2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin Sejati Berguru pada Alam Raya – Ulasan Buku Anand Krishna

Putu Mardika by Putu Mardika
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Judul Buku  : Ananda’s Neo Self-Leadership, Seni Memimpin Diri  bagi Orang Modern
  • Pengarang   : Anand Krishna
  • Halaman      : 253
  • Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama

BUKU Berjudul Anandas’s Neo Self Leadership Seni Memimpin Diri bagi Orang Modern benar-benar menginspirasi. Kehadiran buku ini bagaikan oase bagi pembaca di tengah krisis kepemimpinan sejati di berbagai sendi kehidupan yang kita alami. Penulis seolah merekam fenomena sosial khususnya krisis moral pada penguasa di era milenial.

Potret kondisi bangsa yang kita alami saat ini juga tersaji dalam buku ini. Banyak pemimpin (baca: pejabat) terkena skandal. Entah itu suap, gratifikasi, korupsi, mark up, hingga kong kali kong yang berujung ke meja hijau. Diberitakan di media masa, menggunakan rompi oranye (baca: tahanan KPK) nyatanya pelaku masih bisa senyam-senyum tanpa malu. Tentu membuat pembaca tak berhenti mengelus dada atas krisis moral pada pemimpin kita ini.  Sunggug miris.

Dalam buku setebal 253 halaman ini Anand Krishna mengajak pembaca untuk menggali ajaran Asta Brata yang lebih dikenal dengan delapan sifat mulia seorang pemimpin. Pemimpin harus belajar dari alam raya, seperti Surya (Matahari), Bulan, Bintang, Bumi, Air, Api, Angin dan Samudra untuk diejawantahkan saat memimpin. Delapan unsur inilah dianalogikan sebagai laku seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Ajaran ini tertuang dalam Epos Ramayana, dimana Awatara Rama memberikan wejangan asta brata kepada Wibisana, adik raja zalim Rahwana.

Sebut saja analogi pemimpin dengan Matahari. Matahari menyinari seisi alam semesta. Tak pilih kasih. Tak haus pujian. Tak peduli cercaan. Tak perlu dimotivasi. Namun matahari tetap terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Menyerap air laut secara perlahan namun mengembalikan kepada alam beserta isinya melalui hujan.

Begitupun laku seorang pemimpin. Harus bersikap adil tak pilih kasih. Tak peduli cacian. Tak perlu pujian. Tidak malas dan selalu ada di setiap waktu untuk rakyatnya. Kendatipun menarik pajak kepada rakyat, tetapi rakyat tidak keberatan, karena akan dikembalikan dalam bentuk pembangunan yang merata. Seperti itulah Anand Krisna menganalogikan antara laku seorang pemimpin dengan matahari. Begitupun analogi seorang pemimpin dengan Bulan, Bintang, Bumi, Air, Api, Angin dan Samudra diuraikan dengan rinci dalam buku ini.

Pembaca semakin melegitimasi sebuah fenomena yang selama ini berkembang di masyarakat. Lewat dialog antara Ayu Pasha bersama penulis, diuraikan bahwa pemimpin harus mampu menguasai diri (mastery over self). Pengendalian diri inilah yang disebut Anand Krisna sebagai perjuangan tertinggi. Sebab setelah mengendalikan hawa nafsu, barulah terjun ke tengah masyarakat, namun bukan untuk memimpin tetapi untuk melayani.

Dogma inilah yang semakin menguatkan bawasannya kita tengah berada di realitas yang jungkir balik. Banyak ditemukan kasus perebutan jabatan atau kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara dengan dalih “demi rakyat”. Bahkan sampai mati-matian. Berdarah-darah. Mereka melakukan apa saja demi jabatan. Menggadaikan kebenaran dan moral. Demi kekuasaan.

Buku yang terdiri dari 5 bagian ini dengan vulgar mempertanyakan apakah untuk melayani rakyat, kita harus terlebih dahulu menjadi seorang pejabat, menduduki suatu jabatan? Apakah kita tidak dapat melayani tanpa kedudukan itu? Sungguh pertanyaan yang menohok. Fakta itulah sebut Anand Krishna sebuah representasi kemunafikan yang hanya menginginkan kedudukan, kursi belaka dibalut ego dengan embel-embel pelayanan.

Penulis yang mempopulerkan slogan One Heart, One Sky, One Humankind atau “Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia” mengingatkan pembaca bawasannya krisis kepemimpinan saat ini hanya diatasi lewat pendidikan. Pendidikan yang dimaksud tentu yang universal, multikultural serta multidimensial. Sebagai hasil pendidikan, diharapkan menghasilkan pemimpin yang berbudaya.

Seorang pemimpin yang berbudaya dianggap mampu menghadapi segala tantangan yang mencemaskan. Menghadapi secara tegas, tanpa keraguan. Tanpa rasa was-was, inilah yang dikategorikan sebagai pemimpin yang berbudaya oleh Anand Krishna. Pemimpin bukan saja dilihat dari gelar yang mereka sandang. Melainkan dari sisi karakternya. Sebab apalah artinya pendidikan jika tidak menghasilkan manusia yang berbudaya.

Sebagai antitesa atas pemimpin yang berbudaya, penulis yang sudah menelorkan 170 judul buku ini memaparkan sosok pemimpin yang “tidak” berbudaya. Dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang menggadaikan kebenaran dan keyakinannya pada kebenaran demi massa, demi popularitas demi kekuasaan dan untuk mempertahankannya, bukanlah seorang pemimpin sejati.

Menariknya, buku ini tidak hanya menyumbangkan buah pemikirannya secara gamblang tentang sosok pemimpin ideal dari sisi hard skill. Tetapi juga diuraikan dasi sisi soft skill. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut sehat secara jasmani. Begitu juga rohaninya. Sebab pemimpin harus bisa berkarya tanpa beban stres. Caranya melalui meditasi untuk menciptakan kedamaian hati, ketenangan pikiran dan ketepatan bertindak. Inilah sisi kelebihan dari buku cetakan tahun 2017 karya Anand Krishna ini, yang diisi teknik latihan untuk mengelola stres dan menemukan ketenagan pikiran serta kedamaian hati.

Sayangnya  buku ini juga memiliki kekurangan. Semisal masih banyak menggunakan istilah asing, tanpa disertai dengan catatan kaki, sehingga sulit dipahami. Demikian pula dalam buku ini tidak diuraikan secara rinci bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mampu memimpin dirinya sendiri. Seperti contoh, bahwa seorang pemimpin harus percaya diri. Lalu bagaimana menumbuhkan sikap percaya diri di tengah arus global saat ini? bagaimana menjadi pemimpin yang utuh? Itu tidak dijelaskan dalam buku ini.

Dari sisi sampul, semestinya menggunakan simbol wayang yang merepresentasikan ajaran kepemimpinan asta brata. Jumlahnya wayang juga 8 buah. Namun hanya menggambarkan 4 jenis wayang saja. Sehingga kurang menggambarkan ajaran asta brata yang dimaksud dalam buku ini.

Pada kesimpulannya untuk menjadi seorang pemimpin sejati haruslah berguru pada alam raya. Tentu harus diawali dengan memimpin diri sendiri, menguasai diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Kalaupun belum mampu, akan lebih bijak untuk menunda menjadi pemimpin bagi orang lain. (T)

Catatan:

Tulisan ini juara 1 Lomba Resensi Buku dalam rangka Temu Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Hindu se-Indonesia di Lampung, September 2017.

Tags: Anand KrishnaBukuhindupemimpinresensi
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Fatah Anshori# Puisi: Membandingkan Tubuh di Genangan

Next Post

Salah Sambung

Putu Mardika

Putu Mardika

Wartawan muda, pengajar muda. Punya keinginan besar untuk belajar apa saja, terutama dalam hal tulis-menulis . Tinggal di Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Salah Sambung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co