23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin Sejati Berguru pada Alam Raya – Ulasan Buku Anand Krishna

Putu Mardika by Putu Mardika
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Judul Buku  : Ananda’s Neo Self-Leadership, Seni Memimpin Diri  bagi Orang Modern
  • Pengarang   : Anand Krishna
  • Halaman      : 253
  • Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama

BUKU Berjudul Anandas’s Neo Self Leadership Seni Memimpin Diri bagi Orang Modern benar-benar menginspirasi. Kehadiran buku ini bagaikan oase bagi pembaca di tengah krisis kepemimpinan sejati di berbagai sendi kehidupan yang kita alami. Penulis seolah merekam fenomena sosial khususnya krisis moral pada penguasa di era milenial.

Potret kondisi bangsa yang kita alami saat ini juga tersaji dalam buku ini. Banyak pemimpin (baca: pejabat) terkena skandal. Entah itu suap, gratifikasi, korupsi, mark up, hingga kong kali kong yang berujung ke meja hijau. Diberitakan di media masa, menggunakan rompi oranye (baca: tahanan KPK) nyatanya pelaku masih bisa senyam-senyum tanpa malu. Tentu membuat pembaca tak berhenti mengelus dada atas krisis moral pada pemimpin kita ini.  Sunggug miris.

Dalam buku setebal 253 halaman ini Anand Krishna mengajak pembaca untuk menggali ajaran Asta Brata yang lebih dikenal dengan delapan sifat mulia seorang pemimpin. Pemimpin harus belajar dari alam raya, seperti Surya (Matahari), Bulan, Bintang, Bumi, Air, Api, Angin dan Samudra untuk diejawantahkan saat memimpin. Delapan unsur inilah dianalogikan sebagai laku seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Ajaran ini tertuang dalam Epos Ramayana, dimana Awatara Rama memberikan wejangan asta brata kepada Wibisana, adik raja zalim Rahwana.

Sebut saja analogi pemimpin dengan Matahari. Matahari menyinari seisi alam semesta. Tak pilih kasih. Tak haus pujian. Tak peduli cercaan. Tak perlu dimotivasi. Namun matahari tetap terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Menyerap air laut secara perlahan namun mengembalikan kepada alam beserta isinya melalui hujan.

Begitupun laku seorang pemimpin. Harus bersikap adil tak pilih kasih. Tak peduli cacian. Tak perlu pujian. Tidak malas dan selalu ada di setiap waktu untuk rakyatnya. Kendatipun menarik pajak kepada rakyat, tetapi rakyat tidak keberatan, karena akan dikembalikan dalam bentuk pembangunan yang merata. Seperti itulah Anand Krisna menganalogikan antara laku seorang pemimpin dengan matahari. Begitupun analogi seorang pemimpin dengan Bulan, Bintang, Bumi, Air, Api, Angin dan Samudra diuraikan dengan rinci dalam buku ini.

Pembaca semakin melegitimasi sebuah fenomena yang selama ini berkembang di masyarakat. Lewat dialog antara Ayu Pasha bersama penulis, diuraikan bahwa pemimpin harus mampu menguasai diri (mastery over self). Pengendalian diri inilah yang disebut Anand Krisna sebagai perjuangan tertinggi. Sebab setelah mengendalikan hawa nafsu, barulah terjun ke tengah masyarakat, namun bukan untuk memimpin tetapi untuk melayani.

Dogma inilah yang semakin menguatkan bawasannya kita tengah berada di realitas yang jungkir balik. Banyak ditemukan kasus perebutan jabatan atau kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara dengan dalih “demi rakyat”. Bahkan sampai mati-matian. Berdarah-darah. Mereka melakukan apa saja demi jabatan. Menggadaikan kebenaran dan moral. Demi kekuasaan.

Buku yang terdiri dari 5 bagian ini dengan vulgar mempertanyakan apakah untuk melayani rakyat, kita harus terlebih dahulu menjadi seorang pejabat, menduduki suatu jabatan? Apakah kita tidak dapat melayani tanpa kedudukan itu? Sungguh pertanyaan yang menohok. Fakta itulah sebut Anand Krishna sebuah representasi kemunafikan yang hanya menginginkan kedudukan, kursi belaka dibalut ego dengan embel-embel pelayanan.

Penulis yang mempopulerkan slogan One Heart, One Sky, One Humankind atau “Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia” mengingatkan pembaca bawasannya krisis kepemimpinan saat ini hanya diatasi lewat pendidikan. Pendidikan yang dimaksud tentu yang universal, multikultural serta multidimensial. Sebagai hasil pendidikan, diharapkan menghasilkan pemimpin yang berbudaya.

Seorang pemimpin yang berbudaya dianggap mampu menghadapi segala tantangan yang mencemaskan. Menghadapi secara tegas, tanpa keraguan. Tanpa rasa was-was, inilah yang dikategorikan sebagai pemimpin yang berbudaya oleh Anand Krishna. Pemimpin bukan saja dilihat dari gelar yang mereka sandang. Melainkan dari sisi karakternya. Sebab apalah artinya pendidikan jika tidak menghasilkan manusia yang berbudaya.

Sebagai antitesa atas pemimpin yang berbudaya, penulis yang sudah menelorkan 170 judul buku ini memaparkan sosok pemimpin yang “tidak” berbudaya. Dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang menggadaikan kebenaran dan keyakinannya pada kebenaran demi massa, demi popularitas demi kekuasaan dan untuk mempertahankannya, bukanlah seorang pemimpin sejati.

Menariknya, buku ini tidak hanya menyumbangkan buah pemikirannya secara gamblang tentang sosok pemimpin ideal dari sisi hard skill. Tetapi juga diuraikan dasi sisi soft skill. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut sehat secara jasmani. Begitu juga rohaninya. Sebab pemimpin harus bisa berkarya tanpa beban stres. Caranya melalui meditasi untuk menciptakan kedamaian hati, ketenangan pikiran dan ketepatan bertindak. Inilah sisi kelebihan dari buku cetakan tahun 2017 karya Anand Krishna ini, yang diisi teknik latihan untuk mengelola stres dan menemukan ketenagan pikiran serta kedamaian hati.

Sayangnya  buku ini juga memiliki kekurangan. Semisal masih banyak menggunakan istilah asing, tanpa disertai dengan catatan kaki, sehingga sulit dipahami. Demikian pula dalam buku ini tidak diuraikan secara rinci bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri. Seperti contoh, bahwa seorang pemimpin harus percaya diri. Lalu bagaimana menumbuhkan sikap percaya diri di tengah arus global saat ini? bagaimana menjadi pemimpin yang utuh? Itu tidak dijelaskan dalam buku ini.

Dari sisi sampul, semestinya menggunakan simbol wayang yang merepresentasikan ajaran kepemimpinan asta brata. Jumlahnya wayang juga 8 buah. Namun hanya menggambarkan 4 jenis wayang saja. Sehingga kurang menggambarkan ajaran asta brata yang dimaksud dalam buku ini.

Pada kesimpulannya untuk menjadi seorang pemimpin sejati haruslah berguru pada alam raya. Tentu harus diawali dengan memimpin diri sendiri, menguasai diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Kalaupun belum mampu, akan lebih bijak untuk menunda menjadi pemimpin bagi orang lain. (T)

Catatan:

Tulisan ini juara 1 Lomba Resensi Buku dalam rangka Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Hindu se-Indonesia di Lampung, September 2017.

Tags: Anand KrishnaBukuhindupemimpinresensi
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Fatah Anshori# Puisi: Membandingkan Tubuh di Genangan

Next Post

Salah Sambung

Putu Mardika

Putu Mardika

Wartawan muda, pengajar muda. Punya keinginan besar untuk belajar apa saja, terutama dalam hal tulis-menulis . Tinggal di Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Salah Sambung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co