23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sayatan Hati Sang Usain Bolt – Antara “Happy Ending”, “Sad Ending”, dan “Cliffhanger”

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Google

 

OLYMPIC Stadium London, Inggris, dan Senin, 14 Agustus 2017, menjadi tempat dan hari yang tak terlupakan bagi Usain Bolt. Superstar atletik asal Jamaika yang sangat dipuja-puja penggemar dan rakyat Jamaika. Di hari itu, seorang Bolt tak mampu menginjak garis finish di lintasan atletik ajang Kejuaraan Dunia Atletik 2017. Bahkan spinter 30 tahun itu terjatuh di arena yang ia cintai dan yang telah membesarkan namanya.

Tepat, ketika Yohan Blake rekan senegara Bolt memberikan tongkat estafet kepadanya. Bolt menerima tongkat itu. Bolt yang diplot sebagai pelari terakhir nomor lari 4×100 meter berusaha lari, namun tak berlangsung lama ia tampak terpincang-pincang. Wajahnya meringis seolah menahan sakit luar biasa. Sang Bolt pun terjatuh dan tergeletak di lintasan.

“I am number one” begitu kata-kata yang biasa diucapkan Bolt di depan kamera usai memenangi perlombaan. Namun tidak di hari itu. Keceriaan dan kegembiraan serta teriakan Bolt tak mampu terbendung dengan perasaan ketidakpercayaan. Seisi stadion seolah sedang berduka. Sejumlah tenaga medis mengevakuasi pemegang rekor dunia lari nomor 100 dan 200 meter itu. Tumbangnya Bolt juga menyebabkan Jamaika, negara yang dalam empat kejuaraan dunia terakhir berstatus sebagai penguasa nomor lari 4×100 meter, menjadi turun pamor.

Lebih dari itu, ambisi pribadi Bolt menutup karier individu dengan mempersembahkan medali emas gagal total. Olympic Stadion seolah menjadi arena pesakitan Bolt. Di nomor 100 meter, ia kalah dari rivalnya, Justin Gatlin, pelari asal Amerika Serikat. Disusul pelari AS lainnya, Cristian Coleman dan Bolt hanya mampu finis di posisi ketiga.

Padahal, peraih 11 emas kejuaraan dunia dan 8 emas Olimpiade memutuskan pensiun setelah event ini. Jauh lebih itu, menang dan berada di panggung pengalungan medali akan menjadi kesempatan Bolt mengucapkan salam perpisahan. Pupus harapan dan niat mulia Bolt tersebut.Tragedi Bolt, nasib tragis sang superstar.

“Ini bukan jalan yang aku inginkan untuk mengakhiri kejuaraan. Aku sudah memberikan segalanya di lintasan. Maaf, aku tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan atau semacamnya,” kata Bolt seperti dilansir Associated Press. Gatlin usai memenangi lomba itu, mendekati Bolt. Ekspresi Gatlin memberikan semangat dan menaruh rasa hormat Bolt.

Apakah ini ending seorang Bolt layaknya karya sastra, cerita novel atau drama? Apakah kontruksi cerita Bolt bagian dari ending sad? Atau justru ini dibentuk dengan akhir happy ending. Akhir cerita yang selalu ditunggu para pemirsa dan pembaca.

Dalam teori sastra, dalam sebuah cerita pada umumnya ditutup dengan ending, baik itu happy ending berakhir bahagia, sad ending ditutup dengan kesedihan, atau cliffhanger atau menggantung, terbuka yang diserahkan kepada pembaca atau penonton. Namun ada juga novel atau film yang dimulai dari ending lebih dulu sehingga pembaca dan pemirsa semakin lebih semangat melanjutkan membaca dan menonton.

Ending sangat penting dan berdampak luar biasa bagi sebuah cerita. Kejayaan Bolt terus dikenang dan dielu-elukan jika saja di akhir perlombaan kemarin ia mampu berbicara dan mengucapkan selamat tinggal. Stadion dan tribun petaka emosionalnya melepas sang super star. Duka dan mungkin saja tetesan air mata dari para penonton tak terbendung. Bolt pun dengan suka cita mengucapkan selamat tinggal.

Achdiat Karta Mihardja dalam novel fenomenalnya Atheis misalnya. Dalam novel yang diterbitkan Balai Pustaka di tahun 1949 ini Achdiat membuat ending yang sederhana. Namun, harus dibaca ulang baru menemukan jawaban tentang ending itu, apalagi untuk mengetahui apakah happy ending, sad ending atau justru cliffhanger. Setelah dicermati maka ending dalam novel Atheis bisa menunjukkan kategori ending sad. Tokoh Hasan pun jatuh tersungkur setelah tertembak. Di akhir cerita dia pun menyempatkan diri menyebut nama tuhan sebelum Hasan tidak bergerak lagi.

/Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata “Allahu Akbar,” tak bergerak lagi…..”

“Mata-mata, ya! Mata-mata, ya! Orang jahat! Bakeru!”/

Banyak contoh ending karya sastra yang cukup memuas kita sebagai pembaca. Mimimal menemukan akhir cerita dari sebuah novel. Apalagi roman-roman Balai Pustaka lainnya, seperti Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA cukup jelas meletakkan dan jenis ending-nya. Kemudian Para Priyayi karya Umar Kayam, dan Pengakuan Pariyem oleh Linus Suryadi AG, dan masih banyak lagi karya sastra yang cukup menyita perhatian endingnya.

Namun jangan tanya ending novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Dalam satu buku dengan karya yang judulnya sama dengan kumpulan puisinya ini belum cukup memutuskan ending. Buku yang diterbitkan Gramedia di bulan Juni 2015 lalu belum ada ending secara total. Namun, Sapardi harus menguraikan menjadi tiga buku atau trilogi.

Kisah cinta Sarwono dan Pingkan dirajut dan diracik. Cinta beda agama, Sarwono dosen muda, Muslim taat, sedangkan Pingkan yang juga dosen dan menyakini agama Kristen sepenuh hati. Atau kisah cinta dengan konflik persoalan cinta segitiga Sarwono-Pingkan-Katsuo.Tentu kalau kita hanya membaca buku pertama saja, maka belum tuntas ceritanya. Di akhir cerita tepatnya di Bab Lima pembaca “dihadiahi” tiga sajak kecil. Pada tulisan bab sebelumnya justru secara gamblang menyiratkan cerita ini belum berakhir. Begini:         

“Pingkan, Sarwono memberikan koran ini, katanya agar segera diserahkan kepada kamu.”

Sangat hati-hati Pingkan membuka lipatan itu dan segera dilihatnya tiga buah sajak pendek di salah satu sudut halamannya. Demikianlah maka Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarkan. (Hujan Bulan Juni: 130)

Maka novel kedua Sapardi dari Trilogi Hujan Bulan Juni telah diterbitkan 2017. Kali ini dengan judul “Pingkan Melipat Jarak”. Tentu isinya melanjutkan ceritanya. Buku yang terbit pada Maret 2017 lalu ini fokus pada sudut pandang Pingkan yang mengalami pergulatan batin setelah tahu bahwa Sarwono mengidap penyakit serius. Namun sama seperti buku pertama, maka buku kedua masih akan berlanjut pada buku ketika. Ending-nya seperti apakah cinta Pingkan dan Sarwono?

Lebih panjang lagi kalau membicarakan ending dari The Birth of Tragedy atau Lahirnya Tragedi yang ditulis Friedrich Nietzsche. Buku pertama Nietzsche yang diterbitkan pada 1872 silam dengan judul lengkap “The Birth of Tragedy out of the Spirit of Music” pada edisi kedua 1874. Kemudian di tahun 1886 ketika buku ini diterbitkan kembali dengan nama baru The Birth of Tragedy. Or: Greekhood and Pesimism. New Edition and Attempt at a Self-Critisism mendapatkan sambutan luar biasa dari publik, selain pujian juga kritik.

Bukankah ending penuh surprise dan tidak terpikirkan? Cerita Bolt yang memilukan di arena lari kemarin tentu bukan akhir dari segalanya. Bolt masih hidup dan masih bisa melanjutkan cerita panjangnya. Ia masih bisa cerita awal kisah kesuksesan. Mengawali karier lari karena iming-iming nasi kotak. Ajaran kedisiplinan seorang bapak dan ketekunan berlatih agar juara.  Jadi bukan sebuah ending bagi Bolt, tetapi bisa saja awal cerita. Kita tunggu cerita tentang Bolt setelah pensiun dari lintasan atletik. (T)

Tags: atletikJamaikaolahragasastraUsain Bolt
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Salah Sambung

Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co