24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 9, 2024
in Tualang
Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita: [Aksioma Gen Z di Negeri Sakura]

Becak yang Ditarik Tenaga Manusia di Arashiyama | Sumber: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

BERBAGAI tuduhan terhadap generasi yang diberi cap Gen Z lebih pada penilaian yang negatif. Tuduhan terhadap generasi Z terdiri dari sederetan hal negatif misalnya, generasi pemalas, tidak kenal etika dan cap negatif lainnya. Perlu cara pandang yang seimbang atas kehadiran mereka.

Privilage mereka yang masif terhadap teknologi haruslah dilihat memiliki prospek yang sangat bagus kedepannya. Mereka calon pemimpin ke depannya. Pandangan ini penting agar narasi negatif tentang mereka membuat kita begitu mudahnya terjebak pada pandangan bahwa seolah-olah generasi sebelumnya tidak memiliki sisi negatif.

Sebagai individu yang tidak terlahir dari generasi tersebut, penulis pun sering ada dalam penilaian yang condong kearah negatif, namun ketika minggu ini ketemu dan berbincang dengan seorang anak muda yang bernama Ori dalam perjalanan bareng ke negeri sakura/Jepang tiba-tiba penulis terusik dengan aksioma yang dicetuskannya: “Saat Muda Berkelana, Ketika Tua Bercerita”.

Aksioma itu telah sanggup mengusik daya kritis untuk mempertanyakan kembali kebenaran tuduhan negatif tentang Gen Z. Walaupun seorang Ori tidaklah dapat dikatakan mewakili semua Gen Z saat ini, namun tetap saja aksioma yang dikeluarkan memiliki daya tarik tersendiri untuk mencoba berpikir lain tentang Gen Z.

Berkelana Ke Negeri Sakura

Arti berkelana yang lebih saya suka adalah melakukan perjalanan fisik, menjelajahi tempat-tempat eksotik atau dalam arti yang lebih klasik mengembara ke alam bebas, bisa ke hutan, ke gunung, danau, sungai. Berpijak dalam arti kamus yang denotatif semacam itu, mudahlah dipahami berkelana hanyalah kegiatan jalan-jalan semata – tanpa makna – hanya pemuas hasrat fisik semata.

Namun, melalui perjalanan kami yang berjumlah 14 orang di bawah layanan travel Peponi yang berkantor di Jakarta, dengan didampingi Tour Leader Mbak Dela kami mendapat pengalaman yang bukan hanya sekedar jalan-jalan, menikmati Ramen yang diakui oleh penggemar mie, ramen Jepang tiada duanya, namun kami ketemu apa arti pertemanan, apa arti kebersamaan dan apa pula arti belajar budaya yang berbeda, yang kebetulan yang kami jelajah adalah negeri Sakura.

Tim Sang Kelana | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Dalam perjalanan sejarah Jepang dari jaman paleolitik (100.000 – 30.000 SM) sampai jaman Edo (1603-1868- jaman keemasan). Periode Edo ditandai oleh pertumbuhan ekonomi, tata sosial yang ketat, kebijakan luar negeri yang isolasionis, populasi yang stabil, perdamaian yang abadi, dan kesenangan masyarakat terhadap seni dan budaya, yang secara umum disebut sebagai Ōedo (大江戸, Oo-Edo, “Edo yang Agung”).

Keagungan Edo (yang sekarang bernama Tokyo) pun kiranya menyisakan jejak dalam wujud pendirian gedung-gedung pencakar langit yang memadati kota Tokyo

Salah satu Sudut Kota Tokyo | Foto: Sendratari, Nopember 2024

Kiranya, bukan hanya tampilan fisik sebagai simbol masyarakat modern yang dapat mewakili gambaran Tokyo sebagai kota bersejarah yang fenomenal, kesibukan manusia yang lalu lalang di setiap stasiun, wajah-wajah pekerja yang sangat serius menjadi potret keseharian Tokyo dapat dipahami bahwa kota ini memang menjadi pusat kebudayaan yang telah menyejarah.

Demikian pula dengan kota Osaka dan Kyoto yang terkenal dengan peninggalan Castle maupun kuil dan rumah konstruksi tradisional dengan bambu sebagai andalannya masih sangat mudah di temui di Kyoto. Bangunan yang tertata rapi, dan bersih menjadi pemandangan yang tidak menipu mata bahwa Jepang memang sangat kuat menanamkan arti kebersihan pada warga asli maupun pendatang.

Rumah Tradisional Jepang di Kyoto dan Cara Masyarakat Jepang Menjaga Citra Bersih dalam Penanganan Sampah | Dokumen : Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Jelajah lainnya yang dipungut dari perjalanan kali ini adalah saat berkunjung di sebalah Barat Kota Kyoto yakni wisata hutan bambu Arashiyama. Tidak sulit mendapatkan berita bahwa di lokasi ini ditawarkan beberapa daya tarik selain deretan tanaman bambu yang endemik Kyoto, yang diyakini memberikan vibrasi ketenangan saat mendengarkan gesekan daun bambu ketika tertiup angin, belum lagi ditopang atas kehadiran kuil Tenryu-ji akan menambah sensasi religius.

Belum lagi kehadiran Jembatan Togetsukyo, yang secara harfiah berarti “Jembatan Penyeberangan Bulan,” adalah salah satu landmark paling terkenal di Arashiyama dan selalu dipadati pengunjung untuk sekedar melintas dan menikmati ketenangan air jernih yang mengalir di bawahnya. Eksotiknya lagi di kawasan ini adalah tersedianya jasa becak yang ditarik dengan tenaga manusia yang berpakaian tradisional Jepang.

Becak yang Ditarik Tenaga Manusia di Arashiyama | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Jasa-jasa yang disediakan di tempat-tempat wisata bisa saja hal yang tidak teramat istimewa, dalam artian itu memang disiapkan untuk memuaskan para pengunjung. Namun, dari kacamata penulis ada yang jauh lebih istimewa dari hanya sekedar jasa layanan yakni potret lansia yang produktif di usia tua. Inilah pemandangan yang tergolong langka dalam ukuran kultur timur umumnya.

Secara umum, orang tua begitu rupa dilindungi, dilayani, bahkan “dikurung” di rumah, dibatasi aktivitasnya. Gambaran terhadap lansia semacam itu ternyata terbalik dengan apa yang dapat ditemui di Jepang. Di berbagai sudut sangatlah mudah ditemui para lansia masih aktif bekerja dan sigap memberi layanan kepada para konsumen. Salah satu pemandangan potret lansia yang produktif ditemui di Arashiyama.

Lansia dan Cangkulnya Terlibat dalam Pengerukan Sungai Di Arashiyama | Foto : Sendratari, Nopember 2024

Hasil dari berkelana di Negeri Sakura belumlah seberapa jika hanya mengandalkan hasil observasi yang hanya berlangsung beberapa hari. Hanya saja, fenomena yang tertangkap kamera penulis bukan hanya berlangsung sebagai fenomena sesaat namun telah menjadi irama kehidupan yang seolah-olah telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya.

Ada beberapa kata yang layak diajukan terhadap kultur masyarakat Jepang dari kacamata orang luar yakni: Bersih, Tertib dan Aman. Ini bukan kata-kata promosi, tetapi hasil pengamatan perjalanan yang perlu juga disandingkan dari pengamatan pihak lain.

Berkelana dan Bercerita Dari Pandangan Gen Z – Ori

Sosok Ori yang Lekat dengan Simbol Modernitas | Foto: Made Dwi Pradnyana, Nopember 2024

Ori adalah nama anak muda yang masih berstatus mahasiswa semester V di program studi Sistem Informasi Universitas Gunadarma, Jakarta. Dilihat dari tampilan luar dia tak ubahnya tampil sebagai anak muda pada umumnya. Bergaya pakaian casual. Sosok Ori tampil ceria, antusias mencoba hal-hal yang baru, suka berkelakar, dan suka jahili tim.

Di tengah-tengah semua itu aksioma yang dicetuskan tentang berkelana dan bercerita ingin dia buktikan melalui pengalaman dia suka menjelajah berbagai daerah di Indonesia.

Dia mengaku pernah menjelajah Bali – sampai di Penglipuran, dia berucap “I Love Bali”. Kini, kakinya sampai di Negeri Sakura. Pertanyaan awal yang diajukan apa menariknya berwisata?

Dia bilang, “Aku suka belajar berbagai budaya yang berbeda’, tujuannya? “Untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda”. Pengakuan yang cukup eksotik terucap, “Dengan mendapatkan pengalaman dan budaya yang berbeda aku dapat sesuatu tante, yaitu pikiran ku terbuka, wawasanku bertambah, aku tidak mau seperti orang tuaku, yang hanya berkuta di rumah saja. Memang aku tidak bermaksud mengatakanorang tua ku kolot, tapi setidaknya dalam penilaianku, kalau hanya mengandalkan pengalaman yang sempit, tidak banyak yang akan diturunkan ke anak cucu kelak”

Berpijak dari pengakuan Ori, bolehlah di kata dia bukanlah orang muda yang hanya mengartikan kegiatan jalan-jalan hanya sekedar menghilangkan penat dari rutinitas tetapi lebih dari itu hasil pengamatannya di tengah-tengah kultur yang berbeda dijadikan sumber belajar hidup dan dia sangat mengakui bahwa masyarakat yang berbeda itu adalah museum yang sangat autentik yang diyakini sanggup memberikan apa artinya menikmati di hidup di kala muda. Baginya, masa muda adalah masa menimba pengalaman.

Dari pengalaman dia mengaku ketemu mutiara kehidupan yang mungkin saja pemaknaannya akan berbeda dari sesuatu yang diperoleh di buku. Uniknya lagi, dia bukan hanya mengandalkan pelajaran hidup dari pengalaman nyata yang diamati dan dirasakan, tetapi dia juga mengandalkan buku bacaan dalam mengasah sisi humanistik dalam melakoni kehidupan. Dalam perjalanan di Negeri Sakura dia berbekal buku yang dibuka kembali saat kami di atas kereta dari Osaka menuju Kyoto. Dia mengku sangat terkesan dengan judul buku Goresan Seorang Berandal yang ditulis oleh Mohan Hazian (2021).

Judul Buku Idola Ori saat Ini | Foto: Sendratari, Nopember 2024

Kalimat yang diakui paling dia suka ada pada kulit dalam buku yang berbunyi : “Jika ada karya orang yang jelek, Jangan protes. Buatlah yang lebih Bagus. Hidup ini Indah”. Ketertarikan atas kalimat ini diakui sebagai kalimat yang padat dengan pesan tersembunyi yang sanggup mengangkat semangatnya untuk terus bangkit dan berbenah dengan tidak mudah melihat kekurangan atau kejelekan orang lain tanpa sanggup berbenah untuk diri sendiri. Ini pelajaran hidup betul baginya sebagai orang muda yang masih punya jalan panjang untuk menjadi lebih baik, lebih baik ke depannya.

Selain itu, ketertarikan atas buku ini yang paling mendasar adalah, buku ini telah membuka pandangannya bahwa belajar bukan hanya dapat diperoleh dari orang yang baik, namun dari orang yang diberi cap jelek, berandal (sesuai judul buku) pun kita bisa menarik pelajaran. Baginya belajar tentang sisi baik dan buruk dari segala dimensi akan melatih keseimbangan dalam melihat sesuatu.

Apa pentingnya bercerita di kala tua? Bercerita nantinya sebagai orang tua bagi Ori bukan hanya menyampaikan pengalaman atas apa yang dilihat secara kasat mata. Namun sebagai orang tua harus punya kesanggupan untuk mengupas pengalaman yang telah diperolehnya di masa lalu di berbagai tempat yang dikunjungi untuk menemukan makna mendalam atas apa artinya hidup di tengah-tengah orang yang berbeda, melalui kultur yang berbeda. Apa artinya bekerja dengan berbagai lapisan orang yang berbeda.

Jadi, menurutnya wajib hukumnya para orang tua memiliki pengalaman yang luas untuk menghasilkan generasi muda yang kuat, bukan generasi strawberry (generasi rapuh dan lembek). Pengalaman adalah guru yang tidak menyesatkan, jika tidak mau tersesat pada kegelapan. Ori memang orang muda yang biasa, tapi pandangannya bagi kita yang telah berusia membuka ruang berpikir yang tidak biasa. [T]

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Tags: catatan perjalananGen ZJepangNegeri Sakuraperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rujak Cingur Bu Mah, Kuliner Hibrid yang Unik dan Legendaris di Pasar Atom Surabaya

Next Post

Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilukada: Locus dan Fokus Kabupaten Banyumas

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Korelasi PKPU 13 Tahun 2024 dengan Kotak Kosong

Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilukada: Locus dan Fokus Kabupaten Banyumas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co