25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Melepaskan dan Memaafkan

Emi Suy by Emi Suy
September 4, 2024
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

NILAI budaya dan agama tidak hanya mengajarkan kewajiban hubungan manusia dengan Tuhan, namun antar manusia dan juga alam. Bagaimana budi pekerti yang luhur mendukung kita untuk bisa saling memaafkan dan saling tolong menolong membangun peradaban. Menurut antropolog Margaret Mead, tanda pertama peradaban dalam budaya kuno adalah tulang paha (femur) yang telah patah dan kemudian sembuh (mengutip status Hamid Basyaib di Facebook). Artinya, tolong menolong adalah titik awal sebuah peradaban.

Semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Agama membimbing manusia agar menjadi insan yang berguna. Manusia yang beragama diharapkan dapat turut menciptakan kedamaian dan keseimbangan di bumi. Tidak ada ruang bernama kesalahan, kalau toh ada, saya lebih suka menyebutnya sebagai “ruang pembelajaran” atau ruang untuk instropeksi diri agar menjadi lebih baik. Hidup adalah perjalanan menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.

Tugas manusia yang utama adalah berbuat baik di muka bumi, minta maaf, memaafkan, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih (bersyukur). Selebihnya kita diharuskan mengalirkan doa-doa baik agar semesta juga meresponnya dengan kebaikan-kebaikan. Usaha dan berdoa, dua kaki yang mesti berjalan beriringan. Ketika semua itu sudah dilakukan, maka kewajiban kita sudah tinggal pasrah, mengembalikan semuanya kepada Tuhan, pada semesta alam. Dan biarkan alam Tuhan melalui semesta yang akan menjawabnya.

Merawat kesadaran itu penting, memaklumi dan minta maaf serta memaafkan juga tak kalah penting. Upaya-upaya untuk memerdekakan diri dari terperangkap di peta luka – membebaskan diri dari kebencian dapat menyelamatkan hati dari perasaan-perasaan yang dapat membuat kita tidak nyaman.

Perkara-perkara mengenai kehidupan sehari-hari yang dekat dengan kita baik yang terasa pahit, manis, getir, asin, asem, bahkan pedas – rasa-rasa yang tidak hanya dijumpai di rumah makan atau di warung Tegal, tapi di perasaan kita sendiri – harus kita terima dan lampaui. Perasaan seperti itu tidak perlu kita jauh-jauh mencarinya atau harus menjauhinya sama sekali. Justru hal-hal yang ada di dalam perasaan yang diperkuat dengan emosi dan mindset tersebut perlu semacam manajemen hati untuk mengatur agar tidak berlebihan meluap. Tak jarang sebagian kita lebih suka bersikap reaktif atas realita sehari-hari sehingga membuat kita tidak bisa mengatur emosi dengan baik, saya pun terkadang begitu.

Alangkah lebih indah jika tak ada semacam rekayasa atau kepura-puraan. Namun, perlu dipertimbangkan jangan sampai kamu seperti sedang membuka bajumu satu per satu kepada orang lain.  Ada hal-hal yang memang perlu tetap kita simpan sendiri. Apakah kita sedang berada dalam situasi di mana bicara apa adanya memuntahkan isi kepala itu lebih mulia daripada bersembunyi menahan diri? Sebaiknya memang kita tidak kebablasan sampai tidak punya kendali diri.

Kiranya hanya hati yang jernih dan pikiran yang bersih yang mampu mengubah paradigma dan perspektif kita. Sebuah upaya yang berkaitan erat dengan kesadaran yang penuh dan hati yang utuh untuk memperbaiki kembali sebuah keaadan atau situasi hubungan antar manusia yang sebelumnya mengalami berbagai konflik.

Dalam ilmu manajemen konflik ada istilah “rekonsiliasi”, yang sering digunakan masyarakat dalam menyelesaikan perselisihan dan kesalahpahaman dalam perbedaan perspektif. Dan hal tersebut salah satu dari serangkaian langkah yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan perselisihan yang sedang berlangsung.

Konflik apa pun bisa saja terjadi baik antar individu, keluarga, komunitas, kelompok masyarakat, maupun skala yang lebih luas, yaitu konflik negara. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka tidak bisa dipungkiri bahwa kita saling bahu membahu, saling membantu, dan saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada hidup yang selalu mulus dan baik-baik saja. Bahkan kita hidup dalam kehidupan yang terbuat dari potongan-potongan puzzle yang harus disusun ulang secara runut agar membentuk peta jalan menuju pulang kepada diri sendiri. Di saat nanti kita selesai dengan diri sendiri, maka akan selesai pula urusan dengan orang-orang di sekeliling kita.

Lantaran kita tidak mungkin hidup abadi dan entah sisa berapa lama lagi usia kita, tidak mungkin kita hidup tanpa orang lain, tidak mungkin hidup tanpa kesalahan, entah salah paham, salah perasaan, salah pemikiran, salah prasangka, dan lain sebagainya. Namun, di atas semua hal itu, yang paling utama adalah bagaimana kita mempraktikkan seni mengatasi pertikaian –sebuah upaya dalam mengatasi permusuhan. Seni memaafkan dan seni menghancurkan egoisme dengan melakukan penerimaan dan membuka diri seluas-luasnya untuk bersikap legowo adalah cara yang bisa kita lakukan untuk membuka pintu-pintu kehidupan yang lebih baik.

Menurut Ekawarna, dalam buku Manajemen Konflik dan Stres, banyak cara dalam serangkaian manajemen dan resolusi konflik yang bisa ditempuh untuk mengatasi konflik, yaitu berupa; negosiasi, mediasi, fasilitasi, dan terakhir rekonsiliasi.

“Sebuah kemarahan, akan menghilangkan akal sehat.”

Mari kita istirahat, rileks memaafkan hal-hal kecil ataupun besar yang terjadi di sekeliling kita, dan berterima kasih pada anggota tubuh yang telah melakukan kebaikan… sekecil apa pun itu, misalkan berkata baik, mengucapkan salam, mendoakan, menolong, memberikan informasi yang berguna, dan sebagianya.

Kemarahan yang berlarut tentu sangat berbahaya, hal itu bisa mengganggu Kesehatan, maka kita perlu menjaga kesehatan, baik kesehatan hati maupun pikiran. Terkadang kekuatan hadir, keberanian tumbuh ketika kita pernah mengalami situasi yang tidak mengenakkan hati dan merasa tidak baik-baik saja, misalnya di-bully beramai-ramai atau situasi tidak mengenakan lainnya. Namun, tangguh itu tumbuh dengan sendirinya. Seperti pepatah; hanya pelautlah yang bisa membedakan mana riak mana ombak. 

Setiap orang pernah punya masa “tidak baik-baik saja”, setiap orang pernah “terluka pada masanya”, setiap kita pernah punya “kecewa pada waktu yang lewat”, setiap orang pernah “menghormati kesedihan”, setiap orang pernah berjuang “memaafkan keadaan”, setiap orang pernah memperjuangkan berdamai dengan siapa pun yang telah “membuat kecewa”, bahkan “memberi luka” pada hati kita. Mari tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik demi masa depan yang bahagia.

Menciptakan sugesti diri, bahwa kita mampu menghadapi semua kenyataan-kenyataan, melewati setiap jengkalnya untuk proses tumbuh menjadi kuat mental, dan selanjutkan lebih wise dalam menyikapi berbagai hal. Katakan, “Ya saya bisa, saya kuat, saya pasti bisa lebih baik dari sebelumnya.”

Agaknya saya teringat sepenggal puisi yang secara tidak langsung jadi mantra sugesti, “perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri”.

Semua yang kita jalani dipengaruhi oleh Frame of Mind – bingkai berpikir kita sendiri. Tergantung pada cara kita melihat dunia, menghadapi kenyataan yang terjadi di depan mata. Dan setiap orang mempunyai bingkai yang berbeda, yang membentuk cara berpikirnya dalam menyelesaikan permasalahan dan melihat kehidupan ini.

Selamat membingkai kehidupan dan menjadi pribadi yang tangguh, selamat menempuh jalan kehidupan, mengalirlah kehidupan yang positif dalam setiap langkah kaki, nadi dan darah, juga udara yang terhirup mengisi paru-paru, dan mari kita hembuskan segala keburukan. Mari bersugesti baik kepada diri, maka semesta akan bahu membahu membantu kita.

Hari-hari setiap orang merayakan hidup, menyalakan hidupnya yang redup supaya murup dari pagi hingga malam kelam. Ada yang mendendangkan keriangan dari pasar ke pasar dengan pengeras suara.

Dari waktu ke waktu orang-orang bertahan tetap waras,
membunuh was-was, menikam cemas di dadanya masing-masing.

Mereka menghibur diri di tengah hiruk pikuk bising knalpot motor di jalan lurus, namun hidup berkelok-kelok dan tidak pernah mulus.

Betapa esensi kehidupan bukan hanya kata-kata
yang diperdebatkan dan diperankan para pemain drama
di atas panggung, mari termenung dan merenung.

Sebuah meditasi diri menjadi penting. Seharusnya setiap orang punya kemampuan untuk melakukannya. Agar tidak terlalu lama luka mengendap di dada. Agar segalanya baik-baik saja, dan bisa menjadi pribadi yang tumbuh dan tangguh, kuat mengejar cita-cita untuk memuliakan hidup dan berani memaafkan serta meminta maaf kepada orang lain.

Di hadapan hujan dan kabut malam aku berbincang dengan sunyi, dengan diriku sendiri. Hidup terdiri logika dan perasaan. Terbuat dari situs masa lalu dan masa sekarang – di mana peristiwa sedang berlangsung. Tuhan menyediakan berbagai macam rasa di dalamnya.

Penggalan cerita terbuat dari repetisi, kejadian yang berulang-ulang terjadi. Yang disengaja maupun yang tidak. Hidup terbuat dari ritual, doa, mandi, makan, tidur, bekerja, menangis, tertawa, yang terus berulang-ulang. Ritual yang mengandung kesedihan, rasa lapar dan sesekali bergembira melupakan kelelahan. Tidak ada lebay meski sesekali ada elegi. Semua kujalani dan kuterima apa adanya.

Kehidupan adalah lautan, lautan adalah kehidupan. Kita mendayung sampan membelah waktu dan jarak untuk sebuah harapan. Dari waktu ke waktu kita melayari hidup untuk bertahan dan melaju menuju ke masa depan.

Kenangan tidak selalu yang indah-indah, namun berterima kasih pada luka itu perlu, karena lukalah yang menjadikan kita perkasa. Aku pernah merasakan kekuatan hadir, keberanian tumbuh ketika pernah mengalami situasi yang sangat tidak mengenakkan hati dan sedang merasa tidak baik-baik saja. Tangguh itu tumbuh dengan sendirinya, tapi perlu kita pupuk dengan hal-hal baik dan positif agar semakin rindang dan sejuk untuk bernaung mengadapi badai yang akan tiba nanti.

Aku ingin bilang pada diriku, pada tembok, langit-langit kamar dan pada langit biru itu, puisi yang selalu kuulang-ulang;

percayalah
setiap perih luka
punya peta
untuk menemukan jalan pulang
bagi kesembuhannya

Mari tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Mari saling memaafkan.

Saya pernah membaca tulisan menarik kurang lebihnya seperti ini;

Lebah itu seperti hati, ketika diganggu hewan itu akan menyengat musuhnya dengan risiko kehilangan nyawa, karena dengan menyengat musuhnya itu dia akan membuka racun yang ada di dalam tubuhnya, ketika jarum yang lebah gunakan itu tertinggal di musuhnya, racun di dalam tubuhnya terbuka dan menyebar ke dalam tubuhnya, meracuni diri sendiri, lalu mati.

Hati kita pun sama, ketika kita terganggu, diejek ataupun hal-hal buruk lainnya yang membuat kita marah, jengkel, bahkan sampai dendam, sadarilah bahwa itu adalah racun yang ada pada diri kita. Jika kita membiarkan perasaan itu terus menerus tumbuh, maka racun itu akan menggerogoti diri kita, menyebar dalam hati kita dan membuat hati kita mati.

Maafkanlah lukamu, sesungguhnya memaafkan itu mudah. Maaf akan mendamaikan hati kita. Jangan sampai racun menggerogoti hati kita, apalagi sampai mematikan hati kita. Sesungguhnya, apabila hati kita telah mati, berarti telah datang kematian sebelum berpisahnya jiwa/ruh dengan raga. Kematian yang tentu saja pahit bagi diri kita. Sekelumit… semoga memberi manfaat.

Ketika kita sulit memaafkan orang lain, bahkan kita sulit untuk menerima orang lain sebagai partner kerja, maka belajarlah pada semut yang berbaris di dinding, di mana meraka selalu berjabat tangan dan menjaga kebersamaan serta gotong royong untuk membangun kehidupan.

Orang mudah mencari dan menemukan kesalahan – aib itu jumlahnya banyak sekali. Namun, orang yang mampu memberbaiki situasi, ikhlas memaafkan dan tidak gengsi meminta maaf, tulus berbuat sesuatu untuk menutupi aib saudaranya amatlah jarang, amatlah langka. Begitulah kondisi kita dewasa ini. Teramat banyak yang mahir mengkritisi dan mencela, tapi tak satu pun yang datang menawarkan solusi. Semoga kita selalu dapat menjadi manusia yang pemaaf dan mudah menolong sesama. Wassalam. [T]

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Himne Seorang Gadis di Wapress Bulungan Sastra Reboan
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: Emi Suygaya hidupkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sentimen Politik Jelang Pilkada dalam Media Sosial

Next Post

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co