23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2024
in Opini
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy

SAYA tidak tahu bagaimana menulis hal-hal yang kasatmata untuk disematkan pada kata “pria” yang mewakili sosok manusia laki-laki dewasa, maksudnya satu pandangan ideal, misalnya seperti feminisme, yang memandang lelaki sebagai oposisi dalam bingkai perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Laki-laki dijadikan sebagai simbol penindasan, istilah seperti maskulinitas (kelelakian dalam konteks psikoanalisa) dan patriarki (sistem yang menindas perempuan dalam konteks teori budaya, misalnya) sebagai suatu konsep yang menandai adanya praktik kekerasan dan kejahatan atas keperempuanan dan kaum minoritias lainnya (di dalam sejarah) sehingga diperlukan alat perjuangan untuk menciptakan apa yang dinamakan keadilan dan kesejahteraan bersama (menciptakan sejarah baru).

Saya tidak sedang membicarakan hal tersebut atau menjadi seperti seorang feminis, misalnya, yang menuliskan pemikiran yang berlaku universal semacam itu. Saya hanya akan melihat pria secara konkret, dalam arti pria yang saya benar-benar kenal dalam kehidupan nyata saya, bukan pria secara teoritis seperti yang dibicarakan dalam konteks feminisme tadi. Bukan saya tidak setuju dengan pemikiran feminisme, tentu saja ada aspek-aspek penting di sana yang bisa dijadikan rujukan kita untuk memahami konteks yang lebih luas, tetapi itu bukan topik yang akan saya bahas dalam tulisan kecil saya ini.

Berbicara pria dari sudut pandang wanita (saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”) memang rawan, terutama jika berhadapan dengan akal feminis tadi. Jika saya memuji lelaki, misalnya, tentu saja saya akan dianggap kurang kritis. Padahal pujian terhadap lelaki (katakanlah suami) adalah suatu yang lahir dari rasa bukan nalar. Sedangkan para feminis terus menggunakan akal untuk menilai term “lelaki” tadi. Saya hanya akan bicara tentang seorang pria yang saya kenal baik sejauh ini, ia adalah suami saya.

Satu-satunya pria yang pernah saya kenal begitu akrab setelah ayah saya hanyalah suami saya. Bagi saya apa yang menurut banyak orang tidak konkret, seperti rindu, kasih sayang, peduli, saya mengalami semua itu dengan konret bersama suami saya. Sebagai wanita atau lebih tepat sebagai seorang istri sekaligus ibu, pandangan saya tentang suami tentu saja adalah pandangan yang sangat subjektif sekaligus personal, tidak bisa digeneralisasi untuk semua pria dan tidak berlaku bagi semua wanita.

Bahwa, misalnya wanita hanya dapat bahagia ketika dia menikah dengan seorang pria, tidak demikian yang saya maksud. Ya, mungkin perempuan bisa bahagia ketika menikah dengan pria yang tepat, jika tidak tentu saja tidak akan bahagia. Sebab banyak sekali pria yang tidak mampu membahagiakan wanita, alih-alih membahagiakan malah membikin kecewa dan trauma. Dan banyak sekali perempuan sekarang yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan, karena berbagai alasan. Menurut saya itu sah, sebab kebahagiaan tiap perempuan yang mengetahui adalah masing-masing, dan satu pandangan perempuan tidak bisa sama untuk sesama perempuan. Saya mungkin orang yang beruntung karena pernikahan saya berjalan baik, suami saya juga memahami saya dan menerima saya dengan tulus penuh cinta.

Ada satu hal yang saya kira sangat penting untuk dibicarakan di sini, yaitu tentang kebahagiaan seorang istri. Menurut saya kebahagiaan itu tidak memiliki ukuran standar yang baku, mengapa? Sebab ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda-beda — tidak selalu sama dan tidak pernah akan sama. Salah satu definisi kebahagiaan menurut KBBI, yaitu suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin. Saya beruntung karena menemukan hal itu di dalam kehidupan rumah tangga, itulah yang membuat saya sering mengatakan bahwa kebahagiaan saya terletak di tangan suami saya.

Mengapa meraih kebahagiaan dalam hidup itu penting? Sebab kebahagiaanlah yang dicari oleh setiap orang. Kebahagiaan membuat mindset seseorang jadi positif. Orang yang tidak bahagia adalah orang yang cenderung negatif dan hanya akan memandang masalah sebagai kesulitan, sedangkan orang yang bahagia akan selalu bersikap positif dan selalu optimis menghadapi dinamika kehidupan.

Lalu apa yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi manusia? Erbe Sentanu, dalam bukunya Quantum Ikhlas, menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki apa yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya.

Dari mana kebahagiaan berasal? Sumber kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia. Karena yang bisa merasakan kebahagiaan ada di dalam diri, yaitu di hati, maka yang harus dicari adalah bagaimana hati manusia itu mampu merasakan kebahagiaan. Sebab hati adalah kunci untuk memasuki pintu-pintu kebahagiaan. Hati yang bersih dan tenang akan mudah merasakan kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

Menurut saya kebahagiaan atau ketenangan bisa diraih bersama keluarga, jika kita hidup sebagai istri, misalnya, kita bisa meraih kebahagiaan bersama dengan suami kita. Alangkah bahagianya hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta. Rasa syukur sebagai pondasi dalam membina rumah tangga akan mendatangkan ketentraman, dalam bahasa Jawa, menjadi rumah tangga yang adem ayem tentrem. Pasangan yang harmonis akan saling memberikan support dan dukungan dengan pondasi kepercayaan, kejujuran, dan saling memahami satu sama lain adalah aspek yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Seorang suami adalah imam bagi istri dan anak-anak. Kebahagiaan istri juga dipengaruhi oleh bagaimana suami memperlakukan istri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun sikap suami dari hal-hal kecil, kepedulian dan kasih sayang sangat berdampak pada psikis istri. Saya sepakat bahwa di balik kebahagiaan istri ada peran besar seorang suami. Namun, sejatinya kebahagiaan itu diupayakan berdua bukan hanya oleh suami saja atau sebaliknya oleh istri saja. Menciptakan kebahagiaan dimulai dari hal terkecil setiap harinya di dalam rumah, sebab rumah adalah surga kecil yang harus kita ciptakan sendiri, terutama kesadaran suami bahwa membahagiakan istri juga memperlancar rezeki suami.

Setiap pasangan tentu memiliki bahasa cinta dan cara-cara menjaga keutuhan rumah tangga serta keharmonisan dalam rumah tangga masing-masing. Setiap orang tentu memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya. Umumnya banyak orang yang menganggap menunjukkan rasa cinta harus ditunjukkan melalui ucapan. Namun, ada juga rasa cinta istri atau suami yang disampaikan melalui cara lain, misalnya, menulis surat cinta, membuat puisi, memberikan hadiah-haidah kecil atau menunjukkan sikap yang membuat pasangan bahagia. Cara-cara itu tidak harus selalu muluk, sederhana pun bisa.

Sebagai istri kebetulan saya pernah menulis surat cinta yang saya ikut sertakan dalam event Lomba Menulis Surat Cinta yang diselenggarakan kerja sama Pos Bloc, Pos Indonesia, Indonesia Hidden Heritage dan History Consultation Agency. Dan Surat Cinta saya terpilih panitia masuk juara 2 dari 10 besar surat terbaik. Sebuah upaya merawat sebuah rumah (surga kecil) yang kami bangun sejak menikah. Bangunan itu bernama CINTA.

Kertas suratnya saya desain sendiri dan hanya cetak dua lembar saja. Di atas kertas yang bergambar wajah suami — semalaman saya menuliskan surat cinta itu hingga dini hari. Surat cinta yang saya tulis dengan rasa yang utuh hati yang penuh berlatar wajah sumia saya — setidaknya membuatnya bahagia, ada hal-hal kecil yang romantis sengaja saya bangun di tengah perjalanan — tapi percayalah rasa yang sebenarnya lebih dari yang saya tulis itu. Saya ingin menua bersama hingga habis usia.

Cinta yang yang saya ekspresikan lewat surat rasanya tidak cukup mewakili seluruh perasaan saya. Saya juga menulis puisi dan beberapa catatan yang saya persembahkan untuk suami saya. Saya merasa tidak mungkin dapat mengungkapkan atau mengekspresikan semua itu tanpa adanya rasa bahagia di dalam diri saya. Artinya, saya mengamini bahwa kreativitas saya adalah suatu berkah sebab saya mendapat anugerah berupa suami yang dengannya saya merasa begitu bahagia.

Saya melihat kebahagiaan begitu kasatmata ada terletak di tangan suami saya, dan saya berharap wanita yang berniat hendak menikah dapat menemukan suami yang membuatnya begitu bahagia dan dengan kebahagiaan itu mereka dapat mengekspresikannya secara kreatif seperti saya.

Dengan begini saya telah membuktikan bahwa cinta yang tulus membuat kita terbebas dari belenggu maskulinitas dan patriarki, dan begitulah saya berharap seorang pria dapat menjadi sumber kebahagiaan wanita, tentu itu adalah suatu harapan yang semoga menjadi kenyataan perempuan-perempuan di luar sana.

Ketika wanita menemukan pria yang tepat dalam hidupnya, ia akan mengalami kebahagiaan bukan sebagai suatu ilusi tetapi sebagai kenyataan yang benar-benar konret, bukan hanya kasatmata tetapi dirasakan sedalam-dalamnya.

Menikah bukanlah suatu relasi yang timpang, tetapi setara. Begitulah saya bahagia dan merasakan bahwa suami saya adalah teman hidup saya, semoga hingga akhir nanti dan kelak berlanjut di akhirat. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi yang menggambarkan betapa suami saya adalah teman hidup saya yang sejati, mata air kebahagiaan saya yang terus mengalir tiap hembus napas yang keluar dari dada saya.

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2024

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Seni Melepaskan dan Memaafkan
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: feminismeistrikebahagiaanPerempuansuamisuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Next Post

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co