25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
November 5, 2024
in Tualang
Merajut Keberagaman, Belajar Buddhisme Hingga ke Negeri Gajah Putih Bersama Para Bikkhu

Foto-foto by Made Wahyu Mahendra

14 Oktober 2024, sudah keempat kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Gajah Putih. Berbeda dengan saat saya pertama ke tempat ini. Saat itu, sebagai seorang yang saat itu lebih muda, gemerlap kota, riuhnya suasana, nikmat perjamuan merupakan sesuatu yang saya cari. Bangkok dan area sekitarnya selalu menjadi tujuan.

Herannya, baru pada kedatangan ketiga dan keempat kali ini saya merasakan damai hati. Entah memang karena saya saat ini lebih berumur ataukah memang jalannya yang baru ketemu. Adalah Kota Khonkaen yang nun jauh di Tenggara yang menjadi jodoh tempat saya untuk belajar.

Saya tahu sejak lama bahwa lebih dari 90% warga Thailand penganut Buddha yang taat. Kondisi ini memancing rasa ingin tahu saya akan perspektif hidup dari agama Buddha.

Sebagai pribadi, saya selalu senang mempelajari perspektif agama lain dengan berinteraksi dan melebur di komunitasnya, dan karenanya saya cukup diterima oleh masyarakat yang saya tuju.

Saya pernah melebur diri dalam komunitas Muslim. Itu ketika saya kuliah di Kota Malang dan merasakan indahnya makna puasa. Begitupula ketika dua tahun saya habiskan untuk berada di dalam komunitas mayoritas beragama Katolik yang senandung bhineka-nya pernah saya tulis di platform tatkala.co ini.

Bukannya apa-apa, kendati ada beberapa tempat ibadahnya di sekitar tempat saya tinggal, namun saya belum pernah benar-benar berbaur dengan komunitasnya, bertemu pemuka agamanya, dan menggali esensi esensi ajarannya dari komunitasnya langsung.

Kembali ke Kota KhonKaen, Saya berkesempatan menemui para Bikkhu yang dihormati yang mau berbagi prinsip-prinsip Buddhisme kepada saya. Salah satunya adalah ajaran untuk hidup dalam saat ini.

Dalam Buddhisme, diajarkan bahwa masa kini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki. Kita diminta untuk tidak membiarkan pikiran terus berlarian ke masa depan atau terjebak dalam penyesalan masa lalu.

Awalnya, ini terasa seperti konsep yang sederhana, tetapi saat saya benar-benar mencobanya, baru saya sadari betapa sulitnya melepaskan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok hari atau rasa bersalah yang terkadang hinggap dari kejadian-kejadian di masa lalu.

Selain itu, sebuah pengalaman yang mengubah perspektif saya terjadi ketika saya diajak menuju sebuah provinsi bernama Loei, distrik terakhir perbatasan Thailand dengan Laos.

Di sana, di tengah gunung yang terselimuti kabut, saya tinggal di sebuah asrama Bikkhu, tempat yang seolah jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Hidup di lingkungan yang tenang dan dikelilingi oleh alam, tidak ada ponsel atau gangguan modern lainnya, dan setiap aktivitas sangat sederhana, mulai dari melayani para Bikkhu muda saat makan, meditasi, belajar, begitu seterusnya.

Momen itu tiba ketika seusai saya memberi pelayanan untuk persiapan sarapan pagi Bikkhu muda, saya pertama kali diajak berdoa sebelum makan. Di dalam doa Buddhis sebelum makan, saya menemukan sesuatu yang begitu berbeda, begitu jauh dari apa yang biasa saya lakukan.

Doa ini mengajak kita merenungkan alasan dan tujuan mengapa kita makan. Kita diingatkan untuk tidak makan hanya untuk kesenangan atau kepuasan semata, bukan untuk memabukkan diri atau memperindah tubuh, melainkan untuk menopang kehidupan secara sederhana.

Begitu dalamnya makna doa ini mengejutkan saya. Saya diingatkan untuk makan secukupnya, tidak berlebihan, hanya untuk menjaga tubuh ini tetap sehat dan kuat.

Doa ini mendorong kesadaran bahwa makan bukanlah semata-mata pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari latihan spiritual, agar tubuh bisa bebas dari gangguan dan pikiran bisa tetap jernih.

Sungguh, pengalaman ini membuka mata saya akan bagaimana kita sering kali lupa pada esensi dari tindakan yang kita lakukan setiap hari.

Perjalanan saya di Thailand juga memperkenalkan saya pada norma kesopanan yang dalam dan sarat makna. Budaya Thailand memiliki etika yang begitu halus, terutama saat berada di tempat-tempat suci seperti kuil dan dalam interaksi dengan para Bikkhu.

Setiap gerakan, termasuk cara duduk, diatur dengan penuh rasa hormat dan ketenangan. Duduk di lantai kuil, misalnya, harus dilakukan dengan hati-hati, lutut sedikit menekuk, dan kaki tidak menghadap langsung ke arah altar atau patung Buddha, karena dianggap kurang sopan.

Saat bercengkerama dengan Bikkhu, saya diajarkan untuk menjaga sikap, menundukkan pandangan sebagai bentuk penghormatan. Gestur-gestur kecil ini ternyata menyimpan arti mendalam tentang rasa hormat yang tidak sekadar ditunjukkan lewat kata-kata, tetapi juga lewat tindakan yang mencerminkan kesadaran dan penghargaan.

Salah satu momen yang menguatkan rasa kagum saya pada budaya Thailand adalah saat saya diundang mengikuti candlelight ceremony. Upacara ini, yang dilakukan pada malam hari di kuil, begitu syahdu dan menggetarkan hati.

Setiap peserta membawa lilin yang dinyalakan dan berjalan perlahan dalam diam mengelilingi kuil. Di bawah cahaya lilin yang temaram, langkah-langkah kami terasa seperti simbol penghormatan, bukan hanya kepada ajaran Buddha, tetapi juga kepada nilai-nilai kehidupan.

Malam itu, dalam kebersamaan yang penuh makna, saya merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah kesatuan rasa yang membawa kedamaian.

Melalui pengalaman-pengalaman ini, saya belajar bahwa kesopanan bukan hanya norma sosial, tetapi juga cermin dari rasa hormat yang mendalam terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Semua ini memperkaya pandangan saya akan kehidupan dan membuat saya semakin menghargai keberagaman yang ada di dunia. [T]

BACA artikel lain dari penulis MADE WAHYU MAHENDRA

Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya
Kabar dari Flores# Tentang Saya, Godoh & Muku Ego
Kabar dari Flores# “Bersembunyi & Relaksasi” di Air Panas Alami Ae Sale
Tags: BuddhismeBudhacatatan perjalananThailand
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Serunya Lomba Ngibing PSB Buleleng: Dari Gaya Merayu Cewek, Odong-odong, hingga Macan Tutul

Next Post

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Tenun Tebusalah, Mengenang Sejarah Desa Ringdikit Lewat Motif Kain Tenun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co