23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sayatan Hati Sang Usain Bolt – Antara “Happy Ending”, “Sad Ending”, dan “Cliffhanger”

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Google

 

OLYMPIC Stadium London, Inggris, dan Senin, 14 Agustus 2017, menjadi tempat dan hari yang tak terlupakan bagi Usain Bolt. Superstar atletik asal Jamaika yang sangat dipuja-puja penggemar dan rakyat Jamaika. Di hari itu, seorang Bolt tak mampu menginjak garis finish di lintasan atletik ajang Kejuaraan Dunia Atletik 2017. Bahkan spinter 30 tahun itu terjatuh di arena yang ia cintai dan yang telah membesarkan namanya.

Tepat, ketika Yohan Blake rekan senegara Bolt memberikan tongkat estafet kepadanya. Bolt menerima tongkat itu. Bolt yang diplot sebagai pelari terakhir nomor lari 4×100 meter berusaha lari, namun tak berlangsung lama ia tampak terpincang-pincang. Wajahnya meringis seolah menahan sakit luar biasa. Sang Bolt pun terjatuh dan tergeletak di lintasan.

“I am number one” begitu kata-kata yang biasa diucapkan Bolt di depan kamera usai memenangi perlombaan. Namun tidak di hari itu. Keceriaan dan kegembiraan serta teriakan Bolt tak mampu terbendung dengan perasaan ketidakpercayaan. Seisi stadion seolah sedang berduka. Sejumlah tenaga medis mengevakuasi pemegang rekor dunia lari nomor 100 dan 200 meter itu. Tumbangnya Bolt juga menyebabkan Jamaika, negara yang dalam empat kejuaraan dunia terakhir berstatus sebagai penguasa nomor lari 4×100 meter, menjadi turun pamor.

Lebih dari itu, ambisi pribadi Bolt menutup karier individu dengan mempersembahkan medali emas gagal total. Olympic Stadion seolah menjadi arena pesakitan Bolt. Di nomor 100 meter, ia kalah dari rivalnya, Justin Gatlin, pelari asal Amerika Serikat. Disusul pelari AS lainnya, Cristian Coleman dan Bolt hanya mampu finis di posisi ketiga.

Padahal, peraih 11 emas kejuaraan dunia dan 8 emas Olimpiade memutuskan pensiun setelah event ini. Jauh lebih itu, menang dan berada di panggung pengalungan medali akan menjadi kesempatan Bolt mengucapkan salam perpisahan. Pupus harapan dan niat mulia Bolt tersebut.Tragedi Bolt, nasib tragis sang superstar.

“Ini bukan jalan yang aku inginkan untuk mengakhiri kejuaraan. Aku sudah memberikan segalanya di lintasan. Maaf, aku tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan atau semacamnya,” kata Bolt seperti dilansir Associated Press. Gatlin usai memenangi lomba itu, mendekati Bolt. Ekspresi Gatlin memberikan semangat dan menaruh rasa hormat Bolt.

Apakah ini ending seorang Bolt layaknya karya sastra, cerita novel atau drama? Apakah kontruksi cerita Bolt bagian dari ending sad? Atau justru ini dibentuk dengan akhir happy ending. Akhir cerita yang selalu ditunggu para pemirsa dan pembaca.

Dalam teori sastra, dalam sebuah cerita pada umumnya ditutup dengan ending, baik itu happy ending berakhir bahagia, sad ending ditutup dengan kesedihan, atau cliffhanger atau menggantung, terbuka yang diserahkan kepada pembaca atau penonton. Namun ada juga novel atau film yang dimulai dari ending lebih dulu sehingga pembaca dan pemirsa semakin lebih semangat melanjutkan membaca dan menonton.

Ending sangat penting dan berdampak luar biasa bagi sebuah cerita. Kejayaan Bolt terus dikenang dan dielu-elukan jika saja di akhir perlombaan kemarin ia mampu berbicara dan mengucapkan selamat tinggal. Stadion dan tribun petaka emosionalnya melepas sang super star. Duka dan mungkin saja tetesan air mata dari para penonton tak terbendung. Bolt pun dengan suka cita mengucapkan selamat tinggal.

Achdiat Karta Mihardja dalam novel fenomenalnya Atheis misalnya. Dalam novel yang diterbitkan Balai Pustaka di tahun 1949 ini Achdiat membuat ending yang sederhana. Namun, harus dibaca ulang baru menemukan jawaban tentang ending itu, apalagi untuk mengetahui apakah happy ending, sad ending atau justru cliffhanger. Setelah dicermati maka ending dalam novel Atheis bisa menunjukkan kategori ending sad. Tokoh Hasan pun jatuh tersungkur setelah tertembak. Di akhir cerita dia pun menyempatkan diri menyebut nama tuhan sebelum Hasan tidak bergerak lagi.

/Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata “Allahu Akbar,” tak bergerak lagi…..”

“Mata-mata, ya! Mata-mata, ya! Orang jahat! Bakeru!”/

Banyak contoh ending karya sastra yang cukup memuas kita sebagai pembaca. Mimimal menemukan akhir cerita dari sebuah novel. Apalagi roman-roman Balai Pustaka lainnya, seperti Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA cukup jelas meletakkan dan jenis ending-nya. Kemudian Para Priyayi karya Umar Kayam, dan Pengakuan Pariyem oleh Linus Suryadi AG, dan masih banyak lagi karya sastra yang cukup menyita perhatian endingnya.

Namun jangan tanya ending novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Dalam satu buku dengan karya yang judulnya sama dengan kumpulan puisinya ini belum cukup memutuskan ending. Buku yang diterbitkan Gramedia di bulan Juni 2015 lalu belum ada ending secara total. Namun, Sapardi harus menguraikan menjadi tiga buku atau trilogi.

Kisah cinta Sarwono dan Pingkan dirajut dan diracik. Cinta beda agama, Sarwono dosen muda, Muslim taat, sedangkan Pingkan yang juga dosen dan menyakini agama Kristen sepenuh hati. Atau kisah cinta dengan konflik persoalan cinta segitiga Sarwono-Pingkan-Katsuo.Tentu kalau kita hanya membaca buku pertama saja, maka belum tuntas ceritanya. Di akhir cerita tepatnya di Bab Lima pembaca “dihadiahi” tiga sajak kecil. Pada tulisan bab sebelumnya justru secara gamblang menyiratkan cerita ini belum berakhir. Begini:         

“Pingkan, Sarwono memberikan koran ini, katanya agar segera diserahkan kepada kamu.”

Sangat hati-hati Pingkan membuka lipatan itu dan segera dilihatnya tiga buah sajak pendek di salah satu sudut halamannya. Demikianlah maka Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarkan. (Hujan Bulan Juni: 130)

Maka novel kedua Sapardi dari Trilogi Hujan Bulan Juni telah diterbitkan 2017. Kali ini dengan judul “Pingkan Melipat Jarak”. Tentu isinya melanjutkan ceritanya. Buku yang terbit pada Maret 2017 lalu ini fokus pada sudut pandang Pingkan yang mengalami pergulatan batin setelah tahu bahwa Sarwono mengidap penyakit serius. Namun sama seperti buku pertama, maka buku kedua masih akan berlanjut pada buku ketika. Ending-nya seperti apakah cinta Pingkan dan Sarwono?

Lebih panjang lagi kalau membicarakan ending dari The Birth of Tragedy atau Lahirnya Tragedi yang ditulis Friedrich Nietzsche. Buku pertama Nietzsche yang diterbitkan pada 1872 silam dengan judul lengkap “The Birth of Tragedy out of the Spirit of Music” pada edisi kedua 1874. Kemudian di tahun 1886 ketika buku ini diterbitkan kembali dengan nama baru The Birth of Tragedy. Or: Greekhood and Pesimism. New Edition and Attempt at a Self-Critisism mendapatkan sambutan luar biasa dari publik, selain pujian juga kritik.

Bukankah ending penuh surprise dan tidak terpikirkan? Cerita Bolt yang memilukan di arena lari kemarin tentu bukan akhir dari segalanya. Bolt masih hidup dan masih bisa melanjutkan cerita panjangnya. Ia masih bisa cerita awal kisah kesuksesan. Mengawali karier lari karena iming-iming nasi kotak. Ajaran kedisiplinan seorang bapak dan ketekunan berlatih agar juara.  Jadi bukan sebuah ending bagi Bolt, tetapi bisa saja awal cerita. Kita tunggu cerita tentang Bolt setelah pensiun dari lintasan atletik. (T)

Tags: atletikJamaikaolahragasastraUsain Bolt
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Salah Sambung

Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co