2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2024
in Opini
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy

SAYA tidak tahu bagaimana menulis hal-hal yang kasatmata untuk disematkan pada kata “pria” yang mewakili sosok manusia laki-laki dewasa, maksudnya satu pandangan ideal, misalnya seperti feminisme, yang memandang lelaki sebagai oposisi dalam bingkai perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Laki-laki dijadikan sebagai simbol penindasan, istilah seperti maskulinitas (kelelakian dalam konteks psikoanalisa) dan patriarki (sistem yang menindas perempuan dalam konteks teori budaya, misalnya) sebagai suatu konsep yang menandai adanya praktik kekerasan dan kejahatan atas keperempuanan dan kaum minoritias lainnya (di dalam sejarah) sehingga diperlukan alat perjuangan untuk menciptakan apa yang dinamakan keadilan dan kesejahteraan bersama (menciptakan sejarah baru).

Saya tidak sedang membicarakan hal tersebut atau menjadi seperti seorang feminis, misalnya, yang menuliskan pemikiran yang berlaku universal semacam itu. Saya hanya akan melihat pria secara konkret, dalam arti pria yang saya benar-benar kenal dalam kehidupan nyata saya, bukan pria secara teoritis seperti yang dibicarakan dalam konteks feminisme tadi. Bukan saya tidak setuju dengan pemikiran feminisme, tentu saja ada aspek-aspek penting di sana yang bisa dijadikan rujukan kita untuk memahami konteks yang lebih luas, tetapi itu bukan topik yang akan saya bahas dalam tulisan kecil saya ini.

Berbicara pria dari sudut pandang wanita (saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”) memang rawan, terutama jika berhadapan dengan akal feminis tadi. Jika saya memuji lelaki, misalnya, tentu saja saya akan dianggap kurang kritis. Padahal pujian terhadap lelaki (katakanlah suami) adalah suatu yang lahir dari rasa bukan nalar. Sedangkan para feminis terus menggunakan akal untuk menilai term “lelaki” tadi. Saya hanya akan bicara tentang seorang pria yang saya kenal baik sejauh ini, ia adalah suami saya.

Satu-satunya pria yang pernah saya kenal begitu akrab setelah ayah saya hanyalah suami saya. Bagi saya apa yang menurut banyak orang tidak konkret, seperti rindu, kasih sayang, peduli, saya mengalami semua itu dengan konret bersama suami saya. Sebagai wanita atau lebih tepat sebagai seorang istri sekaligus ibu, pandangan saya tentang suami tentu saja adalah pandangan yang sangat subjektif sekaligus personal, tidak bisa digeneralisasi untuk semua pria dan tidak berlaku bagi semua wanita.

Bahwa, misalnya wanita hanya dapat bahagia ketika dia menikah dengan seorang pria, tidak demikian yang saya maksud. Ya, mungkin perempuan bisa bahagia ketika menikah dengan pria yang tepat, jika tidak tentu saja tidak akan bahagia. Sebab banyak sekali pria yang tidak mampu membahagiakan wanita, alih-alih membahagiakan malah membikin kecewa dan trauma. Dan banyak sekali perempuan sekarang yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan, karena berbagai alasan. Menurut saya itu sah, sebab kebahagiaan tiap perempuan yang mengetahui adalah masing-masing, dan satu pandangan perempuan tidak bisa sama untuk sesama perempuan. Saya mungkin orang yang beruntung karena pernikahan saya berjalan baik, suami saya juga memahami saya dan menerima saya dengan tulus penuh cinta.

Ada satu hal yang saya kira sangat penting untuk dibicarakan di sini, yaitu tentang kebahagiaan seorang istri. Menurut saya kebahagiaan itu tidak memiliki ukuran standar yang baku, mengapa? Sebab ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda-beda — tidak selalu sama dan tidak pernah akan sama. Salah satu definisi kebahagiaan menurut KBBI, yaitu suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin. Saya beruntung karena menemukan hal itu di dalam kehidupan rumah tangga, itulah yang membuat saya sering mengatakan bahwa kebahagiaan saya terletak di tangan suami saya.

Mengapa meraih kebahagiaan dalam hidup itu penting? Sebab kebahagiaanlah yang dicari oleh setiap orang. Kebahagiaan membuat mindset seseorang jadi positif. Orang yang tidak bahagia adalah orang yang cenderung negatif dan hanya akan memandang masalah sebagai kesulitan, sedangkan orang yang bahagia akan selalu bersikap positif dan selalu optimis menghadapi dinamika kehidupan.

Lalu apa yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi manusia? Erbe Sentanu, dalam bukunya Quantum Ikhlas, menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki apa yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya.

Dari mana kebahagiaan berasal? Sumber kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia. Karena yang bisa merasakan kebahagiaan ada di dalam diri, yaitu di hati, maka yang harus dicari adalah bagaimana hati manusia itu mampu merasakan kebahagiaan. Sebab hati adalah kunci untuk memasuki pintu-pintu kebahagiaan. Hati yang bersih dan tenang akan mudah merasakan kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

Menurut saya kebahagiaan atau ketenangan bisa diraih bersama keluarga, jika kita hidup sebagai istri, misalnya, kita bisa meraih kebahagiaan bersama dengan suami kita. Alangkah bahagianya hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta. Rasa syukur sebagai pondasi dalam membina rumah tangga akan mendatangkan ketentraman, dalam bahasa Jawa, menjadi rumah tangga yang adem ayem tentrem. Pasangan yang harmonis akan saling memberikan support dan dukungan dengan pondasi kepercayaan, kejujuran, dan saling memahami satu sama lain adalah aspek yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Seorang suami adalah imam bagi istri dan anak-anak. Kebahagiaan istri juga dipengaruhi oleh bagaimana suami memperlakukan istri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun sikap suami dari hal-hal kecil, kepedulian dan kasih sayang sangat berdampak pada psikis istri. Saya sepakat bahwa di balik kebahagiaan istri ada peran besar seorang suami. Namun, sejatinya kebahagiaan itu diupayakan berdua bukan hanya oleh suami saja atau sebaliknya oleh istri saja. Menciptakan kebahagiaan dimulai dari hal terkecil setiap harinya di dalam rumah, sebab rumah adalah surga kecil yang harus kita ciptakan sendiri, terutama kesadaran suami bahwa membahagiakan istri juga memperlancar rezeki suami.

Setiap pasangan tentu memiliki bahasa cinta dan cara-cara menjaga keutuhan rumah tangga serta keharmonisan dalam rumah tangga masing-masing. Setiap orang tentu memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya. Umumnya banyak orang yang menganggap menunjukkan rasa cinta harus ditunjukkan melalui ucapan. Namun, ada juga rasa cinta istri atau suami yang disampaikan melalui cara lain, misalnya, menulis surat cinta, membuat puisi, memberikan hadiah-haidah kecil atau menunjukkan sikap yang membuat pasangan bahagia. Cara-cara itu tidak harus selalu muluk, sederhana pun bisa.

Sebagai istri kebetulan saya pernah menulis surat cinta yang saya ikut sertakan dalam event Lomba Menulis Surat Cinta yang diselenggarakan kerja sama Pos Bloc, Pos Indonesia, Indonesia Hidden Heritage dan History Consultation Agency. Dan Surat Cinta saya terpilih panitia masuk juara 2 dari 10 besar surat terbaik. Sebuah upaya merawat sebuah rumah (surga kecil) yang kami bangun sejak menikah. Bangunan itu bernama CINTA.

Kertas suratnya saya desain sendiri dan hanya cetak dua lembar saja. Di atas kertas yang bergambar wajah suami — semalaman saya menuliskan surat cinta itu hingga dini hari. Surat cinta yang saya tulis dengan rasa yang utuh hati yang penuh berlatar wajah sumia saya — setidaknya membuatnya bahagia, ada hal-hal kecil yang romantis sengaja saya bangun di tengah perjalanan — tapi percayalah rasa yang sebenarnya lebih dari yang saya tulis itu. Saya ingin menua bersama hingga habis usia.

Cinta yang yang saya ekspresikan lewat surat rasanya tidak cukup mewakili seluruh perasaan saya. Saya juga menulis puisi dan beberapa catatan yang saya persembahkan untuk suami saya. Saya merasa tidak mungkin dapat mengungkapkan atau mengekspresikan semua itu tanpa adanya rasa bahagia di dalam diri saya. Artinya, saya mengamini bahwa kreativitas saya adalah suatu berkah sebab saya mendapat anugerah berupa suami yang dengannya saya merasa begitu bahagia.

Saya melihat kebahagiaan begitu kasatmata ada terletak di tangan suami saya, dan saya berharap wanita yang berniat hendak menikah dapat menemukan suami yang membuatnya begitu bahagia dan dengan kebahagiaan itu mereka dapat mengekspresikannya secara kreatif seperti saya.

Dengan begini saya telah membuktikan bahwa cinta yang tulus membuat kita terbebas dari belenggu maskulinitas dan patriarki, dan begitulah saya berharap seorang pria dapat menjadi sumber kebahagiaan wanita, tentu itu adalah suatu harapan yang semoga menjadi kenyataan perempuan-perempuan di luar sana.

Ketika wanita menemukan pria yang tepat dalam hidupnya, ia akan mengalami kebahagiaan bukan sebagai suatu ilusi tetapi sebagai kenyataan yang benar-benar konret, bukan hanya kasatmata tetapi dirasakan sedalam-dalamnya.

Menikah bukanlah suatu relasi yang timpang, tetapi setara. Begitulah saya bahagia dan merasakan bahwa suami saya adalah teman hidup saya, semoga hingga akhir nanti dan kelak berlanjut di akhirat. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi yang menggambarkan betapa suami saya adalah teman hidup saya yang sejati, mata air kebahagiaan saya yang terus mengalir tiap hembus napas yang keluar dari dada saya.

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2024

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Seni Melepaskan dan Memaafkan
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: feminismeistrikebahagiaanPerempuansuamisuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Next Post

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co