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik adalah orang yang kasorang oleh Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit. Tityang dan Ipun Kelih adalah orang yang kasinggihang oleh Ipun Cenik. Tityang dan Ipun Cenik kasorang oleh ipun Kelih.

Yang menjadi pedoman ketika berkomunikasi dalam bahasa Bali ragam natya, aturin ditujukan kepada orang yang kasinggihang, icen ditujukan kepada orang yang kasorang, suken ditujukan kepada orang yang kasinggihang oleh orang yang kasorang, dan wehin ditujukan kepada orang yang kasorang oleh orang yang kasorang.

Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik memberi sesuatu kepada Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit, tinggal mengganti memberi dengan ngaturin. Tityang ngaturin Ratu, Ipun Kelih ngaturin Ida Agung, Ipun Cenik ngaturin Ida Alit. Sebaliknya ketika Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit memberi sesuatu kepada Tityang, Ipun Kelih, dan Ipun Cenik, tinggal mengganti memberi dengan ngicen.

Munculnya suken dan wehin dalam kalimat ketika Tityang berkomunikasi dengan Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit dengan melibatkan Ipun Kelih atau Ipun Cenik. Ketika Ratu akan memberikan sesuatu kepada Ipun Kelih, akan tetapi Ipun Kelih sedang tidak berada di tempat, maka Tityang akan berkata kepada Ratu, “Dwaning Ipun Kelih kantun ring jaba, sane mangkin Tityang dumun icen Ratu, sane benjang Tityang nyuken Ipun Kelih.”

Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit (saya singkat RIAIA) menitipkan pemberian kepada Tityang untuk disampaikan kepada Ipun Kelih, maka Ratu, Ida Agung, dan Ida Alit ngicen Tityang, kemudian Tityang nyuken Ipun Kelih. RIAIA menitipkan pemberian kepada Tityang untuk disampaikan kepada Ipun Cenik, maka RIAIA ngicen Tityang, kemudian Tityang ngawehin Ipun Cenik.

RIAIA menitipkan pemberian kepada Ipun Kelih untuk disampaikan kepada Tityang, maka RIAIA ngicen Ipun Kelih, kemudian Ipun Kelih ngawehin Tityang. RIAIA menitipkan pemberian kepada Ipun Cenik untuk disampaikan kepada Tityang, maka RIAIA ngicen Ipun Cenik, kemudian Ipun Cenik nyuken Tityang.

Melalui saya dan kerabat saya maka ketika RIAIA menitipkan pemberian kepada saya untuk disampaikan kepada ayah atau ibu saya, maka RIAIA ngicen saya, kemudian saya nyuken ayah atau ibu saya. RIAIA menitipkan pemberian kepada saya untuk disampaikan kepada istri atau anak saya, maka RIAIA ngicen saya, kemudian saya ngawehin istri atau anak saya.

RIAIA menitipkan pemberian kepada ayah atau ibu saya untuk disampaikan kepada saya, maka RIAIA ngicen ayah atau ibu saya, kemudian ayah atau ibu saya ngawehin saya. RIAIA menitipkan pemberian kepada istri atau anak saya untuk disampaikan kepada saya, maka RIAIA ngicen istri atau anak saya, kemudian istri atau anak saya nyuken saya. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Sesuatu yang Setengah
Transfer Lisan Bahasa Tutur
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya

Tags: BahasaBahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Sukerta, Petani Cengkih dari Tajun, Juga Bertani Madu Agar Bali Tetap Manis

Next Post

Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Ni Ketut Ayu Sukma Listyaningsih,   Duta Lingkungan Hijau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co