14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Salah Sambung

Dee Hwang by Dee Hwang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Dee Hwang

Perempuan di seberang telepon masih belum berhenti menangis.

Bahuk mengira itu telepon dari kekasihnya. Jam-jam segini, biasanya ia belum tidur. Memang satu keajaiban buat kekasihnya yang perokok itu bila ia bangun hanya untuk menjalankan ibadah. Namun, meski memang kekasih Bahuk terjaga untuk bekerja—ia seorang penjaga di minimarket dua puluh empat jam—tentu bukan dia yang menelepon. Suara di seberang milik perempuan namun bukan milik kekasihnya. Suara kekasihnya merdu, sementara suara di seberang telepon berat, seakan-akan yang punya suara sedang bergerak di jalan berbatu-batu.

Bahuk tak akan memberi wejangan agar perempuan itu tenang karena ia meminta Bahuk diam. Bahuk menarik kursi, duduk menghadapi setoples kerupuk, membiarkan pikirannya jadi bercabang—apakah ia harus mematikan telepon lalu mengunyah kerupuk, atau membiarkan gagang telepon tetap terbuka, meninggalkan perempuan itu dalam keheningan, lalu kembali mondar-mandir di depan lukisan?

Bahuk sedang mondar-mandir di depan lukisannya ketika telepon rumah berbunyi untuk kali ketiga. Malam ini, ia tidak ingin diganggu siapa-siapa tanpa terkecuali kekasihnya yang kemarin sore meributkanlelaki tukang pelihara cacing kerawit, omelnya, tetangga tambun yang senang sekali kencing di pagar kosannya. Tadinya, Bahuk memang tak hendak menjawab, namun karena suara adalah dinding bagi proses kreatifnya, ia mengangkat panggilan itu.

Perempuan asing di seberang telepon mengatur napas, mulai berbicara. Ia tidak membicarakan nama atau darimana nomor Bahuk ia dapatkan. Tanpa perkenalan, ia langsung ke pokok—memulai cerita tentang masalah rumah tangganya yang merah. Bahuk mengetuk-ngetuk jari di atas tempurung lututnya. Belakangan ini ia juga merasa tidak senang.

Menjadi kontributor untuk proyek pameran seni kehidupan urban membuatnya bekerja keras. Ia bisa dengan gampang melukis pejalan kaki yang berbicara dengan telepon pintar atau pekerja kantor yang menghabiskan sepertiga harinya di dalam kendaraan. Namun,  Bahuk ingin membuat terobosan baru. Lukisannya belumlah jadi ketika ia mendapatkan keinginan itu—ia mau membuat lukisan yang tak kasat mata saja.

Masalahnya, bukan itu akar yang membuatnya pening. Kekasih Bahuk minta segera dinikahi. Belum putus masalah, Bahuk malah mendengarkan orang asing juga menceritakan masalah. Apakah mendengarkan orang asing membicarakan hal yang, seperti dialami Bahuk belakangan ini, tidak akan membuatnya lebih kesal lagi?

Bahuk tetap diam. Setidaknya itulah yang diminta dalam percakapan. Perempuan asing di dalam telepon—Bahuk tidak tahu mengapa ia masih terus mendengarkan, mungkin hari ini ia merasa pikirannya meregang setelah berinteraksi dengan manusia—menangis lagi. Butuh waktu sepuluh menit untuknya melanjutkan cerita.

***

Setelah menceritakan bahwa ia menyesal menikahi suaminya yang pemadat, anaknya tidak menyetujui perceraian, lalu memutuskan untuk memotong urat lehernya sendiri, perempuan itu mengatakan bahwa ia pun juga tidak akan melanjutkan hidupnya lagi.

Bahuk pernah mendengar ini sebelumnya. Bagaimana kalau aku membuat lukisan yang tak kasat mata? Bahuk mendapatkan sindiran setelah menyodorkan pernyataan itu pada kekasihnya. Katanya, otak Bahuk sudah jadi kandangnya cacing kerawit. Setelah sapuan kuas tanpa cat di kanvas, kekasih Bahuk menutup percakapan dengan pertanyaan—mana keinginan yang membuat Bahuk pening begini, harus menikahinya segera atau kekasihnya itu akan bunuh diri?

Kekasih Bahuk bukan pemadat. Kebiasaan buruknya hanyalah merokok empat sampai lima batang rokok sehari, membicarakan hal-hal buruk orang lain, menjadi kekasih duda melarat. Untuk kebiasaan-kebiasaan itu, Bahuk jadi terlatih mendengarkan masalah orang lain. Namun untuk yang terakhir itu, Bahuklah biang masalahnya.

Makanya, Bahuk mencoba memperbaiki kesalahan. Ia akan mengikutsertakan kanvas kosong sebagai bagian dari pamerannya. Lukisan tak kasat mata, judulnya, padahal bila ia mengurangi penggunaan cat, bukankah artinya ia hemat-hemat dana? Jadi pelukis sama omong kosongnya dengan menjadi motivator—kau suguhkan kata mutiara, maka jadilah.

Perempuan di telepon diam. Bahuk berdeham-deham, memastikan lawan bicaranya masih hidup. Tidak ada sahutan, Bahuk makin banyak membuat suara.

Ini kali pertama Bahuk mau mempedulikan telepon salah sambung. Masalahnya, bukan bagaimana kalau perempuan asing itu mengakhiri hidupnya, keluarganya memberi aduan ke polisi, polisi melakukan investigasi dan menemukan nomor Bahuk sebagai nomor terakhir yang dihubungi. Bukan pula masalah bahwa percakapan solo selama tiga puluh menit itu membuat Bahuk lapar. Bahuk saja menahan diri membuka tutup toples kerupuk di depannya—suara kriuk bisa saja menambah hancur hati orang yang putus asa.

Setelah nada putus-putus berbunyi, Bahuk mengalihkan jalan. Urusannya dengan lukisan dianggapnya selesai. Urusan dengan kekasihnya menyusul. Kini, Bahuk beranjak menuju kamar tidur anak gadisnya. Ia mengetuk pintu kamar namun tak ada sahutan. Diam-diam, Bahuk cemas. Pintu kamar anaknya sama terkunci sejak dua hari lalu, ia mogok makan. Sebenarnya, setelah mendengarkan permintaan pacar Bahuk yang ingin dinikahi itu, anak gadis Bahuk membanting pintu kamarnya dari dalam. (T)

Tags: Cerpen
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Pemimpin Sejati Berguru pada Alam Raya – Ulasan Buku Anand Krishna

Next Post

Sayatan Hati Sang Usain Bolt – Antara “Happy Ending”, “Sad Ending”, dan “Cliffhanger”

Dee Hwang

Dee Hwang

Kelahiran 9 September 1991. Lulusan FKIP Biologi Universitas Sriwijaya. Saat ini aktif menekuni dunia musik sebagai pemain Biola di SAMS Chamber Orchestra Jogjakarta.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Sayatan Hati Sang Usain Bolt - Antara "Happy Ending", "Sad Ending", dan "Cliffhanger"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co