2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sayatan Hati Sang Usain Bolt – Antara “Happy Ending”, “Sad Ending”, dan “Cliffhanger”

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Google

 

OLYMPIC Stadium London, Inggris, dan Senin, 14 Agustus 2017, menjadi tempat dan hari yang tak terlupakan bagi Usain Bolt. Superstar atletik asal Jamaika yang sangat dipuja-puja penggemar dan rakyat Jamaika. Di hari itu, seorang Bolt tak mampu menginjak garis finish di lintasan atletik ajang Kejuaraan Dunia Atletik 2017. Bahkan spinter 30 tahun itu terjatuh di arena yang ia cintai dan yang telah membesarkan namanya.

Tepat, ketika Yohan Blake rekan senegara Bolt memberikan tongkat estafet kepadanya. Bolt menerima tongkat itu. Bolt yang diplot sebagai pelari terakhir nomor lari 4×100 meter berusaha lari, namun tak berlangsung lama ia tampak terpincang-pincang. Wajahnya meringis seolah menahan sakit luar biasa. Sang Bolt pun terjatuh dan tergeletak di lintasan.

“I am number one” begitu kata-kata yang biasa diucapkan Bolt di depan kamera usai memenangi perlombaan. Namun tidak di hari itu. Keceriaan dan kegembiraan serta teriakan Bolt tak mampu terbendung dengan perasaan ketidakpercayaan. Seisi stadion seolah sedang berduka. Sejumlah tenaga medis mengevakuasi pemegang rekor dunia lari nomor 100 dan 200 meter itu. Tumbangnya Bolt juga menyebabkan Jamaika, negara yang dalam empat kejuaraan dunia terakhir berstatus sebagai penguasa nomor lari 4×100 meter, menjadi turun pamor.

Lebih dari itu, ambisi pribadi Bolt menutup karier individu dengan mempersembahkan medali emas gagal total. Olympic Stadion seolah menjadi arena pesakitan Bolt. Di nomor 100 meter, ia kalah dari rivalnya, Justin Gatlin, pelari asal Amerika Serikat. Disusul pelari AS lainnya, Cristian Coleman dan Bolt hanya mampu finis di posisi ketiga.

Padahal, peraih 11 emas kejuaraan dunia dan 8 emas Olimpiade memutuskan pensiun setelah event ini. Jauh lebih itu, menang dan berada di panggung pengalungan medali akan menjadi kesempatan Bolt mengucapkan salam perpisahan. Pupus harapan dan niat mulia Bolt tersebut.Tragedi Bolt, nasib tragis sang superstar.

“Ini bukan jalan yang aku inginkan untuk mengakhiri kejuaraan. Aku sudah memberikan segalanya di lintasan. Maaf, aku tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan atau semacamnya,” kata Bolt seperti dilansir Associated Press. Gatlin usai memenangi lomba itu, mendekati Bolt. Ekspresi Gatlin memberikan semangat dan menaruh rasa hormat Bolt.

Apakah ini ending seorang Bolt layaknya karya sastra, cerita novel atau drama? Apakah kontruksi cerita Bolt bagian dari ending sad? Atau justru ini dibentuk dengan akhir happy ending. Akhir cerita yang selalu ditunggu para pemirsa dan pembaca.

Dalam teori sastra, dalam sebuah cerita pada umumnya ditutup dengan ending, baik itu happy ending berakhir bahagia, sad ending ditutup dengan kesedihan, atau cliffhanger atau menggantung, terbuka yang diserahkan kepada pembaca atau penonton. Namun ada juga novel atau film yang dimulai dari ending lebih dulu sehingga pembaca dan pemirsa semakin lebih semangat melanjutkan membaca dan menonton.

Ending sangat penting dan berdampak luar biasa bagi sebuah cerita. Kejayaan Bolt terus dikenang dan dielu-elukan jika saja di akhir perlombaan kemarin ia mampu berbicara dan mengucapkan selamat tinggal. Stadion dan tribun petaka emosionalnya melepas sang super star. Duka dan mungkin saja tetesan air mata dari para penonton tak terbendung. Bolt pun dengan suka cita mengucapkan selamat tinggal.

Achdiat Karta Mihardja dalam novel fenomenalnya Atheis misalnya. Dalam novel yang diterbitkan Balai Pustaka di tahun 1949 ini Achdiat membuat ending yang sederhana. Namun, harus dibaca ulang baru menemukan jawaban tentang ending itu, apalagi untuk mengetahui apakah happy ending, sad ending atau justru cliffhanger. Setelah dicermati maka ending dalam novel Atheis bisa menunjukkan kategori ending sad. Tokoh Hasan pun jatuh tersungkur setelah tertembak. Di akhir cerita dia pun menyempatkan diri menyebut nama tuhan sebelum Hasan tidak bergerak lagi.

/Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata “Allahu Akbar,” tak bergerak lagi…..”

“Mata-mata, ya! Mata-mata, ya! Orang jahat! Bakeru!”/

Banyak contoh ending karya sastra yang cukup memuas kita sebagai pembaca. Mimimal menemukan akhir cerita dari sebuah novel. Apalagi roman-roman Balai Pustaka lainnya, seperti Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA cukup jelas meletakkan dan jenis ending-nya. Kemudian Para Priyayi karya Umar Kayam, dan Pengakuan Pariyem oleh Linus Suryadi AG, dan masih banyak lagi karya sastra yang cukup menyita perhatian endingnya.

Namun jangan tanya ending novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Dalam satu buku dengan karya yang judulnya sama dengan kumpulan puisinya ini belum cukup memutuskan ending. Buku yang diterbitkan Gramedia di bulan Juni 2015 lalu belum ada ending secara total. Namun, Sapardi harus menguraikan menjadi tiga buku atau trilogi.

Kisah cinta Sarwono dan Pingkan dirajut dan diracik. Cinta beda agama, Sarwono dosen muda, Muslim taat, sedangkan Pingkan yang juga dosen dan menyakini agama Kristen sepenuh hati. Atau kisah cinta dengan konflik persoalan cinta segitiga Sarwono-Pingkan-Katsuo.Tentu kalau kita hanya membaca buku pertama saja, maka belum tuntas ceritanya. Di akhir cerita tepatnya di Bab Lima pembaca “dihadiahi” tiga sajak kecil. Pada tulisan bab sebelumnya justru secara gamblang menyiratkan cerita ini belum berakhir. Begini:         

“Pingkan, Sarwono memberikan koran ini, katanya agar segera diserahkan kepada kamu.”

Sangat hati-hati Pingkan membuka lipatan itu dan segera dilihatnya tiga buah sajak pendek di salah satu sudut halamannya. Demikianlah maka Surat Takdir pun dibaca berulang kali tanpa ada yang mampu mendengarkan. (Hujan Bulan Juni: 130)

Maka novel kedua Sapardi dari Trilogi Hujan Bulan Juni telah diterbitkan 2017. Kali ini dengan judul “Pingkan Melipat Jarak”. Tentu isinya melanjutkan ceritanya. Buku yang terbit pada Maret 2017 lalu ini fokus pada sudut pandang Pingkan yang mengalami pergulatan batin setelah tahu bahwa Sarwono mengidap penyakit serius. Namun sama seperti buku pertama, maka buku kedua masih akan berlanjut pada buku ketika. Ending-nya seperti apakah cinta Pingkan dan Sarwono?

Lebih panjang lagi kalau membicarakan ending dari The Birth of Tragedy atau Lahirnya Tragedi yang ditulis Friedrich Nietzsche. Buku pertama Nietzsche yang diterbitkan pada 1872 silam dengan judul lengkap “The Birth of Tragedy out of the Spirit of Music” pada edisi kedua 1874. Kemudian di tahun 1886 ketika buku ini diterbitkan kembali dengan nama baru The Birth of Tragedy. Or: Greekhood and Pesimism. New Edition and Attempt at a Self-Critisism mendapatkan sambutan luar biasa dari publik, selain pujian juga kritik.

Bukankah ending penuh surprise dan tidak terpikirkan? Cerita Bolt yang memilukan di arena lari kemarin tentu bukan akhir dari segalanya. Bolt masih hidup dan masih bisa melanjutkan cerita panjangnya. Ia masih bisa cerita awal kisah kesuksesan. Mengawali karier lari karena iming-iming nasi kotak. Ajaran kedisiplinan seorang bapak dan ketekunan berlatih agar juara.  Jadi bukan sebuah ending bagi Bolt, tetapi bisa saja awal cerita. Kita tunggu cerita tentang Bolt setelah pensiun dari lintasan atletik. (T)

Tags: atletikJamaikaolahragasastraUsain Bolt
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Salah Sambung

Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co